
Timo berjalan sambil memandang ke arah meja pembayaran tanpa berkedip. Sesampainya di sana, sosok wanita yang dilihat Timo tadi berdiri. "Ada yang bisa kami bantu, Mas?" tanyanya.
Timo tersenyum melihat betapa manisnya senyum wanita di hadapannya. Jarang ia temui karyawati diler mobil yang rambut panjangnya disanggul seperti wanita ini. Timo menatapnya, memerhatikan bulu matanya yang lentik.
"Ada, Mbak. Mbak mau bantu?" tanyanya.
Wanita itu mengangguk, agak heran. "Mau, Mas. Apa yang bisa aku bantu?"
"Ada dua, Mbak," kata Timo. "Yang pertama, ayahku ingin membeli truk model Amerika yang berwarna hitam itu." Timo menunjuk ke arah truk yang ia pilih tadi.
Wanita itu mengangguk. "Baik, Mas. Terus, yang kedua?"
"Yang kedua, bantu aku untuk tahu namamu, Mbak," kata Timo, tersenyum.
Wanita itu tersenyum menunduk. "Nesi, Mas. Nesia," katanya sambil menyalami Timo yang telah lebih dulu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Timo bersyukur karena ketika berbincang lewat telepon dengan Prapto tadi malam, ia telah mencatat penjelasan Prpato tentang cara menjadi pria sejati lalu mempelajarinya. Timo tidak menyangka bahwa ilmu yang dikatakan oleh Prpato tersebut diajarkan padanya oleh Pak Oscar, kepala desa Kejora.
"Aku Timo. Jadi, bagaimana cara pembayarannya, Nesia?" tanya Timo.
Nesia kembali tersenyum sambil menatap Timo. Lalu katanya, "Ayo, kita temui ayah Mas Timo, aku akan menjelaskan pada beliau."
Pak Gumiro mengernyitkan keningnya ketika ia melihat Timo dan Nesia berjalan menghampirinya sambil mengobrol. Ia heran melihat sang anak yang biasanya sering gagal dalam mendekati wanita kini tampak percaya diri mengobrol dengan Nesia.
Setelah transaksi pembayaran selesai, Pak Gumiro langsung menunggu truk hitam Amerika tersebut di luar diler sekaligus menunggu Timo yang mengambil nota pembayaran.
"Nesia," panggil Nimo. "Sekalian tuliskan nomer teleponmu, ya. Jika truk itu nanti ada kendala tinggal aku telepon nomermu untuk melapor."
Nesia yang sedang menulis mengangkat kepalanya. Ia tersenyum, lalu berkata, "Nomer perusahaan 'kan ada di berkas tadi, Mas Timo. Mas hubungi saja nomer itu nanti jika ada kendala."
Nesia tahu Timo meminta nomer ponselnya. Ia sendiri mau memberikan nomer ponselnya pada Timo. Tapi Nesia ingin melihat dulu bagaimana reaksi Timo jika ia menjawab seperti tadi.
Timo yang telah mempelajari risalah Pak Oscar yang dilimpahkan oleh Prpato kepadanya itu tersenyum. "Kau tahu? Bukannya aku tidak ikhlas pada ayah sendiri, tapi uangku habis untuk membantu Ayah membeli truk Amerika itu, Nesia. Aku tidak punya uang lagi untuk membeli pulsa, aku hanya punya paket internet.
"Jadi, tulislah nomermu di kertas itu. Aku menghubungimu saja nanti jika truk ada kendala."
Nesia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Selesai menulis nota, ia lalu memberikan kertas tersebut pada Timo. "Mas Timo bohong kan? Awas, nanti uang Mas benaran hilang!" katanya.
Timo melihat nota yang diberikan oleh Nesia itu sejenak. Ia lalu tersenyum melihat ada nomer telepon di sudut kanan atasnya. "Ya, aku bohong, Nesia. Kau tahu, kan, kalau aku tadi bohong?" godanya.
Mereka tertawa.
__ADS_1
***
Pagi itu tanah di desa Kejora sedikit berlumpur karena hujan lebat tadi malam. Namun, lumpur dan langit mendung tidak membuat semangat gotong royong warga desa Kejora melemah. Sebagian besar warga yang telah selesai mengurus kebun mereka telah berkumpul di depan balai desa.
Ibu-ibu dan anak-anak perempuan mereka tampak sedang menghidangkan camilan dan minuman ke meja-meja yang telah disediakan. Mulai dari bakwan, pastel, singkong rebus, singkong goreng, buah-buahan, kopi, teh, wedang jahe, dan banyak hidangan lainnya.
Bapak-bapak saling berbincang tentang bentuk bangunan dan menghadap arah mana kedua bangunan itu nanti. Warga desa Kejora sudah sepakat bahwa kedua bangunan itu akan di bangun di seberang jalan balai desa. Selain dekat dari rumah Pak Oscar, jalan di depan balai desa itu pun adalah jalan yang paling besar sehingga tidak sulit untuk dilalui oleh truk penjemput.
Lapen Oscario duduk di teras balai desa bersama Taro dan Lennon. Mereka mendengarkan obrolan para warga desa sambil menunggu gotong royong dimulai.
"Menurutmu menghadap arah mana bagusnya kedua bangunan itu, Taro?" tanya Lapen pada sahabatnya.
Taro yang ditanya tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan lahan untuk kedua bangunan itu terlebih dahulu. "Aku rasa sebaiknya yang satu menghadap jalan, lalu yang satu lagi menghadap persawahan di belakangnya, Lapen," jawabnya dengan raut wajah serius, seolah ia telah memikirkan arah bangunan itu selama berhari-hari."
Lapen mengernyitkan keningnya. "Supaya apa, Taro? Bukankah nanti akan susah memuatnya ke dalam truk jika pintunya menghadap ke persawahan?"
"Ya, agar beda saja, Lapen. Kan jaraknya tidak akan jauh. Dua bangunan berdekatan dengan pintu masing-masing menghadap ke arah jalan itu sudah terlalu umum."
Lapen menggelengkan kepalanya. "Gagasanmu agak konyol, Taro." Lapen lalu menoleh pada Lennon. Katanya, "Lennon, tanpa mengurangi kekagumanku terhadap rambutmu yang mirip dengan rambut personil grup band asal Inggris itu, aku ingin tahu pendapatmu tentang ke mana sebaiknya arah kedua bangunan itu nanti."
"Berhadap-hadapan, Lapen," jawab Lennon singkat.
"Berhadap-hadapan bagaimana maksudmu, Lennon?" tanya Taro penasaran.
Lapen kembali mengernyitkan keningnya. "Supaya apa? Bukankah nanti bapak-bapak yang memuat hasil panen ke dalam truk bisa saling bertabrakan?"
Lennon tersenyum. "Supaya kedua bangunan itu tidak susah kalau mereka ingin mengobrol, Lapen," jawab Lennon. "Kena kau, Lapen! Itu balasanku untuk yang kemarin, yang kau bilang Kakek Gumiro adalah teman lama kakekmu."
Lapen menatap Taro. "Lucu tidak menurutmu, Taro?" tanyanya.
Taro menggeleng. "Tidak ada lucunya sama sekali, Lapen." Mereka lalu sama-sama menoleh pada Lennon.
"Ah, sudahlah! Lebih baik aku mengambil teh. Kalian kalau mau ambil saja sendiri," gerutu Lennon. Ia kemudian berlalu ke meja teh.
Kira-kira sepuluh orang bapak-bapak lagi tiba di balai desa. Mereka masih mengenakan caping dan pakaian untuk berkebun. Bapak-bapak yang tengah duduk lalu berdiri. Salah satu dari mereka, yang rambutnya sebahu, berkata pada Pak Oscar, "Sudah lengkap, pak Kepala Desa."
Pak Oscar mengangguk. Ia menyelesaikan penyulutan rokoknya terlebih dahulu. "Mari, kita ke hutan desa untuk mengumpulkan bahan-bahan!" ajak Pak Oscar.
Para warga pria segera melangkah mengikuti Pak Oscar menuju kawasan hutan desa Kejora. Lapen, Taro, Lennon, dan anak-anak laki-laki yang lain juga bangkit untuk mengikuti.
Hutan desa yang dituju oleh Pak Oscar adalah sebuah hutan yang letaknya masih di dalam wilayah desa Kejora. Hutan tersebut rimbun dan berada di pinggiran sungai. Tidak boleh ada perburuan dengan senjata apa pun di hutan desa Kejora. Sedangkan di sungai, pencarian ikan diperbolehkan asalkan untuk adopsi atau untuk dimakan.
__ADS_1
Hutan desa Kejora hanya digunakan untuk mengambil bahan obat-obatan dan bahan makanan yang berasal dari tanaman. Atau, beberapa hewan boleh diadopsi untuk keperluan budidaya dengan syarat: jika mengadopsi anak hewan, harus sekalian diadopsi induknya. Sebaliknya, jika ingin mengadopsi induk hewan, harus sekalian mengadopsi anaknya.
Begitulah aturan di desa Kejora yang menjunjung tinggi tiga unsur. Perikemanusiaan, perikebinatangan, serta peritetumbuhan.
Para warga pria sudah sampai di pintu hutan. Prapto memandang hutan yang rindang tersebut dengan agak terpana.
"Nimo, apa tidak ada binatang buas di hutan ini? Atau ular? Kita akan selamat, kan, jika masuk hutan serindang ini?" tanya Prapto dengan nada agak cemas.
Nimo tertawa. "Aku tidak tahu tentang hutan di daerah lain, Bos. Tapi kalau di hutan desa Kejora ini, aku jamin kau akan aman dan tidak akan dimakan oleh binatang buas. Memang, ada warga yang bertemu beruang, serigala, bahkan harimau. Tapi ..."
"Apa! Harimau, beruang, dan serigala?" potong Prapto.
Nimo menggeleng-geleng. "Iya, Bos. Tapi tunggu dulu penjelasanku selesai," katanya.
Setelah Prapto mengangguk, Nimo berkata, "Tapi, di hutan desa Kejora ini, jika kau tidak mengganggu binatang-binatang buas tersebut, mereka tidak akan menyerangmu, Bos, malah mereka akan menjauh. Bahkan ada warga yang tersesat di hutan dan tidak menemukan jalan keluar, dituntun oleh harimau ke pintu hutan."
Prapto menatap Nimo tercengang. "Bagaimana ceritanya?" tanyanya.
"Aku lupa nama bapak itu. Waktu itu aku masih seusia Lapen. Waktu itu hari sudah sore ketika dia tidak menemukan jalan keluar. Lalu terdengar dengusan harimau. Tentu saja bapak itu cemas. Tapi setelah itu terdengar suara ranting kayu yang diinjak. Lalu terdengar lagi dari tempat yang lebih jauh."
"Lalu?"
"Lalu insting bapak itu mengatakan bahwa sang harimau tengah menunjukkan jalan keluar dari hutan kepadanya. Bapak itu terus mengikuti suara derak ranting kayu yang diinjak oleh harimau tersebut. Tak lama kemudian bapak itu tiba di pintu hutan. Ketika ia menoleh ke arah bunyi derak ranting yang terakhir, ia melihat kucing belang itu berjalan pergi."
Prapto tertegun. "Jadi, aku tidak perlu takut diserang binatang buas, ya, asalkan aku tidak mengganggu mereka?" tanyanya masih agak cemas.
Nimo mengangguk. "Benar, Bos. Tapi yang aku tahu seperti itu di hutan desa Kejora saja, Bos. Di hutan yang ada di tempat lain aku tidak berani memastikan. Lagi pula, Bos tidak takut pada hantu tapi kok takut pada binatang buas?"
"Tentu beda, Nimo. Binatang buas bisa membunuhmu. Kalau hantu, aku belum pernah melihat hantu membunuh orang. Nampak wujud hantu saja pasti akan aku karungi langsung," kata Prapto.
Prapto dan Nimo menoleh ke belakang. Tinggal beberapa bapak-bapak lagi saja dan beberapa pria seusia mereka yang belum masuk ke pintu hutan.
"Ya, sudah, Bos. Ayo, kita masuk hutan!" ajak Nimo. Ia lalu berjalan bersama rombongan yang terakhir.
Prapto hendak melangkah, namun Lapen yang berjalan paling belakang bersama Taro dan Lennon berhenti. Lapen menoleh pada Prapto. Katanya, "Paman belum masuk hutan karena takut, ya?"
"Mana mungkin aku takut!" seru Prapto. "Hantu saja aku karungi."
Lapen merubah raut wajahnya. "Pa ... paman, di belakangmu," katanya sambil menunjuk ke arah belakang Prapto.
Prapto yang kaget langsung melompat ke depan lalu berbalik. "Pak Oscar!" serunya.
__ADS_1
Pak Oscar dan Lapen sama-sama tertawa, diikuti oleh Taro dan Lennon. "Ayo, Nak Prapto! Kita masuk ke hutan," ajak Pak Oscar.
"Kakek dan cucu sama saja!" gerutu Prapto sambil menggelengkan kepala. Ia lalu melangkah ke hutan mengikuti Pak Oscar.