Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
29. Pedagang Keliling


__ADS_3

Meskipun hujan, aku masih bisa melihat bayangmu di sela rintiknya


Menari dengan tarian yang lembut, mengerling, lalu mengulurkan tangan padaku


Aku bangkit, lantas ikut menari


Derai tawamu mengiang di kepala sampai suara hujan tak terdengar lagi


Kemudian sosokmu perlahan mengabur menjelang berakhirnya tarian kita


Hingga hilang, pulang, ke tempatmu yang ditandai nisan


Seketika kembali terdengar rintik hujan, yang jumlahnya lebih sedikit dari rinduku pada kau


Arfiz Y


"Sial, ini syair kenapa sedih benar? Tapi bagus, tentang kerinduan pada kekasih yang sudah tiada." gumam Prapto sambil mantap layar ponselnya.


Awalnya Prapto hendak tidur setelah menelepon Pinaka, tapi pesan singkat yang berisi link menuju ke sebuah akun instabram, yang dikirim oleh Pak Rodi, membuat Prapto menunda tidurnya. Dalam pesan singkat tersebut Pak Rodi menuliskan, Dia penyair langka, tapi tak laku, Nak Prapto. Follow-lah dia!


"Nah ini ada beberapa syairnya yang tidak sedih," gumam Prapto lagi.


***


Pada malam yang sama, Silvi dan suaminya duduk di sofa sambil menonton TV. Lebih tepatnya, mereka ditonton oleh TV karena pembahasan mereka membuat mereka tidak memperhatikan TV lagi.


"Kalau itu terjadi, tentu desa Kejora akan semakin maju dan Prapto akan kaya, Sayang," kata Silvi pada Tristan.


"Tenang saja, Sayang! Begitu aku mendapat informasi itu dari pimpinan perusahaan yang ingin bekerja sama dengan Kuda Terbang Corporation, aku langsung menghambat peminjaman modal Pak Gumiro di satu-satunya bank swasta yang mau meminjamkannya modal. Sekarang Pak Gumiro tak akan bisa lagi bekerja sama dengan desa Kejora."


"Dari mana pimpinan perusahaan itu tahu bahwa Pak Gumiro meminjam modal di bank tersebut untuk bekerja sama dengan desa Kejora, Sayang?" tanya Silvi dengan raut wajah yang sedikit heran.


"Keponakannya memiliki posisi yang tinggi di sana, Sayang," jawab Tristan, "jadi, dia mendengar langsung pembicaraan Pak Gumiro dengan petinggi bank itu."


Silvi mengangguk-ngangguk, tapi sekejap kemudian ia mengernyitkan kening. "Bagaimana kalau orang-orang desa Kejora itu menawarkan kerja sama ke perusahaan lain dan perusahaan lain itu mau?" tanyanya lagi.


Tristan menyeringai. "Semua perusahaan besar yang ada di Jakarta telah diminta oleh pimpinan perusahaan untuk menolak tawaran desa Kejora, dan mereka setuju karena diberi imbalan yang menjanjikan, begitu pun yang di kota lain. Selebihnya hanya perusahaan-perusahaan kecil yang tidak punya modal dan tidak akan dipinjami modal oleh bank.


"Kuda Terbang Corporation ingin meraup keuntungan dari bisnis hasil tani dan ternak alami itu sendiri, karena kami tahu bahwa bisnis itu sangat potensial kedepannya, Sayang," terangnya.

__ADS_1


Wajah Silvi berseri. "kau hebat, Sayang. Suamiku memang hebat!"


Wajah Tristan yang terkenal selalu cuek itu seketika berubah menjadi tersipu, hatinya berbunga-bunga dipuji oleh Silvi. Bagi Tristan, seribu sikap dan perkataan tidak hormat Silvi padanya bisa tergantikan oleh pujian istrinya itu.


***


Pagi ini adalah pagi yang cerah dan sejuk di desa Kejora. Tidak ada awan hitam yang tampak di langit, seakan cerahnya hari akan berlangsung sampai malam. Namun Stepen, menantunya Pak Oscar, tahu belaka bahwa setidaknya sore nanti hujan akan turun, karena ia belum melihat tanda-tanda musim hujan akan berakhir.


Stepen meneruskan mengurus tanaman kentangnya yang daunnya sudah menguning, tanda bahwa beberapa hari lagi tanaman itu akan bisa dipanen. Ketika Stepen bangkit hendak melihat tanamannya yang lain, ia mendengar suara derap kaki berlari di belakangnya.


Stepen berbalik. Di hadapannya kini telah berdiri Lapen Oscario dengan raut wajah tampak buru-buru. Stepen mengernyitkan keningnya.


"Kenapa kau berlari dan memasang wajah buru-buru seperti itu, Nak?"


Lapen menoleh pada ayahnya setelah memperhatikan tanaman ayahnya sejenak. Katanya, "Ayah, hari ini aku membantu ayah berkebun nanti siang saja, ya. Oh iya, aku mau minta uangku juga, Yah."


"Iya, Lapen, tapi kau mau ke mana buru-buru begini?"


"Kakek Kuncoro pedagang keliling datang, Yah. Aku tak mau terlambat. Beliau 'kan datang ke desa Kejora hanya dua kali seminggu," jawab Lapen.


"Ooh. Soal uangmu yang kau kumpulkan dari hasil menolong ayah di kebun 'kan kau simpan ke ibumu, Lapen. Belum tua sudah pikun," kata Stepen tertawa, "ini pakai uang ayah dulu, nanti kami potong uangmu."


Setelah mengambil uang yang diulurkan oleh Stepen, Lapen langsung berbalik dan berlari. Stepen geleng-geleng. "Oi, Lapen, hati-hati, Nak!" soraknya.


Lapen menoleh ke belakang lalu mengangkat jempolnya sambil terus berlari.


"Sama sepertimu dulu, Mas. Jika Pak Kuncoro datang, kau pasti langsung berlari. Ketika sampai ternyata kau lupa bawa uang," kata Lastri tersenyum sambil membawa dua cangkir kopi.


Stepen tersenyum lalu berbalik. Ia tahu bahwa suara barusan adalah suara istrinya. "Dan kau selalu meminjamkanku uang, Lastri. Aku selalu berlari kalau mendengar Pak Kuncoro datang, karena jika terlambat sedikit saja, pasti ceritanya sudah dimulai. Kedatangan Pak Kuncoro selalu ditunggu-tunggu oleh anak-anak desa Kejora.


"Bukan hanya karena mainan yang dijualnya unik, tapi juga karena beliau selalu menceritakan cerita pendekar kepada anak-anak dengan gaya penceritaan yang sangat menarik. Sekarang beliau pasti sudah sangat tua, ya, Lastri." Stepen lalu duduk di bangku panjang dengan istrinya.


Lastri tersenyum manis. "Iya, Mas. Cerita beliau tentang pendekar selalu menarik. Kata Ayah, usia Pak Kuncoro sepuluh tahun lebih tua dari Ayah. Tapi Beliau tetap sehat dan masih saja berjualan. Kata Bu Harni, entah dia tahu dari mana, Pak Kuncoro itu ekonominya tergolong kaya, Mas, tapi Beliau masih saja mau berjualan."


Stepen menggeleng-geleng sambil tertawa kecil. "Bu Harni itu 'kan gugel-nya para wanita desa Kejora, Lastri," sahutnya, "mungkin alasan Pak Kuncoro itu terus berdagang dari desa ke desa, meskipun sudah tua dan kaya, adalah untuk mendidik anak-anak melalui cerita pendekar."


Lastri mengangguk-angguk. "Aku rasa juga begitu, Mas. Orang tua yang berhati mulia," katanya.


***

__ADS_1


Lapen berlari menyusuri jalan desa Kejora. warga-warga yang beraktivitas di depan rumah mereka heran melihat bocah itu berlari bagaikan sedang dikejar hantu. Namun keheranan mereka hanya sebentar, karena sekejap kemudian mereka segera paham.


Semua warga desa Kejora tahu, apabila anak-anak tampak terburu-buru, berarti Pak Kuncoro datang. Sewaktu mereka kecil pun, mereka juga tidak mau ketinggalan membeli mainan yang dijual oleh Pak Kuncoro dan cerita Beliau tentang pendekar.


Setelah berbelok ke kiri dan berlari sedikit lagi, Lapen sampai di tempat Pak Kuncoro berjualan dengan mobil L300-nya.


"Hampir saja kau telat, Lapen," kata teman Lapen yang potongan rambutnya seperti personil The Beatles.


"Kau sudah beli mainan, Lennon?"


Lennon yang namanya sama dengan salah satu personil The Beatles itu mengangkat tangannya yang memegang sebuah mainan mobil-mobilan dari kayu. "Buruan, Lapen! Biar Kakek Kuncoro mulai ceritanya."


Lapen mengangguk. Ia lalu membeli sebuah truk yang terbuat dari kayu.


"Nah, sudah belanja semua, kan? tanya Pak Kuncoro tersenyum.


"Sudah, Kek!" jawab semua anak-anak serentak. Ibu-ibu yang menemani anak perempuan mereka tersenyum. Mereka pun ingin mendengarkan cerita Pak Kuncoro, yang dulu sering mereka dengar ketika diantar oleh ibu mereka membeli mainan.


Pak Kuncoro berdiri di samping mobilnya. Ia menatap langit sejenak. Rambut panjangnya yang sudah memutih berkibar ditiup angin pagi.


"Dia bernama Runai dan digembleng oleh salah satu datuk dunia persilatan ternama yang sudah mengasingkan diri, yaitu Ki Mendung Langit. Setelah usia Runai dua puluh tahun, ia lalu pamit pada gurunya untuk mengembara. Di punggungnya tersoren sebuah pedang pusaka," cerita Pak Kuncoro. Beliau berhenti sejenak.


"Apa nama pedang pusakanya, Kek Kuncoro?" tanya Lapen penasaran.


"Pedang yang sarungnya berukir sosok naga itu bernama: Pedang Langit Hitam."


"Waaah!" terdengar gumaman kagum dari anak-anak di sana.


Pak Kuncoro tersenyum. Ia melanjutkan, " ......... ."


***


Prapto dan Pinaka menyalami Bi Asih dan Mang Kari yang menyambut mereka. Setelah Prapto memeluk Mang Kari, ia bertanya, "Ayah dan Ibu ada di rumah, Mang?"


Mang Kari mengangguk. "Ada, Den. Sebentar, saya panggilkan," katanya.


Prapto dan Pinaka lalu duduk di pendopo.


Tak lama setelah Prapto menyulut rokok, Pinaka berkata, "Mas, kedua orang tuamu."

__ADS_1


Prapto menoleh. Di teras rumah, ayah dan ibunya telah berdiri menatap ke arah Prapto.


__ADS_2