
Prapto menyandarkan punggungnya di kursi teras. Ia memejamkan mata untuk lebih mendengarkan suara hujan, lalu menghela napas.
"Cantik, manis, ceria, cerdas, mau belajar memasak... tapi, apakah Pinaka sekarang benar-benar sudah bukan seorang feminis lagi?" Prapto meluruskan duduknya lalu menyulut rokok.
Di teras perpustakaan desa Kejora, bola mata Pinaka bergerak mengikuti langkah awan yang tampak kurang jelas dibalik hujan. Ia pun memikirkan hal yang hampir sama dengan Prapto. "Baik, cerdas, tegas, bisa membuatku tertawa, tampan... Eh! Kok sekarang Mas Prapto jadi tampan, ya?"
Begitulah, dan hujan yang turun sama sekali tidak mau menanggapi pertanyaan dari kedua orang yang sedang jatuh cinta itu.
***
Nimo membawa kopi panas ke meja teras untuk menemani ayahnya yang sedang melihat jauh ke dalam hujan. Mereka duduk bersampingan.
"Hujan sangat lebat beberapa malam ini, Nimo, sementara sebentar lagi kita harus menjual hasil ngebun dan makanan olahan ke perusahaan Kejora. Lalu setengah bulanan lagi, mentimun Saima harus sudah dipanen."
Nimo menatap ayahnya. "Iya, Ayah. Apa ada sesuatu yang Ayah risaukan?"
"Kebunmu, Nak, apa saluran-saluran airnya sudah cukup dan sempurna?"
Nimo berpikir sejenak. Ia menghela napas. "Apa syarat sempurnanya saluran air itu, Ayah?"
Pak Dwipangga menerangkan pada putranya tentang sistem saluran air yang sempurna untuk diterapkan ketika musim hujan. "Jika tidak begitu, atau kurang sedikit saja, kebun kalian bisa tergenang berlebihan dan tanaman kalian akan terancam, Nimo."
Nimo tertegun. Ia lalu bangkit. "Aku akan ke kebun sekarang, Ayah."
"Pakai jas hujan, Nak."
Nimo mengangguk lalu bergegas ke dalam rumah.
***
Prapto melangkah satu-satu ke arah pintu dengan mata setengah tertutup.
"Nimo?"
Nimo mengernyitkan kening. "Kau sudah tidur, Bos?"
Prapto menggeleng. "Belum, NImo, tapi hampir saja."
__ADS_1
"Kenapa bawa selimut?"
Prapto menunduk. Ia kemudian tertawa. "Aku tidak sengaja," katanya. Ia mengajak Nimo duduk ke ruang tengah. "Ada apa, Nimo? Kau datang di tengah hujan deras dan dengan wajah panik."
"Ayah tadi menanyaiku tentang saluran air kebun kita, Bos." Nimo lalu menceritakan obrolannya dengan sang ayah.
Prapto langsung melompat ke dalam rumahnya begitu Nimo selesai menjelaskan. Dan tak lama kemudian, ia telah kembali dengan seragam berkebun. "Ayo, Nimo! Kita harus bergegas atau kerja sama bisnis kita akan hancur berantakan."
"Sebentar, Bos! Aku jelaskan dulu cara-cara membuat saluran air yang pas seperti yang dikatakan oleh Ayah."
"Nanti saja di kebun. Ayo!"
Di kebun, Prapto mendengarkan Nimo sambil terus memperbaiki dan membuat saluran air tambahan.
"Yang ini arahnya salah, Bos. Kata Ayah, lebih baik arahnya ke sana. Lalu yang ini ke belakang, agar airnya nanti tidak mandek dan menggenang ke ujung aliran yang satu lagi," kata Nimo sambil menunjuk bagian saluran mana saja yang perlu diperbaiki.
"Nimo, sudah banyak yang menggenang. Mampuslah kita. Pasti tanaman-tanaman ini sudah terendam sejak tadi." Prapto terus mencangkul dengan cepat.
"Kita kerjakan saja dulu, Bos, besok pagi kita lihat hasilnya. Aduh, Sialan!"
Prapto menoleh ke arah Nimo yang cahaya senter kepalanya kini mengarah ke tanah. Ia tertawa. "Malam-malam begini tidak bagus untuk main hujan, Nimo."
"Ayo, bangkit! Bayangkan senyumnya Arini!"
Prapto dan Nimo terus mencangkul di tengah guntur yang bersahutan.
***
Prapto membuka matanya ketika selarik cahaya matahari masuk melalui celah papan. "Jam berapa ini?" Ia mencari-cari ponsel.
Prapto menoleh ke pintu kamar, ketika didengarnya Nimo memanggil dari luar. "Bos, bangun! Sudah pukul sembilan."
"Ya, Nimo. Tunggu aku di teras dan sekalian tolong lebihkan kopi, ya!"
"Okay, Bos."
Setelah berbenah, Prapto pergi lebih dulu ke kebun. Ia menghentikan langkahnya lalu menggelengkan kepala. Prapto menatap tanaman-tanamannya dan juga saluran air yang ia perbaiki dengan Nimo tadi malam.
__ADS_1
"Ini, Bos," kata Nimo, sambil meletakkan dua gelas kopi panas di meja dekat dapur.
Prapto masih memandangi tanaman dan saluran air. Nimo mendekat, ia menghentikan langkahnya tepat di samping Prapto.
"Apakah kita terlambat, Nimo?"
Nimo menghembuskan asap rokoknya. "Panen kita tiga hari lagi. Berarti pasokan pertama kita ke perusahaan Kejora lima hari lagi, karena kaum wanita membutuhkan dua hari untuk membuat makanan olahan. Jadi, kita harus menyelesaikan masalah ini sebelum tiga hari, Bos, atau truk hitam Amerika itu akan membawa angin ke Jakarta."
"Tepat sekali, Nimo. Perusahaan Kejora pun sudah membuat janji dengan restoran Dawn. Jika kita gagal panen, kerja sama kita dengan Pak Gumiro dan Dawn akan berantakan. Dan juga dengan perusahaan Indah Hijau," kata Prapto.
Prapto lalu menoleh pada Nimo. "Tapi, jika panen kita hanya tinggal tiga hari lagi, bukankah tanaman-tanaman ini tetap akan bisa dipanen meskipun tidak menyerap nutrisi selama tiga hari, Nimo?"
Nimo menggeleng. "Meskipun panen hanya tiga hari lagi, jika tanaman tidak bisa menyerap nutrisi yang diperlukan dari tanah dengan sempurna, maka hasil panen kita akan berkurang jauh kualitasnya, Bos. Warna buah dan sayur tidak akan cerah dan permukaannya pun akan berkerut. Mana bisa dipajang di mall dan supermarket?"
"Kemarilah, Nimo, Nak Prapto!" Pak Dwipangga memanggil putranya dan Prapto dari meja di depan dapur.
"Selamat pagi, Pak Dwipangga," sapa Prapto sambil menarik kursi. "Kebun Bapak bagaimana? Tanamannya aman?"
Pak Dwipangga menyulut rokoknya. "Kebunku tidak tergenang, Nak Prapto. Tapi hujan tadi malam lebat sekali sehingga setelah mengurus kebun tadi aku harus memperbaiki saluran air serta membuat beberapa saluran baru."
Pak Dwipangga lalu menatap tanaman dan saluran air di kebun itu. "Kita harus cepat mencari cara, Nimo, Nak Prapto. Truk perusahaan Kejora akan datang ke sini lima hari lagi. Kita sudah menghitungnya sama-sama dengan Pak Oscar, jika satu saja kebun warga gagal panen, jumlah pasokan yang dibutuhkan perusahaan Kejora tidak akan terpenuhi.
"Sebelum ke sini aku mengunjungi beberapa kebun warga. Dari cerita mereka, ditambah dengan kebun kalian, ada lima kebun yang memiliki masalah yang sama dan terancam gagal panen."
Prapto dan Nimo tertegun. Mereka kembali melihat ke arah tanaman dan saluran air. Ternak-ternak mereka bersorak bersahutan karena belum di lepas dan diberi makan.
Pak Dwipangga berdiri. "Mari, kita temui empat orang pemilik kebun yang mengalami masalah serupa itu lalu kita ajak mereka untuk berdiskusi di rumah Pak Kades."
Prapto dan Nimo menyulut rokok lalu berdiri.
***
Pak Dwipangga, Nimo, Prapto, dan empat orang bapak-bapak yang kebunnya terancam gagal panen itu duduk di teras rumah Pak Oscar. Mereka semua sedang menunggu gagasan dari pemimpin desa Kejora.
Pak Oscar meneguk kopi. Ia menatap tamu-tamunya sejenak. "Semua upaya untuk memperbaikinya sudah kalian lakukan. Sampai saat ini, hanya cara itu yang kita tahu. Struktur alam lima kebun ini memang mudah tergenang air. Tidak seperti biasanya, dimana hanya perlu waktu dua hari hingga tanaman bisa segar kembali, pada musim hujan kali ini hujannya sangat deras.
"Dan masalahnya, jika tanaman-tanaman itu tetap tidak berubah menjadi segar dalam dua hari ini, solusi hebat macam apa yang bisa kita temukan hanya dalam waktu satu hari, sebelum kaum wanita mengolahnya menjadi makanan?"
__ADS_1
Semua orang tertegun. Mereka larut ke dalam pikiran masing-masing.