
"Kira-kira kapan Nak Prapto dan Nimo akan tiba di hutan Amazon, Pak Kades?" tanya Pak Dwipangga yang sore itu berkunjung ke rumah Pak Oscar.
"Lusa, Pak Dwipangga. Kata Pak Reynaldi, perjalanan dari bandara ke tepi hutan memakan waktu sekitar sepuluh jam pula. Mari, Pak, diminum kopinya!" ajak Pak Oscar sambil mengangkat kopi.
Pak Dwipangga mengangguk-angguk dan meneguk kopi. "Kalau tanah terra petra itu bisa menyebarkan kesuburannya, tidak bisa tidak, itu pasti karena aktivitas mikro organismenya, bukan, Pak Kades?"
"Betul, Pak. Setelah dikatakan Stepen kemarin, aku mencarinya di youtube. Kata para peneliti dan arkeolog, tanah di sana awalnya tidak subur, bahkan mungkin lebih tidak subur dari tanah kita. Tapi, orang-orang jaman kuno itu kemudian menciptakan terra petra dengan suatu cara."
"Sebentar, Pak Kades," kata Pak Dwipangga. "Kalau arkeolog mengatakan 'orang-orang jaman kuno', itu berarti?"
Pak Oscar mengangguk mantap. "Ya, seperti yang kau pikirkan, Pak Dwipangga. Usia terra petra sudah delapan ribu tahun, dan masih bertahan kualitasnya sampai sekarang."
"Hebat!"
"Ada juga teori yang mengatakan bahwa di dalam hutan Amazon dulunya ada sebuah kerajaan berperadaban maju, Pak. Para arkeolog menemukan beberapa bukti peradaban maju di sana. Jika itu benar, tidak mengherankan juga, karena dari terra petra bisa kita lihat betapa majunya peradaban mereka," terang Pak Oscar.
Pak Dwipangga mengangguk-angguk. "Untuk semua lahan di desa Kejora, aku rasa, setidaknya butuh satu truk tanah terra petra, Pak Kades. Apa nanti akan dibawa dengan pesawat juga?"
"Kata Pak Reynaldi, dengan kapal laut, Pak Dwipangga. Nanti dari dermaga tempat kapal itu berlabuh, akan diantar oleh karyawannya Pak Gumiro ke desa kita dengan truk Amerika hitamnya."
“Kenapa Pak Reynaldi Hijau tidak minta kirim terra petra saja pada temannya, Pak Kades?” tanya Pak Dwipangga.
“Pak Reynaldi sendiri yang menyarankan agar Prapto dan Nimo ke sana, Pak Dwipangga. Karena lahan terra petra itu ada yang mengelolanya dan mereka menjualnya. Karena ada peluang tertipu, dan karena lokasinya juga sangat jauh, maka sebaiknya ada yang memastikan keaslian tanah yang dikirim itu sampai dimuat ke atas kapal.”
***
__ADS_1
Setelah terbang selama dua puluh tiga jam lebih, Pratpo dan Nimo akhirnya sampai di bandara yang ada di Rio De Janeiro, ibu kota Brazil. Dari sana mereka kemudian menempuh perjalanan lagi selama berjam-jam hingga akhirnya tiba di tepi hutan Amazon.
Sahabat Pak Reynaldi Hijau yang menjemput Prapto dan Nimo di bandara bernama Ziko, pria tua berusia lima puluh tiga tahun. Rambutnya botak, mengenakan kacamata, dan sedikit gemuk. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Pak Ziko adalah orang asli Brazil. Ia tinggal sendirian di laboratorium yang merangkap rumah. Bangunan itu milik perusahaan tempat ia bekerja dan terletak di tepi hutan Amazon.
“Istriku sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu,” kata Ziko pada Prapto dan Nimo, sambil meletakkan tiga gelas kopi panas di meja terasnya. “Dulu aku tinggal di sini bersama istriku jika aku ada kerja di hutan Amazon. Ini bangunan perusahaan. Kalau rumah kami, letaknya di desa yang tak begitu jauh dari sini.”
Prapto dan Nimo menyulut rokok mereka lalu melihat-lihat ke sekitar rumah Pak Ziko yang dikelilingi oleh hutan rindang. Sejak tiba di rumah Pak Ziko tadi, mereka telah melihat banyak hewan lewat seperti burung, tupai, monyet, dan beberapa jenis serangga berwarna-warni.
Di depan rumah ada jalan tanah yang bisa dilalui oleh dua buah mobil. Jalan itu terus ke dalam hutan, yang menurut Pak Ziko terdapat beberapa pemukiman penduduk asli Amazon di sana.
“Bapak tidak takut tinggal sendiri di tepi hutan Amazon ini?” tanya Nimo.
Pak Ziko tersenyum. “Tidak. Malah aku lebih tenang tinggal di sini daripada di kota.
“Tidak, Prapto. Selagi kita tidak mengganggu habitat dan ketenteraman mereka, hewan-hewan itu tidak akan mengganggu. Aku tidak bisa memastikan, namun selama aku tinggal di sini, aku tidak apa-apa,” jawab Pak Ziko. Ia kemudian menyulut rokok.
“Besok kita langsung ke lokasi terra petra, Pak?” tanya Nimo
“Iya. Karena dua hari lagi kapal barang ke Endonesa yang akan membawa tanah terra petra itu akan berangkat.”
Nimo mengangguk-angguk. “Berapa lama waktu yang diperlukan sampai kapal itu tiba di Endonesa, Pak.”
“Dua puluh hari. Aku sudah menyiapkan semuanya. Pembayaran kepada pengurus tanah terra petra itu juga sudah aku selesaikan.”
__ADS_1
“Terima kasih, Pak Ziko,” ucap Prapto.
Pak Ziko mengangguk. “Mari, beristirahat dulu, Prapto, Nimo! Besok pagi kita akan masuk hutan.”
Prapto dan Nimo saling pandang sejenak. Masih ada rasa takut di hati mereka untuk memasuki hutan Amazon yang punya banyak mitos.
***
Keesokan paginya, Pak Ziko memberi seragam baru pada Prapto dan Nimo untuk menjelajahi hutan Amazon. Seragam itu berwarna coklat, memiliki empat kantong baju, dan dilengkapi dengan topi lebar.
Pak Ziko muncul dari dalam garasi mengendarai mobil jeep coklat-nya. Orang tua itu lun mengenakan seragam yang sama.
“Mari, menangkap anakonda dan memancing piranha,” kata Pak Ziko, tertawa.
Prapto dan Nimo mengangguk ragu. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil, Prapto di kursi depan, Nimo di kursi belakang.
Di sepanjang perjalanan, Prapto dan Nimo melihat lebih banyak hewan. Mereka melihat beberapa jenis ular, monyet berhidung panjang, burung berparuh panjang, dan juga katak yang memiliki corak unik dan warna yang cantik.
Prapto menoleh pada Pak Ziko . “Ada singa di sini, Pak?” tanyanya, dengan suara sedikit bergetar.
“Tidak ada, Prapto. Tapi harimau dan jenis kucing besar lain ada banyak,” jawab Pak Ziko. “Ada buaya juga. Dan ada jenis ikan sungai yang sangat besar di sini, lebih besar dari manusia. Nama ikannya arapaima, dan panjang ikan ini bisa mencapai empat koma lima meter. Nanti kita akan ke sana melihat-lihat, tapi kita selesaikan dulu soal tanah terra petra ini.”
Mobil jeep Pak Ziko terus melaju ke dalam hutan. Sesekali mereka berpapasan dengan pengunjung hutan yang lain atau dengan penduduk sekitar yang sedang beraktivitas dalam hutan.
Sambil berkendara, Pak Ziko bercerita tentang hutan Amazon. “Banyak sekali misteri yang ada di hutan Amazon ini. Mulai dari laba-laba raksasa, kerajaan kuno yang pada zamannya memiliki peradaban maju, sungai yang airnya mendidih, empat ratus macam suku pedalaman, dan lain-lain. Para arkeolog pun menemukan benda-benda yang menurut mereka berasal dari kerajaan hutan Amazon.
__ADS_1
“Terra petra ini pin sebetulnya juga masih misteri, karena tidak ada yang bisa membuatnya. Banyak yang telah mencoba membuat terra petra ini di negara lain, dan meskipun tanah yang mereka buat tersebut hasilnya juga berwarna hitam gelap, namun kualitasnya masih jauh di bawah tanah terra petra yang asli dari hutan Amazon. Dan ...”
Kata-kata Pak Ziko terhenti, begitu juga dengan mobil jeep-nya. Tak jauh dari mereka, seekor harimau kini berdiri di tengah jalan. Harimau tersebut menatap ke arah mobil.