
Prapto memandangi hujan malam dari terasnya dengan murung. Ia kemudian menggeser pandangannya ke arah lampu yang dikelilingi oleh laron-laron. Prapto memejamkan matanya, berharap dapat mendengar kepak sayap laron-laron mungil yang beterbangan.
“Bos, kau ngantuk?” tanya Nimo.
Prapto menggeleng. “Aku mencoba memisahkan suara hujan dari suara kepak sayap laron-laron itu, Nimo.”
“Tidak hujan pun agaknya kau tak akan bisa mendegarnya, Bos. Minumlah kopi dulu.”
Prapto membuka matanya. Ia meneguk kopi lalu menyulut rokok. “Terima kasih, Nimo. Menurutmu, kenapa laron-laron itu mengelilingi lampu?”
“Aku rasa, itu hanya karena mereka menyukai cahaya, Bos.” Nimo menyulut rokok.
Prapto masih memandangi laron-laron. “Nenek-nenek tetanggaku bilang, laron-laron mengelilingi lampu karena mereka mengira lampu adalah bulan, Nimo. Mereka ingin terbang ke bulan, namun sayap mereka hanya bisa sampai atap. Mereka sepertiku.”
“Bos. Kenapa kau?”
“Mungkin aku telah keliru, Nimo, tentang kerja sama bisnis yang kita tawarkan ke perusahaan-perusahaan itu. Sama seperti laron-laron itu, akhirnya aku hanya bisa sampai di atap, bukan di bulan. Kerja sama bisnis ini akan berantakan. Sialan.” Prapto mengacak rambutnya.
“Kita harus terus berusaha, Bos,” kata Nimo. “Jika besok tak ada perubahan, masih ada waktu sehari lagi untuk mencari cara agar tanaman-tanaman di kelima kebun bisa dipanen.”
“Solusi macam apa yang bisa kita dapat dalam sehari, Nimo?” Prapto mengangkat kepalanya. “Maaf, Nimo. Bukannya menyemangati, aku malah meratap terus dari tadi.”
Nimo tersenyum. “Sudah lah, Bos Prapto. Andai nanti kerja sama bisnis kita memang berantakan, kita masih bisa meyakinkan mereka pada panen selanjutnya. Jika mereka tidak mau bekerja sama lagi, kita masih bisa menjual hasil ngebun ke pedagang pasar. Tapi aku yakin mereka bukanlah orang yang seperti itu, Bos.”
“Tapi aku akan malu kalau pasokan kita tidak cukup, Nimo. Malu pada Pak Gumiro, malu pada kedua pengusaha itu, dan malu pada warga desa Kejora, karena aku menawarkan kerja sama bisnis sebelum hasil panen kita jelas.” Prapto menghela napas.
“Kau sendiri yang mengatakan padaku, Bos, kalau tidak kita tawarkan secepatnya, mereka bisa saja membentuk kerja sama bisnis dengan yang lain dan peluang kita akan hilang. Lagi pula, kita ‘kan tahu kualitas panen desa Kejora bagaimana. Kita tidak menipu mereka.
“Tak ada yang menyangka hujan akan seperti ini, Bos. Dan aku yakin tak ada yang akan menyalahkanmu jika memang usaha kita gagal.”
Prapto mengangguk lemah. “Semoga saja kita menemukan caranya, Nimo.”
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Prapto dan Nimo kembali menggeleng melihat genangan air di kebun mereka. Mereka kembali memperbaiki saluran air dan membuat beberapa saluran baru.,
“Tak ada perubahan sedikit pun, Nimo,” kata Prapto, sambil meletakkan gelas kopi. “Kalau dihitung, mungkin saluran air di kebun kita sudah berjumlah seratus.”
Nimo tertawa. “Mungkin lebih, Bos. Ayo, kita cari solusinya di internet, mana tau ada. Untuk jaga-jaga jika nanti sore tetap tak ada perkembangan.”
Mereka kemudian menggulir ponsel masing-masing.
Hingga sore tiba, kepala mereka jadi sedikit pusing karena terus menatap layar ponsel. Mereka bangkit lalu memeriksa kembali saluran air.
“Sialan!” umpat Prapto. “Masih sama, Nimo. Dan waktu kita hanya sehari lagi.”
Nimo menggelengkan kepalanya. “Ayo melapor ke rumah Pak Oscar, Bos,” sahut Nimo. Mereka kemudian bergegas mengambil sepeda.
***
“Apakah masih ada harapan kelima kebun itu bisa panen, Bu Harni?” tanya Pinaka sambil menyusun buku.
Bu Harni baru saja menceritakan padanya tentang lima kebun warga yang terancam gagal panen.
Pinaka mengangguk. “Kenapa hanya lima kebun itu yang kena, Bu? Apa mungkin hujannya tidak merata?”
“Kata Bu Inari, karena struktur tanah kelima kebun itu berbeda. Semoga saja cepat ketemu solusinya. Besok semua kebun harus panen. Satu kebun saja gagal panen, desa Kejora gagal memenuhi pasokan pada perusahaan Pak Gumiro. Ngomong-ngomong, satu dari lima kebun itu adalah kebun Prapto, Pinaka, calon suamimu,” kata Bu Harni, sambil menggulir ponsel.
“Bu Harni ini, berapa kali aku bilang, Mas Prapto bukan calon suamiku.” Sekejap saja Pinaka sudah bisa menduga bahwa Prapto pasti sangat pusing sekarang. Ia tahu, tak hanya kebunnya saja yang akan dipikirkan oleh Prapto, tapi juga empat kebun lain.
Masih sambil memandangi ponselnya, Bu Harni tersenyum. “Ah, kau masih saja malu-malu bercerita padaku.”
Pinaka menghela napas. “Bu Harni sedang nyari resep makanan? Asyik sekali dari tadi.”
“Bukan. Aku mencari solusi untuk masalah kelima kebun itu. Kau juga ikutlah, bantu Prapto.”
Pinaka berpikir sejenak. “Sebentar, ya, Bu Harni.” Ia kemudian pergi ke bagian tengah perpustakaan. “Lapen, ke sini lah sebentar.”
__ADS_1
Seperti biasa, di mana ada Lapen, di situ pasti ada Taro dan Lennon. Dan mereka bertiga kini melangkah menghampiri Pinaka.
“Ada yang bisa kami bantu, Tante? Tanya Lapen.
Pinaka mengernyitkan keningnya. “Aku tadi memanggil Lapen, kenapa Taro dan Lennon juga datang?”
Lapen tersenyum. “Kami sepaket, Tante Pinaka. Di mana ada aku, di situ akan ada Taro dan Lennon. Jika Tante memanggil aku, berarti Tante juga memanggil Taro dan Lennon.”
“Ya sudah. Tante mau minta tolong pada kalian.”
“Katakanlah, Tante Pinaka. Kami akan membantu,” jawab Lennon.
Pinaka lalu mengatakan pada ketiga sahabat itu pertolongan yang ia butuhkan.
“Baik, Tante. Kami akan berusaha.” Taro yang menjawab. Mereka kemudian berpencar.
***
Prapto dan Nimo duduk di teras Pak Oscar bersama Pak Dwipangga dan empat orang bapak-bapak yang kebunnya juga terancam gagal panen. Tak ada yang bersuara, hanya hujan sore yang mengisi keheningan. Aroma kopi panas tak dihiraukan oleh mereka.
“Kira-kira jam berapa batas waktu kita besok, Pak Dwipangga?” tanya Pak Oscar. Ia kemudian meraih kopinya.
“Paling lama, jam dua siang panen harus dimulai, Pak Kades. Itu pun selesainya menjelang malam.”
Pak Oscar mengangguk. “Masih ada waktu hingga menjelang jam dua siang. Kita tidak boleh menyerah.”
“Nak Prapto.”
Prapto menoleh kepada bapak-bapak yang barusan memanggilnya. Bapak-bapak itu tersenyum lembut pada Prapto. “Aku lihat, Nak Prapto sangat terbebani dengan masalah ini. Tenanglah, kita masih punya waktu. Andai pun kita tidak menemukan solusinya, ini bukanlah akhir, dan tidak ada yang akan menyalahkanmu. Aku pribadi bangga dan bersyukur atas kehadiranmu di desa Kejora ini.”
Prapto diam sejenak untuk menahan perasaan haru yang hendak mengalir melalui matanya. Ia mengangguk. “Terima kasih, Pak.”
Mereka kembali menggulir ponsel. Hanya internetlah tempat mereka mencari solusi, karena di Endonesa hanya desa Kejora satu-satunya yang menerapkan sistem pertanian dan peternakan alami.
__ADS_1
Hujan masih terus turun tanpa melambat sedikit pun. Setiap rintiknya bagai menambah kecemasan bagi warga desa Kejora.