Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
86. Ungkapan Terima Kasih


__ADS_3

Suasana kembali hening. Kali ini lebih hening. Tak seorang pun yang bicara karena kaget. Hanya Pak Purnomo yang tampak santai-santai saja sambil tersenyum menatapi satu persatu orang-orang yang ia buat kaget.


Bu Rena akhirnya angkat bicara. “Akan aku pikirkan dulu.”


“Baiklah,” kata Pak Purnomo, tersenyum. Ia tidak membahas hal itu lebih lanjut. “Kalau begitu, kami pamit dulu, takut kemalaman tiba di desa.”


Pak Akum mengantar mereka sampai ke pagar.


“Maaf, Kum, tapi aku serius ingin menikahi adikmu,” kata Pak Purnomo pelan, setelah semuanya naik ke mobil.


Pak Akum tersenyum. “Sudah, tak usah dipikirkan, Pur. Meski kita baru bertemu, aku percaya padamu. Kalau Rena setuju, aku akan mendukung kalian.” Pak Akum mengulurkan tangannya.


Setelah menyalami Pak Akum, Pak Purnomo naik ke bangku kemudi. Mereka mengantar Ronal terlebih dahulu sebelum pulang ke desa Kejora.


***


Hari ini Lapen Oscario sudah tiba di rumah kakeknya sejak pagi-pagi sekali bersama Taro dan Lennon. Karena pintu rumah kakeknya tutup, Lapen mengajak Taro dan Lennon melukis di halaman dengan ranting kayu lebih dulu sampai kakeknya keluar.


“Kata Kakek Purnomo, melukis di tanah dengan ranting beda caranya dengan melukis di kanvas atau buku,” terang Lapen pada kedua sahabatnya.


“Kapan? Kau membual lagi, ya, Lapen? Aku tak pernah dengan Kek Purnomo bilang begitu. Kau pernah dengar, Taro?” Lennon menoleh pada Taro.


Taro menggeleng. “Tidak, Lennon,” jawabnya. “Barangkali kau salah dengar, Lapen.”


Lapen menggurat garis terakhir dari gambar rumah yang dibuatnya. “Mana kalian akan tahu. Waktu Kek Purnomo bilang itu kalian tidur.”


Lennon dan Taro tertawa. Dari pagar rumah, muncul Pak Purnomo. “Sudah lama kalian datang? Tumben pagi-pagi sekali.”


“Kami ingin ikut melepaskan ikan yang dibawa Paman Prapto ke sungai, Kek,” jawab Lapen.


Pak Purnomo menghampiri tanah yang dilukis oleh Lapen dan kedua sahabatnya. Ada gambar mobil yang dibuat oleh Taro, gambar rumah oleh Lapen, dan gambar ikan yang dibuat oleh Lennon.


Pak Purnomo tersenyum. “Sudah makin hebat saja kalian melukis. Ngomong-ngomong kenapa kau tidak langsung menghampiri kakekmu ke belakang, Lapen? Paling juga dia di kebun.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Kek, sambil bermain kami tunggu saja Beliau membuka pintu,” jawab Lapen.


“Ya sudah, aku tinggal dulu, ya, aku ingin menemui Oscar.” Pak Purnomo melangkah melalui jalan setapak kecil di samping rumah Pak Oscar yang menuju ke kebunnya.


Pak Purnomo berdiri di pintu kebun. Tampak Pak Oscar sedang memeriksa daun-daun tanamannya sambil bernyanyi ditimpali kicauan burung.


“Mr. Tambourine Man. Kau yakin burung-burung yang ikut bernyanyi denganmu itu tahu lagu Bob Dylan, Oscar?” Pak Purnomo melangkah menghampiri bangku panjang yang ada di depan kolam, duduk, lalu menyulut rokok.


Nyanyi Pak Oscar terhenti. Ia berbalik dan tersenyum pada Pak Purnomo. “Tentu saja mereka tahu, Purnomo. Aku sering memutar lagu rock di kebun ini dan mereka selalu mengikuti.”


Pak Oscar kemudian ikut duduk di bangku panjang. Ia menyulut cangklong sambil menatap kolam. Ia tidak bertanya kenapa Pak Purnomo datang pagi-pagi sekali, karena sudah bisa menduga apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya tersebut.


“Sejak umur berapa kita berteman, Oscar?” tanya Pak Purnomo tanpa menoleh, ia juga tengah menatap kolam.


“Aku rasa waktu itu usiaku empat tahun, Pur. Kau datang ke rumahku bersama ayahmu. Ayah kita mengobrol di teras sementara kita ke kebun melihat-lihat ternak dan membuat mobil-mobilan dari kayu,” jawab Pak Oscar.


“Sejak saat itu juga kita sudah berteman akrab, Oscar,” kata Pak Purnomo. “Kau lupa kalau aku ini cerdas? Tidak terlalu sulit bagiku untuk akhirnya tahu bahwa kau tengah dalam upaya menjodohkanku. Yang tidak aku tahu, apa rencana yang kau susun bersama Prapto dan Nimo?”


Pak Oscar tertawa. “Tidak rumit. Aku hanya meminta mereka untuk mencari guru yang perempuan lalu lihat bagaimana tanggapan Purnomo.”


“Berapa umurnya, Pur?”


“Empat puluh lima tahun.”


Pak Oscar mengangguk-angguk. Ia paham, dengan datang ke sini pagi-pagi, begitulah cara Pak Purnomo berterima kasih padanya. Ungkapan terima kasih tidak harus selalu diucapkan, tapi juga bisa dengan cara ditunjukkan melalui sikap dan perbuatan.


***


“Kapan kira-kira Bu Rena itu akan mengatakan keputusannya, Bos? Arini terus bertanya padaku kapan akan dimulai pelajaran membuat pakaian secara alami di desa Kejora.” Nimo menyandarkan punggungnya ke bangku setelah menyulut rokok. Siang ini matahari begitu terik sehingga mereka istirahat berkebun lebih cepat dari biasanya.


“Kalau dia setuju untuk tinggal di desa Kejora, dia tidak akan memberi kabar, Nimo,” jawab Prapto. Ia lalu menyulut rokok.


Nimo menoleh pada Prapto dengan wajah heran. “Kenapa begitu, Bos? Lalu bagaimana caranya?”

__ADS_1


Prapto tertawa. “Bu Rena itu wanita, Nimo. Setuju mengajar di desa Kejora berarti dia setuju untuk menikah dengan pamanmu. Pasti dia malu mengatakannya pada Pamanmu. Palingan dia hanya akan memberi kode.”


Nimo mengangguk-angguk. “Benar juga, Bos. Apa sebaiknya kita bilang ke Paman supaya ia menanyai Bu Rena?”


“Tidak perlu. Pamanmu pasti paham soal ini. Kau ikut melepas ikan yang kita beli kemarin ke sungai, Nimo?”


“Tidak, Bos. Aku serahkan saja itu pada Lapen Oscario dan kedua sahabatnya,” jawab Nimo. “Bos ikut?”


“Tidak juga, Nimo.”


***


Bu Rena tidak membuat kain hari ini. Sejak pagi setelah mengurus bunga-bunga di taman ia hanya duduk pendopo. Teh di depannya sudah habis. Dari rumah Pak Akum datang membawa dua piring nasi goreng.


“Makanlah dulu, kau terlalu sibuk berpikir sejak pagi. Aku yang masak,” kata Pak Akum setelah meletakkan nasi goreng dan duduk di depan adiknya.


“Terima kasih, Bang.” Bu Rena tersenyum. Ia mengambil nasi goreng dan menyuapnya. “Menurutmu bagaimana orangnya Mas Purnomo itu, Bang?”


“Menurutku dia orang yang baik, Ren. Dia juga keren. Aku suka sekali dengan lukisan-lukisannya. Aku tadi malam juga menelepon Ronal menanyakan tentang desanya Purnomo. Ronal pernah ke sana menghadiri pernikahan Prapto dan Nimo. Kata Ronal, desa Kejora itu damai dan indah,” terang Pak Purnomo.


Bu Rena menahan tawanya sambil mengunyah nasi goreng. “Masa’ baru sekali ke sana Ronal sudah bisa memastikan desa itu damai dan indah, Bang?”


“Bisa saja, Ren, kalau si Ronal itu cermat mengamati. Kau sudah mengambil keputusan?”


“Sudah, Bang. Sepertinya aku akan jadi warga desa itu,” jawab Bu Rena tersipu.


Pak Akum tertawa melihat adiknya malu-malu. “Kalau begitu, kau teleponlah Purnomo sekarang.”


“Jangan, Bang! Masa’ wanita yang bilang duluan? Biar Mas Purnomo yang menanyaiku nanti. Abang jangan bilang apa-apa padanya, ya.”


Pak Akum mengangguk-angguk. “Baiklah. Kita tunggu mereka menghubungi.”


Tak lama setelah itu ponsel Pak Akum berdering. “Dari Purnomo, Ren.”

__ADS_1


Bu Rena berhenti mengunyah. “Coba angkat, Bang,” katanya.


__ADS_2