Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
16.Saling Rindu


__ADS_3

Sudah tiga bulan lebih Prapto pergi dari rumahnya dan tak pernah melihat wajah ayah dan ibunya lagi sejak saat itu. Prapto bukannya tak mau pulang, ia bukan pula tidak rindu. Prapto hanya tidak mau lagi mendengar kata-kata orang tuanya yang seperti menyesal telah memiliki anak yang kuno seperti dirinya. Kata-kata tersebut sangat menyayat hati Prapto.


Pada hari minggu pagi, di taman belakang rumah mereka yang dirawat oleh Mang kari, suami istri modern itu duduk berdua di sebuah bangku panjang sambil sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.


Mang Kari kadang merasa heran, apa tujuan majikannya itu duduk di taman? Mereka berada di taman, mereka duduk berdua, tapi pikiran dan hati mereka masing-masing terpisah jauh dibawa oleh gulir ponsel ke mana-mana, seolah mereka sama sekali sedang tidak duduk berdua.


"Heran betul ... Apakah ponsel mereka tampak jauh lebih indah daripada bunga-bunga yang aku tanam di taman ini?" bisik Mang Kari pada dirinya sendiri.


Jari Bu Veni berhenti menggulir ketika layar ponselnya menampilkan potret seorang bocah kecil berusia tujuh tahun yang sedang mendorong sebuah mobil-mobilan dengan wajah riang.


Bu Veni mengangkat wajahnya lalu melihat lurus ke depan. Dia tidak sedang menatap apa-apa, bunga-bunga indah yang ada di depannya pun tidak terserap ke dalam pandangannya. Bu Veni hanya tenggelam ke dalam pikirannya dengan mata tetap terbuka.


"Sudah lama, ya, Pak, kita tidak melihat Prapto," ucap Bu Veni sambil kembali melihat potret di layar ponselnya.


"Sejak kecil anak semata wayang kita itu sudah tampan dan cerdas, Pak. Dia juga sangat lucu," sambung Bu Veni ketika guliran jarinya terhenti lagi pada sebuah potret Prapto kecil. Dalam potret itu Prapto sedang mengisi teka-teki silang di sebuah majalah anak-anak.


Tanpa terasa olehnya, dua butir air mata mengambang pada masing-masing sudut mata Bu Veni. Butiran air mata itu terus bergerak turun menjadi dua aliran di pipinya.


Pak Rohan, yang biasanya selalu menatapi layar ponsel, menghela napas panjang. Ia tidak perlu ikut melihat potret Prapto di ponsel istrinya, karena Pak Rohan sudah memejamkan matanya sambil membayangkan Prapto kecil yang sangat suka diayun-ayunkan ke atas.


"Apa jangan-jangan kita inilah yang sudah salah, Pak?" tanya Bu Veni.


Pak Rohan tidak langsung menjawab. Ia terlebih dahulu menanggalkan kacamata. "Entah lah, Bu. Entah kita memang sudah terlalu gila pada uang sehingga tidak tahu dan heran pada anak kita sendiri."


"Tapi, Bu, aku sangat sedih bila memikirkan Prapto pada malam perceraiannya itu. Ia tetap pamit pada kita meskipun kau mendampratnya dan kita mengancam tidak akan menganggap dia sebagai anak lagi. Dan yang lebih sedihnya, dia mendapat nasehat untuk bersikap hormat seperti itu terhadap orang tua bukan dari kita ... "


Ucapan Pak Rohan terhenti karena ada suatu perasaan di dalam hatinya yang membuatnya tidak bisa meneruskan kata-kata.


Namun Bu Veni menyambung, "Kau benar, Pak. Prapto mempelajari sikap itu bukan dari nasehat kita, melainkan dari nasehat Mang Kari dan Bi Asih yang bukan siapa-siapanya. Aku kangen Prapto, Pak."


Tangis Bu Veni terdengar putus-putus, karena ia kini sudah membenamkan wajah di bahu suaminya. Pak Rohan mendekap kepala istrinya sambil mengangguk-angguk, tanda bahwa ia juga rindu pada anak semata wayang mereka.

__ADS_1


***


"Kau memperhatikan tidak, apa nama corporation yang tertera di atas toko tadi?" tanya Prapto dengan tatapan serius.


Nimo tampak berpikir sejenak sambil menopang dagunya dengan tangan.


"Jadi, selama ini kau sering menjual hasil panen ayahmu ke sana, tapi kau tidak tahu apa nama toko itu?" tanya Prapto lagi. Ia tertawa.


"Ah, jangan menyela begitu, Bos! Aku sedang memikirkannya."


Prapto kembali tertawa. "Kuda Terbang Corporation, Nimo," kata Prapto tanpa menunggu Nimo selesai berpikir.


Nimo mengangkat tangannya. "Nah, itu dia, Bos. Hampir aku bilang Naga Terbang tadi."


"Bilang saja kau tidak tahu, Nimo ... Nimo. Jadi, begini. Kuda Terbang Corporation itu adalah perusahaan tempat si CEO Cuek suaminya Silvi bekerja. Kau tahu 'kan bahwa firasatku tidak enak ketika mendapat undangan pernikahan Silvi? Aku rasa inilah jawabannya!" terang Prapto.


"Jadi, maksud, Bos, hasil panen kita yang ditolak itu adalah bagian dari rencana Silvi karena dia benci dengan, Bos? Lalu hasil panen kita dibilang mengandung unsur kimia agar kita tidak bisa menjualnya di atas harga pasar. Sialan! Licik sekali si feminis dan suaminya yang cuek itu," geram Nimo dengan wajah yang bersungut-sungut.


"Iya. Aku tadi mau mengatakannya kepada Ayah, tapi Bos lebih dulu meng-kodeku untuk tidak mengatakannya," protes Nimo.


Prapto tersenyum. Ia mengangkat tangannya yang memegang rokok. "Karena aku punya sebuah rencana yang bagus, Nimo. Rencana yang lebih menyakitkan bagi Silvi dan suaminya yang dingin itu."


"Apa rencananya, Bos?" tanya Nimo. Ia semakin tertarik dengan kecerdasan bosnya.


"Kita ke rumah Pak Oscar sehabis senja nanti, lalu besok kita ajak orang tua yang namanya kebarat-baratan itu ke kota besar terdekat untuk melihat harga jual hasil panen kita yang dijual kembali oleh anak perusahaan Kuda Terbang. Bila harga di sana jauh lebih mahal dari harga jual kita pada mereka, maka kita bisa segera menyusun serangan balasan."


"Serangan balasan yang seperti apa, Bos?"


"Nantilah itu, Nimo. Kita pastikan dulu harganya."


"Baiklah, Bos. Selain gagah ternyata kau memang cerdas," sahut Nimo sambil mengangkat jempolnya, "sekarang tak usah kita pusingkan dulu tentang itu, Bos. Ayo bernyanyi!" ajak Nimo sambil mengambil gitar dari atas meja di hadapannya.

__ADS_1


Petikan gitar Nimo pun dimulai. Prapto yang tadinya ingin mengambil harmonika segera mengurungkan niatnya. Ia tahu betul lagu itu dan ia sangat tidak ingin menyanyikannya.


Ketika Prapto menoleh, mata Nimo sudah terpejam dalam petikan gitar. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menyanyikan lagu Ozzy Osbourne yang berjudul Mama, I'm Coming Home (Ibu, Aku Pulang) tersebut.


You made me cry, you told me lies


But, I can't stand to say goodbye


Mama, I'm coming home


I could be right, I could be wrong


It hurts so bad, it's been so long


Mama, I'm coming home


Nimo menghentikan petikan gitar ketika suara Prapto tiba-tiba tidak terdengar lagi olehnya. Ia membuka mata. Seketika Nimo paham bahwa lagu itu telah membuat Prapto membayangkan kedua orang tuanya yang telah lama tidak ia temui.


"Maaf, Bos," kata Nimo pelan.


Prapto menggeleng. "Tidak apa-apa, Nimo, aku hanya sedang rindu saja pada mereka."


Nimo tidak menjawab. Ia tahu bahwa bukan waktunya untuk memberikan nasehat. Ayahnya berpesan kepada Nimo bahwa ketika seorang teman atau keluarga bersedih, bukan berarti dia ingin dinasihati. Bisa saja dia hanya ingin didengarkan dan dipahami perasaannya tanpa butuh nasehat.


Kadang, sifat sombong membuat kebanyakan orang ingin menasihati teman ataupun keluarganya yang sedang bersedih. Padahal, sering kali nasehat yang mereka berikan itu hanya lah topeng bagi sifat sombong dan sifat pamer mereka. Mereka hanya sedang menyalurkan kesombongannya melalui sebuah nasehat agar tidak terlihat kentara.


Betapa lucu dan konyolnya manusia-manusia yang sepeti itu. Pak Dwipangga juga mengatakan pada anaknya, bahwa apabila seseorang tidak meminta nasehat, jangan dinasihati! Bila tetap memberi nasehat, padahal teman atau keluarganya itu tidak memintanya, maka mereka akan muak.


Lama sekali Prapto merenung. Entah ia menangis, entah matanya hanya berlinang, tak jelas, karena kegelapan sudah mulai membungkus bumi. Nimo terus duduk sambil membaca-baca di ponselnya. Ia tidak mau mengganggu kesedihan Prapto, namun ia juga akan selalu menemani kesedihan sahabatnya, selama dan sedalam apa pun itu.


Prapto mengangkat kepalanya. "Ayo, Nimo, kita berbenah lalu pergi ke rumah Pak Oscar!" ajak Prapto tersenyum. Suaranya sudah mulai terdengar tenang kembali ...

__ADS_1


__ADS_2