Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
31. Kau Pilih yang Mana?


__ADS_3

"Aku punya ide, Mas," kata Pinaka, "Mas ancam saja si Tristan. Mas telepon dia, lalu katakan padanya, jika pinjaman modal Pak Gumiro tidak disetujui, Mas Prapto akan melaporkan dia ke polisi atas tuduhan penipuan. Dia tentu takut, karena tidak ingin namanya sebagai CEO jadi jelek. Jabatannya pun akan berpotensi diturunkan atau bahkan dipecat."


Wajah Prapto berseri. Bu Veni dan Pak Rohan mengangguk-angguk tersenyum.


"Menantu Tante memang cerdas!" kata Bu Veni, yang membuat Pinaka dan Prapto langsung sama-sama menoleh ke arahnya.


"Maksud Tante, kenalannya anak Tante cerdas," imbuhnya tertawa.


"Maksud Om juga begitu," timpal Pak Rohan.


Prapto menggeleng-geleng. "Dan agar lebih meyakinkan, aku akan bilang pada Tristan bahwa Pinaka punya bukti transfer uang yang dikirim oleh Tristan. Jika dia masih kurang takut, aku akan bilang bahwa Pinaka merekam pembicaraan mereka di telepon, ketika Tristan memintanya untuk menyamar menjadi peneliti pangan."


Pak Rohan menatap Prapto. "Tapi, Prapto, jika Tristan tetap tidak mau, tentu tindakanmu selanjutnya adalah melaporkan Tristan ke polisi. Dan kemungkinan besar Pinaka juga akan menjadi tersangka."


Prapto menyulut rokoknya lagi. "Menurutku Tristan tidak akan mau mengambil risiko, Ayah. Dan aku rasa, Tristan itu gayanya saja yang cuek, tapi dia penakut. Pada istrinya saja dia takut. Lagi pula, Ayah, jika aku membuat laporan di kantor polisi, laporan itu nanti hanya akan aku gunakan untuk mengancamnya.


"Jika Tristan tetap tidak mau menyuruh bank tersebut untuk menyetujui pinjaman Pak Gumiro dan ia lebih memilih untuk berurusan dengan polisi, aku akan mencabut laporan itu supaya Pinaka tidak masuk penjara. Lalu kita cari jalan lain."


Pak Rohan dan Bu Veni mengangguk-angguk.


"Sudah aku screenshot mutasi rekening pengiriman uang dari Tristan, Mas Prapto," kata Pinaka.


"Bu, Ayah, kami ke rumah Pak Gumiro dulu, ya." Prapto lalu berdiri hendak menyalami kedua orang tuanya.


"Kalian makanlah dulu!" kata Pak Rohan.


"Kapan-kapan kami akan berkunjung lagi, Yah. Aku rasa, lebih baik aku menemui Pak Gumiro secepatnya."


"Baiklah. Semoga urusan kalian lancar, ya." Pak Rohan lalu berdiri, diikuti oleh Bu Veni.


Mereka bersalaman. Prapto memeluk kedua orang tuanya. Ia dan Pinaka lalu menyalami Mang Kari dan Bi Asih. Sebelum Prapto naik motor, Bu Veni menyelipkan beberapa lembar uang ke kantong jaket anaknya. "Buat beli rokokmu," katanya.


***


Pak Gumiro dan Timo tampak berpikir keras di teras rumah mereka. Gelas kopi mereka sama-sama masih penuh. Ayah dan anak itu tidak bicara sepatah kata pun. Hanya sesekali saja mereka saling berpandangan sebentar lalu berpikir lagi.


Wajah Pak Gumiro dan Timo baru berubah jadi sedikit cerah ketika mereka melihat Prapto dan Pinaka muncul di halaman rumah. Setelah memperkenalkan Pinaka pada Pak Gumiro dan Timo, Prapto lalu menerangkan tentang rencana mereka.


Pak Gumiro hendak menanggapi penjelasan Prapto, tapi istrinya, Bu Tari, datang menghidangkan minuman.


"Bu, perkenalkan, ini Pinaka, pacarnya Prapto," kata Timo. Ia lalu melirik Prapto sambil tersenyum.


Setelah Pinaka selesai bersalaman denga Bu Tari, Prapto ingin bicara untuk menjelaskan bahwa ia dan Pinaka tidak berpacaran, tapi Bu Tari mendahuluinya. "Nak Prapto pandai mencari pacar. Pinaka manis dan cantik," kata wanita lima puluh empat tahun yang rambutnya disanggul itu.

__ADS_1


"Ti ..."


"Ibu ke dalam dulu, ya, Nak Prapto, Nak Pinaka. Masakan Ibu sedang di kuali," potong Bu Tari yang buru-buru karena takut masakannya gosong. Tanpa menunggu jawaban dari Prapto, ibu Timo itu langsung masuk ke dalam rumah.


Timo tertawa. Ia lalu memasang raut wajah sok bijaksana-nya. "Kau memang pandai mencari pacar, Prapto. Jangan lama-lama pacarannya, menikahlah segera. Aduh!"


Timo terkejut karena bahunya ditepuk oleh Pak Gumiro. "Kita belum tahu Nak Pinaka dan Nak Prapto itu pacaran atau tidak, Timo. Kau sana yang cari pacar dan segera menikah. Kami ingin punya cucu."


"Nah, benar kata ayahmu, Timo," sambung Prapto.


"Kau juga, Nak Prapto. Usia kalian sudah tidak muda lagi."


Prapto dan Timo terdiam sepuluh ribu lima ratus bahasa. Sedangkan Pinaka menunduk menahan tawanya.


"Nah. Coba telepon Tristan sekarang, Nak Prapto," kata Pak Gumiro. "Kalau dia mengangkat panggilanmu, kita tidak usah menemuinya. Aku selalu emosi melihat wajahnya yang sok cuek itu."


Prapto lalu menelepon nomer Tristan yang tadi diberikan oleh ayahnya. Ia mengaktifkan speaker panggilan.


"Halo." Terdengar suara cuek Tristan dari seberang telepon.


"Halo, Tristan," sapa Prapto.


Terdengar suara batuk-batuk di seberang telepon. Prapto tersenyum melihat ke arah Pak Gumiro dan Timo yang sedang menahan tawa. Prapto paham. Tristan batuk-batuk pastilah karena ia tidak dipanggil dengan sebutan formal, yaitu Pak Tristan.


Prapto menyeringai. "Tristaaaan!" sapa Prapto setengah berteriak, teriakan yang membuat Pak Gumiro, Timo, dan Pinaka menahan tawa.


"Aku Prapto, Tan, warga desa Kejora. Aku mau mengajukan penawaran yang akan sangat disayangkan bila kau tolak."


Tak ada terdengar suara Tristan untuk beberapa saat.


"Ya. Ada apa, Prapto?" tanya Tristan dengan nada yang lebih cuek, karena ia merasa bahwa Prapto sudah tahu penyebab pinjaman modal Pak Gumiro dibatalkan. Kalau tidak, kenapa Prapto meneleponnya?


"Aku tahu bahwa kau lah yang menjadi penyebab dibatalkannya pinjaman modal Pak Gumiro, Tan. Karena Pak Gumiro itu adalah ayah temanku sekaligus sahabat bisnisku, maka aku ingin kau membuat pinjaman modalnya disetujui. Kami, warga desa Kejora, tidak ingin berbisnis dengan Kuda Terbang Corporation lagi, Tan. Kalian penipu," kata Prapto.


Prapto melanjutkan, "Pinaka sekarang tinggal di desa Kejora, dan dia sekarang sedang bersamaku di rumah Pak Gumiro. Kata Pinaka, dia punya mutasi pengiriman uang darimu senilai lima juta rupiah. Dia juga punya rekaman pembicaraan kalian di telepon, ketika kau memintanya untuk menolak hasil ngebun-ku. Benarkan, Pinaka?"


"Benar, Mas Prapto," jawab Pinaka.


Tristan tidak menjawab. Di seberang telepon, wajahnya sudah pucat karena mendengar suara Pinaka.


Prapto tersenyum. "Jadi, Tan, aku akan memberimu sebuah tawaran dan sebuah ancaman, yang nanti bisa kau pilih salah satu. Tawaranku adalah, kau buat pinjaman modal Pak Gumiro disetujui, lalu nama baikmu tidak akan rusak dan kau pun tidak akan masuk penjara.


"Atau kau lebih memilih kulaporkan ke polisi? Aku sendiri lebih suka kau memilih pilihan yang ke dua ini. Karena kau bisa masuk penjara, atau setidaknya karier-mu akan merosot drastis. Kau pilih yang mana"

__ADS_1


Pak Gumiro menatap Timo. Ia tidak menyangka bahwa Prapto sangat pandai mengancam orang. Gaya bicaranya meyakinkan dan getaran suaranya pun terdengar tenang. Timo paham maksud sang ayah, ia lalu mengangkat jempolnya.


Lama Tristan diam. Setelah menghela napas panjang, ia berkata, "Baiklah, aku pilih yang pertama, tawaranmu."


Prapto mematikan telepon sambil tersenyum. Pak Gumiro dan Timo mengangguk-angguk. Mereka lalu berdiri dan memeluk Prapto.


"Terima kasih, Pinaka," kata Prapto, "idemu keren."


"Kau juga keren, Mas," sahut Pinaka sambil menatap Prapto dengan kagum.


***


Di rumah mereka, di depan TV, Silvi melihat Tristan dengan pandangan bertanya-tanya. Suaminya itu baru saja selesai berbicara dengan Prapto melalui telepon. "Bagaimana, Sayang?" tanya Silvi.


"Pak Gumiro akan mendapatkan pinjaman modal itu, Sayang, karena Prapto mengancam akan melaporkan aku ke polisi dengan tuduhan penipuan," jawab Tristan dengan nada pelan dan takut. Ia tahu sekali bahwa Silvi pasti akan marah-marah mendengar jawabannya barusan.


"Apa?" tanya Silvi setengah berteriak. "Itu saja kau takut? Kau membuat kita malu saja, Sayang. Prapto pasti sudah tahu bahwa itu adalah rencana kita berdua, dan kini dia pasti menertawakan kita karena kau takut padanya. Itu pasti hanya gertakannya saja, Sayang, jangan takut begitu!"


Tristan semakin cemas mendengar Silvi membentak. Ia takut malam ini Silvi akan ngambek lagi dan dunianya akan terasa sangat tidak berarti untuk dijalani. "Pinaka mendukung Prapto, Sayang. Pinaka punya rekaman teleponku ketika aku menyuruhnya menyamar jadi peneliti pangan. Dia juga punya mutasi rekening pengiriman uang dariku, Sayang."


"Sayang... Sayang... Sayang, tapi mengurus itu saja kau tidak becus!" kata Silvi ketus, tanpa panggilan sayang lagi. "Aku mau pulang ke rumah orang tuaku untuk beberapa hari ini," lanjutnya.


"Sayang, jangan begitu. Tolonglah, jangan begitu, Sayang!" pinta Tristan cemas.


Namun Silvi tidak menghiraukan permohonan suaminya itu. Ia mengambil kunci mobil lalu melangkah cepat ke mobilnya. Tristan bangkit dari duduknya untuk mengejar Silvi, namun baru saja ia sampai di pintu, mobil Silvi sudah melaju.


"Aku tak bisa hidup tanpa kau, Sayang!" sorak Tristan dengan sendu. Tubuh Tristan melehoy, ia terduduk di lantai sambil memegang pintu. Tristan lalu meletakkan ponselnya di atas lemari kecil yang ada di sampingnya. Namun tak lama kemudian, kucing peliharaan Silvi melompat ke atas lemari tersebut dan kakinya menyenggol ponsel Tristan.


Ponsel Tristan tergeser lalu jatuh ke lantai. "Sialan kau!" umpat Tristan pada kucing tersebut


***


"Syukurlah, Pinaka, rencana kita berhasil," kata Prapto. Ia lalu menyuap nasi goreng.


Pinaka mengangguk. "Itu karena Mas Prapto hebat," katanya.


"Kau juga hebat. Aku suka idemu tadi."


Pinaka dan Prapto kini tengah berada di sebuah cafe. Selain untuk makan, mereka berhenti di cafe tersebut untuk berteduh karena hujan turun cukup lebat.


Cafe tempat mereka berteduh itu cukup besar. Makanan dan minumannya enak. Tidak heran jika cafe tersebut sangat ramai pengunjungnya.


Prapto tiba-tiba menghentikan suapan nasi gorengnya. Ia mengangkat kepala untuk melihat seorang pria seusia Pinaka yang tengah berjalan menghampiri meja mereka.

__ADS_1


Pria itu mengenakan kemeja berwarna ungu cerah dan celana panjang katun putih. Ia melihat Prapto dengan tatapan sinis sebentar lalu menoleh pada Pinaka.


"Hai, Pinaka. Sejak kemarin aku tidak melihatmu di kantor. Setelah aku tanya ke temanmu, ternyata kau mengundurkan diri," sapa pria itu tersenyum. Ia lalu ikut duduk tanpa menyapa Prapto.


__ADS_2