
Pak Oscar mengernyitkan kening. Kepala desa Kejora itu tengah membaca sebuah artikel di ponsel pintar-nya.
"Bu, kau lebih suka gerombolan kupu-kupu yang berwarna-warni, atau gerombolan kumbang yang berwarna-warni?" tanya Pak Oscar pada istrinya.
Bu Inari yang sedang menjahit jaket tua Pak Oscar berhenti untuk menatap suaminya. "Gerombolan kumbang yang berwarna-warni cantik, Pak, tapi aku lebih suka gerombolan kupu-kupu yang berwarna-warni."
Pak Oscar mengangguk-angguk dan tersenyum penuh arti. "Ooh. Kalau aku lebih suka ngengat, Bu. Ya sudah, Ibu lanjutlah menjahit."
"Sejak kita pacaran 'kan Bapak sudah suka ngengat. Iya, Pak Kades."
Besok adalah hari ulang tahunnya Bu Inari. Itulah kenapa Pak Oscar menanyakan tentang kupu-kupu dan kumbang tadi, karena ia ingin menentukan kado apa yang akan ia berikan pada istrinya.
Bu Inari dan Pak Oscar sama-sama menoleh ketika mereka mendengar suara pintu diketok. "Aku saja, Bu," kata Pak Oscar.
Dari balik daun pintu, terlihat Prapto dan Nimo berdiri tersenyum. "Selamat senja, Pak Kepala Desa," ucap mereka serentak.
"Eh, dua sahabat jomblo rupanya. Selamat senja. Mau ngobrol di dalam atau di luar saja?" tanya Pak Oscar sambil tersenyum usil.
Setelah Pak Oscar meminta Bu Inari untuk membuatkan kopi, ia lalu melangkah ke meja teras diikuti oleh Prapto dan Nimo.
"Ya, setidaknya meskipun belum menikah, kami tetap bahagia, Pak Kepala Desa. Benar 'kan, Bos? Setiap hari kami selalu tertawa," kata Nimo membela diri.
Prapto mengangguk-angguk sambil tertawa. "Di teras saja, Pak Oscar, biar sejuk."
"Ya ... tapi tetap saja jomblo namanya, Nimo. Kalian jangan lama-lama jomblo, karena peraturan baru yang akan kuterapkan bisa membuat kalian kena denda," sahut Pak Oscar begitu ia telah duduk di kursi.
Prapto dan Nimo yang baru saja duduk langsung mengernyitkan kening mereka. "Peraturan apa itu, Pak Kepala Desa?" tanya Nimo.
Pak Oscar segera memasang ekspresi wajah yang serius. "Sebulan lagi, aku akan menerapkan peraturan baru di desa Kejora ini. Dalam aturan baru itu, jika ada pria di desa Kejora yang berusia dua puluh empat tahun ke atas tapi belum menikah, maka akan dikenakan denda sebesar seratus ribu rupiah setiap minggunya."
Nimo kaget, begitu juga dengan Prapto. Mereka sama-sama menatap Pak Oscar yang tengah memasukkan tembakau ke dalam pipa cangklongnya.
Nimo dan Prapto kemudian saling berpandangan sebentar, lalu kembali menoleh pada Pak Oscar yang kini sedang menyulut cangklong. Setelah Pak Oscar menghembuskan asap cangklongnya sambil menatap Prapto dan Nimo, tiba-tiba kepala desa Kejora itu ketawa.
"Jangan terlalu serius begitu! Mana mungkin aku menerapkan peraturan seperti itu," kata Pak Oscar. Ia kembali tertawa.
"Kau membuatku kaget saja, Pak Kepala Desa. Aku sudah terpikirkan untuk ganti rokok ke yang lebih murah tadi, supaya bisa bayar denda," sahut Nimo sambil geleng-geleng.
Dari dalam rumah, Bu Inari datang menghidangkan tiga cangkir kopi. "Silakan, Nak Prapto, Nak Nimo!" katanya.
"Terima kasih, Bu Kades," angguk Nimo dan Prapto serentak.
Bu Inari tersenyum pada suaminya lalu kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
"Dari wajah kalian, sepertinya ada sesuatu yang ingin kalian bicarakan," kata Pak Oscar, "ada apa gerangan?"
Prapto dan Nimo menjelaskan maksud kedatangan mereka kepada Pak Oscar secara bergantian. Mulai dari Prapto mendapat undangan pernikahan Silvi, lalu tentang suami Silvi yang merupakan CEO di Kuda Terbang Corporation, sampai dengan hasil panen mereka yang dikatakan mengandung unsur kimia.
Di akhir penjelasan mereka, Prapto dan Nimo mengajak Pak Oscar untuk mengecek harga hasil panen desa Kejora yang dijual kembali di mall dan di supermarket.
Pak Oscar mengangguk-angguk. "Aku kira, hasil panen kalian ditolak memang ada hubungannya dengan undangan itu, Nak Prapto. Dan terima kasih banyak atas saranmu untuk mengecek harga. Bagaimana kalau besok siang? Besok pagi ada yang mau aku lakukan dulu."
"Baik, Pak Oscar, kami juga akan ngebun dulu pagi-pagi."
***
Keesokan paginya Nimo dan Prapto menanam kembali beberapa bibit tanaman yang sudah habis masa panennya. Pagi ini mereka ditemani oleh Pak Rodi, yang katanya ingin melihat mereka berkebun sebagai bahan untuk menulis sebuah syair tentang berladang.
"Sudah selesai syairnya, Pak Rodi?" tanya Prapto sambil berjalan ke pohon tempat Pak Rodi bersandar memegang kertas dan pena.
"Sedikit lagi, Nak Prapto. Aku bisa saja duduk di kebunku sendiri, tapi aku ingin membuat puisi tentang pria muda yang berladang, makanya aku ke sini untuk melihat kalian. Ternyata suasana di sini sejuk juga, ya."
Mereka bertiga pun mengobrol membahas syair, sambil sesekali Prapto dan Nimo bertanya tentang makna dari kata-kata yang kurang mereka mengerti.
***
Di taman yang terdapat di belakang rumahnya, Pak Oscar tengah sibuk menanam beberapa jenis tanaman dan beberapa jenis bunga sambil bersiul-siul. Tanaman dan bunga-bunga itu ditanam Pak Oscar di samping sebuah kolam kecil yang berisi beberapa jenis ikan hias.
"Besok, Inari. Aku harap kau akan menyukai kadonya," kata Pak Oscar pelan sambil tersenyum.
***
Banyak orang yang telah menawar mobil tua Pak Oscar tersebut, bahkan mereka menawarkan untuk menukarnya dengan mobil keluaran terbaru, namun Pak Oscar menolaknya masak-masak. Karena bagi Pak Oscar, mobil tuanya itu adalah salah satu sahabat dalam hidup.
Pak Oscar selesai mengelap mobilnya. Ia melihat Nimo dan Prapto datang dengan mengendarai sepeda. Setelah mengobrol sebentar, Pak Oscar, Prapto, dan Nimo kemudian pamit pada Bu Inari.
Nimo yang menyetir. Tujuan mereka adalah beberapa mall dan supermarket yang ada di kota Surabaya. Sebuah kota besar di Endonesa yang berjarak sekitar satu jam dari desa Kejora bila mengendarai mobil. Bila mengendarai sepeda, mungkin saja delapan atau tujuh jam.
***
Prapto, Nimo, dan juga Pak Oscar mengernyitkan kening mereka sambil menggeleng-geleng melihat harga sayur, buah-buahan, dan hasil ternak alami pada sebuah mall.
Mall tersebut adalah tempat ke tujuh yang mereka datangi, dan juga menjadi tempat yang terakhir. Sejak tiba di Surabaya, mereka telah mengunjungi empat buah supermarket dan tiga buah mall.
Prapto lalu mengajak Pak Oscar dan Nimo untuk minum kopi di salah satu cafe yang ada di mall tersebut.
"Mengerikan! Aku tak menyangka harganya akan setinggi itu dan orang-orang banyak sekali yang membeli. Masa' cabai yang mereka beli pada kita tiga puluh lima ribu rupiah per kilo di sini dijual tujuh puluh ribu rupiah sekilo?" Pak Oscar menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku kaget sekali melihatnya, Pak Kades. Aku pikir hanya satu atau dua saja yang menaruh harga setinggi itu, tapi ternyata semuanya. Ah, kalau saja di sini tak ada Pak Kepala Desa yang aku hormati, pasti aku sudah mengumpat sejak tadi," sambung Nimo, "mereka menipu kita, Pak Kepala Desa."
Pak Oscar kembali menggelengkan kepalanya. "Benar, Nak Nimo, mereka telah menipu kita. Tapi mereka tidak bisa kita tuntut karena dalam undang-undang mereka tidak salah. Belum lagi di kota lain, tentu masing-masing mall dan supermarket pemiliknya-nya beda-beda, dan akan butuh banyak hari bagi kita bila ingin mengumpati mereka satu-satu."
Nimo mengepalkan tinjunya di atas meja. Ia begitu geram terhadap cara yang tidak ber-perikemanusiaan dalam berbisnis tersebut. Namun tak lama kepalan tangan Nimo itu kembali terbuka, karena dilihatnya Prapto tengah tersenyum penuh arti. Nimo lalu menyulut sebatang rokok.
"Aku tahu arti senyummu itu, Bos," kata Nimo, yang membuat Pak Oscar juga menoleh pada Prapto, "katakanlah rencanamu!"
Pak Oscar diam sejenak karena ia heran dengan maksud kata-kata Nimo. Namun, setelah tak bisa menduga, Pak Oscar akhirnya memutuskan untuk pura-pura mengerti saja. Toh nanti ia juga akan tahu melalui penjelasan Prapto.
"Benar, katakanlah arti senyummu itu, Nak Prapto!" pinta Pak Oscar.
Prapto menghembuskan asap rokoknya. "Mereka tahu bahwa di Endonesa ini, pertanian dan peternakan alami hanya lah terdapat di desa kejora, Pak Oscar, Nimo. Aku sudah mengeceknya di yutub dan di artikel-artikel yang ada di mesin pencarian.
"Aku juga sudah mencari tahu selisih harga antara hasil ngebun alami dengan hasil ngebun umum di negara Jepang. Aku juga mengecek harga di Amerika, Inggris, dan Perancis. Semuanya rata-rata sama, selisih harga antara hasil ngebun alami dengan hasil ngebun umum itu jauh."
"Penipu sialan," umpat Pak Oscar, tapi tetap dengan nada yang tenang.
Nimo menoleh ke arah Pak Oscar. Selama ia kenal dengan orang tua itu, baru kali ini Nimo mendengar Pak Oscar mengumpat. Itu artinya Pak Oscar benar-benar sedang marah sekarang.
Prapto melanjutkan, "Aku punya rencana, Pak Oscar. Rencana ini bisa sangat memajukan ekonomi warga desa Kejora nantinya, dan rencana ini sekaligus akan 'menghajar' para penipu itu. Tapi, untuk menjalankan rencana ini, seluruh warga desa Kejora harus sepakat."
Ingin sekali Prapto menambahkan kata 'sialan' dalam kalimatnya, namun ia tidak mau terkesan tidak menghormati Pak Oscar.
"Ada banyak kota besar di Endonesa, Bos, dan ada banyak pula supermarket dan mall di setiap kota besar itu," sahut Nimo.
Setelah selesai menghembuskan asap rokoknya, Prapto berkata, "Mereka semua satu perusahaan kok, Nimo. Semua supermarket dan mall yang kita cek tadi pun berada di bahwa satu perusahaan induk. Dan perusahaan induk itu pasti menjalankan bisnis ini diam-diam namun tetap dalam jalur yang legal.
"Jika perusahaan lain tahu, tentu pendapatan mereka akan berkurang, bukan? Aku jamin, bahkan karyawan mereka saja banyak yang tidak diberitahu soal ini. Dan yang menjadi penampung hasil ngebun desa Kejora, di kota Keladi itu, pastilah salah satu orang kepercayaan dari perusahaan induk."
"Apa nama perusahaan induknya, Nak Prapto?" tanya pak Oscar.
"Kuda Terbang, Pak Oscar. Aku melihat di setiap supermarket dan mall yang kita cek tadi ada logo Kuda Terbang Corporation. Tadi aku bertanya pada seorang pria tua pengawas mall. Katanya; sayur, buah, dan hasil ternak alami yang mereka jual di sana diimpor dari luar negeri. Artinya, mereka merahasiakannya dari sebagian besar karyawan mereka sendiri."
"Satu perusahaan induk. Itu pasti akan membuat apa yang kau rencanakan menjadi jauh lebih mudah, Nak Prapto. Kau cerdas sekali," puji Pak Oscar.
"Bos Prapto memang cerdas, Pak Kepala Desa," sahut Nimo tertawa.
Wajah Nimo kemudian berubah jadi geram. "Aku benar-benar ingin meng-uppercut CEO Cuek dan si feminis itu," katanya.
Prapto mengangsurkan wajahnya ke depan. Ia lalu memberi kode pada Pak Oscar dan Nimo untuk juga mengangsurkan wajah mereka. "Aku bisikkan saja rencanaku, Pak, Nimo. Karena bisa saja orang yang baru datang dan duduk di samping kita ini adalah salah satu orang kepercayaan Kuda Terbang."
Setelah Prapto selesai membisikkan rencananya, Nimo pun menyeringai, begitu juga dengan Pak Oscar.
__ADS_1
"Cerdas dan sangat brilian! Aku bangga padamu, Nak Prapto," kata Pak Oscar, "besok sore, aku akan mengumpulkan warga desa Kejora di balai desa, lalu kau terangkanlah kepada mereka tentang rencana ini nanti. Aku yakin mereka akan sangat setuju."
"Benar, Bos! Rencanamu pasti akan membuat perusahaan penipu itu hancur dan warga desa Kejora menjadi semakin maju ekonominya."