Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
40. Penyelidikan Timo


__ADS_3

Setelah bicara dengan salah satu karyawan, Prapto dan Nimo lalu diantar menuju lantai dua untuk bertemu dengan pemilik Dawn, restoran mewah yang sedang mereka kunjungi.


Prapto dan Nimo tiba di depan pintu ruangan. Mereka lalu mengucapkan terima kasih kepada karyawan yang mengatar mereka ke ruang pemilik restoran.


"Silakan masuk," kata seorang pria tua berusia lima puluh tujuh tahun yang rambutnya disisir ke belakang semua. Ia mengenakan setelan jas hitam.


Prapto dan Nimo masuk. Mereka bersalaman. "Handoko," kata sang pemilik restoran Dawn, tersenyum. "Panggil saja 'Hann', 'N' nya dua."


"Prapto, Pak. Dan ini sahabat saya, Nimo," jawab Prapto. "Nama Bapak 'N' nya dua?"


Pak Handoko tertawa. "Tidak, Prapto. Tapi kalau dipanggil 'Hann', 'N' nya dua saja, supaya kebarat-baratan."


Prapto dan Nimo saling pandang. Tak lama kemudian, seorang pramusaji datang membawakan dua gelas jus sirsak dan seporsi kentang goreng.


"Silakan diminum dan dimakan," kata Pak Handoko. "Jadi, ada apa gerangan Prapto dan Nimo mengunjungi orang tua ini?"


"Begini, Pak Hann. Kami ingin menawarkan kerja sama bisnis kepada Pak Hann," jawab Prapto.


Pak Handoko mengangguk. "Silakan disampaikan, Prapto. Jika penawarannya bagus, tentu aku akan mengambilnya. Tapi sebentar." Pak Handoko lalu mengambil rokok dari dalam laci meja lalu menyulutnya. "Nah, silakan."


Prapto dan Nimo kembali saling pandang untuk sejenak. Prapto lalu menjelaskan penawaran kerja sama bisnisnya. Ia mengawalinya dengan menjelaskan gambaran pertanian dan peternakan alami di desa Kejora. Setelah selesai, ia dan Nimo segera menyulut rokok.


Pak Handoko mengangguk-angguk. "Penawaran yang menarik, tapi tentu akan berisiko jika nanti ternyata tidak ada peminatnya, Prapto."


"Bagaimana jika Pak Hann membeli sedikit saja dulu lalu mempromosikannya di restoran Bapak. Bapak juga bisa memberikan makanan alami itu secara gratis nanti dalam bentuk bonus untuk pembeli, demi keperluan promosi. Jika peminatnya banyak, baru kita deal kerja samanya," kata Prapto.


Prapto lalu mengangsur duduknya ke depan untuk memberi penekanan pada kata-katanya. "Aku jamin, Pak, rasanya beda, dan tentu saja lebih lezat. Dan yang lebih penting ..." Prapto mengangsur duduknya ke depan sedikit lagi.

__ADS_1


Pak Handoko tampak penasaran. Ia juga mengangsur duduknya ke depan. "Apa yang lebih penting?" tanyanya.


"Makanan alami itu lebih sehat dan bergizi. Hal yang tidak akan membuat orang kaya keberatan untuk membelinya," kata Prapto, Lagi-lagi Prapto mengangsur duduknya ke depan sedikit lagi. "Dan ..."


"Dan yang lebih sangat penting?" potong Pak Handoko makin penasaran.


Nimo menahan tawanya melihat Pak Handoko yang bagaikan tidak mau kalah, ikut menggeser duduknya ke depan.


"Gengsi, Pak Hann." lanjut Prapto. "Kebanyakan orang kaya akan ikut membeli makanan alami setelah mendengar cerita dari teman mereka yang berkunjung ke sini. Karena harga makanan alami yang lebih mahal, mereka akan merasa kalah dari temannya bila tidak ikut membeli.


"Nah, dari situ, dari yang awalnya mereka membeli makanan alami hanya karena gengsi, mereka akan merasakan betapa lebih lezat dan sehatnya makanan alami." Prapto lalu meminum jus sirsaknya.


Pak Handoko mengangkat tangannya yang memegang rokok. "Cerdas! Kita manfaatkan gengsi mereka demi keuntungan bisnis. Masuk akal! Aku suka gagasanmu."


Pak Handoko dan Prapto masing-masing kembali memundurkan kursi mereka.


"Paling lama dua minggu lagi, Pak Hann. Jika panennya lebih cepat, aku akan segera menelepon Bapak," jawab Prapto.


"Baik. Aku tunggu kabar dari kalian, Prapto, Nimo. Setelah ini aku akan langsung mengadakan rapat dengan para petinggi restoran. Mereka akan setuju. Tidak setuju pun mereka akan mengatakan setuju juga bila aku bersikeras. Karena aku pemilik saham tunggal di sini," kata Pak Handoko, tertawa.


Nimo dan Prapto kembali saling berpandangan sambil ikut tertawa.


***


Suasana gotong royong di desa Kejora berlangsung seperti biasa, santai dan ceria. Pembangunan kedua bangunan penampung tersebut sudah selesai sekitar tiga puluh persen. Menurut perkiraan Pak Ino, yang kini sedang memperhatikan kedua bangunan, dalam empat atau lima hari lagi, kedua bangunan itu akan selesai.


Kedua bangunan itu masing-masing berukuran 4x4 meter. Letak bangunannya agak ke belakang, karena bagian depannya akan digunakan untuk parkir truk pembawa pasokan ke Jakarta, selain untuk halaman. Pagar bangunan juga akan dibuat dari bahan kayu dan bambu, agar menampilkan kesan yang alami.

__ADS_1


Sambil sesekali menatap langit yang mendung, Pak Oscar terus memotong kayu dan bambu yang akan dijadikan pagar.


"Ada dua kabar yang kita tunggu hari ini, Pak Dwipangga," kata Pak Oscar pada Pak Dwipangga yang juga sedan memotong bambu dan kayu.


"Satu lagi kabar tentang apa, Pak Kades? Selain dari Prapto dan Nimo yang sekarang ke Jakarta." Pak Dwipangga meletakkan kayu yang barusan selesai dipotongnya ke samping. Kayu itu nanti akan dibawa bapak-bapak yang lain ke dekat tempat Pak Ino membangun.


"Yang tentang varietas tanaman Jepang itu, Pak Diwpangga. Anaknya Pak Gumiro kini juga tengah menyelidiki harga, jenis, dan nama varietas tanaman Jepang tersebut di beberapa mall dan supermarket yang ada di Jakarta."


Pak Dwipangga mengangguk-angguk. "Di Jepang itu ada berapa musim, Pak Kades?" tanyanya.


"Aku kurang tahu, Pak Dwipangga, tapi di sana ada musim salju. Semoga saja ada varietas tanaman Jepang yang akan cocok ditanam di sini."


"Aku rasa ada, Pak Kades," sahut Pak Dwipangga. "Dari yang aku lihat di artikel artikel dan yutub, kebanyakan petani Jepang, Eropa, dan Amerika selalu menanam jenis tanaman berdasarkan dengan musim negara mereka. Struktur tanah desa Kejora bagus dan subur, karena tidak ada bahan kimia.


"Jadi, aku rasa, asalkan varietas tanaman itu cocok ditanam pada musim dingin, musim gugur, musim panas, dan musim semi, maka akan cocok juga ditanam di desa Kejora."


"Bisa jadi, Pak Dwipangga. Semoga saja bisa," jawab Pak Oscar, mengangguk-angguk.


***


Timo sedang berada di lantai dasar sebuah mall, di bagian yang menjual berbagai keperluan dapur rumah tangga dan buah-buahan. Ia telah mengunjungi beberapa mall dan supermarket sebelumnya dan hasil yang didapatkan oleh Timo sama. Semua mall dan supermarket yang ia kunjungi menjual tiga jenis varietas tanaman Jepang yang sama.


Tapi, Timo lupa untuk mencatat detail warna dan bentuk dari varietas tanaman Jepang yang ia lihat tersebut. Ia hanya mencatat haranya. Jadi, ketika tadi Timo hampir keluar dari pintu mall, ia berbalik untuk kembali lagi ke bagian yang menjual keperluan dapur rumah tangga dan buah-buahan.


Timo mengeluarkan ponselnya lalu berpura-pura mengetik pesan sambil berjalan di deretan rak yang menjual varietas tanaman Jepang. Seorang pengawas di tempat itu yang sejak tadi sudah curiga bahwa Timo ingin mencuri informasi, segera melangkah menghampiri ketika kedua kalinya ia melihat Timo di dekat rak yang menjual varietas tanaman Jepang.


Pengawas tersebut adalah seorang pria paruh baya berambut pendek. Ia mengenakan setelan yang berbeda dari karyawan lain. Ia khusus ditugaskan untuk mengawasi pengunjung yang mungkin sedang mencuri informasi. Persaingan bisnis!

__ADS_1


"Siang, Pak. Bapak mencari apa? Sudah dua kali saya lihat Bapak ke sini," tanya pengawas tersebut pada Nimo.


__ADS_2