Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
81. Undangan Pak Oscar


__ADS_3

Subakti melompat ke depan Prapto. Prapto yang tengah waspada itu ingin menghindar, serta Nimo dan Timo hendak melompat menahan Subakti, tapi mereka tidak jadi melakukannya karena Subakti telah memunculkan kedua tangannya ke depan, menampakkan sebuah kotak dan sebuah bungkusan yang menyelip pada jarinya.


Subakti mendarat tepat di depan Prapto dan memegang kedua bahunya. Pak Oscar, Koswara, Timo, dan Pak Purnomo memandang mereka keheranan tanpa bisa menduga apa yang tengah terjadi antara Prapto dan Subakti.


Subakti menatap Prapto lekat-lekat. “Prapto, aku sudah tahu bahwa kau lah yang mengirimi aku pesan tentang pengkhianatan Rini. Kata-katamu menamparku, membuatku mau untuk sadar. Aku sudah menceraikannya, dan ini kado untuk pernikahanmu serta sekantong gorengan untuk kita makan bersama.”


Subakti lalu ikut duduk. Ia membuka kantong gorengan dan mengeluarkan plastik berisi saus dan kecap asin. “Mari, Pak, Mas!” ajaknya.


Mereka pun kembali mengobrol, kali ini dengan Subakti yang akan mendapat siraman petuah bijaksana dari Pak Oscar tentang menjadi pria dan suami sejati.


***


Tiga hari setelah pernikahan mereka, orang tua Prapto dan orang tua Pinaka pamit untuk kembali ke Jakarta. Mereka telah berangkat tadi sore. Kini Pinaka duduk di teras bersama Prapto sambil melihat bintang dan bulan yang tampak damai di atas langit sana.


“Kapan kita buka kado-kadonya, Mas?” tanya Pinaka.


“Sekarang saja, Pinaka,” jawab Prapto.


“Kenapa kita menunggu tiga hari dulu, Mas baru membukanya?”


“Aku malu saja membukanya di depan orang tua kita, Pinaka.” Prapto tertawa.


Pinaka mengangguk tersenyum. Ia kemudian masuk ke rumah dan tak lama setelah itu ia kembali membawa kardus yang berisi kotak-kotak kado. Mereka membukanya satu persatu.


“Ini yang terakhir, Mas,” kata Pinaka. Ia mengangkat isi kado tersebut yang berupa alas kadur dan sarung bantal.


Prapto mengecek kardus tersebut. Setelah dipastikan tidak ada lagi kado di dalamnya, ia berdiri dan melangkah ke rumah diikuti oleh Pinaka. “Kita akan memasang kado lukisan dari Pak Purnomo ini di sini, Pinaka,” kata Prapto, menunjuk ke salah satu sisi rumah.


Pinaka mengangguk setuju. Ia mengambilkan bangku untuk tempat Prapto berpijak.


Ketika Prapto tengah mengatur letak lukisan supaya pas, hidungnya mencium bau sesuatu. Ia menoleh ke belakang. “Kau ‘kan masak kue tadi, Pinaka,” katanya.


“Oh iya, Mas!” Pinaka melangkah cepat-cepat ke dapur.


Prapto tertawa dan meneruskan membetulkan letak lukisannya.


Pinaka kembali dari dapur dengan wajah muram membawa kue bolu yang tampak gosong separuhnya. Ia menatap Prapto yang kini tengah memunggunginya.


Prapti menoleh, hendak bertanya kenapa wajah istrinya murung, namun kue bolu yang gosok telah menjawab semuanya. Ia lalu turun dari bangku dan menghampiri Pinaka.


“Tidak apa-apa,” kata Prapto. Ia mengajak Pinaka duduk di sofa. “Lumayan banyak bagian yang masih bisa dimakan.”

__ADS_1


“Lalu yang hangusnya bagaimana, Mas?”


“Bisa untuk makan ternak. Ayo, kita makan.”


“Maaf, ya, Mas.” Pinaka kemudian memotong kue tersebut.


***


Sperti biasa, Nimo datang pagi-pagi sekali untuk merawat kebunnya bersama Prapto. Tapi bedanya kini, jika pergi ke kebun, Nimo akan membawa istrinya yang nanti akan mengobrol atau memasak bersama Pinaka.


“Pak Oscar ada bilang padamu, Bos?” Nimo bertanya lalu meneguk kopi yang barusan dihidangkannya.


Prapto mengangguk. “Ada, Nimo. Tapi Pak Kades tidak bilang akan membicarakan apa.”


“Padaku dia juga tidak bilang.” Nimo menghela napas lalu menoleh pada ternak-ternaknya yang sedang bermain di kebun.


“Menurutmu untuk apa Pak Kades mengundang kita nanti malam, Nimo?”


Nimo menggeleng. “Aku tidak tahu, Bos. Bisa saja dia rindu pada kita dan hanya akan ngobrol seperti biasa.”


“Bisa jadi,” kata Prapto. “Tapi jarang-jarang.” Ia menyulut rokoknya.


Pinaka dan Arini datang menghidangkan nasi dan lauk. Mereka makan bersama di depan dapur kebun.


***


“Mau hujan, Pak,” kata Bu Inari yang duduk di sampingnya.


“Sepertinya, Bu. Jemuran sudah Ibu angkat?”


“Sudah, Pak. Tentang rencana Bapak ini, menurut Bapak apakah Prapto dan Nimo akan setuju?” tanya Bu Inari.


Pak Oscar menghembuskan asap. “Aku yakin mereka setuju, Bu, si Purnomo juga.”


“Iya, Pak. Lapen juga juga suka tampaknya, ketika aku tanyai tentang itu.”


“Iya. Lapen pasti suka, dan juga anak-anak desa yang lain,” jawab Pak Oscar. Ia lalu menoleh pada istrinya. “Bu, aku tadi panen singkong. Bagaimana kalau malam ini menunya singkong goreng?”


Bu Inari mengangguk, tersenyum, lalu katanya, “Cabenya cabe merah atau cabe hijau, Pak?”


“Terserah, Bu, cabe ungu pun kalau kau yang memasaknya akan tetap enak,” kata Pak Oscar.

__ADS_1


Bu Inari tersenyum menggeleng-geleng lalu masuk ke rumah.


***


Pamannya Nimo, Pak Purnomo, tengah melukis di halaman rumahnya. Pak Purnomo tinggal di rumah kakaknya, yaitu ibu Nimo sejak istrinya meninggal. Ia menghentikan guratan kuas di kanvas ketika ponselnya yang ia letakkan di atas meja peralatan berdering.


“Halo, Oscar.”


“Nanti malam kau ada waktu senggang, Purnomo?” tanya Pak Oscar dari seberang telepon.


Pak Purnomo diam sebentar, memikirkan jadwalnya nanti malam. Lalu katanya, “Nanti malam aku senggang, Oscar, tidak ada jadwal melatih melukis.”


“Aku tunggu, Purnomo.”


“Baik, Pak Kades,” jawab Pak Purnomo. Ia melanjutkan melukis setelah terdengar nada Pak Oscar mematikan telepon.


Yang dilukis Pak Purnomo adalah pemandangan di dalam hutan hujan yang lebat, lengkap dengan hewan kecil dan hewan besarnya, dan juga suasana hujan yang gerimis.


“Hebat kau, Purnomo. Pantas saja kau diminta tinggal di Paris untuk mengajar.”


Pak Purnomo menyelesaikan guratannya terlebih dahulu, kemudian berbalik. “Kakak tahu dari mana?” tanyanya, tertawa.


“Mas Dwipangga yang cerita padaku. Ini, minumlah dulu.” Bu Kinasih meletakkan kopi yang dibawanya di atas meja peralatan. “Kau sudah tahu tempat menjual lukisan di kota?”


“Belum, Kak. Nanti aku tanya Prapto. Dalam waktu dekat ini aku akan ke kota. Kemarin ada sekolah di Bandung yang menelponku, menawarkan pekerjaan, tapi aku tolak.”


Bu Kinasih tersenyum. Ia tidak heran. “Ya sudah, aku kebun dulu, Purnomo.”


“Terima kasih, Kak,” ucap Pak Purnomo. Ia menyulut rokok lalu melanjutkan melukis.


***


Menjelang malam, hujan hanya tinggal gerimis. Prapto telah bersiap untuk pergi ke rumah Pak Oscar.


Pinaka mengantar Prapto ke teras. Ia menatap Prapto lalu tertawa. “Mas yakin akan berkumis sekarang? Bercerminlah lihat kumismu, Mas,” katanya.


Prapto balas tertawa. “Bilang saja aku lebih gagah pakai kumis dan kau takut aku didekati wanita lain.”


“Apaan, Mas,” kata Pinaka. Ia menunduk dan berkata lirih, “Aku yakin Mas akan setia padaku.”


Prapto mengangguk, mengusap rambut Pinaka, dan mencium keningnya. “Aku berangkat, ya, Pinaka.”

__ADS_1


“Iya, Mas.”


Setelah Prapto dan sepedanya tidak terlihat lagi dari balik pagar, Pinaka masuk ke dalam rumah.


__ADS_2