
Semenjak menerima lemparan bunga di hari pernikahan Prapto dan Silvi, Timo merasa rumah tangganya yang memang sudah mundur itu semakin mengalami kemunduran. Tini, istri Timo yang merupakan salah satu feminis di negeri ini, semakin sering telat pulang bersama pria yang sering mengantar jemputnya bekerja. Alasannya, lembur.
Pagi itu Timo mengatakan kepada istrinya bahwa ia akan pergi kerja duluan. Setelah keluar dari pagar, Timo langsung menuju warung dekat rumahnya untuk memesan kopi. Kegundahan hatinya membuat Timo tidak memiliki mood yang bagus untuk beraktivitas akhir-akhir ini.
Setelah Timo melihat Tini berangkat kerja dijemput oleh pria yang biasa mengantarnya, Timo pun menghabiskan kopi yang ia pesan lalu balik ke rumah. Betapa panasnya hati Timo melihat Tini tersenyum amat manis sebelum membuka pintu mobil, bahkan lebih manis dari senyumnya kepada Timo.
Kata-kata Prapto ketika mereka terakhir kali bertemu membuat Timo terus terpikirkan tentang pelayaran biduk rumah tangganya. Kini Timo tengah duduk di depan sofa sambil melihat konten yutub yang berjudul: Tanda-Tanda Istri Selingkuh.
Setiap poin yang dibacakan oleh sang konten kreator selalu membuat darah Timo berdesir, setiap tanda-tanda itu ada pada istrinya. 'Belum pasti ... belum pasti. Ini kan hanya pendapat orang,' ucapnya dalam hati. Timo masih bersikeras bahwa dugaannya salah, meskipun instingnya sudah memberitahunya sejak lama.
Timo menjeda yutubnya. Ia lalu menoleh ke arah meja karena mendengar dentang notifikasi ponsel. Ketika Timo memeriksa, ternyata dentang notifikasi tersebut berasal dari HP Tini yang ketinggalan dan tidak terkunci. Timo menggeser layar ponsel tersebut untuk mencegahnya terkunci otomatis.
Sejak mereka berpacaran, Tini tidak pernah mau memperlihatkan ponselnya pada Timo dengan alasan 'privasi', alasan yang kerap kali digunakan oleh orang-orang yang berselingkuh, baik selingkuh di aplikasi pesan singkat, maupun selingkuh secara langsung, dan keduanya tetap sama-sama selingkuh.
Detak jantung Timo semakin cepat ketika tangannya akan meng-klik aplikasi pesan singkat di ponsel Tini. Ia takut bahwa dugaannya selama ini akan terbukti, karena jauh di lubuk hatinya Timo sangat yakin bahwa istrinya itu tidak setia.
'Kau bodoh, Timo!' Kata-kata Prapto yang selalu dipikirkannya itu membuat Timo segera mengambil ponsel istrinya dan membawanya ke sofa. Ia lalu membuka aplikasi pesan singkat Tini. Pesan paling atas, yaitu notif berdentang tadi, adalah dari grup kantor.
Deret pesan kedua adalah pesan yang membuat Timo mengernyitkan kening, karena pesan tersebut bertuliskan kalimat 'Okay, Sayang' dari kontak yang bernama Mila. Timo membukanya.
Timo menggulir room chat Mila yang ternyata rutin bercakap dengan Tini setiap hari. Ia lalu memperhatikan waktu percakapan. Percakapan Tini dan Mila selalu kosong antara jam sebelum berangkat bekerja sampai dengan jam pulang bekerja.
Timo menggulir lagi pesan singkat itu ke bawah, dan matanya tiba-tiba membelalak melihat pesan singkat yang terakhir dari Mila, yang isinya: Besok kantor libur, kita ke pantai, ya, Sayang! Aku jemput pagi seperti biasa agar suamimu tidak curiga.
"DUAARRR!!!"
Sekali lagi petir menyambar tepat di hadapan Timo. Tahulah ia sekarang bahwa Mila bukanlah seorang wanita, melainkan pria satu kantor yang sering menjemput antar istrinya. Mendadak Timo rindu pada Prapto, sahabatnya yang dari dulu tidak segan-segan untuk mengkritiknya, bahkan memarahinya ketika ia salah.
__ADS_1
Timo lalu meraih ponselnya dan memanggil nomer Prapto. Ia ingin bercerita, ia ingin berterima kasih kepada sahabatnya itu, dan ia ingin meminta saran pada Prapto tentang apa yang harus ia lakukan atas perselingkuhan istrinya. Tapi, suara operator seluler yang mengatakan nomer sudah tidak dipakai membuat Timo semakin lesu.
Bahkan dalam keadaan yang seperti itu, pria lemah dan tidak tegas seperti Timo masih tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Timo sebenarnya tahu, bahkan ia sangat tahu bahwa ia harus menceraikan istrinya tersebut tanpa tedeng aling-aling, selayaknya yang dilakukan oleh seorang pria sejati.
"Kau benar, Prapto ... Dari dulu kau selalu saja benar. Sialan ..." bisik Timo dengan penuh kegetiran. Air mata kecewa mengalir pelan membasahi pipinya.
***
Sore itu, Nimo mengemudikan motor dengan kecepatan sedang, menuju ke kota Keladi, sebuah kota kecil yang letaknya tak jauh dari desa Kejora. Di belakangnya, Prapto duduk dengan penuh konsentrasi, karena keranjang hasil panen yang ia pegang tidak boleh sampai jatuh.
Di dalam keranjang yang dipegang oleh Prapto tersebut terdapat telur ayam, buah-buahan, dan telur bebek. Ada perasaan bahagia di hati Prapto dan Nimo ketika hasil panen mereka selama berkebun setengah bulan akhirnya bisa dijual.
"Dua minggu lagi kita sudah bisa menjual sayur-sayuran, Bos. Kebanyakan sayuran yang kita tanam akan bisa dipanen setelah sebulan. Sedangkan tanaman cabai, tomat, kentang, dan lain sebagainya masih memerlukan waktu lebih dari dua bulan lagi," sorak Nimo sambil mengemudi.
"Ya, Nimo. Berarti kita harus mengecek harga ke supermarket dan mall sebelum sayuran kita bisa dipanen."
Sesampainya mereka di depan sebuah ruko besar, Nimo lalu membawa keranjang panen ke dalam. Sementara Prapto, ia berdiri memperhatikan sebuah tulisan yang tertera pada bagian atas ruko: Kuda Terbang Corporation. Prapto tahu bahwa nama tersebut adalah perusahaan tempat suami Silvi bekerja, yaitu si CEO Cuek.
***
Sudah seminggu lebih Silvi menikah dengan Tristan, Sang CEO Cuek yang bekerja di Kuda Terbang Corporation. Berbeda dengan Prapto yang akhirnya tidak bisa ditipu dan ditundukkan, Tristan yang dingin dan keren itu ternyata sangat mudah dibuat tunduk oleh Silvi setelah mereka menikah.
Persis seperti novel-novel CEO yang Silvi baca, tampang keren dan dingin Tristan ternyata hanya tampak di awal-awal pertemuan mereka saja. Baru saja empat hari mereka menikah, Tristan tidak henti-hentinya memberikan Silvi hadiah, memberikan pujian yang tak berdasar, serta mengatakan bahwa ia sangat tergila-gila pada Silvi dan tidak bisa hidup tanpanya.
Di ruangan kantornya, Silvi bicara empat mata dengan panutannya, salah seorang wanita yang masuk daftar teratas feminis dalam negeri, yaitu Rini. Rini langsung pergi ke meja Silvi begitu ia melihat sahabatnya sudah selesai dari cuti pernikahan.
"Wah, istri CEO Cuek sudah masuk kerja nih. Bagaimana, suami idaman, kan, si Tristan? Sudah tampan, modern, dingin, kaya raya pula," tanya Rini bersemangat.
__ADS_1
Silvi tersenyum. "Idaman wanita modern, karena dia mudah sekali ditundukkan. Dia memujiku terus, meskipun tidak ada hal yang kulakukan yang pantas untuk dipuji. Tristan juga sering bilang kalau dia tergila-gila padaku dan tak akan bisa hidup tanpa aku."
"Wah, so sweet sekali si Tristan."
"Tidak, Rin. Aku malah jijik jadinya karena dia memujiku terus tanpa aku melakukan hal yang pantas mendapatkan pujiannya. Kesannya lemah, dan lebay kalau dia bilang tidak bisa hidup tanpa aku.
"Tidak seperti Prapto, apalagi ketika kami menjelang bercerai, aku sangat suka ketegasan dan keteguhan prinsip Prapto ketika itu. Bahkan waktu itu aku sempat berpikir untuk berhenti bekerja agar Prapto tidak menceraikanku," kata Silvi jujur.
Silvi tahu bahwa kata-katanya itu akan langsung dibantah oleh temannya. Dan benar saja, mata Rini langsung memancarkan kilauan khas feminisnya. "Jangan bodoh, Silvi! Pria kuno seperti Prapto itu apa menariknya? Justru kau harus bersyukur punya suami seperti Tristan."
Rini melanjutkan, "Jangan tertipu, Silvi! Apa kau tidak sakit hati diceraikan oleh pria kuno itu? Kau, wanita karier yang sukses dan cantik, dicampakkannya dengan begitu saja."
Silvi diam sejenak. "Ya, dia telah mencampakkan aku, Rin. Tapi, bukankah itu karena salahku yang tidak mau menjadi istri yang baik untuknya?"
Rini menggeleng. "Sejak kapan Silvi yang aku kenal jadi selemah ini? Kau tidak salah, Prapto lah yang salah. Apa kau terima diceraikan oleh pria kuno itu? Apa orang tuamu terima? Karena itu, kau harus membuat Prapto menyesal telah menceraikanmu!"
Silvi terdiam. Ia lalu mengangguk. "Ya, setidaknya dia harus menyesal karena telah menceraikanku. Ia harus hidup susah agar tak ada wanita yang mau menjadi istrinya," kata Silvi.
Dalam hatinya, Silvi tidak membenarkan kata-katanya barusan. Silvi tahu bahwa Prapto tidak akan menyesal, tidak seperti dirinya yang kini menyesal karena telah membuat Prapto menceraikannya. Silvi ingin menjalankan rencananya tersebut bukan karena sakit hati, tetapi karena ia tidak ingin Prapto dimiliki oleh wanita lain.
Rini tersenyum puas. "Sudah saatnya, Sil, karena Tristan pasti akan menyanggupi permintaanmu. Jika Tristan keberatan, diamkan dia sehari! Kujamin dia akan panik dan akhirnya memenuhi permintaanmu. Itulah yang kulakukan selama ini jika suamiku tidak mau menuruti permintaanku. Suami kita sama-sama suami idaman yang tunduk pada istrinya."
***
Malam itu Silvi sengaja menonton TV di sofa sambil menunggu Tristan pulang. Ia akan mengatakan tentang rencananya pada Tristan, rencana untuk membuat hidup Prapto menjadi susah agar tidak ada wanita lain yang mau dengannya.
'Aku tahu bahwa aku lah yang salah, Prapto, aku menyesal. Aku mencintaimu, maka dari itu, tak ada wanita lain yang boleh memilikimu,' ujar Silvi dalam hati sambil mengunyah kentang goreng buatan asisten rumah tangganya.
__ADS_1