
“Paman!” seru Nimo. Ia berlari dan memeluk sosok yang baru datang.
Prapto memandang mereka dengan heran. Sementara Pak Ino, Lapen, Taro, dan Lennon berjalan menghampiri orang yang baru datang tersebut dan menyalaminya.
“Sudah lama, ya, Bang Purnomo,” kata Pak Ino. Ia lalu memeluk Pak Purnomo.
Prapto melihat ada sekilas kemiripan pada raut wajah Pak Purnomo dengan raut wajah Nimo. Pak Purnomo berperawakan sedang, dengan rambut sepunggung yang dikuncir dan matanya sayu seperti mata Prapto. Ia mengenakan setelah jas warna putih dan topi fedora.
“Kau tampak baik-baik saja, Ino,” kata Pak Purnomo, tersenyum. “Mana Oscar?”
“Di rumah, Bang. Barusan Pak Kades lewat.” Pak Ino menoleh pada Nimo. “Ayo, Nimo, buatkan pamanmu kopi,” katanya.
Nimo mengangguk lalu pergi ke dapur. Tak lama kemudian ia kembali dan menghidangkan kopi dan teh. Semua orang sudah duduk. “Perkenalkan, Paman. Ini Bosku di tempat aku bekerja dulu dan sekaligus sahabat karibku. Namanya Prapto,” kata Nimo.
Pak Purnomo mengulurkan tangannya. “Ini rupanya Prapto yang diceritakan ayahmu tadi. Mata kita sama, Prapto. Jadi tidak heran bila kau itu gagah,” katanya, tertawa.
Prapto balas tertawa. “Terima kasih, Pak. Di mana Bapak selama ini?”
Pak Purnomo menyulut cangklongnya lalu menengadah menatap awan mendung. Setelah menghembuskan asap, ia berkata, “Lima bulan setelah istri tercintaku meninggal, aku mendapat tawaran melukis di Paris. Awalnya aku menolak, karena aku tidak ingin jauh dari desa Kejora. Sungguh, aku begitu mencintai desa ini.
“Tapi kemudian Oscar memintaku untuk menerima tawaran melukis itu agar aku bisa belajar di sana dan setelah pulang bisa mengajari anak-anak desa Kejora yang ingin pandai melukis. Aku menyetujui sara Oscar, jadi aku pergi ke Paris dan tinggal di sana selama setahun.
Prapto mengangguk-angguk. “Keterlaluan kau, Nimo,” katanya setelah menoleh pada Nimo. “Kau tak pernah cerita tentang ini.”
Nimo tertawa. “Aku lupa, Bos.” Ia lalu menoleh pada Pak Purnomo. “Dalam koper yang Paman bawa itu ada lukisan? Coba lihat, Paman.”
Pak Purnomo tersenyum. Ia mengangkat kopernya lalu mengambil lima buah lukisan. Lapen dan kedua sahabatnya mendekatkan kepala mereka ketika Pak Purnomo selesai membentangkan kelima lukisannya di atas meja.
“Wah, keren sekali! Aku ingin belajar, Kek,” kata Lapen.
__ADS_1
“Aku juga!” sambung Taro dan Lennon serentak.
Prapto memperhatikan lukisan Pak Purnomo mulai dari yang paling ujung, yaitu lukisan robot putih berlatar ruang angkasa yang bertabur bintang. Di sebelahnya ada lukisan berbagai jenis ikan di dasar sungai. Di tengah ada lukisan suasana desa lengkap dengan petani dan pedati. Di sebelah lukisan desa adalah lukisan sebuah rumah bernuansa malam hari ketika hujan turun. Lalu yang terakhir adalah lukisan dua orang pendekar yang menyoren pedang sedang mengobrol di atas dahan sebuah pohon tinggi.
Prapto menggeleng-gelengkan kepalanya. “Luar biasa. Aku boleh ikut belajar bersama anak-anak desa, Pak?” tanyanya pada Pak Purnomo.
Pak Purnomo tersenyum. “Tentu saja boleh, Prapto. Aku akan mengajar melukis di pendopo rumah Nimo nanti,” katanya.
“Ngopi lah dulu, Bang,” kata Pak Ino. Ia sudah berdiri. “Aku lanjut merenovasi rumah Prapto dulu.”
Pak Purnomo mengangguk. “Silakan, Ino,” katanya. Ia menoleh pada Lapen. “Bang Kuncoro masih berdagang, kan, Lapen?”
“Masih, Kek. Beliau juga masih tampak sangat sehat. Kenapa, Kek?” tanya Lapen.
Pak Purnomo mengangkat lukisan pendekarnya. “Lukisan ini aku buat untuk dihadiahkan pada Bang Kuncoro. Dia ‘kan suka sekali bercerita tentang pendekar,” katanya.
“Ini untuk kalian,” kata Pak Purnomo, tersenyum. Ia lalu memberikan lukisan robot pada Taro, lukisan rumah pada Lennon, dan lukisan ikan pada Lapen. “Untuk Ino dan Oscar sudah aku siapkan juga, ada di dalam koper. Untuk Ino aku buatkan lukisan rumah bergaya pedesaan Jepang, dan untuk Oscar aku lukis ngengat. Oscar itu suka sekali pada ngengat.”
Pak Purnomo tertawa. Ia lalu memberikan lukisan pedesaan pada Prapto. “Ini untuk sahabat karib keponakanku. Dan ini untukmu Nimo, lukisan sepeda.” Pak Purno mengambil sebuah lukisan lagi dari kopernya dan memberikannya pada Nimo.
Wajah Prapto dan Nimo berseri. Mereka saling memperlihatkan lukisan masing-masing.
“Aku ke rumah Oscar dulu, ya, Prapto, Nimo. Terima kasih kopinya.” Pak Purnomo berdiri. “Temani aku, ya, tiga sahabat kecil.”
Lapen, Taro, dan Lennon mengangguk. Mereka ikut berdiri dan kemudian pamit pada Prapto, Nimo, dan Pak Ino.
“Saudara dari ibumu atau ayahmu, Nimo?” tanya Prapto, setelah Pak Purnomo, Lapen, dan kedua sahabatnya sudah tidak terlihat lagi di balik pagar rumah.
“Abang dari ibuku, Bos,” jawab Nimo. “Pak Ino merenovasi rumahmu sendirian, Bos?” Nimo melihat ke Pak Ino yang tengah mengaduk semen.
__ADS_1
“Hari ini iya, Nimo. Tapi besok katanya Pak Ino akan membawa dua orang untuk membantunya.”
Nimo mengangguk-angguk. Mereka berdua terus mengobrol sambil menemani Pak Ino.
***
Hari berganti bulan, dan musim hujan pun telah berganti dengan musim panas. Sekarang adalah bulan Januari dan renovasi rumah Prapto sudah selesai sembilan puluh persen. Seperti biasa, sehabis mengurus tanaman dan ternak mereka, Prapto dan Nimo duduk di meja di depan dapur kebun sambil menemani Pak Ino dan dua orang pria seusianya yang merenovasi rumah Prapto.
“Sepertinya ada yang tengah dipikirkan oleh Pak Ino, Bos,” kata Nimo.
Prapto menoleh. Tampak Pak Ino menunduk memegang dagu seperti tengah berpikir keras. Tak lama kemudian ia menggeleng lalu melangkah menghampiri Prapto.
“Kau butuh tiga juta lagi, Prapto. Desain rumah yang kau pilih ternyata membutuhkan bahan cukup banyak dari perkiraan kita,” kata Pak Ino. Ia kemudian ikut duduk. “Bahan untuk tungku pemanas ruangan, untuk dua buah lemari, dan untuk cerobong asap kurang. Dua hari lagi kita perlu memasang semua bahan itu.”
“Aku tidak punya uang lagi untuk menambah bahan, Pak, tapi akan aku pikirkan dan akan aku cari caranya. Masih duanhari lagi, kan, Pak Ino?” tanya Prapto.
Pak Ino mengangguk. “Iya. Memang, bisa saja renovasi rumahmu kita 5unda dulu sampai kau punya uang setelah panen nanti, tapi bulan depan sesudah festival musim panas kau ‘kan akan menikah, jadi sebaiknya rumahmu sudah selesai direnovasi.”
“Itu juga yang aku pikirkan, Pak,” kata Prapto. “Bapak tenang saja, akan aku bereskan soal ini.”
Pak Ino dan kedua karyawannya kemudian pamit pulang.
Nimo menghela napas. “Aku sudah tidak punya uang lagi, Bos, karena membangun rumah di samping rumah orang tuanya Arini.” Tiba-tiba wajahnya berseri. “Oh iya, Bos, kita bisa menjual motorku. Harga jualnya pasti lebih dari tiga juta.”
Prapto menggeleng dengan wajah haru. Betapa sahabatnya itu menawarkan menjual motornya tanpa nada keberatan sedikit pun. “Terima kasih banyak, Nimo, tapi aku akan terlalu merepotkanmu. Aku tanya saja nanti pada orang tuaku.”
“Sebaiknya kau manfaatkan ini sebagai ujian terakhir, Prapto.”
Prapto dan Nimo menoleh ke belakang. Entah kapan datangnya, Pak Purnomo telah berdiri di belakang mereka. Ia menyulut rokok dan ikut duduk. Dengan senyum yang penuh arti, Pak Purnomo berkata, “Jadikan ini ujian terakhir.”
__ADS_1