Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
42. Di Atas Langit Sana, Hujan Juga Turun


__ADS_3

Timo menghela napas panjang. Ia menatapi hujan yang turun deras di depan teras dengan pandangan yang tak kalah sendunya. "Anjani itu nama monyetku dulu, Bos. Dia mati karena sudah terlalu tua," katanya dengan nada yang sedih.


Prapto mengerucutkan bibirnya. "Aku pikir tadi Anjani itu nama wanita, Nimo ... Nimo. Tapi, kenapa kau sedih? Kau dekat dengan Anjani itu dulu?"


"Sangat dekat, Bos, dan kami suka mandi hujan. Dia tidur denganku. Ayah yang menemukannya waktu Beliau mencari bibit tanaman di hutan yang agak jauh dari sini. Ibunya Anjani ditembak oleh pemburu. Lalu ayah membawanya pulang."


Prapto dapat melihat mata Nimo sekarang berkaca-kaca. "Aku paham rasa rindumu pada Anjani, Nimo. Tapi aku yakin Anjani sekarang juga tengah merindukanmu, karena di atas langit sana, pasti hujan juga turun. Kau punya foto Anjani?" tanyanya.


Nimo menyeka matanya yang berlinang. Ia lalu membuka ponselnya dan memperlihatkan sosok Anjani pada Prapto. "Ini, Bos. Dia tak diberi rantai. Anjani keluar masuk rumah kami dengan bebas. Ini fotonya sedang tersenyum, Bos, waktu itu hari ulang tahunku. Dan ini foto Anjani menyuapiku kue." Nimo menceritakan setiap foto yang digulirnya.


Prapto mengangguk-angguk. "Ngomong-ngomong, Anjani tidak punya anak?" tanyanya.


"Tidak, Bos. Janin Anjani punya kelainan, jadi, kata dokter ia tidak bisa hamil."


Prapto kembali mengangguk-angguk. "Bagaimana kalau kita cari hewan baru untuk dipelihara, Nimo?"


"Hewan apa, Bos?" tanya Nimo sedikit tertarik.


Prapto menyeringai. "Yang anti mainstream, Nimo."


"Huh? Seperti apa? Jangan bilang Bos mau memelihara harimau," sahut Nimo sedikit ngeri.


"Tidak Nimo. Kita pelihara ikan hiu."


"Huh?"


Prapto tertawa. "Bercanda. Lagi pula mana bisa ikan hiu hidup di air tawar, Nimo. Aku ingin punya hewan peliharaan yang setia pada pasangannya, Nimo. Ada beberapa, seperti burung hantu, siamang, burung parkit, merpati, dan buaya," terang Prapto.


Nika tersintak. "Kau serius, Bos, ingin memelihara buaya? Aku tidak mau, Bos. Takut," kata Nimo. Tapi, Bos, kalau benar buaya itu setia, kenapa orang memberi cap lelaki buaya darat pada pria yang punya pacar lebih dari satu?"


Prapto tersenyum. "Sebentar, akan kujelaskan. Aku pinjam dulu raut wajah sok bijaksananya si Timo yang kini jarang ia pasang," kata Prapto, tertawa. "Tapi tentang yang akan aku jelaskan ini serius."


Setelah wajah Prapto berubah menjadi sok bijaksana, ia berkata, "Buaya itu hewan yang setia, Nimo. Bila sang betinanya mati, buaya jantan tak akan mencari betina lain. Mereka lebih memilih menghabiskan sisa hidupnya sendirian. Reptil satu ini juga dikenal sebagai hewan yang protektif.


"Ketika sang betinanya sedang bertelur, buaya jantan akan dengan siap siaga menjaga mereka dari predator. Bahkan jika harus mengorbankan nyawanya sendiri. Mungkin itulah sebabnya roti buaya selalu ada dalam setiap acara pernikahan suku Betawi, karena buaya memang dilambangkan sebagai wujud kesetiaan."

__ADS_1


Nimo mengangguk paham dan kagum. "Wah. Aku tidak menduga buaya itu setia, Bos. Lalu apa-apaan dengan istilah buaya darat itu? Itu salah satu bentuk pencemaran nama baik yang melanggar asas perikebinatangan!"


Prapto tertawa. "Soal itu aku tidak tahu, Nimo. Sekarang, mari kita tidur!" ajaknya. “Setelah aku pikir, kita cari hewan peliharaan setelah selesai gotong royong saja nanti.”


***


Gotong royong hari ke tiga warga desa Kejora tetap berlangsung dengan penuh semangat dan keceriaan. Bapak-bapak dan pria desa Kejora yang belum menikah membangun dua bangunan penampung itu bagaikan tidak kenal dengan rasa lelah. Bahkan Lapen, Taro, Lennon, dan bocah laki-laki yang seusia dengan mereka juga tampak bersemangat.


"Lapen! Itu kau memotong bambunya tidak lurus," seru Taro pada Lapen. Rambut Taro yang panjangnya hingga telinga dan dibelah tengah itu berkibar ditiup angin.


Lapen sedikit kaget. Ia lalu mengangkat potongan bambu kecil yang akan dijadikan pagar tersebut lalu memperhatikannya. "Benar juga, Taro. Tapi syukurlah hanya pencong sedikit. Aku akan membenarkannya," ucap Lapen. "Lennon tadi ke mana?"


"Katanya tadi uangnya ketinggalan di rumah," jawab Taro. Ia lalu melihat ke sekitar. "Nah, itu dia. Tampaknya dia buru-buru Lapen, dia berlari." Taro menunjuk ke arah Lennon.


Lapen meletakkan potongan bambu yang sudah ia luruskan. Ia lalu berdiri dan menengok ke arah Taro menunjuk. "Seperti dikejar setan saja dia."


"Lapen, Taro! Tadi aku melihat truk besar yang bentuknya beda dengan truk yang sering kita lihat," kata Lennon, begitu ia tiba di hadapan kedua sahabatnya. "Truk ini sangat keren! Aku langsung berlari dan lewat jalan pintas untuk memberi tahu kalian, supaya kalian sempat melihatnya."


"Kenapa truk itu masuk desa kita, ya?" tanya Taro pada Lennon.


Tanpa bicara lagi Lapen dan Taro segera ikut berlari menyusul Lennon. "Kek, kami pergi sebentar, mau lihat truk di jalan dekat rumah Lennon," sorak Lapen pada Pak Oscar, sambil berlari.


"Hati-hati, Lapen!"


Ketiga sahabat kecil itu kini berlari berdampingan. Mereka melewati jalan pintas. "Ke sana!" seru Lennon sambil mendahului kedua sahabatnya berbelok ke kiri.


Mereka kini tiba di sebuah persimpangan jalan desa dan melihat ke sekitar. "Itu truk-nya," kata Lennon sambil menunjuk ke arah kanan dari tempat mereka berdiri, dimana truk berwarna hitam yang bermodel Amerika tengah tampak melaju dengan kecepatan pelan.


"Wooaahh! Truk apa ini? Keren sekali. Seperti di buku yang kita baca," seru Lapen dan Taro bersamaan.


Salah seorang dari dua orang pria yang duduk di dalam truk hitam tersebut berkata, "Itu bukannya cucuk Pak Kepala Desa Kejora, Ayah?" tanyanya, yang ternyata adalah Timo.


Pak Gumiro yang mengemudi tersenyum. Ia menghentikan laju truk-nya di depan Lapen dan kedua sahabatnya. "Tiga sahabat kecil! Kalian mau ke mana?" tanya Pak Gumiro setelah membuka kaca truk.


"Kakek Gumiro!" seru Lapen, Taro, dan Lennon bersamaan.

__ADS_1


"Kami mau melihat truk ini, Kek. Ternyata yang mengemudinya adalah Kakek Gumiro. Kakek mau ke mana?" Lapen yang bertanya.


"Mau ke tempat warga gotong royong. Truk ini nanti yang akan membawa hasil panen dan makanan hasil olahan warga desa Kejora."


"Kalau kami tahu Kakek mau ke sana, tentu kami tak akan susah payah berlari ke sini," kata Lapen.


Timo tersenyum. "Ya sudah, Bocah. Naiklah! Kalian akan kagum dengan betapa kerennya truk Amerika ini," ajak Timo.


Wajah Lapen dan kedua sahabatnya berseri. Mereka lalu naik ke atas Truk.


Para warga yang tengah bergotong royong berhenti sejenak, ketika Pak Oscar mengatakan bahwa truk milik perusahaan Kejora datang. Mereka sama-sama melihat ke arah sebuah truk hitam bermodel Amerika yang sedang melaju pelan di kejauhan, hingga truk itu berhenti tidak jauh dari balai desa.


Yang pertama kali turun adalah Lapen, Taro, dan Lennon. Mereka turun dengan gaya yang dibuat keren. Apalagi Lennon yang hari itu mengenakan kemeja, ia mengibas-ngibas kerah kemejanya ketika baru saja turun dari truk.


Setelah Pak Gumiro dan Timo turun, Pak Gumiro berkata dengan suara yang dikeraskan, "Truk ini adalah truk milik perusahaan Kejora dan juga milik warga desa Kejora. Aku harap kalian suka dengan truk model Amerika ini." Pak Gumiro menyulut rokoknya lalu berjalan ke tempat Pak Oscar, Prapto, dan Nimo mengurus kayu dan bambu.


"Keren, Pak!" sorak Pak Ino yang sedang berada di atas salah satu dinding bangunan.


Setelah mengobrol sebentar, Pak Oscar mengajak Pak Gumiro ke rumahnya untuk membahas urusan bisnis. Mereka bukannya tidak mau membahas bisnis di balai desa atau di tempat orang bergotong royong, namun suara dari palu dan peralatan lain yang digunakan untuk membangun tentu akan membuat suasana diskusi kurang nyaman.


***


Begitu tiba di rumahnya setelah berjalan kaki selama beberapa menit, Pak Oscar mengajak Pak Gumiro, Timo, Prpato, dan Nimo ke taman Vimala, yaitu taman yang sengaja dibuat Pak Oscar untuk dihadiahkan pada Bu Inari di hari ulang tahun istrinya tersebut.


Pak Gumiro dan Timo tidak henti-hentinya berdecak kagum begitu mereka melihat kupu-kupu berwarna warni beterbangan di taman Vimala.


"Ini salah satu hal paling indah yang pernah kulihat," kata Pak Gumiro dan Timo bersamaan.


"Sudah siap, Pak Kades!" sorak Bu Inari dari pintu belakang rumahnya.


"Iya, Bu. Aku ke sana." Pak Oscar melangkah untuk mengambil lima gelas kopi dan kentang goreng yang baru dibuat oleh Bu Inari, lalu membawanya ke meja yang ada dekat taman Vimala.


"Nah, Silakan dimakan dan diminum hidangannya," kata Pak Oscar, setelah Nimo selesai membantunya menyajikan hidangan. "Oh iya, truk Amerika itu keren sekali, Pak Gumiro."


"Benar," timpal Prapto dan Nimo bersamaan.

__ADS_1


"Aku senang Pak Oscar, Nak Nimo, dan Nak Prapto menyukainya. Kata Pak Ino tadi dia juga suka," sahut Pak Gumiro. Ia lalu menoleh pada Timo dan berkata, "Nah, Nak. Sulutlah rokokmu lalu ceritakan pada Pak Oscar, Nak Nimo, dan Nak Prapto tentang hasil penyelidikanmu!"


__ADS_2