Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
26. Setan


__ADS_3

Prapto dan Nimo sudah bisa melihat Pinaka ketika mereka tiba di pintu pagar rumah Pak Oscar.


"Bidadari-mu nyasar ke rumah Pak Oscar, Bos," ucap Nimo sambil memarkir sepedanya.


Merasa digoda, Prapto pun membalasnya dengan jawaban yang lebih hebat. "Dia lebih cantik dari bidadari, Nimo. Pinaka itu indah. Bidadari kalah," katanya.


"Susah memang, ngobrol dengan orang jatuh cinta, Bos," celutuk Nimo, "Bos, ayo!"


"Ini standarnya tidak mau diturunkan, Nimo," kata Prapto sambil mencoba menurunkan standar sepedanya.


Nimo lalu mendekat untuk memeriksa standar sepeda Prapto. Ia lalu geleng-geleng. "Arah kau menurunkannya terbalik, Bos. Hebat, ya, Pinaka. Melihat dia dari jauh saja bisa membuat Bos tidak pandai lagi menurunkan standar sepeda," kata Nimo tertawa.


"Aku 'kan pelupa, Nimo. Tumben Bu Inari ikut ngobrol dengan tamu?" tanya Prapto sambil melangkah menuju teras rumah Pak Oscar.


"Selalu begitu, Bos. Jika tamunya wanita, Pak Oscar akan meminta istrinya ikut ngobrol. Itu tanda bahwa Pak Oscar menghargai Bu Inari dan tidak ingin menyakiti hatinya," jawab Nimo.


"Pak Kepala Desa itu selalu punya banyak hal yang bisa membuatku kagum," ujar Prapto.


Sesampainya mereka di teras, Pak Oscar mempersilakan Nimo dan Prapto duduk. "Silakan diminum kopinya, Nak Prapto, Nak Nimo!"


Bu Inari lalu bangkit dari duduknya. Ia berkata, "Nak Pinaka, aku tinggal dulu, ya. Nak Prapto dan Nak Nimo sudah datang."


"Baik, Bu Inari, terima kasih hidangannya, Bu," jawab Pinaka. Ia memperhatikan Bu Inari sampai istri Pak Oscar itu masuk ke dalam rumah.


Pahamlah Pinaka sekarang bahwa kehadiran Bu Inari diminta oleh suaminya agar Bu Inari tidak salah paham dan sebagai tanda bahwa Pak Oscar menghargai istrinya.


Pinaka menoleh pada Nimo sejenak lalu menunduk. "Maaf soal penolakan hasil ngebun waktu itu, Mas Nimo," katanya. Ia pun kembali menunduk.


Nimo tertawa. "Sudah aku maafkan, Pinaka. Lagi pula jika tidak aku maafkan, tentu Bos Prapto akan marah. Aih!"


Nimo berseru kaget ketika kakinya tiba-tiba diinjak sedikit oleh Prapto. Ia lalu menoleh pada Prapto sambil mengangkat gelas kopi. "Minum dulu, Bos!" katanya tersenyum.


"Orang tuamu sudah tahu bahwa kau pindah ke desa Kejora, Pinaka?" tanya Prapto.


"Sudah, Mas. Aku menelepon mereka tadi malam," jawab Pinaka.


"Yang di halaman itu motormu? Kenapa tidak bawa mobil?"


Pinaka menatap Prapto sejenak dengan pandangan kesal. Ia masih kesal dengan ancaman Prapto yang membuatnya harus pindah ke desa dan bekerja dengan gaji yang kecil.


"Iya, Mas. Orang tuaku tidak mau memberi mobil kalau aku kerja di kantor. Aku ada rencana membelinya. Tapi baru saja kerja dua bulan dengan gaji yang lumayan, aku harus berhenti pula. Entah kapan aku akan bisa punya mobil," kata Pinaka menyindir Prapto.

__ADS_1


Prapto tertawa. "Tak apa tidak punya mobil, Pinaka. Desa Kejora lebih indah bila dilihat dan dikelilingi pakai sepeda, kau juga akan sehat kalau bersepeda. Jika kau mau, kita tukar-tambah saja sepedaku dengan motormu nanti, supaya bisa aku gunakan untuk membawa hasil ngebun yang akan dijual, dan kau bisa memakai sepeda untuk keliling desa."


Pak Oscar menatap Nimo lalu menaikkan alisnya. Mereka berdua sama-sama menahan tawa menyaksikan Prapto dan Pinaka saling bersahutan.


Wajah Pinaka jelas menahan kesal. Katanya, "Nanti kalau aku merasa berat untuk membayar pajak dan servisnya, kita akan tukar-tambah motorku dengan sepedamu, Mas Prapto."


Prapto kembali tertawa. Ia tahu maksud Pinaka, bahwa gadis itu akan susah membayar servis dan pajak motor dengan gajinya sebagai pustakawan yang hanya satu juta rupiah. Prapto tidak mau melanjutkan bersahutan kata, karena bagaimanapun, jika Pinaka tersudut, tentu Pinaka akan merasa tidak dihargai.


Pak Oscar menoleh pada Pinaka. "Nah, Nak Pinaka, kau langsung saja ke perpustakaan dengan Nak Prapto! Aku sudah meminta pendiri perpustakaan, yaitu Pak Nirwana, untuk menunggu kalian di sana. Aku dan Nimo tidak bisa ikut, karena kami akan membetulkan kandang ayam dulu," katanya.


"Baik, Pak Oscar. Terima kasih atas teh-nya, Pak," kata Pinaka. Ia lalu pamit pada Bu Inari.


Setelah Prapto dan Pinaka keluar dari pintu pagar, Nimo berkata pada Pak Oscar, "Kau pengertian sekali, Pak Kepala Desa. Pura-pura ingin membetulkan kandang ayam agar Bos Prapto bisa ngobrol berdua dengan Pinaka."


"Benar, Nak Nimo. Tapi, tujuan utamaku adalah ini," kata Pak Oscar sambil mengangkat pipa cangklongnya, "kalau Pinaka masih di sini, kita tentu tidak bisa merokok," lanjutnya lalu tertawa.


Nimo mengerucutkan mulutnya sambil geleng-geleng. Ia lalu ikut menyulut rokok.


***


Prapto dan Pinaka sudah setengah jalan menuju perpustakaan. Prapto yang membawa motor. Pinaka tidak bicara sepatah kata pun sejak mereka berangkat.


"Jangan diam-diam begitu, Pinaka! Nanti kau bisa kerasukan setan desa Kejora. Setan desa jauh lebih hebat dari setan kota," kata Prapto sambil sedikit menoleh ke kiri.


"Aku bercanda, kok. Sebelum aku datang memang banyak sekali. Tapi sejak kedatanganku di sini, setan-setan itu banyak yang aku karungi lalu aku jual ke konten kreator yutub, untuk mereka jadikan konten horor. Selebihnya, setan-setan itu sudah kabur entah ke mana karena takut," kelakar Prapto.


"Aih!" Prapto berseru kecil karena Pinaka mencubit lengannya, "kau takut hantu ternyata, Pinaka. Kalau kau melihat hantu, telepon saja aku! Nanti aku akan datang membawa karung."


Mereka pun tiba di halaman perpustakaan. Pak Nirwana tampak telah duduk menunggu kedatangan mereka sambil ngopi. Di samping Pak Nirwana ada Lapen Oscario.


"Perkenalkan, Pak Nirwana, ini Pinaka. Dia yang akan menjadi pustakawan di sini."


Pak Nirwana mengangguk. "Selamat datang di desa Kejora, Nak Pinaka. Semoga kau bahagia tinggal di sini," sapanya.


Prapto, Pak Nirwana, dan juga Pinaka lalu sama-sama menoleh ke arah Lapen yang tengah terbatuk-batuk.


Prapto menggeleng-geleng karena tahu bahwa Lapen memberi kode agar ia diperkenalkan pada Pinaka. "Pinaka, ini Lapen, cucunya Pak Oscar," kata Prapto.


"Lapen. Lapen Oscario, Tante," kata Lapen memperkenalkan diri.


"Lapen apa, Dik?" tanya Pinaka memastikan.

__ADS_1


"Lapen Oscario, Tante. Jangan heran, Tan! Namaku memang unik dan kebarat-baratan, tapi aku asli orang desa, kok," jawab Lapen tertawa, membuat Pinaka akhirnya melepaskan tawanya yang telah ia tahan sejak ia mendengar nama lengkap Lapen.


Bu Harni, yang sedang berkunjung ke perpustakaan, lalu mengatar Pinaka ke ruangan TV dan ruangan kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya.


"Kau kekasihnya Nak Prapto, ya, Nak Pinaka?" tanya Bu Harni dengan senyum penuh arti.


"Bukan, Bu. Aku hanya kenalannya saja," jawab Pinaka tersipu.


"Ah, yang benar? Bilang saja kalau memang iya! Ibu tidak ember, kok."


"Benar, Bu, hanya kenalan."


"Ya sudah, kalau kau masih malu-malu. Aku setiap hari ke sini, kok. Nanti curhat saja kalau sudah mau cerita!" kata Bu Harni dengan senyum yang lagi-lagi penuh arti. Ia lalu mengajak Pinaka ke luar ruangan.


Bu Harni dan Lapen kembali membaca, sementara Pak Nirwana pamit karena ia masih harus menyelesaikan panen.


Lama Pinaka dan Prapto duduk diam di kursi panjang yang ada di samping meja pustakawan. Mereka memperhatikan anak-anak dan ibu-ibu yang membaca.


"Bagaimana kesan yang kau tangkap tentang desa Kejora, Pinaka?" tanya Prapto memecah keheningan.


"Desa ini begitu damai, Mas. Aku pernah berkunjung ke beberapa desa sebelumnya. Suasananya tenang juga, tapi tidak sedamai dan setenang di sini. Warga di sini tampaknya baik-baik. Baru pertama bertemu saja, Bu Inari dan Bu Harni sudah baik padaku. Baik-nya tidak dibuat-buat untuk suatu kepentingan, seperti sikap baik kebanyakan orang kota."


Prapto menghela napas panjang. "Syukurlah. Jangan kau kira aku ingin menjatuhkan ekonomi-mu karena mengancam hingga kau pindah ke sini. Aku hanya membalas dendam padamu, Pinaka," kata Prapto.


Pinaka mengernyitkan keningnya. "Apa bedanya, Mas?" tanyanya.


Prapto tersenyum. "Tentu saja beda. Jika aku ingin menjatuhkan ekonomimu, tentu aku akan membuatmu masuk penjara. Aku hanya ingin balas dendam, dan balas dendamku pun sudah selesai.


"Tapi kau harus tetap tinggal dan bekerja di sini, Pinaka. Jika kau kabur, aku akan melaporkanmu pada polisi. Kau pasti bersyukur, kok, tinggal di desa ini. Desa ini istimewa. Dan masih ada hal lain yang akan kau syukuri nanti," terang Prapto.


"Apa hal lain itu, Mas?"


Nada suara Pinaka sudah tidak mengandung kekesalan lagi. Ia sangat takut masuk penjara, dan kini ia lega karena Prapto mengatakan bahwa balas dendamnya sudah selesai.


Pinaka percaya tidak ada kebohongan dalam kata-kata Prapto tersebut, karena sikap dan perkataan Prapto telah menunjukkan bahwa dirinya adalah pria yang bisa dipercaya.


"Kau akan tahu itu nanti," kata Prapto, "sekarang aku akan pulang dulu. Aku mau mandi. Kau ajaklah ibu-ibu di sini mengobrol! Besok aku akan mengajakmu melihat kebunku."


Prapto lalu berdiri dan melangkah ke pintu. Namun langkahnya terhenti ketika Prapto mendengar suara berbisik dari sampingnya, "Ciee ... Tampaknya sebentar lagi Paman akan melepaskan status jomblo yang selama ini Paman sandang."


Prapto menoleh. Ternyata yang berbisik barusan adalah Lapen, cucunya Pak Oscar. Prapto langsung menangkap Lapen dan menggelitiknya.

__ADS_1


"Ampun, Paman! Ampun!" teriak Lapen di sela-sela tawanya.


Pinaka melihat mereka dari mejanya sambil tertawa . Tawa yang terdengar lembut dan merdu. Begitu merdu, bagaikan tawa tersebut adalah tawa yang berasal dari kahyangan.


__ADS_2