Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
13. Pelaksanaan Rencana Dimulai


__ADS_3

"Aku menunggumu sampai-sampai tadi aku ketiduran sebentar, Sayang," ucap Silvi. "Kamu pasti capek. Duduklah, akan aku buatkan teh."


Senyum Tristan mengembang meskipun ia sedikit heran. Tidak biasanya, dan mungkin baru kali ini istrinya yang cantik itu menunggunya pulang kerja. Malah menawarkan teh pula. Biasanya ketika Tristan pulang, Silvi sudah terlelap di kamar mereka. "Tumben kau belum tidur, Sayang?"


"Aku rindu ngobrol denganmu. Tidak boleh, ya, Sayang?" Silvi lalu menatap Tristan dengan tatapan yang amat manis.


Hidung Tristan pasti sudah mengembang kalau saja tidak ditahannya kuat-kuat. Tristan lalu duduk di sofa sambil menunggu istrinya membuatkan teh. CEO Cuek itu tidak menduga sedikit pun bahwa Silvi akan memanfaatkan momen hidung mengembang-nya ini sebagai awal rencananya terhadap Prapto.


Tristan tersenyum manis melihat Silvi berjalan membawa gelas teh. "Ini, Sayang. Minumlah dulu!"


"Nanti saja, 'kan masih panas," jawab Tristan masih tersenyum.


"Sayang, kau tahu desa Kejora itu di mana?"


Tristan menatap Silvi. "Tentu saja aku tahu, Sayang. Desa Kejora adalah tempat perusahaanku membeli hasil pertanian dan peternakan alami untuk dijual melalui anak-anak perusahaan. Kenapa dengan desa Kejora, Sayang? Kau punya teman di sana?"


Silvi lalu menceritakan kepada suaminya bahwa ia begitu sakit hati karena dicampakkan oleh Prapto dan ia ingin Tristan membantunya untuk membalas dendam, dengan cara menggusur desa tersebut.


Silvi mengatakan kepada Tristan agar ia mengajukan gagasan kepada Kuda Terbang Corporation untuk membangun pabrik atau komplek perumahan di desa Kejora.


Tristan mengernyitkan keningnya. "Bukannya aku tidak mau membantu rencanamu itu, Sayang. Aku sendiri ingin memberi pelajaran kepada pria kuno itu dan membuat dia menyesal karena telah mencampakkan bidadari sepertimu. Tapi, desa Kejora bukanlah lahan milik pemerintah, jadi, tidak bisa digusur," terangnya.


Ada rasa heran di benak Tristan, kenapa istrinya yang cerdas itu bisa tidak tahu bahwa sebuah desa tidak bisa sembarangan digusur. Apalagi desa Kejora adalah desa yang menjadi pemasok terbanyak untuk perusahaannya, yang membuat gagasan itu pasti akan sangat ditentang.


Silvi tahu bahwa ia telah mengatakan gagasan yang konyol, tapi ia mencoba untuk tetap mempertahankan mimik wajah agar tidak terlihat malu. "Tapi, kan, kau bisa mencari cara lain, Sayang. Yang penting Prapto harus hidup susah," katanya.


Tristan menghela napas panjang lalu meneguk teh-nya. "Bagaimana caranya, Sayang? Kita sudah jelas tidak bisa menggusur desa itu. Aku juga tak akan bisa membawa gagasan untuk tidak menampung hasil panen desa Kejora, karena mereka tentu akan menjual semuanya ke pedagang pasar."


Tristan melanjutkan, "Ada satu rahasia Kuda Terbang Corporation yang membuat kami tidak bisa mengusik desa Kejora dan sangat mustahil bagi kami untuk berhenti membeli hasil panen mereka."


"Apakah itu?" tanya Silvi penasaran. Ia tak habis pikir kenapa desa Kejora bisa diperlakukan dengan hati-hati oleh perusahaan sebesar dan se-ternama Kuda Terbang.

__ADS_1


"Kau janji jangan bilang siapa-siapa, ya, Sayang?"


"Aku janji. Kau tidak percaya padaku, Sayang?" tanya Silvi pura-pura merajuk.


Tristan berkata dengan cepat, "Tentu saja aku percaya, aku hanya memastikan saja, Sayang. Mana mungkin aku tidak mempercayai istriku yang cantik ini.


"Begini, desa Kejora itu adalah satu-satunya desa yang bertani dan beternak secara alami di pulau ini, bahkan mungkin di Endonesa. Tapi, mereka tidak tahu dengan kelebihan yang mereka punya," katanya.


Tristan meneguk tehnya lagi. "Mereka mau saja menjualnya kepada kami dengan harga yang hanya sedikit lebih tinggi dari harga biasa, karena desa Kejora jauh dari kota besar, Sayang. Kota kecil di dekatnya pun tidak mempunyai mall atau supermarket. Jadi, mereka tidak tahu kami menjual kembali hasil panen mereka dengan harga yang sangat tinggi."


Silvi paham, namun wanita itu tidak mau rencananya gagal, apalagi gagal sebelum dilaksanakan. Dengan cepat, otak Silvi yang cerdas sudah bisa mendapatkan sebuah ide. "Bagaimana kalau kau setop saja membeli hasil panen yang berasal dari Prapto, Sayang? Bilang saja bahwa dia diam-diam menggunakan bahan kimia!"


Tristan diam sejenak untuk berpikir. Ia lalu menggeleng, "Bisa saja aku melakukan itu, tapi, bagaimana caranya, Sayang? Kalau dia protes, bawahanku nanti pasti kebingungan untuk menjawabnya, dan itu bisa menyebar ke seluruh desa."


Wajah Silvi berubah jadi cemberut. "Dar tadi kau selalu saja bilang, 'Bagaimana caranya bagaimana caranya. Suruh saja salah satu pekerja di perusahaanmu untuk pura-pura jadi ahli pertanian lalu pura-pura meneliti! Kau tidak berniat membantu istrimu ini. Sudahlah, Aku tidur dulu!" kata SIlvi. Ia lalu bangkit dan pergi ke kamar.


Wajah Tristan yang biasanya dingin itu mendadak berubah panik. "Sayang, tunggu! Kan bisa kita bicarakan dulu," cegahnya.


***


Malam itu Tristan tidak bisa tidur karena memikirkan cara untuk memenuhi permintaan istrinya. Tristan menimbang-nimbang, apakah ia akan mengutus karyawannya untuk berpura-pura menjadi ahli pangan atau dia akan membayar seorang ahli pangan yang asli untuk berpura-pura.


Seperti biasa, Silvi berangkat kerja lebih dulu dari suaminya. Namun bedanya, kali ini Silvi tidak pamit pada Tristan karena ia masih berpura-pura merajuk sesuai dengan saran Rini. Silvi agak kesal kepada sahabatnya itu karena betapa bodohnya usul Rini untuk menggusur desa. Syukurlah semalam Silvi terpikirkan rencana lain. Jika tidak, tentu ia akan malu.


***


Di ruangannya, Tristan menelepon seorang wanita yang memiliki jabatan cukup tinggi di Kuda Terbang Corporation. Tristan telah membulatkan tekad, ia akan memerintahkan wanita itu untuk berpura-pura menilai hasil panen Prapto lalu mengatakan bahwa hasil panen tersebut memiliki unsur kimia.


Untuk rencananya itu, Tristan akan merogoh kocek senilai lima juta rupiah, dan sepuluh juta rupiah lagi untuk temannya yang mempunyai jabatan tinggi di kantor Dinas Pangan, untuk memastikan keamanan operasi wanita tersebut dari jeratan hukum bila diperlukan.


"Halo, Pak Tristan," terdengar suara perempuan dari seberang telepon.

__ADS_1


"Sudah baca pesan singkat saya?" tanya Tristan dengan gaya Khas CEO Cuek-nya.


"Sudah, Pak."


"Kamu mau ambil job ini atau tidak?"


"Kalau pak Tristan menjamin keamanan operasi, saya akan ambil," jawab perempuan tersebut.


"Saya sudah menghubungi teman yang memiliki jabatan tinggi di kantor Dinas Pangan. Kau kujamin akan aman dari jeratan hukum."


"Baiklah, saya ambil, Pak. Kapan saya mulai?"


"Pada Gelombang panen nanti. Kemungkinan tiga sampai lima hari lagi," kata Tristan.


"Okay, Pak."


Tristan langsung menutup telepon. Uang lima belas juta bukanlah hal besar baginya, apalagi demi Silvi. Tristan ingin istrinya itu tidak mendiamkannya lagi.


***


"Apa kubilang? Suami kita itu sama-sama suami idaman, Sil. Panik 'kan dia? Itu baru saja kau diamkan, apalagi kalau kau ancam akan bercerai, bisa nangis-nangis si Tristan CEO Cuek itu," kata Rini, sang feminis sejati, dengan wajah angkuhnya yang khas namun sangat menyebalkan itu.


Silvi tertawa. "Iya, lucu juga, Rin. Kau memang cerdas! Barusan Tristan mengirimi aku pesan teks. Katanya, dia sudah mengutus seseorang untuk memulai rencana kami."


Silvi tidak menyebutkan pada rini rahasia Kuda Terbang Corporation, Ia hanya mengatakan bahwa desa itu tidak bisa digusur karena semua pemilik tanah di sana memiliki sertifikat.


"Kasih tahu dong rencana kalian!" pinta Rini.


Silvi kembali tertawa, tawa yang merdu dan manis. "Kami akan menghentikan pembelian hasil panen yang berasal dari Prapto," katanya.


***

__ADS_1


Di kantor utama Kuda Terbang Corporation, seorang wanita yang berambut sepunggung sedang memeriksa transaksi transfer bank pada ponselnya. Wanita itu tersenyum ketika melihat bahwa saldonya sudah bertambah lima juta rupiah. Senyum wanita itu sangat manis, dan terlihat sangat cocok dengan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai.


__ADS_2