
“Ayah dan Ibu kapan datang?” tanya Prapto begitu ia melihat kedua orang tuanya dan Pinaka duduk di teras.
Pak Rohan tertawa. “Kemarin. Pak Oscar yang memberikan kunci rumahmu karena aku bilang mau tinggal sehari di desa Kejora. Pantas kau betah sekali di sini, desa ini begitu sejuk dan damai,” katanya.
Prapto menyalami kedua orang tuanya. Ia melihat di atas meja sudah terhidang singkong goreng, kopi, serta teh.
“Aku dan Pinaka tadi yang membuatnya,” kata Bu Veni. “Berbenahlah dulu, Prapto, baru ikut ngobrol.”
Prapto mengangguk. Ia masuk ke rumah sambil tersenyum. Sejak kapan ibunya mau memasak? Bahkan ia ragu singkong yang dimasak ibunya itu akan lezat. Tapi Prapto bahagia. Sekarang ibunya sudah jauh dari kata feminis.
Tak lama setelah Prapto masuk ke rumah, Nimo datang dengan motornya. Ia menyalami kedua orang tua Prapto dan ikut duduk.
“Ah, kau Nimo, mau menikah tidak memberi kabar,” kata Pak Rohan. Ia lalu menyulut rokok.
Nimo tersenyum malu. “Masih beberapa bulan lagi, Pak. Aku sudah berencana, kok, akan ke rumah memberi kabar. Bapak dan Ibu ada sehat?”
“Sehat, Nimo. Bagaimana perjalanan kalian? Berhasil?” tanya Pak Rohan.
“Berhasil, Pak. Hampir saja kami pulang membawa angin dari India,” jawab Nimo, tertawa. Ia lalu menceritakan tentang perjalanan mereka di amazon dan India.
Tak lama berselang Prapto muncul lalu ikut duduk. Ia tersenyum pada Pinaka. "Karena kau sudah di sini, aku berikan oleh-olehnya di sini saja, ya, sekalian oleh-oleh untuk Ayah dan Ibu," katanya.
Pinaka mengangguk. Wajahnya begitu bahagia karena Prapto sudah kembali ke desa Kejora. Dalam hatinya, Pinaka mengiyakan kata-kata Bu Intan bahwa Prapto adalah pria yang layak untuk dipercaya. "Terima kasih, Mas. Aku kira Mas Prapto cuma bawa angin saja seperti kata Mas Nimo." Pinaka tertawa.
"Ada, kok. Aku membawakanmu ikan piranha, Pinaka," kata Prapto.
Wajah Pinaka berubah jadi cemas. "Aku tidak mau, Mas," jawabnya singkat.
Bu Veni tertawa. "Dia bercanda, Pinaka. Kalau benar Prapto membawakanmu piranha, aku akan menyuruhnya memakan ikan itu mentah-mentah."
Semua yang ada di teras itu tertawa. Dari pintu pagar, Lapen, Taro, dan Lennon berjalan sambil tertawa. Mereka tampaknya baru selesai membahas sesuatu. Tiba di depan teras Prapto mereka berhenti, lalu melihat Pak Rohan dan Bu Veni dengan pandangan bertanya-tanya.
Wajah Bu Veni langsung berseri melihat ketiga bocah itu. “Imut sekali,” katanya. Ia berdiri lalu menghampiri Lapen dan kedua sahabatnya. “Siapa nama kalian, Nak?”
__ADS_1
“Kita dibilang imut, Lapen,” bisik Lennon.
“Ibu-Ibu ini siapa?” timpal Taro.
“Mana aku tau,” jawab Lapen.
Terdengar suara tawa Nimo dan Prapto. Nimo berkata, “Kalian kenapa tiba-tiba jadi pemalu begitu?”
“Percayalah, Bu, mereka sama sekali tidak imut.” Prapto menimpali. “Yang di tengah itu Lapen, Bu, dia cucu pak kepala desa. Yang di potongan rambutnya unik itu Lennon, dan yang satu lagi Taro.”
Bu Veni menggangguk. “Mari, ikut duduk, Paman Prapto bawa banyak oleh-oleh,” ajak Bu Veni.”
Lapen dan kedua sahabatnya tersenyum. Ia berkata, “Memang itulah yang kami cari, Nek. Itulah tujuan kami datang ke sini.”
Semua yang ada di teras kembali tertawa.
***
Hari demi hari berlalu. Pesanan desa Kejora, yaitu tanah terra petra pun akhirnya tiba. Terra petra itu kemudian diturunkan di depan balai desa yang telah diberi atap sementara untuk mengantisipasi jika hujan turun. Semua petani sudah menunggu dengan gerobak untuk mengambil tanah terra petra mereka masing-masing. Dan sebelum para petani itu pulang, mereka terlebih dulu belajar cara membuat seed ball pada Prapto dan dijelaskan tentang manfaat pencampuran tanaman.
***
Hari ini Prpato dan Nimo tidak banyak mengurus kebun karena Lapen, Taro, dan Lennon datang untuk membantu. Mereka berkliling memeriksa tanaman satu per satu.
“Menurutmu, lebih bagus aku beli motor dulu atau merenovasi rumah dulu, Nimo?” tanya Prapto. Ia lalu menyulut rokok.
Nimo menoleh, memperhatikan bagian belakang rumah papan Prapto sejenak. “Dua-duanya saja, Bos,” kata Nimo, tertawa.
Prapto tertawa. “Tidak cukup uangku, Nimo. Sebagian untuk acara pernikahan nanti. Uang untuk menikahmu sudah kau sisihkan?”
“Sudah, Bos,” jawab Nimo. “Menurutku, sebaiknya renovasi rumah saja dulu, Bos. Soal motor nanti saja belinya. Ada sepeda dan ada motorku juga. Mau diganti ke bahan tembok semua, Bos?”
Prapto mengangguk. “Iya, Nimo. Aku sudah tanya-tanya biayanya pada Pak Ino. Aku juga sudah memilih beberapa model rumah. Ini. Mana yang bagus menurutmu?” Prapto memberikan ponselnya pada Nimo.
__ADS_1
Nimo memperhatikan sambil menggulir ponsel Prapto. “Yang ini, Bos.”
“Aku pun berpikir akan memilih yang itu, Nimo,” kata Prapto, tersenyum.
“Paman!” Lennom langsung berseru begitu tiba di dekat Prapto dan Nimo. “Anak ayam Paman sudah lahir.”
Prapto tertawa. “Menetas, Lennon,” katanya.
“Oh iya.” Lennon tertawa. “Ayo, Paman!” ajaknya.
Mereka pergi ke tempat ayam mengeram. “Menetas semua, Bos,” kata Nimo. Mereka kemudian menurunkan induk ayam dan dua belas ekor anaknya ke tanah.
Lapen, Lennon, dan Taro memperhatikan kedua belas anak ayam tersebut mengikuti induknya mencari makan.
“Mereka mau ke mana, Paman?” tanya Lapen.
Nimo menoleh. “Mencari makan, Lapen. Memangnya di kebunmu tidak ada ayam?”
“Ada, Paman. Tapi Ayah baru membelinya, jadi tidak ada anak ayam. Aku heran kenapa tidak dari dulu saja ayahku memelihara ayam,” jawab Lapen.
“Oh iya, rumah ayammu kan dulu tidak ada, Lapen, karena ayahmu memakainya untuk rumah bebek. Ayahmu menjual semua bebeknya?”
“Iya, Paman Nimo. Kata Ayah nanti akan membeli bebek lagi, sekarang Beliau mau belajar beternak ayam dulu.”
“Ayo, mengobrolnya di depan dapur saja,” kata Prapto, setelah ia menutup pintu tempat ayam mengeram.
***
Di perpustakaan desa Kejora, Pinaka tengah membaca sebuah buku yang membahas tentang menanam buah-buahan di pekarangan rumah. Ia sangat suka buah anggur, dan setelah membaca buku tersebut sepuluh halaman, ia melihat cara menanam anggur di pekarangan rumah. Di halaman selanjutnya dijelaskan bahwa anggur bisa tumbuh di pagar, maupun di tempat yang dibuat dengan kayu yang dibentuk untuk tempat pohon anggur menjalar.
Pinaka lalu melihat pagar perpustakaan dari pintu yang terbuka. Wajahnya mengernyit. “Tidak cocok jika di pagar, ini ‘kan bangunan perpustakaan,” katanya pada diri sendiri.
Pinaka kembali berpikir. Ia membayangkan bagaimana jika membuat sendiri tempat menjalar pohon anggur dari kayu. Tapi tak lama kemudian ia menggeleng. “Susah, belum lagi bahannya.”
__ADS_1
Lama Pinaka memikirkan tentang anggur sambil bertopang dagu, lalu tiba-tiba wajahnya berseri. Ia mengambil kunci motor lalu menutup perpustakaan. Pinaka menarik gas motornya sambil tersenyum manis.