
“Nimo!” seru Pak Rohan dan Bu Veni bersamaan.
Nimo menyalami kedua orang tua Prapto tersebut lalu memperkenalkan Arini. "Ini calon istriku, Pak, Bu. Namanya Arini."
Arini tersenyum mengangguk sambil menyalami Pak rohan dan Bu Veni. Ia juga diperkenalkan Nimo pada Bi Asih dan Mang Kari yang sedang lewat di depan pendopo membawa peralatan taman.
"Ooh, ini yang namanya Arini. Den Prapto pernah cerita," kata Mang Kari.
"Calon istrimu manis, Nimo," timpal Bi Asih, yang kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan minum dan camilan.
Arini dan Nimo ikut duduk. Nimo menyulut rokoknya dan Arini memberikan bungkusan yang berisi buah-buahan dan sayuran pada Bu Veni. "Ini, Bu, oleh-oleh dari kebunku," kata Arini.
"Terima kasih, Arini. Kami suka sekali hasil kebun dari desa Kejora. Terakhir kami membawa cukup banyak ketika mengunjungi Prapto." Bu Veni memberikan bungkusan tersebut pada Mang Kari untuk diantarkannya pada Bi Asih.
Mereka lalu mengobrol tentang desa Kejora, tentang Arini, tentang kebun Nimo dan Prapto, dan juga tentang pernikahan mereka yang akan diadakan secara serentak di kebun..
***
Sudah sebulan berlalu dan hari pernikahan Prapto dan Nimo dengan calon istri mereka masing-masing akan dilangsungkan besok. Kedua orang tua Prapto serta Bi Asih dan Mang kari sudah tiba di desa Kejora tadi malam. Mereka akan menginap di rumah Prapto sampai acara pernikahan selesai.
Sedangkan orang tua Pinaka dan Bi Riri menginap di rumah Bu Intan, karena ruangan yang merangkap tempat tinggal Pinaka di perpustakaan hanya punya satu kamar.
Pada pukul sembilan pagi itu, di tepi sungai desa Kejora, di bawah teriknya matahari musim panas, tiga buah payung tampak berjejer dalam jarak dimana mereka masih bisa mendengar suara dari satu sama lain. Ada payung merah, payung hijau, dan payung kuning.
"Lebih seru memancing di musim hujan, bukan, Lapen?" Terdengar suara dari balik payung yang berwarna hijau.
"Tidak juga, Taro. Lain serunya memancing di musim panas, kau bisa mendengar kicauan burung dan suara binatang lain yang akan lebih sedikit suaranya ketika musim hujan," jawab Lapen dari balik payung merah.
"Aku pernah membaca buku di perpustakaan. Dalam buku itu tertulis bahwa matahari pagi baik untuk kesehatan tulang, kenapa kita harus memakai payung? Lebay sekali jika kalian takut kulit kalian hitam." Payung yang berwarna hijau terbang, yang ternyata dilempar oleh Lennon.
"Benar juga," sahut Lapen.
"Ya," timpal Taro. Mereka berdua kemudian meletakkan payung dan menoleh ke arah Lennon.
Tiba-tiba saja angin bertiup lebih kencang dan payung yang dilempar oleh Lennon tadi bergeser arah terbangnya ke arah sungai. Payung itu mendarah di permukaan sungai lalu hanyut.
__ADS_1
Lapen dan Taro tertawa. "Makanya kau jangan kebanyakan gaya, Lennon," kata Lapen. Mereka bertiga kemudian berlari di tepi sungai untuk memintas dan mengambil payungnya Lennon.
Setelah mendapatkan payung Lennon, mereka kembali duduk dan melanjutkan memancing tanpa payung.
"Sudah berapa kira-kira semua ikan yang kita dapat?" tanya Lapen pada kedua sahabatnya.
"Lennon dapat delapan, aku dapat dua belas. Kau dapat berapa, Lapen?" tanya Taro setelah menghitung ikan di ember Lennon dan ember miliknya.
Lapen menoleh pada ember yang ada di sampingnya. Setelah menghitung, ia berkata, "Aku dapat lima belas. Sudah cukup belum, Taro?"
"Belum," jawab Taro singkat. Ia memasukkan ikan yang baru didapatnya lalu melempar kembali kail pancingnya ke sungai. "Butuh sekitar lima puluh ikan untuk acara pernikahan besok, Lapen. Lebih banyak makin keren. Paman Prapto dan Nimo pasti akan senang dengan hadiah ini.”
"Akhirnya mereka menikah juga, ya," sahut Lennon. "Kalian nanti akan menikah dengan siapa?"
Lapen dan Taro tertawa. Kata Lapen, "Kita masih delapan tahunan, Lennon, tak usah kau pikirkan sekarang."
***
Pak Rodi, atau juga yang sering dipanggil dengan Penyair desa Kejora, menawarkan halaman belakang rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Prapto untuk dijadikan tempat memasak hidangan acara pernikahan.
Demikianlah jika ada acara pernikahan atau acara syukuran di desa Kejora. Ketika sebuah rumah mengadakan acara syukuran atau pernikahan, rumah tersebut tidak perlu mengeluarkan biaya yang banyak.
Para warga desa Kejora akan dengan senang hati menghadiahkan hasil tani dan ternak mereka untuk keperluan acara. Itu sudah menjadi tradisi yang tak tertulis di desa Kejora.
Pak Oscar dan Bu Inari berdiri di pintu kebun Prapto dan Nimo untuk menerima dan mengumpulkan hasil ngebun yang diantarkan oleh warga. Sejak siang tadi para warga terus berdatangan dan kebanyakan dari mereka masih memakai pakaian berkebun.
Pihak keluarga Prpato dan juga keluarga Pinaka tak henti-hentinya bergumam kagum melihat betapa damai dan tenteramnya suasana di desa Kejora, desa impian yang tidak banyak diketahui dan selalu luput dari pantauan media.
Andai pun ada pihak media yang ingin meliput, seperti yang pernah dikatakan oleh Pak Oscar, mereka tidak akan mendapat izin.
Dari luar pagar rumah, tampak tiga buah payung berwarna merah, kuning, dan hijau masuk. Masing-masing pemegang payung tersebut membawa ember bersama mereka. Mereka tidak berhenti di depan Pak Oscar dan Bu Inari, melainkan terus masuk ke dalam kebun menghampiri Prapto dan Nimo yang tengah mengobrol dengan Pak Purnomo.
"Ini hadiah pernikahan dari kami untuk Paman Prapto dan Paman Nimo," kata Lapen, setelah ia dan kedua orang sahabatnya meletakkan ember mereka masing-masing.
Prapto dan Nimo berdiri lalu melihat isi dari ketiga ember tersebut.
__ADS_1
"Sekitar lima puluh ikan. Banyak sekali, Bos," kata Nimo. Ia lalu menatap Lapen dan kedua sahabatnya,
"Terima kasih banyak, Lapen, Taro, dan Lennon," kata Prapto. "Mari, ikut duduk! Aku akan membuatkan kalian kopi." Prapto kemudian berjalan ke bangunan dapur kebun, sementara Nimo membawa ikan-ikan tersebut ke tempat ibu-ibu desa Kejora akan memasak nanti sore.
Setelah Lapen, Taro, dan Lennon duduk, Pak Purnomo mengernyitkan dahinya. "Dari jam berapa kalian memancing ikan sebanyak itu?" tanyanya.
"Dari jam setengah enam pagi, Kek," jawab Lennon.
Pak Purnomo menggeleng-menggeleng. "Gila, kalian benar-benar masternya memancing." Ia lalu menyulut rokoknya.
Pak Oscar melangkah ke depan pagar. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat apakah masih ada warga desa Kejora yang akan datang. Setelah ia memastikan tidak ada lagi warga yang akan datang, Pak Oscar berbalik dan menghampiri Pak Rodi yang sedang membuka nangka dan kelapa bersama bapak-bapak yang lain.
"Sudah semua tampaknya, Pak Rodi. Mari, kita angkat hadiah dari para warga lalu mulai memasaknya," kata Pak Oscar. Ia melangkah ke tempat hadiah dikumpulkan. Namun baru setengah jalan melangkah, Pak Oscar dan semua warga serentak menoleh ke arah pagar.
Terdengar suara klakson yang berat dari arah pagar, lalu sebuah truk hitam bergaya Amerika masuk ke halaman rumah Prapto. Tiga orang bapak-bapak turun dari truk tersebut.
Yang turun dari pintu kemudi adalah Pak Gumiro. Kali ini ia tampil beda dengan berewok yang separuhnya sudah berwarna putih dan mengenakan baju kemeja kotak-kotak berwarna merah muda, dengan jeans biru. Dari pintu satu lagi, turun Pak Handoko yang mengenakan kemeja biru bermotif bunga dan celana dasar berwarna hitam.
Yang turun setelah Pak Handoko adalah seseorang yang tidak perlu lagi disebutkan namanya, karena siapa yang tidak kenal dengan pria tua yang selalu mengenakan pakaian hijau.
Hari ini pria tua itu memilih baju kemeja hijau bermotif dedaunan kering berwarna coklat dengan celana dasar yang juga berwarna hijau. Agak kontras memang, namun senyum cerianya yang bagaikan sihir, membuat pakaian serba hijau yang dikenakannya tiba-tiba tampak serasi.
Nimo dan Prapto muncul dari pintu kebun untuk menghampiri ketiga bapak-bapak yang baru datang tersebut bersama Pak Oscar dan juga Timo yang sudah lebih dulu datang kemarin.
Pak Reynaldi Hijau kemudian membuka pintu belakang truk. Semua orang yang berada di sana bisa melihat di dalam truk truk tersebut terdapat dua buah lemari pakaian, dua buah kasur tidur, dan juga perlengkapan meja santai lengkap dengan kursinya. Serta sejumlah kotak yang berisi piring dan gelas.
"Untuk kalian, Nimo, Prapto," kata Pak Gumiro, tersenyum.
Barang-barang tersebut kemudian diangkut oleh para pemuda desa Kejora bersama pria paruh baya yang seusia Stepen.
Prapto dan Nimo berterima kasih sambil bersalaman dengan ketiga sahabat tua mereka. Mereka kemudian pergi ke depan bangunan dapur kebun untuk mengobrol.
***
Di rumahnya, Bu Rine yang merupakan istri Pak rodi baru saja selesai bersih-bersih. Ia membuka sedikit tirai kamar dimana Arini dan Pinaka tengah mengobrol.
__ADS_1
Bu mengernyitkan dahi melihat Pinaka duduk di depan cermin, menatap sosoknya sendiri sambil menangis. Arini tetap duduk di kasur tanpa berkata. Ia memperhatikan Pinaka seperti tengah menebak apa yang membuat calon istri Prapto tersebut meneteskan air mata.