
“Kalian ada lihat ikan piranha?” tanya Lapen pada Taro dan Lennon, sambil melihat kolam ikan hias. Sore itu mereka tengah duduk mengobrol di bangku panjang yang ada dekat kolam yang bersebelahan dengan taman Vimala milik Bu Inari.
Lennon tampak tertarik. “Ada! Gigi mereka runcing sekali dan banyak. Tapi habitatnya cuma di sungai amazon kan, Lapen?”
“Aku pikir begitu,” kata Lapen. “Apa Paman Prapto dan Paman Nimo akan memancing ikan piranha di sana?”
Taro yang sedang mengambil biskuit, tertawa. “Aku tidak yakin. Melihat wujud piranha saja mereka pasti takut. Aku lebih tertarik pada ikan raksasa arapaima. Apa kita bisa menitip ikan itu ke Paman Prapto, ya?”
Lennon menoleh pada Taro dan mengernyitkan keningnya. “Mau kau taruh di mana ikan sebesar itu?”
“Di sungai lah,” jawab Taro singkat, sambil mengunyah.
“Taro ... Taro, bisa habislah ikan-ikan sungai dimakannya, lalu kita memancing apa nanti? Arapaima?” Lennon menggeleng-geleng.
Taro berhenti mengunyah. “Benar juga, ya!”
Lapen mengambil biskuit lalu berdiri. Ia melangkah ke tepi kolam, mematahkan biskuit di tangannya jadi dua bagian, dan melemparnya ke kolam. Salah satu ikan hias melahap biskuit tersebut.
“Apa ikan hias di kolam ini bisa hidup di sungai?” tanya Lapen pada kedua sahabatnya.
Taro dan Lennon bangkit berdiri lalu melangkah ke samping Lapen.
“Harusnya bisa,” kata Lennon. “Ikan hias ‘kan juga ikan air tawar.”
“Masuk akal,” sambung Taro.
Lapen mengangguk. “Besok akan aku minta pada Kakek, lalu kita lepaskan di sungai.”
***
Malam yang mendung, ketika Pak Oscar mengobrol di teras rumahnya bersama Pak Dwipangga. Kopi mereka masing-masing sudah tinggal setengah. Mereka baru saja selesai melakukan diskusi penting bersama Pak Handoko, Pak Gumiro, dan Pak Reynaldi Hijau melalui aplikasi zoom.
__ADS_1
“Semoga mereka berhasil, Pak Dwipangga. Aku yakin kecerdasan dan kekompakan mereka berdua akan banyak membantu nanti,” kata Pak Oscar. “Mungkin mereka akan cukup lama di sana.”
“Aku pun berpikir demikian, Pak Kades. Ngomong-ngomong, aku tidak menyangka bahwa India punya ilmu pertanian hebat seperti itu,” kata Pak Dwipangga.
“Mereka sama dengan Endonesa, Pak. Ada banyak budaya dan ilmu pengetahuan di sana, tapi kebanyakan masyarakatnya tidak mau mempelajari, karena mereka salah menganggap kemoderenan sebagai cara untuk bahagia.”
Pak Dwipangga tertawa. “Dan lucunya, justru kemoderenan lah yang membuat mereka stres dan depresi sekarang. Mereka lucu, Pak Kades.”
Pak Oscar mengangguk-angguk. “Mereka terus berdo’a untuk kebahagiaan, tapi cara hidup dan pola pikir mereka menuju ke depresi dan stress. Bahkan tak jarang di dalam do’anya mereka terkesan mendikte Tuhan. Mereka kurang bersyukur.” Pak Oscar lalu meneguk habis kopinya.
***
Meskipun nama dan pakaiannya hijau, namun Pak Reynaldi Hijau juga menyukai warna lain, seperti warna malam yang tengah ia lihat sekarang. Istri dan anaknya sudah tidur, kini ia duduk sendiri di teras rumah bertingkat dua miliknya, merokok sambil tersenyum memandangi malam.
"Maafkan kami, Prapto, Nimo. Jika kami memberitahu kalian sejak awal, kalian mungkin akan keberatan, karena yang akan kalian temui itu adalah manusia yang menurut kebanyakan orang aneh.”
Setelah berkata demikian dengan suara pelan, ponsel Pak Reynaldi di meja terasnya berdering. Ia menyulut rokok terlebih dahulu lalu meraih ponselnya.
Pak Reynaldi tertawa. “Maaf, Prapto, dan sampaikan juga maaf kami pada Nimo. Tadi malam, ditambah dengan Pak Dwipangga, kami mengadakan diskusi darurat melalui aplikasi zoom, dan kami memutuskan meminta kalian untuk meneruskan perjalanan ke India.
“Terra petra itu hebat, Prapto, tapi belum cukup untuk memasok hasil ngebun ke perusahaan-perusahaan baru yang bekerja sama bisnis dengan kita. Jadi, setelah kalian pulang dari pelabuhan, aku segera menelepon Ziko dan membahas tentang ini. Dia kemudian menyarankan agar kalian menemui sepasang suami istri aneh di India. Ziko akan mengurus tiket penerbangan kalian dari Brazil ke India. Selebihnya, bicarakan dengan Ziko, ya. Kalian mau, kan?”
***
“Baiklah, Pak Reynaldi ... Sama-sama, Pak, serahkan pada kami,” kata Prapto.
Prapto menoleh pada Nimo, yang mendengar semuanya karena panggilan telepon tadi diaktifkan speakernya. Nimo mengangguk. Mereka kemudian meminta penjelasan pada Pak Ziko.
Pak Ziko menghela napas. “Ada ilmu yang mengkaji tentang pertanian dan peternakan alami dengan cara khusus di India, Prapto, Nimo. Namun, ilmu itu tidak disebar luaskan. Hanya ada beberapa kepala keluarga yang menguasai ilmu tersebut dan ke semuanya menurutku adalah orang-orang yang aneh, yang tinggal di tempat-tempat terpencil.”
“Bukankah, meskipun mereka hidup di tempat terpencil, orang-orang bisa saja menemui mereka untuk belajar, Pak?” tanya Prapto.
__ADS_1
Pak Ziko menggeleng. “Mereka adalah orang-orang aneh yang keras kepala, Prapto. Sudah banyak orang yang datang, termasuk aku yang waktu itu menemani seorang sahabat. Mereka baik, tapi mereka tetap tidak mau memberikan ilmu itu pada sahabatku. Kata kepala keluarga yang kami temui itu, ilmu pertanian alami tersebut hanya bisa diturunkan kepada orang-orang yang telah ‘tercerahkan’.
“Aku ditawarinya malahan, tapi aku tolak karena aku tidak mendalami bidang pertanian. Sementara sahabatku itu, kata mereka belum tercerahkan pola pikirnya. Aku sendiri tak begitu mengerti. Aku akan memberikan alamat kepala keluarga yang kutemui itu, dan seorang temanku akan menemani kalian.”
Nimo mengernyitkan wajahnya. “Jadi, meskipun kami datang jauh-jauh ke sana, belum tentu kepala keluarga itu akan memberikan ilmu yang kami perlukan, Pak Ziko?”
Pak Ziko mengangguk. “Tapi kalian harus ke sana dan berusaha. Biaya perjalanan kalian ke Brazil dan India akan digantikan berkali-kali lipat jika ilmu pertanian tersebut kalian dapatkan lalu kalian padukan dengan tanah hitam terra petra. Bukan hanya tanaman akan sangat subur, tapi waktu panennya pun akan menjadi lebih cepat, sehingga kalian bisa memasok hasil ngebun dalam jumlah banyak.”
“Ada saran agar kami berhasil, Pak?” tanya Prapto.
“Ada. Kalian harus sudah tercerahkan, tapi aku sendiri tidak tahu apa yang dimaksud dengan tercerahkan tersebut,” jawab Pak Ziko, tertawa.
Prapto dan Nimo geleng-geleng.
***
Keesokan harinya, Prapto dan Nimo bersalaman di bandara dengan Pak Ziko. Mereka telah bertukar nomer telepon, dan Pak Ziko berjanji akan mengirimi potret-potret hewan besar di hutan amazon jika Beliau menemukannya.
“Berapa jam perjalanan ke India, Bos?” tanya Nimo pada Prapto. Mereka kini tengah duduk di ruang tunggu.
“Aku lihat di google, sekitar sembilan belas jam, Nimo.”
“Berarti, kita akan tiba di sana besok siang?”
“Iya, Nimo. Dan kemungkinan kita akan cukup lama di India,” kata Prapto.
“Kenapa begitu, Bos?”
“Karena kita pasti butuh beberapa hari untuk belajar lalu memahami ilmu pertanian itu, Nimo. Semoga saja kita bisa mempelajarinya dengan cepat.”
Nimo menghela napas panjang. Lalu katanya, “Tapi, Bos, yang harus kita pikirkan terlebih dahulu adalah bagaimana caranya agar kepala keluarga tersebut mau menurunkan ilmunya pada kita.”
__ADS_1
Prpato tertawa. “Semoga kita berhasil, Nimo. Ayo, pesawat kita akan berangkat!”