Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
38. Bisnis


__ADS_3

Pagi itu masih mendung. Prapto dan Nimo baru saja selesai membuat saluran untuk mengalirkan beberapa genangan air di kebun mereka.


Meskipun tadi malam hujan, dan pagi ini matahari belum terlihat, burung-burung di desa Kejora masih tetap berkicau, seakan-akan bernyanyi di pagi hari adalah kebahagiaan bagi burung-burung tersebut. Tak peduli musim kemarau, musim gugur, ataupun musim panas.


"Kau sudah memesan bibit semanggi, Nimo?" tanya Prapto sambil memberi makan kelinci.


Nimo yang baru selesai membuka pintu rumah sapi menoleh. "Belum, Bos. Setelah aku pikir-pikir, lebih baik kita tunggu Ayah selesai panen padi dulu."


"Kenapa begitu, Nimo?" tanya Prapto, sambil melangkah ke rumah ayam untuk membuka pintunya. empat ekor ayam betina dan satu ayam jago melompat ke luar. Mereka lalu diberi makan oleh Prapto.


"Sebelum menebar bibit semanggi, kita perlu menebarkan jerami dulu, Bos. Aku lupa fungsi jerami untuk apa, tapi, mendiang Masanobu Fukuoka menebar jerami dulu di sawahnya sebelum Beliau menebar bibit semanggi."


Prapto mengangguk-angguk. "Nanti aku cari fungsinya di gugel, Nimo. Bagaimana keadaan induk ayam kita yang mengeram?"


"Dia sehat dan ceria, Bos. Telur-telurnya sudah aku periksa, tidak ada tanda-tanda gagal melahirkan," jawab Nimo.


"Huh? Tanda-tanda gagal menetas maksudmu, Nimo?"


"Sama saja, Bos," jawab Nimo, tertawa.


"Setelah penjualan pertama kita pada Perusahaan Kejora nanti, semua tanaman ‘kan akan kita tanam ulang, Nimo. Dan sepertinya, kacang panjang akan banyak dibeli oleh orang kota. Tapi yang jadi pikiranku, nanti sulur kacang panjangnya merambat ke mana? Kita kan tidak menggunakan potongan kayu di kebun, supaya lebih alami seperti di hutan," kata Prapto.


Nimo berpikir sejenak. "Kita tanam saja nanti tanaman yang panennya seumuran dengan kacang panjang, Bos, yang bisa jadi tempat menjalar bagi sulur kacang panjang."


"Ide bagus, Nimo," sahut Prapto.


Seperti biasa, setelah mengurus kebun, mereka melangkah ke depan bangunan dapur untuk minum kopi dan mengobrol. Nimo duduk di kursi, sementara Prapto terus ke dapur untuk memasak kopi.


"Kita juga belum punya kolam, Nimo," kata Prapto sambil meletakkan dua gelas kopi. Ia lalu menyulut rokok.


Nimo juga menyulut rokoknya. "Nanti saja kita bikin kolamnya, Bos, setelah penjualan pertama. Berbarengan dengan menanam.”


"Iya, Nimo, setelah penjualan pertama saja. Di tepi kolam itu saja nanti kita tanami bunga dan tanaman yang berfungsi untuk mengalihkan serangga dari tanaman inti, biar kolamnya tampak lebih cantik."


Nimo mengangguk-angguk. “Ide-mu keren, Bos.” Ia lalu melihat ponsel. "Masih dua jam lagi hingga kita pergi gotong royong ke balai desa, Bos. Apa kegiatan kita sampai jam sembilan?"

__ADS_1


Prapto tampak berpikir. Tak lama kemudian wajahnya berseri. "Bersepeda keliling desa saja. Ayo, Nimo! Sambil mencari jajanan," ajaknya.


"Gagasan yang bagus, Bos. Ayo!"


***


Prapto dan Nimo bersepeda sambil melihat jajanan yang dijual oleh ibu-ibu desa Kejora di depan maupun di samping rumah mereka. Mereka lalu berhenti di sebuah rumah yang menjual gado-gado. Setelah selesai makan, mereka meneruskan bersepeda keliling desa.


Ketika mereka lewat di depan rumah Stepen, ayahnya Lapen, Prapto bertanya, "Nimo, kenapa dari semua rumah warga yang kulihat hanya rumah Stepen yang tidak ada sepeda motornya?"


Nimo tertawa. "Stepen tidak pandai bawa motor, Bos," katanya.


"Lalu bagaimana cara dia menjual hasil panen ke pedagang pasar di kota Keladi?"


"Stepen nitip ke tetangganya, Bos." Nimo kembali tertawa. "Beberapa hari yang lalu Stepen memintaku untuk mengajarinya naik motor, sesudah penjualan hasil ngebun pertama nanti."


“Pantas saja waktu ulang tahunnya Bu Inari mereka datang berjalan kaki,” kata Prapto. "Sudah hampir jam sembilan, Nimo. Ayo, ke balai desa!"


***


Pukul setengah sepuluh pagi, para warga sudah berkumpul seperti kemarin. Beberapa bapak-bapak ikut membangun bangunan dengan arahan Pak Ino. Sementara bapak-bapak yang lain dan pria seumuran Prpato, mereka mengukur, memotong, maupun menyambung bahan-bahan kayu dan bambu.


Gotong royong warga desa Kejora berlangsung dalam suasana santai dan ceria. Karena di tengah kesibukan bergotong royong tersebut, mereka masih bisa mengobrol dan melontarkan gurauan.


***


Timo dan ayahnya tiba di desa Kejora, tepatnya di rumah Pak Oscar. Prapto, Pak Oscar, dan Nimo telah menunggu mereka di teras. Setelah Bu Inari menghidangkan kopi dan goreng singkong, mereka lalu memulai pembicaraan bisnis.


"Jadi begini, Pak Oscar, Nak Nimo," kata pak Gumiro. "Aku dan Timo telah membicarakannya kemarin dan aku telah memberi sedikit gambaran juga pada Nak Prapto melalui telepon. Hal pertama yang ingin aku sampaikan, kita telah mendapatkan penampung berupa beberapa mall dan supermarket di beberapa kota besar.


"Yang kedua, bagaimana kalau setelah penjualan pertama ke supermaket dan mall nanti, sebagian anggaran kita putar untuk membeli varietas yang ada di luar negeri, terutama dari Jepang? Dari kabar yang aku dengar, mall dan supermarket di kota-kota besar menjual varietas tersebut dengan harga yang tinggi.


"Mereka mengimpornya. Masyarakat kota ternyata banyak yang suka, Pak Oscar, Nak Nimo, Nak Prapto. Aku ada teman yang beristrikan orang Jepang. Dia tinggal di sana. Katanya, bibit varietas tanaman Jepang itu bisa dikirim ke Endonesa.


"Jika warga desa Kejora setuju untuk menanamnya, Timo akan melakukan penyelidikan lalu kita akan memesan bibitnya dari temanku. Kita perlu penyelidikan karena ketika dipasarkan, nama varietas tanaman tersebut telah diubah oleh perusahaan pemasoknya dengan cara sedemikian rupa, agar perusahaan pangan yang lain tidak ikut mengimpornya. Agar mereka tidak punya saingan bisnis.

__ADS_1


"Untuk pembagian hasil, apa saja bentuk pengembangan bisnis kita, kita tetap akan membaginya sesuai kesepakatan awal, yaitu 50:50 antara perusahaan Kejora dan warga desa Kejora." Pak Gumiro lalu meneguk kopinya.


Pak Oscar, Nimo, dan Prapto mengangguk-angguk. Setelah menghisap cangklongnya, Pak Oscar bertanya, "Apakah Pak Gumiro dan Nak Timo sudah mengecek varietas itu cocok dengan suhu di desa Kejora?"


"Belum, Pak Oscar," jawab Timo. "Kita perlu tahu dulu varietas tanaman Jepang apa yang laris di supermarket dan mall tersebut beserts harganya. Setelah itu kita akan menelusuri kecocokannya dengan iklim dan cuaca di sini."


Pak Oscar mengangguk-angguk. "Baiklah, kami setuju," katanya.


Pak Gumiro dan Timo tersenyum, tapi mereka memandang Pak Oscar dengan raut wajah sedikit heran.


Pak Oscar paham apa yang diherankan oleh ayah dam anak itu. Setelah menghembuskan asap cangklongnya, ia berkata, "Aku paham apa yang Pak Gumiro dan Nak Timo herankan. Masyarakat desa Kejora selalu percaya pada pemimpin mereka.


"Aku akan mengatakan kepada para petani nanti, Pak Gumiro. Dan lagi pula, disamping mereka memang sangat suka bertani dan beternak, warga desa Kejora tidak pernah takut mengambil risiko. Jika memang ada peluang yang masuk di akal, kami tidak akan ragu untuk mengambil peluang tersebut." Pak Oscar meneguk kopinya.


Timo dan Pak Gumiro menghela napas lega. Mereka tidak menyangka bahwa diskusi tentang varietas luar negeri ini akan selesai dalam waktu yang sangat cepat. Mereka kagum dengan ke-amanahan dan kepercayaan diri yang dimiliki oleh Pak Oscar sebagai kepala desa.


Pak Gumiro menyulut rokoknya. "Baiklah. Timo akan melakukan penyelidikan," katanya.


Pak Gumiro lalu menoleh pada Prapto. "Tapi, tampaknya kita akan sulit untuk mencari penampungnya, Nak Prapto. Karena dari kabar lain yang aku dengar, dalam waktu yang sebentar saja, perusahaan pengimpor varietas Jepang itu sudah menjadi pemasok tunggal di semua supermarket dan mall yang ada di kota-kota besar."


Suasana menjadi hening seketika. Mereka semua mencari jalan untuk bersaing selain dengan cara menjadi pemasok di supermarket dan mall.


Suara Prapto menyulut rokok memecah keheningan. Ia lalu menyeringai. "Aku punya cara," katanya. "Tapi, itu kita lakukan nanti saja kalau varietas tanaman Jepang itu memang cocok di tanam di desa Kejora. Sekarang, Pak Gumiro dan Timo fokuslah dulu dalam menyelidiki varietas tanaman tersebut."


"Pakai rahasia-rahasiaan segala kau, Prpato," sahut Timo.


"Betul. Kenapa kau suka sekali bermisteri, Bos?" sambung Nimo.


Pak Gumiro dan Pak Oscar tertawa. Pak Gumiro kemudian menoleh pada Timo dan Nimo yang duduk di sampingnya.


"Dalam bisnis itu tidak boleh terburu-buru, Timo, Nak Nimo. Nak Prapto tidak mengatakannya sekarang pasti karena rencananya itu belum matang benar. Dan karena ini tidak buru-buru, makanya dia mau mematangkannya dulu," terang Pak Gumiro.


Timo dan Nimo mengangguk-angguk.


"Tadi malam kau bilang kau ada ide, Nak Prapto," kata Pak Gumiro. "Sampaikanlah."

__ADS_1


"Okay, Pak," jawab Prapto. Ia menyulut rokoknya terlebih dahulu.


__ADS_2