
Arini akhirnya berdiri dari duduknya dan menghampiri Pinaka. Ia melihat wajah Pinaka dari cermin. "Kau kenapa, Pinaka?" tanyanya sambil mengusap bahu Pinaka.
"Apa aku pantas untuk Mas Prapto, Arini?"
Tampak jelas dari cermin dahi Arini mengernyit. "Kenapa kau berkata begitu? Kau cantik, Pinaka, dan kau juga baik. Kau sangat pantas untuk Mas Prapto."
Pinaka menyeka air matanya. "Bukan masalah cantik, Arini. Ketika aku pertama mengenal Mas Prapto, wajahnya biasa saja, tidak tampan dan cara berpakaiannya pun biasa saja. Namun waktu demi waktu ia tampak begitu bercahaya bagiku, wajahnya menjadi wajah paling tampan dan cara berpakaiannya jadi paling keren.
"Ketika berada di sampingnya, aku senang dan tidak peduli sama sekali tentang keadaan ekonominya yang waktu itu masih sangat merintis. Yang aku tahu, Mas Prapto tidak pernah malas mencari nafkah dan sangat percaya pada dirinya sendiri, itu sudah cukup bagiku untuk mencintainya.
"Yang dikatakan teman-temanku di kota itu ternyata bohong, Arini. Mereka bilang jika berpacaran dengan pria yang tidak kaya raya kau tidak akan bahagia. Tapi kini nyatanya aku menangis bahagia, Arini, karena Mas Prapto memilihku. Tapi aku juga menangis karena takut.
"Aku takut Mas Prapto suatu saat tidak tertarik lagi padaku layaknya aku memandangnya biasa-biasa saja ketika kami pertama kali bertemu. Karena bila dibandingkan denganmu dan dengan wanita desa Kejora yang lain, aku masih jauh dari menjadi wanita sejati.
"Aku takut itu akan membuat Mas Prapto suatu saat meninggalkanku dan akan mencari wanita lain." Pinaka menghela napas panjang.
"Siapa bilang kau bukan wanita sejati, Pinaka?" Terdengar suara lembut dan menenangkan dari Bu Rine. Ia menyingkap tirai pintu kamar lalu menghampiri Pinaka dan mengusap rambut calon istri Prapto tersebut. "Kau adalah warga desa Kejora, dan itu artinya kau adalah wanita sejati."
"Prapto yang awalnya bagimu tampak biasa-biasa saja, jadi menarik. Dia membuatmu menghormatinya dan cinta padanya. Aku dulu juga melihat suamiku biasa-biasa saja, lalu tiba-tiba saja aku melihatnya dengan ‘kacamata’ yang berbeda. Dan aku dulu juga merasakan takut sepertimu.
"Tapi tenanglah. Kau ‘kan terus belajar dari ibu-ibu di sini, jadi kau tak perlu khawatir. Syarat menjadi wanita sejati itu adalah pola pikir, Pinaka. Prapto pria yang memenuhi syarat, dia tidak akan meninggalkanmu tanpa kau melakukan kesalahan apa-apa.
"Dan selagi kau tetap menjadi wanita desa Kejora yang sejati, rasa tertarik; rasa hormat; dan rasa cinta Prapto padamu tak akan menurun. Malah bertambah seiring waktu.”
Bu Rine menyeka air mata Pinaka yang kembali mengalir. "Jangan berpikir begitu lagi! Ayo, kita coba gaun yang akan kalian kenakan besok."
__ADS_1
Pinaka mengangguk haru. Ia begitu merasa bersyukur tinggal di desa ini, dimana ibu-ibunya bagaikan ibu baginya dan wanita-wanitanya bagaikan saudarinya sendiri.
***
Pukul delapan pagi kebun Prapto dan Nimo sudah ramai oleh warga desa yang menghadiri acara pernikahan mereka. Selain warga desa Kejora, hadir juga Pak Reynaldi Hijau, Pak Handoko, dan Pak Gumiro beserta keluarga mereka. Nesia dan kedua orang tuanya juga datang.
Acara pernikahan khas desa Kejora yang sederhana itu berlangsung dengan tenteram dan ceria. Kebun Prapto dan Nimo dipenuhi meja-meja panjang tempat dihidangkannya sajian, serta meja-meja untuk tamu yang digelar di berbagai bagian kebun.
Ternak-ternak hari ini tidak dikeluarkan dari rumah mereka, namun tampaknya mereka mengerti suasana ini adalah suasana bahagia. Maka mereka semua bersuara seolah memberi selamat dan saling mengobrol tentang acara pernikahan Prapto dan Nimo.
Di depan kolam, Prapto dan Pinaka duduk di sebuah meja berkursi dua yang disediakan khusus untuk pengantin. Di meja di samping mereka duduk Nimo dan Arini. Mereka berempat sibuk menerima kado yang diberikan oleh para hadirin.
Suasana di kebun Prpato dan Nimo kini begitu berbeda dan tampak lebih indah, karena ilmu yang mereka dapat dari Pak Rahul di India tentang seed ball telah mereka terapkan.
Hasilnya, kebun yang dulunya ditanam dengan cara mengelompokkan per jenis tanaman di sebuah petak kecil, kini lebih tampak seperti taman yang indah, karena tanaman dicampur dengan berbagai jenis cover crop berupa rumput tinggi dengan bunga yang berwarna-warni.
Timo, Lapen, Taro, dan Lennon menjadi pramusaji mendadak di acara pernikahan tersebut. Mereka berjalan ke sana sini sambil membawa baki minuman. Sementara Pak Purnomo menjadi fotografer.
Foto-foto tersebut nanti akan dicetak masing-masing dua lembar. Satu lembar untuk diberikan pada yang punya acara, satu lembar lagi untuk dijadikan bahan melukis.
Senja harinya, ketika para hadirin sudah pulang, Prapto; Nimo; Pak Oscar; Koswara (ayah Lennon); Timo, dan Pak Purnomo duduk di depan dapur kebun sambil ngopi dan merokok.
Pinaka pergi ke rumah Arini untuk membantu Arini bersih-bersih rumah barunya. Dan Lapen beserta kedua sahabatnya kini tengah sibuk mengangkat tong sampah yang berisi sampah organik dan sampah plastik.
Sampah plastik nanti akan dibakar jika tidak memungkinkan untuk dijual, dan sampah organik akan dipindahkan ke sungai dan hutan untuk dimakan oleh hewan dan tumbuhan yang hidup di sana.
__ADS_1
"Kalian sudah menjadi kepala rumah tangga sekarang," ujar Pak Oscar setelah menyulut cangklongnya. "Jangan menjadi seorang suami dan seorang ayah yang gagal. Jangan membuatku kecewa."
"Baik, Pak Kades, kami tak akan mengecewakanmu," sahut Prapto.
"Kado dariku adalah lukisan kalian ketika duduk dengan istri masing-masing pagi tadi," kata Pak Purnomo. "Sudah aku berikan pada ayah kalian."
"Akan kami pajang di ruangan utama, Paman," jawab Nimo.
Ketika mereka asyik mengobrol, terdengar suara langkah kaki menghampiri meja mereka. Semuanya hendak menoleh, namun terdengar suara sapaan lebih dulu, "Selamat sore. Maaf mengganggu obrolannya."
"Eh, Mas Subakti," sapa Timo. Subakti yang baru datang itu kemudian menyalami semua yang duduk di sana kecuali Prapto. Entah karena Prapto berada di bangku paling ujung, atau karena ia memang tidak mau menyalami Prapto. Ketika bersalaman tadi, satu tangan Subakti tetap ditaruhnya di belakang punggung.
Sejenak Nimo dan Prapto saling berpandangan penuh arti. Prapto menduga-duga apakah Subakti akan marah padanya karena kemungkinan besar pesan singkatnya pada Subakti telah menyebabkan pertengkaran besar dalam rumah tangga pria itu. Dan tidak menutup kemungkinan Subakti dan Rini telah bercerai.
Meskpipun Prapto yakin ia tidak bersalah, namun bisa saja Subakti itu bodoh dan malah membencinya, pikir Prapto.
"Silakan duduk, Mas Subakti, perkenalkan, saya Prapto," kata Prapto.
Subakti menatap Prapto dengan wajah datar. Ia tak menjawab atau pun mengangguk. Subakti tetap berdiri dengan tangan diletakkan di belakang punggung.
'Sial, jangan-jangan dia menyembunyikan benda tajam di belakang punggungnya,' ujar Prapto dalam hati.
Subakti melangkah ke samping meja sehingga masih tidak ada yang dapat melihat apa yang ada di balik punggungnya. Ia kemudian melangkah ke arah Prapto. Prapto meluruskan duduknya, bersiap dengan segala kemungkinan.
Timo dan Nimo saling berpandangan. Mereka merubah posisi duduk. Mereka pun bersiap untuk segala kemungkinan. Bahkan mereka akan melompat bila Subakti akan mencelakai Prapto.
__ADS_1
Subakti semakin dekat ke tempat Prapto duduk, dan wajahnya tetap datar.