
Gerombolan burung yang melintas tadi telah lenyap di kejauhan. Pak Oscar lalu menyulut cangklongnya.
"Saya dan semua warga desa Kejora, mengucapkan terima kasih pada Pak Gumiro dan Nak Timo. Saya sendiri sangat senang dengan kerja sama bisnis ini. Dan saya yakin, semua warga desa Kejora juga pasti senang.
"Mulai besok, para pria di desa Kejora, termasuk anak-anak, akan bergotong royong membuat bangunan untuk mengumpulkan hasil tani dan ternak, dan juga bangunan untuk mengumpulkan olahan hasil bahan ngebun, yang nanti akan dipasarkan oleh perusahaan Pak Gumiro.
"Nama perusahaannya apa ,Pak?" tanya Pak Oscar setelah menoleh pada Pak Gumiro.
Pak Gumiro menoleh pada anaknya. Mereka berdua lalu tertawa kecil. "Itu juga lah yang tadinya kami pikirkan, Pak Oscar," kata Pak Gumiro. "Perusahaan kami selama ini cuma memakai namaku. Nama tersebut, meskipun keren, tapi tentu tidak cocok, karena sekarang perusahaan kami telah bekerja sama dengan desa Kejora.
"Bagaimana kalau namanya diganti jadi Perusahaan Kejora saja?"
Pak Oscar berpikir sejenak. Ia lalu menoleh pada Prapto dan Nimo. Mereka mengangguk setuju. Di tempat para hadirin berdiri, para warga tampak masih berpikir.
"Setuju!" sorak Lapen Oscario dari tempatnya berdiri, yang kemudian diikuti oleh sorakan Lennon dan Taro, lalu sorakan bocah laki-laki yang lain.
Para bapak-bapak pun kemudian menyatakan persetujuan. Sementara para ibu-ibu dan bocah perempuan masih mengobrol sesama mereka sebelum akhirnya mengangguk-angguk setuju.
"Baiklah," kata Pak Oscar. "Perusahaan Kejora." Ia kemudian tersenyum dan bersalaman dengan Pak Gumiro.
***
Seiring dengan berakhirnya penjualan hasil tani dan ternak alami desa Kejora ke Kuda Terbang Corporation, pendapatan perusahaan itu menurun jauh. Tristan pun mulai berkurang pemasukannya. Ditambah lagi dengan Silvi belum pulang-pulang, CEO Cuek itu semakin nelangsa hatinya.
Kuda Terbang Corporation masih terus jalan, dan masih berbisnis dalam bidang konsumsi pangan. Bedanya, mereka tidak memasok hasil pertanian dan peternakan alami lagi. Mereka sudah menjadi perusahaan yang biasa-biasa saja.
Malam itu, Tristan mendapat telepon dari Silvi. Dalam panggilan telepon tersebut, Silvi mengatakan bahwa ia tidak akan pulang lagi ke rumah Tristan. Ia ingin bercerai, dan pihak keluarganya akan mendatangi Tristan dalam waktu dekat sambil mengambil kucing Silvi.
CEO Cuek itu merasa hidupnya sudah berakhir. Hari-harinya dilalui dengan kusut dan tidak bersemangat. Tristan bagaikan sudah mati.
***
"Kapan kira-kira kita akan panen, Nimo?" tanya Prapto setelah menyulut rokoknya. Ia dan Nimo baru saja selesai menanam nanas dan salak. Mereka kini duduk minum kopi di depan bangunan dapur kebun.
"Tak sampai seminggu lagi, Bos," jawab Nimo, setelah menyulut rokoknya.
Prapto mengangguk-angguk. "Berapa lama kira-kira bangunan untuk mengumpulkan hasil ngebun dan makanan olahan itu akan selesai, Nimo?"
__ADS_1
"Kata Pak Oscar dan Pak Gumiro, bangunannya dari bahan kayu, Bos. Jadi, aku rasa paling lama satu minggu juga selesai."
Prapto kembali mengangguk-angguk. "Bagaimana kalau lahan kosong yang dekat batas belakang itu kita jadikan sawah saja, Nimo?"
"Bagus juga, Bos. Kebetulan sebentar lagi ayahku akan panen padi, jadi kita bisa meminta bibit padi pada Beliau," jawab Nimo.
"Untuk padi cover crop-nya apa, Nimo?"
"Semanggi, Bos. Kalau aku tidak salah, semanggi pun nanti bisa kita jual."
Untuk ketiga kalinya, Prapto kembali mengangguk-angguk. “Kabarmu dengan Arini bagaimana, Nimo?"
Nimo tiba-tiba berdiri. "Oh iya! Bos, hari ini aku berencana ke rumah Arini, hampir saja aku lupa."
Prapto tampak sedikit kaget. "Kau mau melamar Arini sekarang?"
"Bukan, Bos. Aku mau membantu bapaknya panen lobak," jawab Nimo. Kebun lobak bapak Arini luas, jadi aku akan membantu Beliau agar panennya bisa selesai dalam sehari."
"Gayamu, Nimo ... Nimo. Bilang saja alasan utamamu adalah untuk bertemu Arini. Memangnya kau sering membantu Pak Uto panen?"
"Sering, Bos."
"Sejak aku naksir Arini, Bos.” Nimo lalu tertawa.
"Dasar kau, Nimo!"
"Ayo, Bos! Kau sekalian ikut saja ke rumah Pak Uto. Nanti Bos ajak Pak Uto ngobrol, ya, supaya Beliau tidak ikut ngobrol denganku dan Arini," ajak Nimo.
"Baiklah, Nimo, baiklah. Kau jemput aku nanti, ya. Aku mau berbenah dulu."
Wajah Nimo berseri. Ia lalu bangkit dan mengambil sepedanya.
***
Rumah Pak Uto berjarak kira-kira tujuh menit bila ditempuh dengan sepeda dari rumah Prapto. Kebun Pak Uto luas, mungkin sama luasnya dengan kebun Pak Dwipangga, ayahnya Nimo. Di sekililing kebun terdapat pohon-pohon rindang. Dan di bawah pohon-pohon rindang berderet rumah-rumah ternak.
Beberapa kebun warga di desa Kejora yang telah dilihat oleh Prapto, semuanya memiliki susunan yang sama. Di bagian dekat pintu kebut ada tiga bangunan, yaitu bangunan dapur, bangunan perlengkapan, dan bangunan lumbung. Lalu di sekeliling kebun terdapat pohon-pohon rindang yang di bawahnya berderet rumah ternak.
__ADS_1
"Kenapa susunan kebun masyarakat desa Kejora yang pernah aku lihat sama semua, Nimo?" tanya Prapto. Sudah lama Prapto ingin menanyakannya, tapi ia lupa.
Nimo memarkirkan sepedanya terlebih dahulu. Lalu katanya, "Memang sama semua, Bos. Kepala desa pertama dan juga sesepuh pada masa itu lah yang menemukan tata kebun seperti ini. Semuanya disusun sedemikian rupa agar memudahkan para petani dan peternak dalam beraktivitas tanpa mengganggu kenyamanan hewan ternak dan hewan lain."
Prapto mengangguk paham. Setelah memarkirkan sepedanya, ia menunggu Nimo melangkah ke kebun Pak Uto.
Di tengah kebun tampak Pak Uto yang berusia lima puluh tiga tahun. Rambutnya panjang sebahu. Ia sedang memanen tanaman lobak bersama istrinya, Bu Ina, yang menurut Nimo berusia empat puluh sembilan tahun. Mereka memanen lobak sambil mengobrol dan tertawa.
Tak jauh dari sepasang suami istri itu, seorang gadis yang rambut panjangnya dikuncir ekor kuda berjalan membawa keranjang panen.
Gadis itu melihat langit mendung sekilas lalu tersenyum. "Panen di saat mendung begini asyik, Yah, Bu, lama capeknya," katanya, begitu ia sampai di dekat Pak Uto dan Bu Ina.
"Ya, Arini. Semoga saja panen kita bisa selesai hari ini," kata Pak Uto.
Arini mengangguk. Ia lalu memasukkan lobak yang telah dipanen ke dalam keranjang.
Prapto ingin segera menghampiri Pak Uto. Karena ia belum berkenalan dengan orang tua itu, maka Prapto menunggu Nimo melangkah lebih dahulu. Namun Nimo yang ditunggu Prapto belum juga memulai langkahnya.
"Indah sekali, Bos," ucap Nimo.
"Iya, Nimo. Kebun di desa Kejora menurutku indah semua, kok," sahut Prapto.
"Bukan, Bos, bukan kebun."
"Huh?" Prapto heran.
"Arini maksudku. Arini indah sekali, Bos."
Prapto menggeleng-geleng. "Ayo, jalan, Nimo," katanya sambil mendorong Nimo. "Aku belum berkenalan dengan Pak Uto. Kau perkenalkanlah aku pada mereka dulu, setelah itu kau bisa ngobrol dengan Arini-mu yang indah itu."
Tanpa menjawab, Nimo segera berjalan sambil tersenyum.
"Oh! Nak Nimo, Nak Prapto. Kalian sudah lama datang?" tanya Pak Uto. Ia lalu bangkit berdiri untuk bersalaman.
Hampir semua warga desa Kejora tahu dengan Prapto, semenjak Prapto mengutarakan gagasannya di balai desa. Setelah menyalami Bu Ina dan Arini, Prapto lalu ikut membantu panen lobak. Sesekali ia menoleh pada Nimo dan Arini, yang terus saling pandang dan senyum-senyum sambil memasukkan lobak ke dalam keranjang.
Menjelang pukul lima sore panen lobak pun selesai. Nimo dan Prapto lalu diajak Pak Uto untuk menyantap makanan yang baru saja dihidangkan oleh Bu Ina dan Arini.
__ADS_1
Nimo heran. Biasanya setelah mereka menyantap hidangan, Bu Ina dan Arini akan ikut mengobrol dengan dia dan Pak Uto. Tapi kali ini, setelah makan Arini langsung diajak oleh ibunya ke rumah.
Tatapan Pak Uto pun tidak seperti biasanya. Pria tua itu masih tersenyum lembut, masih berpembawaan santai, tapi ada pancaran dari mata Pak Uto yang membuat Nimo merasa suasana jadi begitu berbeda.