
Prapto dan Nimo menatap Pak Ziko. Orang tua itu kemudian mematikan mesin mobilnya. "Tenanglah, Prapto, Nimo. Kita tidak mengganggunya, jadi jangan khawatir,” kata Pak Ziko.
Tapi Prapto dan Nimo tidak bisa tenang. Mereka segera mempersiapkan diri kalau-kalau harimau itu datang menyerang. Mereka telah memegang hulu pisau masing-masing, yang ada di saku baju seragam.
"Jika kita mati di hutan ini, Arini dan Pinaka pasti akan sangat sedih, Bos," kata Nimo, dalam bahasa Endonesa.
"Tentu saja, Nimo. Tapi sekarang kita harus fokus, karena yang ada di depan kita adalah seekor harimau besar, yang bisa mencabik lehermu hanya dalam sekali ayunan lengannya." jawab Prapto, juga dalam bahasa Endonesa.
"Hei! kalian membicarakan aku? Kenapa tidak pakai bahasa Inggris?" tanya Pak Ziko, tersenyum.
"Tidak, Pak. Kami membicarakan betapa indahnya corak belang harimau itu," kata Nimo, yang dijawab Prapto dengan anggukan. Mereka tidak mau ditertawakan karena takut.
"Lihat!" seru Pak Ziko sambil menunjuk dengan kepalanya ke arah harimau tadi.
Kini di samping harimau itu telah berdiri seorang pria mengenakan seragam yang sama dengan mereka, namun warnanya hitam. Pria itu lalu mengangguk ke arah mobil. Prapto, Nimo, dan Pak Ziko membalas anggukannya. Kemudian mereka melihat betapa pria berseragam hitam tersebut menepuk punggung harimau, lalu harimau itu berjalan mengikuti di belakangnya.
"Apa-apaan itu, Pak Ziko?" tanya Nimo yang telah kembali menggunakan bahasa Inggris.
"Aku rasa orang itu adalah salah satu penduduk asli hutan amazon ini, Nimo," jawab Pak Ziko. “Aku pernah dengar cerita tentang salah satu suku di sini yang bersahabat dengan harimau, macan tutul, dan hewan besar lainnya.”
Prapto mengernyitkan wajahnya. "Orang tadi bukan peneliti hutan atau arkeolog, Pak? Dia mengenakan seragam seperti kita."
Pak Ziko menggelengkan kepalanya. "Suku di amazon ini ada yang memakai pakaian seperti orang kota dan orang desa, Prapto. Pria tadi membawa bungkusan kain, kemungkinan ia adalah penduduk asli yang baru selesai berburu."
Pak Ziko kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
"Kalian pernah dengar tentang salah satu suku di hutan amazon ini yang bernama Satere-Mawe?" tanya Pak Ziko, setelah menoleh pada Prapto.
Prapto dan Nimo menggeleng.
Pak Ziko melanjutkan. "Mereka punya tradisi 'sarung tangan semut peluru.' Kalian tahu semut peluru?"
__ADS_1
Prapto dan Nimo kembali menggeleng. Pak Ziko kemudian menjelaskan.
Bagi suku Mawe, seorang pria harus mengalami rasa sakit terburuk yang ditawarkan oleh hutan. Dan untuk itu, pria yang sudah menginjak usia tertentu harus memasukkan lengan mereka ke dalam sarung tangan semut peluru untuk merasakan sengatan semut yang panjangnya tiga sentimeter tersebut.
Semut peluru adalah spesies semut dengan sengatan paling menyakitkan dari serangga mana pun. Sesuai dengan namanya, semut ini katanya memiliki sengatan yang terasa seperti tembakan peluru. Sengatan semut peluru digambarkan sangat menyakitkan, rasa sakitnya berlangsung hingga 24 jam.
Untuk ritual suku Mawe tersebut, mereka menenggelamkan ratusan semut peluru ke dalam obat penenang alami hingga membuat semut-semut itu pingsan. Semut peluru ini kemudian ditenun menjadi sarung tangan yang terbuat dari daun, dengan sengatnya mengarah ke bagian dalam sarung tangan.
Ketika semut-semut itu nanti sadar kembali, sarung tangan ini kemudian diletakkan di tangan para pemuda yang menjalani ritual tersebut. Pemuda itu kemudian harus memakai sarung tangan semut peluru selama lima menit dan ratusan semut peluru akan menyengatnya berulang kali.
Setelah sarung tangan semut peluru dilepas, pemuda itu biasanya akan mengalami kesakitan dan gemetar selama berjam-jam. Mereka bahkan berkemungkinan mengalami kelumpuhan otot.
Untuk lulus dari ritual ini sepenuhnya, maka anak laki-laki di suka Mawe harus menjalani praktik ini sebanyak 20 kali selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Ujian yang melelahkan ini adalah untuk mempersiapkan anak laki-laki menjalani kehidupan tradisional suku Mawe, dimana mereka akan menghadapi semua bahaya hutan sebagai pemburu dan pejuang sukunya.
"Kalian mau menjadi penduduk suku Mawe? Kalau mau, biar aku antar ke sana," kata Pak Ziko, menutup penjelasannya.
Mobil jeep yang dikemudikan oleh Pak Ziko tiba di sebuah lahan tanah hitam yang luas. Tak jauh di sebelah kanan mereka terdapat sebuah bangunan kecil yang terbuat dari papan, dan dari bangunan kecil tersebut muncul seorang pria tinggi gemuk yang mengenakan topi lebar. Pak Ziko, Prapto, dan Nimo menghampirinya.
Mereka bersalaman dan pria itu memperkenalkan diri sebagai Lucio, orang yang mengelola pengambilan maupun penjualan tanah terra petra.
"Ini harus dikelola," kata Lucio, sambil memberi isyarat dengan tangannya untuk menolak tawaran rokok dari Prapto. "Jika tidak dikelola, akan terlalu banyak manusia-manusia serakah yang akan mengambil tanah terra petra ini sesuka hati mereka tanpa memikirkan keadaan alam. Jangan sampai membuat alam marah."
Lucio yang gemuk itu kemudian berdiri. Ia menunjuk ke hamparan tanah hitam luas di depan mereka. "Pengambilan tanah ini pun dibatasi pada setiap jangka waktu tertentu, karena harus menunggu proses alam dulu untuk meregenerasi terra petra. Memang, tanah terra petra bisa menyebar, tapi kalau pengambilannya tidak dibatasi, terra petra bisa habis juga."
Lucio lalu mengajak Pak Ziko, Prapto, dan Nimo ke tempat terra petra pesanan mereka tengah dimuat. Di sana tampak banyak pria yang tengah memuat tanah terra petra ke dalam lima buah truk.
"Teman-tamanku akan menyelesaikan pemuatan ke seluruh truk dulu, baru nanti akan sama-sama dibawa ke luar hutan. Sambil menunggunya, kalian bisa melihat-lihat hutan hujan amazon yang indah ini," kata Lucio, tersenyum.
Nimo berbisik pada Prapto yang ada di sampingnya, "Cara dia menyarankan kita untuk melihat-lihat hutan amazon yang menakutkan ini seperti tengah menyarankan untuk bertamasya saja, Bos."
__ADS_1
Prapto tersenyum. "Tapi sarannya bagus, Nimo. Aku ingin melihat ikan arapaima yang dikatakan Pak Ziko tadi."
Mereka pun pamit pada Lucio. Pak Ziko kemudian menepati janjinya untuk melihat-lihat habitat ikan arapaima yang panjangnya bisa mencapai empat koma lima meter tersebut. "Akan kuajak kalian bertamasya di hutan amazon sebelum pergi dari Brazil," kata Pak Ziko.
Setelah sekitar lima belas menit perjalanan, Pak Ziko menghentikan mobilnya. Ia turun dan mengajak Prapto dan Nimo untuk mengikutinya masuk ke jalan kecil yang mengarah ke sebuah rawa. Di tepi rawa itu, Pak Ziko mengambil ikan mati yang telah ia sediakan dari rumah lalu melemparnya ke tepi permukaan rawa.
Untuk beberapa saat, ikan mati itu mengambang, hingga tak lama kemudian Prapto dan Nimo ternganga melihat betapa permukaan rawa itu seketika berubah jadi gelap, lalu seekor ikan besar muncul memakan ikan yang mengambang tersebut dengan gerakan yang sangat cepat.
Ikan besar tersebut bentuknya menyerupai ikan arwana dengan warna sisik perak kecokelatan. "Itulah arapaima, keren, kan?" kata Pak Ziko, tersenyum kagum. Ikan arapaima tersebut tampak berenang sebentar lalu kembali menyelam ke dalam rawa.
"Besar sekali, Pak," kata Nimo.
"Yang tadi itu belum arapaima yang paling besar, Nimo," kata Pak Ziko. "Dan juga, masih banyak hewan besar lain di hutan yang sangat luas ini. Ayo, kita ke mobil untuk makan bekal!"
***
Pak Ziko, Prapto, dan Nimo kembali ke tempat pemuatan terra petra tadi pada sore harim Prapto menanda tangani beberapa dokumen yang diberikan oleh Lucio terlebih dahulu sebelum mereka bertolak ke pelabuhan mengiringi truk pengangkut tanah.
Setelah memastikan tanah terra petra dimuat ke atas kapal, dan setelah Prapto menanda tangani beberapa dokumen lagi, mereka kembali ke kediaman Pak Ziko.
"Kalian tidak istirahat?" tanya Pak Ziko, pada Prapto dan Nimo. Ia lalu ikut duduk di teras.
"Belum, Pak. Kami sedang mendengarkan nyanyian serangga malam," jawab Prapto.
Nimo tersenyum. “Malam ini kami ingin mendengar nyanyian serangga lebih lama karena besok kami akan meninggalkan hutan hujan yang keren ini untuk kembali ke desa."
Pak Ziko mengernyitkan keningnya mendengar Nimo menyebut bahwa besok mereka akan pulang ke desa. "Reynaldi Hijau belum mengabari kalian?"
Dengan cepat, kecerdasan Prapto segera bisa menangkap maksud dari pertanyaan Pak Ziko. Ia meluruskan duduknya lalu bertanya, "Bukankah hari kepulangan kami besok, Pak Ziko?"
Pak Ziko menghela napas. "Dasar Reynaldi Hijau," katanya sambil menggelengkan kepala. "Teleponlah dia sekarang, Prapto. Biar dia yang menjelaskan pada kalian."
__ADS_1