
Pinaka tiba di depan pagar rumah Bu Intan. Guru memasaknya itu tengah bermain badminton dengan Anin, putrinya yang berusia depalan tahun. Bu Intan dan putrinya kemudian berhenti, menoleh, dan tersenyum pada Pinaka.
Pinaka balas tersenyum lalu turun dari motornya. "Maaf Anin, Bu Intan, aku mengganggu sebentar," katanya. Ia lalu menghampiri Anin dan Bu Intan.
"Kami tidak terganggu, kok," kata Bu Intan, balas tersenyum. "Ada apa, Pinaka?"
Pinaka menceritakan pada Bu Intan tentang keinginannya menanam anggur. "Apa Mas Prapto akan merasa terganggu jika aku memina tolong untuk membuatkan tempat menanam anggur padanya, Bu?"
Bu Intan tertawa. "Ada-ada saja pertanyaanmu, Pinaka," katanya. "Prapto tak akan merasa terganggu, kok. Katakan saja padanya."
"Benar, Bu?" tanya Pinaka memastikan.
Bu Intan mengangguk. "Benar. Aku jamin."
Wajah Pinaka berseri. Lalu katanya, "Baiklah, Bu. Aku ke rumah Mas Prapto dulu. Dadah, Anin Manis," kata Pinaka sambil melambaikan tangannya pada Anin.
***
"Lanjut, Bos," kata Nimo, dengan wajah bersemangat. Ia begitu tertarik pada film mafia yang mereka tonton barusan. Ia mengernyitkan wajah karena Prapto menyengir. "Jangan bilang film mafia yang ini juga bersambung, Bos," katanya.
"Maaf, Nimo, tapi memang bersambung," jawab Prapto, tertawa.
"Kau tega, Bos," gerutu Nimo. "Ya sudah, Bos, aku pulang dulu, ya"
"Jangan salahkan aku, Nimo, salahkan yang membuat filmnya." Prapto lalu tersenyum. "Ya sudah, hati-hati di jalan."
Nimo mengangguk. Ia mengambil sepeda dan tak lama kemudian telah menghilang di balik pagar.
Setelah Nimo pulang, Prapto berdiri hendak masuk ke rumahnya, namun langkahnya terhenti karena di pintu pagar terdengar suara motor yang ia kenali. Motor Pinaka. Pinaka memarkir motornya lalu menghampiri Prapto.
"Tunggu sebentar, ya, aku akan buatkan minum," kata Prapto, tersenyum. Tak lama kemudian ia kembali muncul membawa segelas teh dan sepiring roti.
“Mas Prapto tidak minum?” tanya Pinaka, ketika Prapto meletakkan teh dan roti di atas meja teras.
Prapto tersenyum. “Tidak, Pinaka. Baru saja aku selesai minum dengan Nimo.” Ia duduk. “Ada apa gerangan?”
Pinaka meletakkan teh yang baru diteguknya. “Aku tadi membaca buku tentang menanam anggur di pekarangan rumah, Mas. Aku sangat tertarik."
"Aku senang mendengarnya, Pinaka." Prapto lmenyulut rokoknya. "Di bagian mana kau mau menanamnya?"
"Itulah, Mas, ketika aku cari cara menanam anggur di internet, sepertinya susah sekali, karena butuh bahan kayu untuk pohon anggurnya menjalar. Aku tak mungkin memakai pagar perpustakaan. Jadi ..." Pinaka menghentikan kata-katanya dan tersenyum manis pada Prapto.
Prapto balas tersenyum. "Senyum manismu itu tak akan menumbuhkan pohon anggur, Pinaka," katanya.
Pinaka tertawa. "Mas mau membantu membuatkan tempat untuk menanam pohon anggurnya?" tanyanya, tersipu.
Prapto pura-pura beripikir. Katanya, "Mau atau tidak, ya? Aku pikirkan dulu dua hari ini, ya, Pinaka?"
"Mas, lama sekali dua hari?"
"Sehari?" tanya Prapto sambil menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Masih lama, Mas."
"Semenit?"
Pinaka tersenyum. "Setahun saja, Mas," katanya. Mereka berdua kemudian tertawa.
"Besok setelah berkebun aku akan membawa bahan-bahannya ke perpustakaan," kata Prapto.
"Terima kasih, ya, Mas Prapto ganteng." Pinaka kaget melihat Prapto memberi isyarat 'tidak' dengan tangannya. "Kenapa, Mas? Mas tidak ingin ganteng?" tanyanya.
"Aku gagah, Pinaka, bukan ganteng. Ganteng itu masih di bawah gagah tingkatannya," jawab Prapto.
Pinaka memencongkan bibirnya. "Pede sekali kau, Mas."
"Tentu saja," sahut Prapto cepat. "Ngomong-ngomong, kau sudah ada bibit anggurnya?"
Pinaka mengerutkan wajahnya, berpikir, lalu katanya, "Benar juga, ya, Mas. Aku belum memikirkannya."
"Mana sempat kau memikirkannya, karena memikirkan aku terus." Prapto tertawa melihat Pinaka kembali memencongkan bibir. "Ya, sudah. Beli online saja. Sehari juga sampai bibit anggurnya."
Pinaka mengangguk tersenyum. Mereka terus mengobrol sampai Pinaka pamit pulang untuk membuka perpustakaan.
***
Keesokan harinya, setelah selesai berkebun, Prapto mengikat kayu-kayu yang akan dibawanya ke perpustakaan. Ia mengangkat kepala ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. "Kalian rupanya. Dari mana?"
"Jalan-jalan keliling desa saja, Paman," jawab Lapen. Taro dan Lennon yang berdiri di kiri kanan Lapen tersenyum pada Prapto.
"Terima kasih, Taro," ucap Prapto. "Mau dibawa ke perpustakaan. Pinaka minta buatkan tempat menanam pohon anggur."
"Itulah kekuatan cinta, Lennon. Kau tidak akan merasa keberatan membawa kayu seberat ini jika itu untuk sang kekasih," kata Lapen dengan wajah yang bijaksana.
Prapto tertawa, sementara Taro dan Lennon menoleh pada Lapen dengan wajah kesal.
"Biasa saja lah wajahmu itu, Lapen," gerutu Lennon. "Tak usah sok bijaksana, seperti tahu saja tentang cinta."
"Sudah. Lebih baik kalian susul aku ke perpustakaan lalu bantu membuat tempat pohon anggur ini," potong Prapto. Ketiga sahabat itu mengangguk serentak.
***
Pinaka kembali melihat jam di ponselnya, lalu mantap langit mendung musim hujan dari teras perpustakaan. Jarak antara rumah Prapto dan perpustakaan tidak jauh, namun sejak Prapto memberitahunya lewat pesan teks bahwa ia akan berangkat ke perpustakaan dua puluh menit yang lalu, calon suaminya itu belum juga muncul.
Pinaka berdiri dari duduknya. Ia mondar-mandir di teras sambil menduga-duga kenapa Prapto belum juga sampai. Sudah ditelepon lima kali pun Prapto tidak mengangkat teleponnya. Tiba-tiba wajah Pinaka berubah pucat. 'Jangan-jangan ... !' pikirnya. Ia lalu menitipkan perpustakaan pada Bu Harni dan segera mengendarai motor untuk mencari Prapto.
Di sepanjang jalan, Pinaka terus melihat-lihat ke kiri dan ke kanan untuk mencari Prapto, namun Prapto tetap tidak terlihat. Lalu pada sebuah simpang tiga, Pinaka membelokkan motornya ke kanan.
"TANTE!"
Pinaka menarik rem motornya, hampir saja ia menabrak Lennon dan Lapen yang sedang melangkah di tengah jalan. "Kenapa kalian melangkah di tengah jalan?" tanya Pinaka masih dengan nada kaget.
"Maaf, Tante, kami jalannya sambil mencari-cari Paman Prapto. Dia tadi mengajak kami membantunya di perpustakaan, tapi setelah kami sampai di perpustakaan sepeda Paman Prapto tidak ada," jawab Lapen.
__ADS_1
"Tante juga sedang mencarinya. Sudah dua puluh menit lebih sejak ia mengatakan akan berangkat ke perpustakaan tapi belum juga datang," sahut Pinaka. "Ayo, kita cari!" ajak Pinaka.
Lapen, Taro, dan Lennon mengangguk. Pinaka kemudian menumpangkan motornnya di depan rumah ibu-ibu yang sering ke perpustakaan lalu mencari Prapto dengan berjalan kaki.
Hari sudah hampir pukul tiga sore tapi Prapto belum ketemu. Pinaka, Lapen, Taro, dan juga Lennon kini tiba di jalan desa yang berdampingan dengan persawahan yang sudah ditebari jerami.
"Kira-kira Mas Prapto itu ke mana, Lapen?" tanya Pinaka. Suaranya mengandung kecemasan.
"Paman Prapto sering ke rumah Paman Nimo, Tante. Tapi tidak mungkin Paman Prapto ke sana sekarang, Paman Prapto 'kan sudah bilang pada Tante Pinaka kalau dia akan ke perpustakaan. Bagaimana pendapatmu, Lennon?" tanya Lapen.
Karena tak mendengar jawaban Lennon, mereka menghentikan langkah dan menolah ke kiri. Lennon sudah tidak ada lagi di sana. Mereka lalu menoleh ke belakang. Tak jauh di belakang mereka, tampak Lennon berdiri menghadap ke sawah. ia menggerak-gerakkan kepalanya seperti tengah memastikan apa yang tengah ia lihat.
Pinaka, Taro, dan Lapen menghampiri Lennon. "Kenapa kau berhenti?" tanya Lapen.
Lennon tak menoleh. Ia menunjuk ke petak sawah yang tak jauh dari mereka. "Tumpukan jerami yang di sebelah sana itu timbul, Lapen. Sepertinya ada isinya."
Semuanya memperhatikan ke arah Lennon menunjuk dan mereka pun ikut heran. Taro kemudian berjalan ke arah parit selebar dua meter yang tak jauh dari mereka, yang memisahkan jalan desa Kejora dengan persawahan.
Air parit di desa Kejora yang jernih membuat Taro bisa melihat dengan jelas tumpukan kayu yang tadi ia ikat bersama Prapto. "Lapen, Lennon, itu kayu yang aku ikat dengan Paman Prapto tadi?" soraknya.
Pinaka, Lapen, dan Lennon segera menghampiri Taro. Tak jauh dari tumpukan kayu tersebut tampak juga sepeda yang biasa dipakai oleh Prapto. Sepeda itu tampak seperti habis jatuh. Mereka berempat berpandangan sejenak. Dan tak lama kemudian, keempatnya segera berlari ke arah tumpukan jerami yang mereka bicarakan tadi.
"Tunggu di sini saja, Tante," kata Lapen. Ia, Taro, dan Lennon terus menyeberangi parit lalu turun ke sawah, ke arah tumpukan jerami yang timbul.
Begitu mereka sampai, ketiga bocah itu langsung mengangkat tumpukan jerami. "Paman Prapto!" seru Lapen, ketika ia melihat Prapto matanya tertutup dengan dagu bertumpu pada tumpukan jerami.
Tapi Prapto yang memungguingi mereka itu tidak bergerak atau pun menjawab. Taro dan Lennon pun ikut mengguncang tubuh Prapto. "Paman! Paman! Paman!" Mereka terus memanggil-manggil Prapto dengan nada cemas.
Prapto mengangkat kepalanya. "Kalian rupanya," katanya dengan suara pelan.
Lapen dan kedua sahabatnya menghela napas lega. "Paman tidak apa-apa?" tanya Lapen.
"Aku tidak apa-apa, tapi kaki dan tanganku tenggelam cukup dalam ke lumpur ini dan tak bisa ditarik," jawab Prapto.
"Kenapa tadi tidak minta tolong pada bapak-bapak yang lewat di jalan saja, Paman?" tanya Taro.
"Aku kira tadi akan mudah menarik kaki dan tanganku dari lumpur sawah ini, Taro, tapi ternyata tidak bisa-bisa. Aku sampai lelah sekali, lalu aku putuskan untuk tidur."
"Itu bukan lumpur, Paman. Ini semacam penampung pengairan untuk sawah, makanya dalam," kata Lennon. "Pasti tadi di sini tidak ada jeraminya, tapi Paman jatuh lalu menyeret jerami ke sini. Cara lepas dari lumpur itu mudah, kok, Paman. Angkat kaki dan tangan Paman sambil digeser-geser ke kiri kanan. Kalau diangkat lurus memang akan sulit sekali."
Prapto mencoba menggeser-geser kaki dan tangannya sambil badannya ditarik oleh Lapen, Taro, dan Lennon. Tak lama kemudian Prapto pun lepas dari lumpur. Mereka lalu berjalan ke tepi sawah menghampiri Pinaka. Sepeda dan kayu bawaan Prapto dinaikkan oleh Lennon dan Taro.
Setelah mengucapkan terima kasih pada Lapen dan kedua sahabatnya, Prapto berkata pada Pinaka, "Aku tadi sibuk memerhatikan hamparan sawah yang dilapisi jerami ini, Pinaka, dan tiba-tiba menabrak batu itu." Prapto menunjuk batu yang tadi ditabraknya. "Karena laju sepedaku cukup cepat, aku terlempar cukup jauh."
Pinaka menghela napas lega. "Aku khawatir sekali, Mas. Pasti badan Mas sakit-sakit. Kalau sudah pulih saja baru buat tempat menanam anggurnya. Istirahatlah dulu."
"Aku tidak apa-apa, kok Pinaka. Ada makanan 'kan di perpustakaan? Setelah makan tenagaku akan pulih. Lagi pula, 'kan ada tiga sahabat ini yang akan membantuku," jawab Prapto. "Lusa aku juga mau ke tempat Pak Ino. Jadi, sekarang saja." Prapto kemudian tersenyum.
Pinaka berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah, Mas. Aku sudah masak nasi dan lauk. Selesai makan aku akan masak camilan juga untuk kalian nanti. Mas tidak ganti pakaian dulu?"
Prapto melihat pakaiaannya yang penuh dengan lumpur lalu tertawa. "Tak usah, Pinaka. Aku cuci di parit saja. Nanti juga akan kotor lagi ketika membuat tempat anggur."
__ADS_1
"Nanti jangan tidur seperti di sini, ya, Paman," kata Lapen, tertawa. Mereka semua ikut tertawa.