
Prapto cukup di
Di siang hari yang sedikit mendung pada musim hujan bulan Oktober, daun dan ranting pohon menari indah ditiup angin.
Nimo memeriksa saluran air kebun dan tanaman-tanaman serta ternaknya. Ia memperhatikan keadaan dua induk kambing dan enam anak mereka yang dipindahkannya dengan Prapto tadi malam. Mereka tampak sehat dan tidak stres.
Kemudian Nimo membuka pintu tempat ayam betinanya mengerami dua belas butir telur, yang akan menetaskan dua belas anak ayam lucu-lucu. Tiba-tiba induk ayam yang sedang mengeram tersebut berbunyi keras. Nimo mundur beberapa langkah ke belakang. "Astaga, Induk Ayam! Kau membuatku kaget."
Induk ayam kampung yang berwarna coklat muda itu menatap Nimo. Nimo kembali menghampirinya. "Aku mau memberimu makan, kau malah meneriaki aku. Ini, makan yang banyak." Nimo meletakkan kotak kecil berisi makanan ayam. Ia lalu berbalik.
"Astaga!" seru Nimo lagi, ketika ia melihat tiga sosok bocah telah berdiri di depannya. "Kapan kalian datang?"
Ketiga bocah itu tertawa. "Belum lama, Paman. Sejak Paman ngobrol dengan induk ayam tadi," kata Lapen Oscario sambil menunjuk ke arah induk ayam.
Nimo menutup tempat mengeram ayamnya lalu melangkah menuju meja di depan bangunan dapur. "Ayo, kita duduk di sana!" ajaknya.
Lapen dan dua orang sahabat sepaketnya mengikuti Nimo. "Paman mau kopi?" tanya Lennon, tersenyum.
"Harusnya aku yang menawari kalian, Lennon. 'Kan tuan rumahnya aku. Ya sudah, empat gelas, ya. Kalau di antara kalian ada yang mau teh, teh juga ada."
"Paman Prapto mana, Paman?" tanya Taro setelah ia melihat-lihat ke sekeliling kebun.
"Bos Prapto ke Jakarta bersama Pinaka, Taro."
Taro tersenyum. "Paman Prapto menemui orang tua Tante Pinaka karena mereka akan menikah, Paman?"
Nimo tertawa. "Lagakmu seperti paham saja tentang tata cara menjelang pernikahan, Taro."
Nimo kemudian duduk dan menyulut rokoknya. "Ada apa gerangan kalian datang di siang yang sedikit mendung ini?"
"Kami mau ke sungai, Paman, untuk memancing menggunakan umpan baru. Aku diminta Ayah singgah ke sini dulu untuk mengatakan pada Paman Nimo agar tidak lupa mengajari Ayah membawa motor nanti," jawab Lapen.
"Oh iya! Aku lupa, Lapen. Nanti selesai ngopi aku temui ayahmu," kata Nimo. Ia lalu tampak berpikir. "Tapi, Lapen, kenapa Mas Stepen tidak menelepon aku saja?"
Lapen tertawa. "Tadi malam Ayah mengotak-atik menu pengaturan ponsel, Paman, lalu ia tidak sengaja memencet menu reset pabrik. Jadi, nomor Paman Nimo terhapus."
Nimo, Lapen, Taro, dan Lennon yang baru datang membawa empat cangkir kopi di atas nampan kayu, tertawa. Mereka melanjutkan ngobrol sambil minum kopi.
***
Di teras rumahnya, Stepen yang berambut sebahu mengelap motor matic barunya sambil bersiul-siul. Ia menoleh ketika mendengar suara langkah kaki dan kemudian tertawa. "Nomormu terhapus, Nimo. Aku salah pencet menu reset pabrik.”
"Iya, Mas, tadi Lapen ada bilang. Wah, Mas Stepen beli motor baru."
Stepen tersenyum. "Kemarin sore datangnya, Nimo. Maaf, ya, merepotkanmu mengajari aku naik motor."
Nimo tersenyum. "Tidak repot, kok, Mas."
"Ngopi dulu, ya?"
"Baru saja aku siap ngopi dengan Lapen, Taro, dan Lennon, Mas."
"Kalau begitu, kita mulai belajar motornya?" Stepen berdiri dan meletakkan kain lap motornya.
"Ayo, Mas!"
***
Cuaca di Jakarta, tepatnya di kawasan komplek perumahan Pinaka, siang itu cerah. Prapto, Pinaka, Pak Ramu, dan Bu Esih baru saja selesai menyantap hidangan.
Pak Ramu menyulut rokoknya lalu memandangi Prapto yang kini tengah menyulut rokok. Pak Ramu dan Bu Esih tadi malam telah mengobrol dengan putri mereka melalui telepon. Pinaka mengatakan bahwa hari ini ia dan Prapto akan datang dan Prapto akan menyampaikan keinginannya untuk menikahi Pinaka.
Prapto mengangkat kepalanya sambil menghembuskan asap rokok. Ia tertegun melihat Pak Ramu memperhatikannya.
"Kau sudah yakin dengan keputusanmu untuk menikahi putri kami, Prapto?" tanya Pak Ramu. Ada aura serius yang muncul dari ucapannya.
"Yakin, Pak," jawab Prapto. Aura serius pun juga muncul dari ucapan Prapto.
"Kau yakin kalian tidak akan kekurangan uang setelah menikah nanti?"
Prapto yang belajar banyak dari Pak Oscar itu berkata dengan mantap, "Aku tidak yakin, Pak."
Pak Ramu mengernyitkan wajahnya. "Kau tidak yakin kalian tidak akan kekurangan uang setelah menikah, lalu kenapa kau ingin menikahi putriku?"
__ADS_1
"Tidak punya uang bukan berarti kami akan kelaparan, Pak. Aku punya sawah, buah-buahan, hasil ternak, dan banyak tanaman lain yang tidak akan membuat kami kelaparan dan malah akan makan lezat setiap hari, Pak."
Bu Esih dan Pinaka memandang Prapto kagum. Mereka takjub pada Prapto yang bisa menjawab dengan lancar tanpa terintimidasi. Jawabannya pun bagus dan nada ucapannya meyakinkan. Pak Ramu sendiri diam-diam merasa kagum dan bangga, tapi Pak Ramu tidak mau menampakkannya karena ia masih belum selesai menguji Prapto.
Pak Ramu mengangguk-angguk. Ia menghisap rokoknya sambil terus menatapi Prapto tepat pada matanya. "Bagaimana jika suatu hari nanti terjadi banjir, atau aktivitas alam yang lain, yang membuat kebunmu gagal panen dan semua ternakmu mati? Semoga itu tidak terjadi."
"Aku akan mencari nafkah dengan cara yang lain, Pak sambil kembali membangun kebun. Aku bisa mencari kayu bakar di hutan untuk dijual, aku bisa berdagang, aku bisa belajar keterampilan tertentu seperti meramu obat atau membuat mainan anak-anak lalu dijual, yang jelas, aku janjikan bahwa dapur rumah kami akan tetap berasap dan periuk nasi kami tidak akan pernah kosong."
Bu Esih menatap Pinaka dengan pandangan yang seolah bertanya, 'Bagaimana bisa kau menemukan pria sekeren ini?' Ia kemudian menatap Prapto. Penampilannya tidak mencolok dengan jeans dan kemeja. Kulitnya yang berwarna sawo matang terang pertanda bahwa ia adalah petani yang tekun, yang tak hanya sekadar berjemur di kebun.
Tadi malam Bu Esih juga sudah membahas bersama suaminya tentang Prapto yang cerdas dan inovatif, yang menjadi penggagas kerja sama bisnis antara desa Kejora dengan tiga perusahaan. Menurut Pak Ramu yang juga berprofesi sebagai pebisnis, bisnis desa Kejora tersebut akan semakin sukses ke depannya.
Pinaka pun menatap ibunya dengan pandangan yang seolah berkata, 'Hebat 'kan anak Ibu mencari mantu?' Ia merasa bangga pada Prapto. Seperti kata Bu Intan padanya, suami yang hebat itu adalah suami yang membuatmu bangga sebagai wanitanya.
Pak Ramu yang bersandar ke dinding pendopo, yang berbentuk seperti pagar kayu itu kembali mengangguk-angguk. Prapto tampak menunggu pertanyaan selanjutnya. Ia paham Pak Ramu sekarang tidak sekadar bertanya, tapi calon mertuanya itu sedang mengujinya. Sambil menunggu pertanyaan Pak Ramu selanjutnya, ia meneguk kopinya yang sudah dingin.
"Memang seperti itulah seharusnya seorang suami, Prapto," kata Pak Ramu. "Aku tidak memintamu kaya raya baru kuizinkan menikah dengan Pinaka. Aku hanya butuh menantu yang tidak malas mencari nafkah.
"Sekarang, jika suatu hari Pinaka sakit gigi atau cemburu pada wanita lain yang tiba-tiba mengirim pesan pernyataan cinta ke ponselmu, lalu Pinaka kesal dan mengurangi perhatiannya padamu, apa yang akan kau lakukan? Memarahinya atau membujuknya?"
Pak Ramu tersenyum. Ini adalah pertanyaan terakhir sekaligus pertanyaan pamungkasnya. Dua puluh enam orang temannya yang sudah menikah telah ia tanyai, dan semuanya salah dalam menjawab pertanyaannya yang tampaknya sangat mudah ini.
Bu Esih dan Pinaka kembali saling berpandangan, tapi kali ini mereka sama-sama bingung. Pertanyaan itu tampaknya mudah, tapi mereka sangat paham bahwa Pak Ramu tidak mungkin menanyakan pertanyaan yang mudah untuk menguji pria yang ingin menikahi putrinya. Mereka deg-degan menunggu jawaban Prapto.
Keringat dingin turun di pelipis Prapto. Kecerdasannya membuat ia paham betul bahwa pertanyaan Pak Ramu ini tidaklah mudah meskipun tampak mudah. Ia menghisap rokok sambil memikirkan petuah-petuah Pak Oscar. Prapto mendapati bahwa Pak Oscar tidak pernah membahas tentang hal ini.
buat pusing oleh pertanyaan Pak Ramu tersebut. Ia menatap Pak Ramu sejenak, lalu melihat ke arah Bu Esih dan Pinaka. Prapto tahu bahwa ia tidak boleh lama memberikan jawaban atau Pak Ramu, dan bahkan Bu Esih dan Pinaka akan ragu dengan kemantapan jawaannya.
Tiba-tiba Prapto mendapat ide setelah memikirkan kembali semua petuah Pak Oscar yang pernah disiramkan padanya. Ia bisa menemukan sebuah kesimpulan untuk menjawab pertanyaan Pak Ramu.
"Aku akan bergurau padanya atau tidak menanggapoo cueknya Pinaka," jawab Prapto memecah keheningan. "Aku tidak akan marah dan juga tidak akan membujuknya."
Pak Ramu tersenyum puas. "Mulai sekarang kau panggil aku Ayah, jangan Bapak lagi," katanya. Ia bangkit lalu memeluk Prapto.
***
Pak Gumiro tersenyum begitu seorang petinggi dari salah satu supermarket tempat ia memasok hasil ngebun alami desa Kejora memuji kesigapan dan ketepatan perusahaannya. Pak Gumiro mengangguk. "Terima Kasih, Pak. Kami akan terus melakukan yang terbaik dan akan senantiasa berbenah.
Petinggi supermarket yang bertubuh gemuk itu mengangguk, tersenyum. "Seharusnya, dengan kualitas sebagus ini, perusahaan Kejora lebih besar dan megah." Mereka kemudian sama-sama berdiri dan bersalaman sambil mengangguk-angguk.
Pak Gumiro menggeleng tersenyum. "Tidak, Timo. Ia datang untuk meminta tambahan pasokan di musim panen yang akan datang. Ia juga memuji kualitas perusahaan kita."
Timo tersenyum. Ia lalu meletakkan plastik hitam di meja ayahnya. "Aku belikan Ayah bubur kacang hijau," katanya.
"Tumben? Pasti ada maumu." Ia kemudian mendekatkan bungkus kacang hijau tersebut ke hidungnya dan mengangguk-angguk. "Ini pasti lezat."
Timo tertawa. Ia lalu mencondongkan tubuh ke depan. "Aku ingin melamar Nesia, Yah. Meskipun aku belum lama mengenalnya, tapi aku yakin dia akan menjadi istri yang baik," katanya.
"Waktu kau ajak dia berkunjung ke rumah, aku dan ibumu bisa melihat bahwa Nesia itu seperti yang kau sebutkan. Tidak perlu waktu lama untuk memutuskan menikah jika kau memang sudah yakin, Timo. Sekarang aku tanya, kau sudah benar-benar yakin?"
"Aku yakin, Ayah," jawab Timo mantap.
"Ya kita lamar lah ke rumahnya, apa lagi yang kau pusingkan?" tanya Pak Gumiro, tertawa.
"Ibu, Yah. Tolong sampaikan pada Ibu."
Pak Gumiro tertawa keras. "Kau pikir ibumu serius melarangmu menikah sebelum lima tahun setelah kau bercerai dengan Tini?"
"Ya, Ibu marahnya begitu, Yah, bagaimana aku tidak menyangkanya perataannya itu serius? Aku dimarahi habis-habisan. Katanya, sudah kami bilang Tini itu tidak cocok untuk dijadikan istri tapi kau bilang kau cinta mati. Aku tidak akan merestuimu menikah sebelum lima tahun dari sekarang," kata Timo dengan menirukan nada bicara ibunya.
"Timo ... Timo. Mana mungkin ibumu serius melarangmu menikah sebelum lima tahun setelah bercerai. Makanya perkataan orang tua itu dipertimbangkan, bukan malah membiarkan cinta membutakan mata dan hatimu," kata Pak Gumiro.
"Iya, Ayah. Tapi tolong bilang ke Ibu, ya, Yah." Timo menatap ayahnya dengan wajah memohon.
Pak Gumiro berpura-pura berpikir sejenak. Ia kemudian menggeleng dengan raut wajah muram.
"Ayah," kata Timo. "Tolonglah, Yah."
Pak Gumiro kembali tertawa. "Iya, iya, aku akan bilang ke Ibumu. Sementara itu, kau sampaikanlah Nesia tentang niatmu ingin melamarnya. Biar dia menyampaikan pada kedua orang tuanya."
Timo tersenyum lebar. "Terima kasih, Ayah," katanya. "Besok aku bawakan lagi sarapan bubur kacang hijau."
"Ayahmu sendiri kau sogok," kata Pak gumiro, tertawa.
__ADS_1
***
Lapen memandang pelampung joran pancingnya dengan wajah serius khas anak-anak. Di sebelah kiri dan kanan Lapen, Taro dan Lennon juga memperhatikan pelampung mereka dengan raut wajah yang sama. Mereka tidak bersuara sejak mulai memancing, hanya riak sungai dan suara angin mendung yang terdengar.
"Kadang aku heran dengan ikan-ikan baru ini," kata Lennon membuka obrolan, sambil tetap memandangi pelampungnya.
Taro bertanya tanpa menoleh," Heran kenapa?"
"Mereka lebih suka umpan dari buah-buahan mentah daripada makanan yang sudah dimasak," jawab Lennon.
Lapen tertawa. "Jangankan ikan, Lennon, kau saja milih-milih makanan."
Lennon tak menjawab. Ia berdiri lalu menarik joran pancingnya. "Dapat, Lapen," katanya.
Taro dan Lapen meletakkan joran pancing lalu ikut berdiri menyaksikan Lennon menarik ikan tersebut.
"Jenis baru!" seru Lennon sambil memasukkan ikan yang ia dapat ke dalam ember.
"Catat, Taro!" kata Lapen. "Untuk ikan ini umpannya jambu mentah."
Taro mengambil buku catatannya dan mulai mencatat. "Kalau begini kita pasti menang," katanya bersemangat.
***
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Lapen dan kedua sahabatnya pun datang, yaitu tanggal tiga puluh Oktober, dimana festival baru di desa Kejora digelar, yaitu festival memancing dimulai. Meskipun pada pagi itu langit mendung dan cuaca cukup dingin, namun warga desa Kejora tetap menyambut festival memancing tersebut dengan penuh semangat.
Di sepanjang tepian sungai, tampak para peserta lomba memancing ikan telah bersiap dengan joran di tangan masing-masing. Mereka memandangi sungai mencari-cari tempat yang pas untuk melempar umpan sambil menunggu dimulainya lomba.
Tak jauh dari tepian sungai, warung-warung kayu yang dibangun telah mengepulkan asap. Ibu-ibu dan bapak-bapak yang berjualan tengah memasak gorengan, kerupuk, dan camilan lain untuk dijual. Dan tak jauh dari warung-warung itu, telah berjejer tungku-tungku batu lengkap dengan kayu bakarnya.
Tungku-tungku tersebut nantinya akan digunakan untuk memanggang ikan-ikan hasil tangkapan yang disumbangkan oleh para peserta lomba setelah pemenang lomba diumumkan.
Pak Oscar lah yang dengan bijaksana menetapkan aturan sumbangan ikan tersebut. Ia tahu tidak akan semua orang yang akan mendapatkan cukup ikan untuk dimakan, karena ia sendiri tidak ahli dalam memancing. Sering kali Pak Oscar hanya membawa dua tiga ikan sepulang dari sungai, dan lebih sering lagi tidak membawa satu ikan pun.
Ikan-ikan yang telah dipanggang dengan bumbu racikan terbaik itu nanti akan dibagikan kepada semua orang yang hadir di festival memancing.
Pak Oscar yang baru saja menyulut cangklongnya menoleh, ketika dilihatnya dengan sudut mata empat orang yang bukan warga desa Kejora datang. Ia tersenyum kemudian menghampiri mereka.
"Meriah sekali, Pak Oscar," kata Pak Gumiro sambil bersalaman.
"Begitulah, Pak Gumiro. Aku senang Bapak dan keluarga ikut hadir. Ah, Pak Gumiro punya anak perempuan rupanya?" tanya Pak Oscar setelah menyalami Timo, Bu Tari, dan Nesia yang kini menunduk mendengar pertanyaan Pak Oscar barusan.
Pak Gumiro tersenyum. "Calon mantu, Pak Oscar," katanya sambil melirik Timo yang salah tingkah.
Pak Oscar tertawa. "Syukurlah. Kalian saling cinta sekali sampai sama-sama salah tingkah," katanya.
"Pak Oscar!" sorak seorang pria tua yang mengenakan setelan jas berwarna hijau. Ia berjalan berdampingan dengan seorang pria seusianya yang rambutnya mengilapnya disisir seluruhnya ke belakang.
"Pak Reynaldi Hijau, Pak Hann!" seru Pak Oscar. Mereka semua lalu bersalaman.
"Festival yang meriah dan sejuk. Apa lagi digelarnya di sungai yang banyak pemandangan hijaunya," ucap Pak Reynaldi Hijau.
"Ya. Aku suka suasana di sungai ini. Bersih, sejuk, dan indah," imbuh Pak Handoko. "Oh iya, Pak Oscar. Kami tidak datang bersama istri kami. Istri Pak Reynaldi tidak bisa datang karena salah satu anggota keluarganya menikah. Dan kerennya, pasangan dari anggota keluarga istri Pak Reynaldi itu adalah anggota keluarga istriku." Ia lalu tertawa.
Pak Oscar ikut tertawa. "Ngomong-ngomong, Pak Reynaldi dan Pak Hann tak ikut lomba?"
"Ah, kita sampai lupa, Handoko," kata Pak Reynaldi. "Tentu saja kami ikut, Pak Oscar. Aku ambil dulu joran pancing kami ke mobil."
Setelah Pak Reynaldi Hijau kembali, Prapto datang menyalami mereka dan mengobrol sebentar. Ia kemudian kembali ke warung Bu Intan, dimana Pinaka juga ada di sana membantu Bu Intan memasak. Pinaka menyalin bakwan ke dalam piring lalu duduk di samping Prapto.
"Meriah, ya, Mas," kata Pinaka.
Prapto mengangguk. "Iya, Pinaka. Aku tidak menyangka festival memancing akan semeriah ini."
Bu Intan datang meletakkan segelas kopi panas di atas meja. "Ini kopinya, Nak Prapto," katanya.
"Terima kasih, Bu," kata Prapto.
"Mas, kakek-kakek yang menjual mainan di mobil L300 itu warga desa Kejora?" tanya Pinaka, ketika ia melihat ke arah pintu hutan yang dekat dari sungai.
"Namanya Kuncoro, Pinaka. Ia pedagang mainan keliling. Aku tidak tahu di mana beliau tinggal. Anak-anak desa Kejora dari jaman menantunya Pak Oscar selalu menantikan kedatangannya di desa, yang hanya datang dua kali dalam seminggu.
Setelah anak-anak desa membeli mainan, Pak Kuncoro akan menceritakan cerita pendekar pada anak-anak tersebut."
__ADS_1
Pinaka mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Mas, aku punya permintaan."