
Setelah duduk, Pak Oscar melihat sejenak ke arah pendopo rumahnya. Tampak semua warga yang ikut belajar cara membuat pakaian alami sudah duduk dengan alat-alat pembuat kain manual di depan mereka dan bahan-bahan pembuat kain diletakkan di samping kanan.
Bu Rena berdiri dan mulai mengajar. Ia mengambil alat pemintal, mengambil serat alami, lalu mencontohkan cara memintalnya. Semua warga memperhatikan, termasuk Pak Purnomo yang duduk di depan tak jauh dari Bu Rena.
Pak Oscar menyulut cangklongnya. Ia menghela napas terlebih dahulu, lalu berkata, “Kain alami lebih kuat dan tahan dengan penyetrikaan. Dibandingkan dengan kain yang pembuatannya dicampur dengan bahan kimia, kain alami juga jauh lebih nyaman untuk digunakan. Serat alami itu lembut serta mempunyai sirkulasi udara yang sangat baik, mampu menyerap panas pada tubuh dan mampu menyerap air.
“Dan juga, kain alami jauh lebih aman bagi kesehatan. Beberapa jenis serat alami bersifat hypoallergenic, sehingga sangat cocok bagi penderita kulit sensitif.”
Prapto dan Nimo mengangguk-angguk.
“Apa saja bahannya yang akan dipintal nanti, Pak Kades?” tanya Prapto.
Pak Oscar menatap atap teras, berpikir. “Serat wol, berasal dari domba. Serat wol itu memiliki tingkat kehangatan yang tinggi, sering dijadikan bahan jaket. Ini membuatku ingin mengajak para petani desa Kejora untuk beternak domba semuanya walaupun sedikit.
“Lalu ada serat kapas yang berasal dari tanaman kapas. Serat kapas sangat kuat, meski cepat kusut. Kapas banyak di kebun-kebun di desa kita. Kemudian serat jute, serat yang berasal dari kulit batang pohon. Serat jute sering dipakai untuk membuat karpet, tali tambang, kertas, pelapis kursi mabel, dan gorden.
“Yang terakhir adalah serat rami. Serat rami berasal dari tanaman rami. Serat rami dapat diolah menjadi benang atau kain untuk kemudian jadi pakaian. Serat rami sangat kuat, berkilap, dan mampu menyerap air dengan baik.”
Prapto dan Nimo kembali mengangguk-angguk.
“Lalu, Pak Kades, setelah serat dipintal, dijadikan benang, benang akan dijadikan apa?”
Pak Oscar tertawa mendengar kalimat Nimo. “Ditenun jadi kain, dibuat polanya, lalu dijahit jadi baju atau olahan kain yang lain seperti jaket, tas, dompet, dan lain sebagainya, Nak Nimo.
Mereka bertiga terus mengobrol sambil menunggu istri masing-masing selesai belajar. Prapto dan Nimo tidak jadi hanya melihat sebentar pelajaran membuat kain alami tersebut, karena mereka tertarik melihat Pak Purnomo dan Bu Rena mengajar, dan juga karena mereka ingin mengobrol dengan Pak Oscar.
***
“Pinaka, kunci rumah kita tadi aku berikan padamu, ya?” tanya Prapto sambil memeriksa kantong pakaiannya. Mereka baru pulang dari rumah Pak Oscar.
__ADS_1
“Tidak, Mas,” jawab Pinaka. “Coba Mas periksa lagi.” Pinaka juga memeriksa kantong pakaiannya tapi tidak menemukan kunci.
Prapto melangkah ke motor. Ia lalu tertawa. “Di kunci motor letaknya, tadi aku satukan dengan kunci motor,” katanya.
Pinaka menggeleng-geleng sambil tersenyum. “Lempar, Mas, biar Mas melihat kehebatanku menangkap lemparan. Ayah sering melempar kunci dan selalu berhasil aku tangkap.”
Prapto tersenyum. Ia mengambil kunci rumah dari bulatan gantungan kunci motor lalu melemparnya ke arah Pinaka. Pinaka mundur sedikit lalu mengangkat tangannya, namun kakinya membentur kursi teras sehingga kunci itu luput dari tangkapannya dan jatuh di depan pintu, meluncur ke dalam rumah melalui sela di bawah pintu.
Untuk sesaat, Pinaka tertegun, begitu juga dengan Prapto. Mereka saling berpandangan sejenak, lalu sama-sama tertawa setelah Prapto tertawa lebih dulu.
“Maaf, Mas,” kata Pinaka. “Kita jadi tidak bisa masuk ke rumah kita sendiri. Duplikatnya kita simpan di kamar.”
Prapto melangkah kembali ke teras. “Kita duduk dulu Pinaka. Kita pikirkan caranya kita masuk.” Prapto kembali tertawa. Ia duduk lalu menyulut rokok.
Pinaka juga ikut duduk. Mereka kini sama-sama berpikir.
***
“Kalian dengar?” tanya Lapen pada kedua sahabatnya.
Taro mengangguk. “Coba kita dekati sumber suaranya.”
“Ini bukan suara hewan,” kata Lennon.
Mereka bertiga melangkah ke arah dimana terdengar suara sayup-sayup. Makin lama suara itu makin jelas, membuat langkah mereka semakin pelan karena berhati-hati.
Lapen yang berjalan paling depan menghentikan langkahnya, mengangkat tangan agar kedua sahabatnya ikut berhenti. “Ini suara harmonika, bukan?” tanyanya tanpa menoleh.
“Sepertinya iya.” Taro memejamkan mata untuk mempertajam pendengarannya.
__ADS_1
Wajah Lennon berubah, seperti pikirannya tengah melayang ke suatu suasana dan tempat nan jauh, yang rasanya ia kenali tapi tidak bisa ia ungkapkan. “Lagu ini ....”
Lapen dan Taro menoleh pada Lennon. Wajah mereka mengernyit melihat ekspresi Lennon.
“Ada apa, Lennon?” tanya Lapen.
“Aku rasanya tahu lagu ini. Ayah pernah memutarnya di youtube. Lagu yang membawa suasana yang jauh, tapi aku tak bisa mengungkapkannya.”
Lapen dan Taro tertegun sejenak untuk mencerna kata-kata Lennon barusan.
“Ya sudah, kita cari saja dulu sumber suara harmonika ini, nanti kita pikirkan suasana yang jauhmu itu, Lennon.” Lapen melanjutkan langkahnya.
Mereka terus menyisiri tepian sungai yang permukaannya mulai menguning ditimpa matahari menjelang senja. Sampai pada sebuah pohon besar, yang berjarak enam langkah dari mereka, Lapen Oscario kembali berhenti dan mengangkat tangannya.
“Di balik pohon besar itu,” kata Lapen dengan suara yang dipelankan. Kedua sahabatnya mengangguk.
“Kenapa kau bicara berbisik-bisik, Lapen?” tanya Lennon, yang pada akhirnya memutuskan untuk ikut memelankan suara.
“Nada harmonikanya terdengar makin sendu, orang itu pasti sedang hanyut dengan lagu yang ia mainkan. Yang jelas, yang berada di balik pohon ini adalah warga desa Kejora. Kita tidak boleh mengganggu suasana hatinya. Kita tunggu di sini sampai lagunya selesai.” Lapen maju dua langkah lalu duduk.
Taro dan Lennon juga ikut duduk. Mereka bertiga memejamkan mata, ikut menghanyutkan diri ke dalam alunan sendu harmonika tersebut.
Angin senja berembus makin sepoi, membuat dedaunan, ranting pohon, dan rumput-rumput di tepian sungai bergerak lembut bagai ikut hanyut ke dalam suasana nyanyian harmonika.
Tak ada yang melihat betapa indahnya daun-daun kering yang berguguran karena baik Lapen serta kedua temannya maupun orang yang memainkan harmonika, menutup mata mereka. Daun-daun yang berguguran itu jatuh di atas tanah, di atas rumput, dan di atas permukaan sungai lalu hanyut bagai kapal kecil.
Suara harmonika berhenti. Perlahan Lapen, Taro, dan Lennon membuka mata mereka. Setelah mengusap kepala masing-masing untuk memindahkan daun kering, mereka berdiri.
Lapen menatap kedua temannya bergantian, mengangguk, lalu berbalik dan memberi kode agar Taro dan Lennon mengikuti. Mereka melangkah pelan sambil menduga-duga siapa orang yang tengah berada di balik pohon besar tersebut.
__ADS_1