Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
95. Gandum dan Roti


__ADS_3

Pinaka meletakkan es teh lemonnya. “Mau bicara apa, Mas?” tanyanya.


Prapto menyulut kembali rokoknya yang tadi mati karena angin dan pengapian yang kurang sempurna. “Arus kas dan Jumlah uang kita sekarang sudah mencapai berapa, Pinaka?”


Pinaka mengambil ponselnya dari dalam tas, membuka aplikasi catatan, lalu mengatakan jumlah uang mereka pada Prapto.


Prapto mengangguk-angguk. “Syukurlah.” Ia berpikir. Rumah mereka sudah direnovasi, persediaan makanan mereka lebih dari cukup karena punya kebun. Prapto merasa jika sekarang mereka membeli mobil, ekonomi mereka tidak akan terganggu. “Aku ingin beli mobil, Pinaka.”


Pinaka kembali melihat jumlah uang di ponsel mereka. “Sepertinya untuk beli mobil belum sampai, Mas.”


Prapto tersenyum. “Bukan mobil baru, Pinaka,” katanya. “Teman Timo ada yang menjual mobil-mobil second. Aku bisa dapat potongan harga di sana.”


“Baik, Mas,” jawab Pinaka, tersenyum. “Mas mau mobil yang seperti apa?”


“Lihat saja nanti,” jawab Prapto, tertawa.


“Mas mengajak main tebak-tebakan, ya?” Pinaka balas tertawa. “Ngomong-ngomong, Mas, Bu Rine cerita padaku. Ketika Mas baru tiba di desa Kejora, Mas cuma punya uang pas-pasan untuk makan saja setelah menjual mobil dan membeli lahannya Bu Rine dan Pak Rodi. Kenapa Mas senekat itu?”


“Awalnya aku mengira uang simpananku akan cukup untuk membeli lahan, Pinaka. Ternyata tidak, harga lahan cukup mahal,” kata Prapto, tertawa. “Nimo pun kaget mendengar aku menawarkan Pak Rodi untuk membeli mobilku.


“Tapi aku sudah membuat keputusan. Sekali membuat keputusan, aku tak akan mengubahnya lagi. Kemudian Pak Dwipangga memberi aku sepeda dan mengatakan bahwa kalau uangku nanti habis sebelum panen, makan saja di rumahnya.”


Pinaka mengangguk-angguk. “Kalau dengan Mas Timo, Mas bersahabat karib juga?”


Prapto tertawa, berpikir sejenak dari mana ia akan memulai cerita tentang persahabatannya dengan Timo. “Aku akrab dengan Timo, Pinaka, tapi Timo itu sering membuatku kesal karena dia dulunya mendukung paham feminis dan gayanya sok bijaksana.


“Tapi meskipun dia sering kumarahi, kalau aku meminta bantuannya, dia selalu datang. Ditambah sekarang dia sudah tidak mendukung feminis dan tidak sok bijaksana lagi, aku makin akrab dengannya.”


Pinaka tertawa. “Mas juga ada cerita, dia meng-upper cut selingkuhan Tini.”


Prapto ikut tertawa. Ia lalu mengulurkan tangan. “Ayo, kita lihat laut lebih dekat!” ajaknya. Pinaka meraih tangan Prapto. Mereka mendekat ke laut hingga kaki mereka disapu ombak.


Angin laut yang lembab dan mengandung garam berembus makin kencang, mengibarkan rambut Prapto dan Pinaka yang kini berdiri menatap ke kejauhan di depan mereka.

__ADS_1


Suasana di pantai itu jadi makin sejuk. Matahari semakin turun, cahayanya membuat kilau-kilau keemasan di permukaan laut tampak semakin jelas.


***


“Bapak mau ngopi di dalam atau di teras?” tanya Bu Inari. Ia berdiri di depan pintu membawa segelas kopi.


Pak Oscar yang sedang memasukkan tembakau ke dalam cangklongnya menoleh. “Di teras saja, Bu. Aku menunggu Nak Prapto.”


Bu Inari kemudian ikut duduk dan meletakkan kopi. “Bapak ada yang mau diobrolkan dengan Nak Prapto?” tanyanya.


“Tidak, Bu, aku menitip cat mobil padanya.”


“Ada dapat, Pak?”


“Ada.” Pak Oscar menyulut cangklongnya. Setelah menghembuskan asap, ia berkata, “Akhir-akhir ini aku sering memikirkan tentang cucu kita, Bu.”


Bu Inari menatap suaminya. “Kenapa dengan Lapen, Pak?”


“Kata Lapen, ia ingin mendalami ilmu tentang tumbuhan gandum, lalu memproduksi roti dan olahan gandum lain. Ia tampaknya sangat tertarik dengan gandum, Bu.”


Bu Inari mengernyitkan wajah. “Lapen masih delapan tahun, Pak, apa tidak terlalu cepat baginya untuk menentukan profesi?”


Pak Oscar menggeleng. “Tidak, Bu. Tidak ada syarat umur bagi seorang anak untuk menentukan profesi yang akan ia tekuni. Itu hanya pendapat sistem pendidikan modern dengan segala kesempitan pandangan mereka.


“Orang-orang modern cenderung memaksakan profesi yang mereka minati untuk ditekuni oleh anak mereka. Tanggung jawab kita sebagai orang tua hanya memfasilitasi minat profesi anak, Bu, karena yang akan menjalani profesi tersebut adalah anak itu sendiri.”


Bu Inari mengangguk-angguk. “Aku paham, Pak. Apa Taro dan Lennon juga ingin mendalami tentang tumbuhan gandum, Pak? Biasanya kalau Lapen sudah bicara pada kita atau pada orang tuanya, berarti ia sudah sepakat dengan kedua sahabatnya itu.”


“Sudah, Bu,” jawab Pak Oscar, tertawa. “Lapen bilang, awalnya mereka masing-masing punya minat profesi yang berbeda, tapi akhirnya mereka mengadakan diskusi di sungai sambil memancing dan memutuskan untuk sama-sama mendalami gandum. Persahabatan mereka erat sekali, Bu.”


Bu Inari tersenyum. “Mereka bertiga memang akrab, Pak, lucu dan pintar. Jadi, bagaimana rencana Bapak untuk Lapen dan kedua sahabatnya?”


Pak Oscar menghela napas. “Itulah yang masih aku pikirkan, Bu. Belum ada pak tani yang menanam gandum di desa kita. Kalau soal mengajari mereka mengolah gandum, Pak Krik, suaminya Bu Intan bisa.”

__ADS_1


“Bagaimana kalau Bapak minta Stepen menanam gandum dulu dengan Lapen dan kedua sahabatnya? Gandum masih satu keluarga dengan padi, Pak, aku rasa tak akan jauh-jauh cara menanamnya dari padi.”,


“Benar juga, Bu. Apalagi dengan sistem pertanian alami, tidak akan ribet. Nanti akan aku bicarakan dengan Stepen, Bu. Kalau tidak salah, lahan kebunnya masih ada yang kosong, bisa dipakai Lapen, Taro, dan Lennon nanti.”


Bu Inari tersenyum mengangguk. Mereka kemudian sama-sama menoleh karena melihat cahaya dari arah pahar. Cahaya tersebut berhenti di halaman.


Pak Oscar dan Bu Inari berdiri.


“Mana mobilnya Pak Kades?” tanya Prapto yang baru turun dari motor dan melihat ke sekeliling. Ia dan Pinaka melangkah ke teras Pak Oscar.


“Aku letakkan di rumah Stepen, Nak Prapto. Berapa harga catnya?”


“Diskon seratus persen, Pak Kades,” jawab Prapto, tersenyum. Ia duduk setelah dipersilakan oleh Pak Oscar, sementara Pinaka ke dalam menemani Bu Inari membuat minum.


“Terima kasih, Nak Prapto.” Pak Oscar paham bahwa Prapto tidak mau uangnya diganti.


“Sama-sama, Pak. Pak, aku mau beli mobil sedan. Sedan tua yang mesinnya tangguh seperti sedan Pak Oscar apa saja?” Prapto menyulut rokoknya.


Pak Oscar menyebutkan satu persatu jenis mobil sedan bermesin tangguh yang ia tahu. Tak lama kemudian Bu Inari dan Pinaka pun ikut duduk. Mereka membahas mobil sedan tua dan juga tentang Lapen, Taro, dan Lennon yang ingin menekuni tanaman gandum.


***


Pada pagi yang cerah dan agak berkabut, Lapen Oscario duduk di atas tembok teras rumahnya menanti kedatangan Taro dan Lennon. Ia menggoyang-goyangkan kaki mengikuti alunan kicau burung yang bisa ia lihat pada dahan pohon di pintu pagar.


Lapen tersenyum. Hari ini mereka bertiga dan juga Stepen akan mempelajari tentang tumbuhan gandum di internet, lalu langsung menanamnya di kebun, karena bibit gandum yang dipesan Stepen sudah akan sampai nanti siang.


Taro dan Lennon datang. Mereka bertiga pun melangkah ke kebun, membantu Stepen mengurus ternak dan merawat tanaman terlebih dahulu, lalu setelah itu duduk di bawah sebuah pohon rindang dan mulai mencari tentang tanaman gandum.


“Sudah hampir siang, Ayah,” kata Lapen, diikuti oleh anggukan kedua sahabatnya.


“Iya, Lapen. Sebentar lagi kalau tidak ketemu juga cara menanam gandum dengan sistem pertanian alami, kita tabur saja bibitnya ke segala arah,” kata Lapen, tertawa.


Taro dan Lapen ikut tertawa, tapi tidak dengan Lennon, ia tampak tengah berpikir.

__ADS_1


__ADS_2