Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
24. Kerling dan Senyum


__ADS_3

Pinaka kaget. Ia langsung mengangkat wajah. "Apa, Mas?"


"Aku punya ancaman dan penawaran untukmu, Pinaka," jawab Prapto tersenyum, "aku sudah merekam percakapan kita dengan ponsel ini."


Prapto lalu mengambil ponsel yang ia letakkan di antara tempat serbet dan dinding lalu memperlihatkan pada Pinaka menu rekaman yang masih berjalan.


"Mas ...," kata Pinaka cemas.


"Ini ancamanku, Pinaka," kata Prapto sambil menghentikan rekaman ponselnya, "aku bisa melaporkanmu ke kantor polisi sebagai peneliti pangan palsu atau tindak penipuan. Atau apa pun lah itu, nanti aku tanya ke Pak Polisi tentang pasal yang terkait.


"Dan penawaranku adalah, jika kau mengundurkan diri dari Kuda Terbang Corporation, kau tidak akan kulaporkan."


"Jangan, Mas! Tapi kalau aku mengundurkan diri dari Kuda Terbang Corporation, aku kerja di mana nanti?"


Prapto berpikir sejenak. "Apa pekerjaan orang tuamu? Dan berapa penghasilan rata-rata mereka sebulan?" tanya Prapto.


"Ayahku pegawai negeri sipil, Mas, dan Ibu jualan butik keluarga di toko dalam pekarangan rumah. Penghasilan mereka jika digabung kira-kira kisaran tiga puluh juta rupiah. Kenapa Mas Prapto menanyakan itu?" tanya Pinaka dengan suara heran.


"Itu artinya, setelah mengundurkan diri dan tidak punya gaji dari Kuda Terbang, orang tuamu tidak akan kesusahan untuk makan, Pinaka. Aku punya pekerjaan untukmu."


Pinaka diam sesaat. "Apa pekerjaannya, Mas Prapto? Dan berapa gajinya?" tanya Pinaka dengan lesu.


Prapto tersenyum. "Menjadi pengelola perpustakaan di desa Kejora," jawabnya, "kau tidak perlu memikirkan tempat tinggal, karena besok renovasi perpustakaan tersebut akan selesai. Di dalam perpustakaan itu akan ada sebuah ruangan yang ada kamar, ruang nonton TV, serta dapur di dalamnya.


Sampai kau menerima gaji pada bulan berikutnya, kau bisa menggunakan uang pengunduran diri yang diberikan oleh Kuda Terbang Corporation untuk sebulan. Gajinya sekitar satu juta rupiah, dan kerjaannya menyusun buku serta mencatat buku yang dipinjam oleh warga. Di desa Kejora, pustaka buka jam dua sore, kok, dan selalu ramai ibu-ibunya."


"Hanya sa ... satu juta rupiah, Mas Prapto?" tanya Pinaka tak percaya, "dan saya tidak suka membaca buku juga, Mas."


Prapto menyeringai. Seringai yang terlihat sangat menakutkan bagi Pinaka karena membuatnya membayangkan kantor polisi. "Berarti kau lebih suka menjalani hari di penjara?" tanyanya.


Pinaka hendak menangis namun ia menahan air matanya keluar. "Tapi, Mas, satu juta rupiah?" tanyanya lagi.


"Aku dulu juga tinggal di kota, Pinaka, dan gajiku sebagai manajer perusahaan cukup besar. Tapi setelah tinggal di desa Kejora, aku bisa kok bertahan hidup dengan uang lima ratus ribuan sebulan. Itu pun sudah dengan beli rokok. Buku di sana bagus semua, kau pasti suka membaca buku nanti," jawab Prapto tersenyum.


Prapto mengangkat ponselnya. "Jadi, mana yang kau pilih? Ancaman, atau tawaranku?"


"Tawaran saja, Mas," jawab Pinaka dengan lirih dan lesu.

__ADS_1


"Kau akan menyukai desa Kejora, Pinaka," kata Prapto, "dua hari lagi, saat sore, aku tunggu kau di rumah kepala desa Kejora. Mari, kita pulang!"


Prapto berdiri lalu melangkah ke kasir. Sementara Pinaka menghapus air matanya terlebih dahulu sebelum melangkah dengan hati sedih serta kesal.


Ketika Pinaka hendak keluar dari pintu tempat makan, ia menghentikan langkahnya karena melihat Prapto sibuk memeriksa kantong baju dan kantong celananya.


Prapto menoleh ke arah meja tempat ia tadi makan untuk melihat apakah dompetnya di sana, namun tidak ada. Ketika Prapto hendak menoleh lagi ke kasir untuk meninggalkan kartu identitas sebagai jaminan, kepalanya terhenti karena Pinaka menatap heran padanya.


"Kenapa, Mas?"


"Sepertinya aku lupa bawa dompet, Pinaka. Padahal aku mau mentraktirmu. Tapi aku bisa meninggalkan kartu identitas sebagai jaminan, kok," jawab Prapto tertawa.


"Ya sudah, biar aku yang bayar, Mas."


Pinaka membayar makanan mereka dan berlalu tanpa bicara pada Prapto. Tepat ketika ia sampai di pintu, gadis itu menoleh pada Prapto. "Mau menggaji aku sejuta, Mas, tapi bayar makanan saja tidak ada uang," katanya menyindir.


Sebelum Pinaka menatap ke depan untuk meneruskan langkahnya, Prapto masih bisa melihat kerling mata Pinaka dan sebelah senyumnya yang menurut Prapto sangat manis.


Prapto terpesona hingga ia tenggelam ke dalam sebuah penggalan syair.


Ia tersenyum, menatap sejenak lalu kembali berjalan


Arfiz Y


"Mas! Mas!"


Suara sang kasir membuyarkan keterpesona-an Prapto.


"Iya, Mas?"


"Itu, Mas, ada yang mau bayar makanan di belakang Mas," kata kasir itu sungkan.


Prapto menoleh ke belakang. Ternyata di belakangnya telah berdiri dua orang yang mengantre untuk membayar pesanan mereka. Prapto mengangguk minta maaf lalu pergi.


Sambil berjalan, Prapto senyum senyum. Ia tahu Pinaka sangat kesal, tapi ia juga tahu bahwa Pinaka ada sedikit keinginan untuk setuju dengan tawarannya, yang berarti Pinaka tertarik padanya.


Sepulangnya dari kota Keladi, Prapto langsung ke rumah pendiri perpustakaan desa, yaitu Pak Nirwana. Ia mengajak orang tua itu untuk berkunjung ke rumah pak Oscar. Mereka kini tengah berada di teras rumah pak Oscar sambil minum kopi dan merokok.

__ADS_1


Setelah menyulut tembakau cangklongnya, Pak Oscar berkata, "Jadi, Pak Nirwana minta mencarikan pengelola perpustakaan juga pada Nak Prapto, dan Nak Prapto sudah menemukannya?"


Pak Nirwana yang tampilannya seperti pendekar sesepuh itu mengangguk. "Benar, Pak Kades. Kata Nak Prapto, calon pengelola perpustakaan itu dari Jakarta. Saya sempat ragu apakah orang kota mau gajinya kecil? Tapi kata Nak Prapto wanita itu tidak mempermasalahkan gaji."


"Syukurlah. Berarti dia suka bekerja di perpustakaan dan pasti gemar membaca buku," jawab Pak Oscar, "Soal gaji memang kecil, karena gajinya berasal dari sumbangan rutin warga. Tapi, jika bisnis hasil ngebun desa Kejora sudah dimulai, tentu gajinya bisa naik."


Pak Oscar menghisap cangklongnya. Setelah menghembuskan asap, wajah Pak Oscar seperti agak kaget. Ia segera bertanya pada Pak Nirwana, "Tadi kata Pak Nirwana, dari mana asal wanita yang akan bekerja di perpustakaan itu?"


"Dari Jakarta, Pak Kades. Oh iya, Pak Kades, Nak Prapto, aku duluan, ya. Ada yang mau aku panen di kebun. Terima kasih hidangannya. Selamat sore," kata Pak Nirwana.


"Selamat sore, Pak Nirwana," jawab Pak Oscar dan Prapto bersamaan.


Pak Oscar hendak bertanya pada Prapto, namun mereka menoleh ke arah pagar karena melihat Nimo, yang telah dikirimi pesan singkat oleh Prapto, datang dengan sepedanya.


Setelah Nimo duduk dan mengatakan tidak usah dibuatkan kopi, Pak Oscar menatap Prapto.


"Dari Jakarta?" tanya Pak Oscar.


"Benar, Pak Oscar, dari Jakarta."


"Namanya Pinaka?" tanya Pak Oscar lagi.


"Ya, Pak Oscar, namanya Pinaka," jawab Prapto tersenyum.


Pak Oscar mengernyitkan keningnya, apalagi Nimo. "Tentang apa ini, Pak Kepala Desa?" tanya Nimo heran.


"Ini tentang cinta, Nimo. Tentang cinta, dan sepertinya tentang rencana terselubung temanmu ini. Jelaskanlah, Nak Prapto, bagaimana bisa Pinaka itu mau?"


Prapto lalu menjelaskan pembicaraannya dengan Pinaka dan juga ancamannya.


Pak Oscar dan Nimo menggeleng-gelengkan kepala mereka. "Licik kau, Bos. Tapi itu keren. Kau membalas dendam padanya sambil mendekatinya," ujar Nimo tertawa.


"Cerdas sekali! Lemparan kerling dan senyum sebelum ia pergi itu adalah pertanda, Nak Prapto," sambung Pak Oscar, "ia kesal, tapi kau telah berhasil membuatnya tertarik padamu."


***


Keesokan harinya, setelah pengunduran diri Pinaka yang membuat banyak karyawan di Kuda Terbang Corporation heran, Tristan menjadi pusing seribu keliling. Ia sangat heran dan sangat kesal karena tidak ada lagi yang bisa disuruh menghadang perkembangan ekonomi Prapto. Dan tentu saja, lebih dari itu, ia sangat takut Silvi akan semakin dingin padanya.

__ADS_1


Malam hari, Pinaka selesai mengemasi barang-barangnya. Besok siang ia akan berangkat ke desa Kejora. Pinaka menangis dari senja hingga pukul delapan malam. Setelah tangisnya berhenti, ia menekan tombol panggilan untuk memanggil sebuah nama pada kontak ponsel.


__ADS_2