
Pagi ini, pagi-pagi sekali, Pak Dwipangga berdiri di teras menghisap rokok, sambil memandangi hamparan sawah menguning di seberang jalan desa yang ada di depan rumahnya. Seulas senyum penuh syukur terukir di wajah orang tua itu.
"Tumben Bapak belum siap-siap ke kebun?" tanya Bu Kinasih yang baru saja keluar dari dalam rumah membawa secangkir teh, secangkir kopi, dan beberapa singkong rebus.
Pak Dwipangga menoleh pada istrinya lalu tersenyum. "Kemarin sudah aku selesaikan yang untuk hari ini, Bu. Hari ini aku mau mengunjungi kebun Nimo dan Nak Prapto. Mereka katanya mau menanam cover crop," jawabnya.
"Ooh, iya, Pak. Semoga ngebun mereka lancar. Setidaknya untuk makan dari hari ke hari mereka cukup," kata Bu Kinasih, "Pak, usia Nimo sudah dua puluh tiga tahun. Apa dia belum memikirkan juga untuk menikah? Dia ada cerita pada Bapak?"
Pak Dwipangga tertawa. "Dia cerita semuanya padaku, Bu, sama seperti padamu, tapi tidak tentang yang satu itu. Anak itu sangat malu-malu untuk bercerita soal cinta pada kita."
"Aku ada dengar dari Bu Harni, yang entah tahu dari mana, katanya Nimo pernah beberapa kali ngobrol dengan Arini," cerita Bu Kinasih.
Pak Dwipangga mengangguk. "Semoga saja benar, Bu. Aku juga ingin anak semata wayang kita itu segera menikah."
"Aku suka Arini, Pak, dia gadis yang manis," kata Bu Kinasih lalu meneguk teh-nya.
"Ah, tapi 'kan tetap lebih manis kau dari dia, Bu," sahut Pak Dwipangga.
"Bapak! Teh-ku tiba-tiba jadi lebih manis dari madu mendengar kata-katamu."
Mereka berdua pun tertawa ditimpali kicau burung pagi, yang mulai terdengar seiring dengan naiknya matahari.
***
"Jangan ditimbun dengan tanah sepadat itu, Nimo, perhatikan ini!" kata Pak Dwipangga.
"Ini tidak apa-apa, Pak Dwipangga, jaraknya jauh-jauh?" tanya Prapto.
"Tidak apa-apa, Nak Prapto, nanti mereka akan menyebar memenuhi kebun kalian."
Prapto mengangguk sambil terus menanam cover crop jenis Arachis Pintoi (kacang-kacangan/rumput pinto, yang bunganya berwarna kuning).
"Sapi dan kambing pun suka sekali makan rumput pinto ini, Nak Prapto. Nanti kau perbanyak saja dengan Nimo! Jika kambing-kambingku sudah lahiran, kalian ambillah sepasang anaknya," kata Pak Dwipangga.
"Terima kasih, Pak Dwipangga," ucap Prapto. Sementara Nimo mengacungkan jempol pada ayahnya.
Setelah mereka bertiga selesai menanam rumput pinto, Pak Dwipangga pulang ke rumah. Prapto dan Nimo telah menawarkan kopi, tapi Pak Dwipangga menolaknya. Kata Pak Dwipangga dia mau ngopi di rumah saja.
"Nimo, pinjam motormu, ya. Aku mau jemput Pinaka."
"Kuncinya di motor, kok, Bos. Kalian mau ke mana, Bos?" tanya Nimo.
"Aku mau mengajak dia melihat kebun kita, Nimo."
__ADS_1
Nimo tersenyum. "Baguslah, Bos, kau mengajaknya melihat kebun. Nanti 'kan dia akan jadi istri petani dan peternak. Buruan, Bos! Jam dua pustaka akan buka," katanya.
"Iya Nimo. Itu ada rokok untukmu di dapur. Janjiku yang waktu itu," kata Prapto tertawa.
Nimo balas tertawa. "Okay, Bos, terima kasih."
***
Pinaka yang sedang nonton TV pergi ke pintu perpustakaan ketika ia mendengar suara Prapto memanggil.
Setelah membuka pintu, Pinaka melihat Prapto tertegun memperhatikannya. Prapto lalu tersenyum.
"Baru kali ini aku melihatmu tidak pakai lipstik, Pinaka," kata Prapto.
Pinaka mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak diberi uang pengunduran diri karena Tristan tidak suka aku berhenti kerja, Mas. Dan pengunduran diri itu bertepatan pula dengan habisnya kosmetikku, hanya tinggal pelembab dan parfum saja. Dan hanya itu yang akan aku beli dan aku pakai seterusnya, karena aku harus membatasi pengeluaran."
Prapto tertawa. Katanya, "Tapi, tanpa lipstik dan bedak begini kau tampak lebih natural, Pinaka, lebih manis."
Pipi Pinaka memerah. Membuat ia tampak semakin manis. "Entahlah lah, Mas. Semoga saja iya," jawabnya, "semoga Mas Prapto tidak sekadar memujiku agar aku betah kerja di sini."
Prapto kembali tertawa. "Berbenahlah, Pinaka! Aku akan membawamu melihat kebunku. Aku tunggu dekat pagar."
Pinaka mengangguk. Ia tertarik untuk melihat kebun Prapto yang dikelola secara alami. "Sebentar, ya, Mas," katanya lalu pergi berbenah.
Prapto menyulut rokok. Ia duduk di bangku tembok yang ada dekat pagar perpustakaan.
"Ayo, Mas!" ajak Pinaka.
***
Pinaka berjalan-jalan mengelilingi kebun Prapto dan Nimo. Ia memperhatikan semua tanaman yang menurutnya tumbuh berbeda dibandingkan dengan pertanian pada umumnya. Sesekali Pinaka menanyakan pada Prapto tentang perbedaan pertanian alami dengan pertanian umum maupun dengan pertanian organik.
Pinaka lalu berhenti di depan rumah kelinci. Ia tersenyum melihat sepasang kelinci yang sedang kejar-kejaran.
"ini sepasang, Mas Prapto?" tanya Pinaka.
Prapto yang sedang memeriksa rumput pinto, yang ia tanam tadi pagi, menoleh pada Pinaka. "Iya, Pinaka. Yang warna abu-abu jantan, yang warna putih betina. Kau suka kelinci?"
"Suka, Mas. Aku punya tujuh ekor kelinci di rumah. Sekarang adikku yang merawat mereka," jawab Pinaka sambil mencoba menjinakkan kelinci di depannya.
"Nanti kalau kelinciku banyak anaknya, kuberi kau sepasang," kata Prapto.
Pinaka berdiri sambil menggendong kelinci yang berwarna putih. Ia lalu menoleh pada Prapto. "Kau serius, Mas Prapto?" tanyanya.
__ADS_1
"Mas Prapto selalu serius kok kalau berjanji, Pinaka," potong Nimo tertawa. Ia lalu menunduk untuk menghindari bongkahan tanah kecil yang dilempar oleh Prapto.
Pinaka tertawa. "Mas Prapto dan Mas Nimo mau minum apa? Biar aku buatkan di dapur," tanyanya.
Nimo tampak kaget lalu menoleh pada Pinaka. Sementara Prapto tersenyum karena kata-kata Pak Oscar terbukti lagi.
"Kami kopi, Pinaka," jawab Prapto, "kau juga buatlah kopi atau teh! Bedakan kopiku dengan kopi Nimo, ya!"
"Kenapa begitu, Mas? Dan bagaimana cara membedakannya?"
"Kopiku sedikit saja gulanya, Pinaka. Dibedakan agar kopi yang untukku jelas spesial-nya," jawab Prapto tertawa.
Nimo juga tertawa. Pinaka tak menjawab. Ia langsung berbalik melangkah ke dapur sambil senyum-senyum.
Setelah menghabiskan kopinya, Nimo pamit pulang duluan. Sementara Prapto dan Pinaka mengobrol tentang Kuda Terbang Corporation, yang membeli hasil ngebun alami desa Kejora dengan harga murah lalu menjualnya dengan harga berkali-kali lipat.
Pinaka kaget. Ia sendiri yang memiliki posisi di Kuda Terbang Corporation tidak mengetahui tentang hal itu. Prapto juga menceritakan tentang gagasannya mengajak perusahaan bekerja sama dengan desa kejora, yang membuat Pinaka kagum.
Setelah hampir pukul dua, Prapto pun mengantarkan Pinaka ke perpustakaan.
***
Baru dua hari tinggal di desa Kejora, dan sehari bekerja di perpustakaan, Pinaka sudah bisa merasa tenteram di desa tersebut. Ia juga banyak mengobrol dengan ibu-ibu desa Kejora yang berkunjung ke perpustakaan. Pinaka pun mulai membaca buku setelah Bu Intan merekomendasikan salah satu buku tentang cara menjadi wanita sejati padanya.
Pinaka juga dengan senang hati menjelaskan isi buku kepada Lapen Oscario dan anak-anak seusianya, yang mengantre untuk menanyakan pada Pinaka maksud dari bagian buku yang kurang mereka mengerti.
Baru dua hari tinggal di desa Kejora, Pinaka sudah bisa paham kenapa Prapto sangat menyukai desa tersebut.
***
Udara mulai berubah dingin. Prapto yang sedang duduk di teras rumahnya memperhatikan awan mendung di langit. "Benar kata Nimo, hujan akan turun," katanya lirih.
Awan-awan mendung itu lalu semakin menggelap. Dan tak lama setelah itu, hujan pun turun menyiram bumi. Prapto meneguk kopinya lalu menyulut rokok.
Kepala Prapto menoleh ke meja terasnya ketika ia mendengar ponselnya berdering.
"Halo, Pak Gumiro," sapa Prapto.
"Halo, Nak Prapto. Kapan kau senggang dan bisa berkunjung ke Jakarta lagi, Nak?" tanya Pak Gumiro dari seberang telepon.
"Besok aku bisa, Pak. Apa ada kabar penting, Pak Gumiro?"
Pak Gumiro lalu menceritakan gambaran besar yang hendak ia bicarakan dengan Prapto.
__ADS_1
Prapto mengernyitkan keningnya. "Baik, Pak. Besok aku akan ke rumah Bapak," jawabnya.
Setelah Pak Gumiro menutup telepon, Prapto langsung mengirim pesan singkat pada Nimo untuk mengajak sahabatnya itu bertemu di rumah Pak Oscar selepas senja hari, dalam cuaca teduh atau pun hujan.