
Pagi itu, ketika ia dan istrinya duduk di taman Vimala, ponsel Pak Oscar berdering.
"Halo, Pak Gumiro. Sehat, Pak. Pak Gumiro sehat?" tanya Pak Oscar.
"Sehat, Pak Oscar. Tadi aku mendapat telepon dari temanku yang bekerja di kantor pengimporan. Ia mengabarkan bahwa pesanan kita sudah datang, Pak Oscar. Sekarang karyawanku sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya. Nanti siang kemungkinan Timo sudah tiba di desa Kejora membawa bibit ketiga sayuran Jepang itu."
"Okay, Pak Gumiro. Terima kasih. Aku akan memberitahu Nak Nimo dan Nak Prapto," sahut Pak Oscar.
***
"Bos!" panggil Nimo pada Prapto yang sedang memperhatikan tanaman mereka.
Prapto menoleh. "Ya, Nimo?" tanyanya.
"Pak Oscar mengirimiku pesan singkat. Katanya Timo nanti akan datang membawa bibit ketiga sayuran yang dipesan oleh Pak Gumiro. Lalu kita berdua diminta untuk mengantarkannya nanti ke setiap rumah warga."
"Jam berapa, Nimo?"
"Kira-kira menjelang jam dua belas siang, Bos," jawab Nimo.
"Okay lah. Nanti sore jadi kita memancing di sungai, Nimo?"
"Jadi, Bos. Nanti setelah mengantarkan bibit ke rumah warga, aku akan mencari Lapen, Taro, dan vokalis The Beatles itu," sahut Nimo, tertawa.
Prapto pun tertawa.
***
Timo baru saja selesai berbenah, ketika ponselnya berdering. Ia meletakkan sisir rambut lalu mengangkat telepon.
"Iya, Nesia. Kau tunggu di rumah saja. Rumahmu dari diler 'kan jauh. Aku tidak akan nyasar, kok, mencari alamatmu," kata Timo tertawa.
Nesia tertawa dari seberang telepon. "Okay, Mas," jawabnya.
Setelah pamit pada ayah dan ibunya, Nimo langsung pergi menuju rumah Nesia.
***
“Timo, Pak, Bu.” Timo menyalami kedua orang tua Nesia.
"Dewo." Ayah Nesia yang berusia lima puluh enam tahun memperkenalkan diri setelah ia menjabat tangan Timo.
"Rika," kata ibu Nesia, yang usianya lima puluh tiga tahun.
Timo akhirnya tiba di rumah Nesia setelah ia tiga kali menanyakan alamat rumah Nesia pada tiga orang bapak-bapak yang ia temui di jalan.
"Pacarnya Nesia?" tanya Bu Rika.
"Bukan, Bus." Nesia yang menjawab. "Mas Nimo kenalanku.”
Pak Dewo dan Bu Rika mengangguk.
"Hati-hati di jalan, ya. Berapa jam perjalanan ke desa Kejora, Nak Timo?" tanya Pak Dewo.
__ADS_1
"Kira-kira tiga jam an, Pak. Menjelang malam kami akan tiba kembali di Jakarta," jawab Timo. "Kami pergi, ya, Pak, Bu."
***
Dalam perjalanan menuju desa Kejora dengan mobil sedan hitamnya, Timo banyak ditanyai oleh Nesia.
"Apa benar ada desa yang seperti itu, Mas? Bahkan sekolah formal pun tak ada di sana?"
"Benar, Nesia. Awalnya aku dan Ayah juga heran. Tapi di sanalah temanku Prapto itu sekarang tinggal. Dia bahkan menjual mobilnya untuk menambah uang membeli lahan."
Nesia yang rambutnya disanggul itu mengangguk-angguk.
Timo menoleh sejenak untuk memperhatikan rambut wanita di sampingnya. "Sejak kapan kau suka menyanggul rambutmu, Nesia?" tanyanya.
Nesia tersenyum. "Sudah lama, Mas. Sejak aku masih di sekolah dasar. Mendiang nenekku yang mengajarinya. Sejak itu, sampai sekarang aku selalu menyanggul rambut. Kenapa, Mas? Terlihat kuno, ya, gaya rambutku?"
Timo tertawa. "Ooh. Tidak, Nesia. Malah terlihat unik, dan juga manis. Rambutmu disanggul cocok dengan wajahmu yang lembut." Timo lalu memutar setir untuk memotong sebuah mobil truk sedot WC.
Nesia tak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan sambil tersenyum.
***
Sejak mereka memasuki gapura selamat datang desa Kejora, Nesia terus memperhatikan sawah, kebun, rumah, serta warga-warga yang sedang beraktivitas, hingga Timo memberhentikan mobilnya di jalan depan rumah Prapto.
Setelah turun dari mobil, Timo mengambil tas besar yang berisi bibit sayuran Jepang dari dalam bagasi. Ia lalu mengajak Nesia ke kebun Prapto.
Prapto dan Nimo berdiri ketika mereka melihat Timo dan Nesia datang. Nesia kemudian diperkenalkan oleh Timo.
Prapto menoleh pada Timo. Ia tersenyum. "Pacarmu yang katamu selalu kau rindukan itu, Timo?" tanyanya.
"Belum, Nesia? Berarti ada rencana," kata Nimo, tertawa.
"Eh ... bukan, bukan begitu maksudnya," sahut Nesia lagi.
Prapto, Timo, dan Nimo tertawa.
"Sudah, Nesia, jangan dengarkan mereka," kata Timo yang sedang membuka tas besarnya. "Tolong bantu aku memisahkan per nama sayuran ini, Nesia."
Nesia menghampiri Timo lalu membantunya memisahkan tiga jenis bibit sayuran Jepang.
Setelah pemisahan nama bibit sayuran Jepang itu selesai, Prapto dan Nimo yang tadi pergi ke dapur, telah kembali membawa secangkir teh, tiga gelas kopi, dan dua piring singkong rebus.
"Silakan dimakan hidangannya, Mas Timo, Nesia," kata Nimo.
"Sudah dihitung benar, kan, Timo, jumlah bibitnya?" tanya Prapto.
"Sudah, Prapto. Kami menghitungnya bertiga bersama Ayah dan Pak Salidi. Palingan juga ada lebihnya nanti, Prapto. Buat kau dan Nimo saja."
Tiba-tiba Nesia berkata, "Mas Timo, cobalah! Singkong rebusnya enak."
Timo tersenyum. "Aku tahu, Nesia. Aku sudah sering ke desa Kejora. Itulah hebatnya makanan yang diolah dari hasil ngebun alami."
Nesia mengangguk-angguk. "Tenang saja, Mas, nanti aku ajak Ayah dan Ibu membeli makanan yang ada lambang perusahaan Kejoranya."
__ADS_1
Prapto dan Nimo tertawa.
"Oktober nanti akan ada festival memancing ikan di sungai, Timo. Kau ajaklah Nesia ke sini, nanti akan aku kenalkan Nesia pada Pinaka dan Arini, calon istrinya Nimo," kata Prapto.
Timo menoleh pada Nimo. "Wah, kabar baik rupanya, Nimo. Kapan? Jangan lupa mengundangku loh."
"Setelah panen padi musim depan, Mas Timo. Tentu saja. Aku akan mengundang Mas Timo dan Pak Gumiro, dan juga Nesia."
Timo tersenyum. Ia lalu menoleh pada Prapto. "Kau bisa memancing ikan di sungai, Prapto?" tanyanya.
"Aku coba dulu nanti, Timo. Ini nanti sore aku mau latihan memancing di sungai. Kata Nimo, memancing ikan di sungai jauh lebih seru daripada di kolam."
"Baiklah. Kami akan datang nanti. Aku akan bawa joran pancing juga."
***
Timo dan Nesia pamit pulang pada pukul dua siang. Setelah menghabiskan kopi dan menyulut rokok, Prapto menelepon Stepen.
"Halo, Prapto," sapa Stepen dari seberang telepon.
"Halo, Mas. Ada Lapen di rumah?"
"Ada, Prapto. Sebentar, aku panggilkan."
Sesaat kemudian terdengar suara Stepen memanggil anaknya.
"Halo. Paman Jomlo. Tumben meneleponku," sapa Lapen, yang tak lama kemudian mengaduh kena cubit oleh ibunya karena memanggil Prapto dengan sebutan jomblo.
Prapto tertawa. "Aku dan Paman Nimo mau mengajakmu memancing di sungai, Lapen. Kami ingin belajar memancing padamu, Taro, dan juga Lennon," katanya.
"Pas, Paman," jawab Lapen.
"Pas apa, Lapen? Kau sedang main domino?"
Lapen tertawa. Katanya, "Pas karena aku, Taro, dan Lennon juga mau pergi memancing ke sungai, Paman. Paman tenang saja, nanti akan kami ajari bagaimana caranya supaya banyak dapat ikan. Paman tahu tidak? Ada beberapa jenis ikan baru ... "
Kata-kata Lapen berhenti. Di seberang telepon terdengar Stepen berkata, "Nanti saja, Nak, kau ceritakan pada Paman Prapto dan Paman Nimo. Nanti pulsa Paman Prapto habis karena mendengar ceritamu." Terdengar suara Lastri, ibunya Lapen tertawa mendengar perkataan suaminya.
Stepen kembali mendekatkan telepon ke telinganya. "Kalau tidak aku minta teleponnya, pulsamu akan habis, Prapto. Putraku ini kalau bercerita akan sangat lama," katanya tertawa.
Prapto tertawa. "Okay lah, Mas Stepen. Aku bawa Lapen nanti, ya. Sudah dulu, ya, Mas. Mas paham saja kalau pulsaku tinggal sedikit."
"Sama-sama, Prapto. Semoga kalian dapat banyak ikan. Sebentar lagi Lapen dan kedua sahabatnya akan tiba di rumahmu,” jawab Stepen.
Prapto lalu menoleh pada Nimo setelah menutup telepon.
"Joran pancingmu ada satu lagi, Nimo?"
"Ada, Bos. Tapi aku tidak punya joran katrol, Bos. Aku dan Ayah memancing ikan menggunakan joran yang terbuat dari kayu," jawab Nimo.
"Aku minta, ya."
"Beres, Bos. Ayah punya banyak joran, kok di rumah. Ada juga joran yang dulu dibuat oleh mendiang kakekku. Ngomong-ngomong, aku ada ide, Bos," kata Nimo.
__ADS_1
Prapto menoleh setelah menyulut rokoknya. "Ide apa, Nimo?" tanyanya.