Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
84. Tersenyum


__ADS_3

Menjelang siang mereka tiba di Jakarta. Karena janji bertemu dengan teman Prapto baru nanti siang, mereka terlebih dahulu pergi ke tempat-tempat yang dikirimi alamatnya oleh Stepen. Mereka mendatangi alamat-alamat tersebut satu persatu namun tak seorang pun yang membuat pakaian dengan menggunakan metode manual dan bahan alami.


Pak Purnomo memarkir mobil di parkiran sebuah restoran yang halamannya juga dipakai untuk meja pengunjung. Aroma dari berbagai masakan sampai ke tempat parkir, membuat perut mereka semakin lapar. Pak Purnomo turun, diikuti oleh Prapto dan Nimo.


Nimo menoleh pada Prapto. Ia tersenyum. "Sudah lama kita tidak makan di sini, ya, Bos," kata Nimo. Ia kemudian melihat ke sekeliling restoran itu yang tampaknya tidak banyak berubah. Pengunjung masih tetap ramai dan lebih ramai di halaman daripada di dalam restoran. Dan di meja-meja restoran terdapat lilin berwarna hijau, warna yang dianggap melambangkan aura kekayaan.


"Iya, Nimo. Tak banyak yang berubah. Pramusajinya pun masih yang dulu. Hanya meja-meja kayu di luar ini yang tampaknya diganti dengan kayu yang dipoles lebih bagus," sahut Prapto. "Eh, Pamanmu tadi mana, Nimo?" Prapto memandang ke sekeliling mencari-cari Pak Purnomo.


Nimo mengernyitkan keningnya. "Ke mana Pamanku, ya? Tadi Paman ada di depan kita, kan, Bos? Ayo, Bos, kita cari!" ajak Nimo.


Prapto dan Nimo kemudian berpencar ke untuk mencari Pak Purnomo yang tiba-tiba saja menghilang dari pandangan mereka. Nimo mencari di bagian halaman restoran, sementara Prapto mencari ke dalam restoran.


“Prapto!”


Prapto menoleh ketika ia mendengar suara seseorang memanggilnya dari arah sebuah meja. “Ronal,” sapa Prapto. “Kau sudah datang lebih dulu ternyata?”


“Belum lama juga. Kau mau ke mana? Tampaknya sedang mencari seseorang.”


Ronal adalah teman Prapto ketika Prapto masih bekerja di perusahaan dan ia adalah seorang pencinta lukisan. Itulah sebabnya Ronal mau membantu menjual lukisan Pak Purnomo dengan senang hati.


“Iya, aku sedang mencari pamannya Nimo yang mau menjual lukisan itu,” jawab Prapto.


“Pak Purnomo ini, kan?” Ronal yang rambutnya dibelah tengah itu menunjuk seseorang di hadapannya.


“Eh!” Prapto berseru kaget.

__ADS_1


“Mana Nimo tadi, Prapto?” tanya Pak Purnomo yang baru saja meneguk es teh-nya.


“Dia mencari Bapak. Kami tadi berpencar karena tiba-tiba Pak Purnomo hilang. Sebentar Pak, Ronal, aku panggil Nimo dulu.” Prapto pergi ke halaman restoran untuk memanggil Nimo. Tak lama kemudian mereka telah kembali lalu ikut duduk bersama Ronal dan Pak Purnomo.


“Paman kenal dengan Mas Ronal?” tanya Nimo, heran.


Pak Purnomo tertawa. “Tidak, tapi Ronal memanggilku dan mengatakan bahwa ia adalah teman kalian yang akan membantu menjual lukisanku, jadi aku ikut duduk. Instingnya Nak Ronal bagus.”


“Aku bisa menduga dari tas yang dibawa oleh pamanmu, Nimo. Dari bentuknya, tas itu pasti isinya lukisan,” kata Ronal.


Seorang pramusaji wanita datang membawa menu dan buku untuk mencatat pesanan. Ia memberikan menu tersebut, menunggu, lalu kembali ke dapur.


Tak lama kemudian pramusaji tersebut sudah datang menghidangkan pesanan; empat porsi nasi goreng dan dua gelas es teh tambahan.


“Ayo, kita makan dulu. Setelah perut kenyang baru kita ke tempat menjual lukisan,” ajak Ronal.


Ronal tampak berpikir untuk beberapa saat lamanya, lalu katanya, “Aku pernah mendengarnya. Seorang wanita yang datang dari sebuah desa dan membuka toko pakaian yang kainnya dibuat secara manual, tapi aku lupa di mana tempatnya. Ibuku pernah memesan pada orang itu. Nantilah aku tanya ke ibuku. Untuk apa, Prapto? Kau butuh cepat?” Ronal kembali menyendok nasi gorengnya.


“Untuk mengajar keterampilan membuat pakaian di desa kami, Ronal. Iya, kalau bisa setelah menjual lukisan kami akan langsung menawarkan tawaran mengajar di desa padanya,” jawab Prapto.


“Baiklah, setelah makan akan aku telepon ibuku,” sahut Ronal.


Selesai mereka makan, Ronal menelepon ibunya, namun ibunya ternyata tidak menyimpan nomer orang tersebut.


Mereka kemudian pergi ke sebuah rumah toko bertingkat dua yang lantai dasarnya disulap menjadi galeri lukisan. Mereka disambut oleh seorang pria tua yang rambutnya disisir ke belakang seluruhnya. Sebagian besar rambut orang tua otu sudah memutih. Namanya Pak Akum.

__ADS_1


Pak Akum memperhatikan lukisan-lukisan Pak Purnomo. “Hebat. Kenapa Pak Purnomo baru datang sekarang? Jika Bapak ke sini lagi, bawa saja lukisan lebih banyak. Lukisan Bapak pasti akan banyak pembelinya.”


Pak Purnomo tersenyum. “Panggil Purnomo saja, Kum. Kita seusia. Sebelumnya aku di Paris, dan sebelum ke Paris aku belum banyak membuat lukisan. Baiklah, Kum, terima kasih,” katanya sambil menerima uang yang diulurkan oleh Pak Akum.


Pak Akum mengangguk-angguk. “Tinggalkan saja nomermu, Purnomo, tampaknya aku akan memesan lukisan padamu. Dan juga, jika ada lomba, aku akan mengabarimu.” Pak Akum menyulut rokoknya. “Oh iya, tadi aku sempat mendengar obrolan kalian. Kalian sedang mencari seseorang yang terampil dalam membuat pakaian secara manual, ya? Aku kenal seseorang yang sangat terampil.”


“Benar, Pak Akum,” sahut Prapto. Ia lalu menerangkan pada Pak Akum bahwa desanya sedang mencari seorang guru membuat pakaian. “Begitulah, Pak, petuah dari kepala desa kami. Dan kata Pak Kepala Desa, gurunya harus jadi warga desa kami juga.”


Pak Akum mengangguk-angguk. “Kalian bersantailah dulu di sini sambil melihat-lihat lukisan, aku akan pesankan kopi. Sekitar dua jam lagi karyawanku akan datang dan aku bisa menyerahkan pengawasan galeri ini padanya. Aku akan mengantar kalian langsung ke orang tersebut.” Pak Akum lalu meminta seorang pemuda yang merupakan karyawannya untuk memesan kopi ke warung di sebelah.


“Terima kasih, Pak Akum,” ucap Prapto. “Kira-kira orang itu akan mau tinggal di desa kami tidak, ya, Pak?”


“Orang itu susah ditebak, Prapto. Dia juga sedikit keras kepala. Tapi keterampilannya dalam membuat pakaian, kecermatannya dalam memilih serat alami untuk membuat pakaian, serta kecerdasannya dalam membuat paduan warna sungguh luar biasa. Aku tahu beberapa pembuat pakaian alami, tapi belum ada yang bisa mengalahkan dia,” terang Pak Akum.


Prapto, Ronal, Nimo, dan Pak Purnomo mengangguk-angguk. Mereka tampak begitu tertarik mendengar penjelasan Pak Akum.


“Sepertinya dia begitu mendalami seni membuat pakaian, ya. Layaknya seorang pelukis sejati, pembuat pakaian sejati pasti mendalami ilmu membuat pakaian sampai ke makna terkecilnya,” ujar Pak Purnomo.


Pak Akum mengangguk. “Ya, betul sekali Purnomo. Kadang ia bisa duduk selama satu jam lebih hanya untuk mengamati pakaian yang akan diberinya warna.”


Mereka terus mengobrol sambil melihat-lihat lukisan. Setelah karyawannya datang, Pak Akum mengajak Prapto dan yang lain ke tempat pembuat pakaian yang dibicarakannya tadi. “Tempatnya cukup jauh dari sini. Tapi ‘kan kalian tidak ada agenda lain lagi,” kata Pak Akum sebelum masuk ke dalam mobil.


Yang mengemudikan mobil tetap Pak Purnomo. Pak Akum duduk di kursi depan sambil memandu jalan. Mobil sedan tua Pak Oscar tersebut penuh bangkunya.


Setelah mereka menempuh perjalanan selama satu jam, Pak Purnomo memarkirkan mobil di depan pagar sebuah rumah bertingkat dua yang memiliki taman cukup luas.

__ADS_1


“Ini ‘kan rumahmu, Pak Akum?” tanya Ronal dengan nada heran.


Pak Akum tersenyum.


__ADS_2