Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
9. CEO Cuek


__ADS_3

"Aku setuju," sahut Pak Rodi tersenyum, "mari kita lihat lahannya! Mumpung hari belum lah gelap."


***


Setelah malam itu Prapto pergi, keesokan harinya Silvi pulang ke rumah orang tuanya yang juga terletak di Jakarta. Sudah tiga hari Silvi libur bekerja, dan selama tiga hari itu pula Silvi sering mengurung diri di kamarnya dan terus-terusan menangis sampai matanya bengkak.


Silvi begitu sedih karena diceraikan oleh Prapto. Ia juga sangat benci pada Prapto yang menurutnya sangat bodoh karena telah menceraikan seorang wanita modern yang cantik dan memiliki gaji besar seperti dirinya.


Orang tua Silvi tak mau ikut campur, karena mereka selama ini memang tidak menyukai Prapto. Malah sebelumnya mereka telah menjodohkan Silvi dengan seorang CEO cuek, CEO yang seperti di cerita-cerita novel, yang cuek dan beku.


Sementara itu, ayah Prapto dan ayah Silvi yang memiliki hubungan bisnis, keesokan harinya segera bertemu di sebuah restoran mewah dengan membawa istri mereka masing-masing. Ayah Prapto menegaskan kepada ayah Silvi bahwa perceraian anak mereka tidak akan mengganggu hubungan bisnis mereka sedikit pun.


Ibu Prapto yang hari ini rambutnya disanggul berkata pada ibu Silvi, "Tenang saja, Jeng Salini! Kami berada di pihak Silvi, kok. Kami tidak mengerti kenapa sedari dulu anak kami itu terlalu kuno cara berpikirnya."


Merasa mendapat dukungan dari orang tua Prapto, ditambah pula dukungan itu menguntungkan dalam bisnis mereka, ibu Silvi yang rambutnya dikuncir pun manggut-manggut.


"Biar lah, Jeng Veni! Yang penting pertemanan Jeng dan saya tidak boleh rusak. Saya terharu karena Jeng tetap menganggap Silvi sebagai anak sendiri meskipun anak kita sudah bercerai," sahut Bu Salini.


"Bagaimana kalau aku bantu kau menjodohkan Silvi dengan CEO Cuek itu, Pak Subarja? Aku kenal baik dengan ayahnya." Ayah Prapto menanyai ayah Silvi yang baru saja selesai meneguk teh-nya.


Pak Subarja mengangguk-angguk. "Itu gagasan yang sangat bagus, Pak Rohan. Terima kasih. Mari kita atur dalam waktu dekat ini!"


Pak Rohan dan Pak Subarja sama-sama melemparkan pandangan tajam mereka yang memancarkan sedikit kilauan bisnis.


Begitulah orang-orang yang gila terhadap uang. Tindakan dan perkataan mereka selalu didasarkan kepada uang dan keuntungan bisnis. Mereka juga berbuat baik, bahkan sering, namun perbuatan baik mereka itu dilakukan juga demi keuntungan materi yang ada di baliknya.


Setelah membuat rencana tanggal pertemuan dengan ayah si CEO cuek, Pak Subarja dan Pak Rohan pun mengakhiri pertemuan tersebut.


***


Lahan Pak rodi yang dibeli oleh Prapto dan Nimo cukup luas. Meskipun tidak seluas lahan milik ayah Nimo, tapi sudah sangat lebih dari cukup untuk mereka bertani dan beternak. Ditambah lagi dengan pohon-pohon pelindung yang sudah ada pada sisi-sisi lahan itu dan beberapa pohon buah-buahan yang sudah besar.


"Bagaimana, kalian suka?" tanya Pak Rodi dengan wajah yang sudah yakin bahwa lahannya tersebut pasti dibeli.


Nimo mengangkat jempolnya, sementara Prapto mengangguk. "Tentu saja, Pak Rodi. Aku akan menjadi tetangga yang baik," sahut Prapto tertawa.


***


Seperti biasa, Pak Oscar, kepala desa Kejora yang bijaksana, tengah berdiri di teras rumahnya sambil merokok cangklong, dan juga sambil memperhatikan ayam-ayamnya bermain di halaman. Ia tengah menunggu Pak Rodi, Nimo, dan Prapto yang hendak melaksanakan 'deal' lahan.

__ADS_1


Begitulah peraturan yang diterapkan oleh Pak Oscar semenjak ia menjadi kepala desa. Pak Oscar merasa bahwa setiap transaksi lahan di desa Kejora ini tidak lepas dari tanggung jawabnya sebagai pemimpin desa.


Tiba-tiba dahi Pak Oscar mengernyit. "Bu, ayam kita yang berwarna coklat kok tidak kelihatan? Ibu masak, ya? Apa itu yang kita makan tadi pagi? Oh betapa kejamnya."


"Enak saja! Aku tidak setega itu pada ayam kita, Pak. Ayam goreng tadi pagi itu dari pasar, kok," sahut istrinya yang tengah duduk di teras sambil membaca novel online.


Pak Oscar tertawa. "Itu dia, Bu! Ternyata sembunyi di pendopo," katanya. Pak Oscar kemudian menoleh pada istrinya. "Baca apa, Bu?"


"Baca novel di Fizzo, Pak. Novel yang kata Bapak sering Bapak baca itu. Ternyata novelnya bagus, ya, Pak," jawab istrinya.


Pak Oscar berpikir sejenak. "Novel Pisau, ya?" tanyanya. "Kau suka cerita mafia, Bu? Itu bukan cerita mafia bucin loh, banyak adegan pembunuhan sadisnya."


"Iya, Pak, ini lagi di adegan pembunuhan. Mereka mafia yang berprinsip loh, Pak. Menurutku orang-orang Sarunai ini baik, hanya cara mereka saja yang melanggar hukum. Semoga saja misi Tuan Tidar dan Kenzo untuk pindah ke 'dunia atas' berhasil," terangnya.


Pak Oscar kembali tertawa.


Di depan pintu pagar tampak sebuah sedan hitam berhenti. Dari sedan itu lalu keluar Prapto, Nimo, dan Pak Rodi yang tampilannya selalu seperti seorang penyair angkatan empat puluh lima itu. Mereka kemudian berjalan bersama-sama ke teras Pak Oscar.


Pak Oscar lalu membawa kopi dan biskuit yang sudah dipersiapkan oleh Bu Inari ke meja teras. Setelah membalas sapaan Prapto, Nimo, dan Pak rodi, Bu Inari pergi ke pendopo untuk melanjutkan membaca novel online.


"Di Karet, di Karet, daerahku yang akan datang ... sampai juga deru angin," Kata Pak Oscar setelah menyulut cangklongnya.


Pak Oscar dan Pak Rodi lalu sama-sama tertawa. "Lihatlah mereka, Penyair Gila! Kening kedua anak muda ini mengernyit," kata Pak Oscar sambil melihat Nimo dan Prapto yang wajahnya kini penuh keheranan.


"Itu adalah kutipan syair Chairil Anwar, Nimo, Nak Prapto," jelas Pak Rodi. "Dalam syair itu ada kata 'jika kau datang' yang maksudnya bukan kedatangan manusia, melainkan kedatangan maut. Dan 'karet' itu adalah nama sebuah tempat pemakaman. Syair itu cocok bagi kami yang sudah tua-tua ini," lanjutnya.


Prapto dan Nimo mangut-mangut. Pak Oscar menyambung, "Dan tak banyak warga desa yang tahu bahwa Pak Rodi ini adalah seorang penyair dan penulis cerpen. Tulisannya sering dimuat di koran digital maupun koran cetak loh. Itulah sebabnya kau memanggilnya Penyair Gila."


"Ah, aku hanya penyair luntang-lantung saja, kok," sahut Pak Rodi. "Nah, Pak Oscar, Nak Prapto dan Nimo telah memutuskan untuk menyertakan mobil dalam transaksi ini. Jadi, kita akan sekalian transaksi mobil." Pak Rodi tertawa.


Transaksi mereka pun berjalan dengan lancar, begitu juga dengan penyerahan surat-surat tanah dan surat-surat kendaraan. Pak Rodi lalu memisahkan uang sepuluh juta dari hasil penjualan tanahnya.


"Ini untuk renovasi bangunan perpustakaan desa Kejora dan juga untuk membeli buku-buku baru," kata Pak Rodi sambil menyerahkan uang sepuluh juta tersebut kepada Pak Oscar. "Dan ini seratus ribu untuk beli tembakau cangklongmu, Pak Oscar," sambungnya tertawa.


"Terima kasih, terima kasih. Tuhan tentu akan membalas kedermawananmu, Pak Rodi," jawab Pak Oscar. Ia lalu menoleh pada Prapto. "Selamat datang di desa Kejora, Nak Prapto. Dalam seminggu ini surat-suratmu akan selesai dan kau akan resmi tercatat sebagai warga desa Kejora."


"Kau sudah menyewa tukang untuk membangun rumah ternak dan rumah tinggalmu, Nak Prapto? Kalau belum, aku punya seorang sepupu yang kerjanya bagus," kata Pak Rodi.


Prapto menggeleng. "Belum, Pak. Boleh, Pak Rodi, terima kasih."

__ADS_1


***


Keesokan harinya rumah-rumah ternak Prapto dan Nimo pun segera dibangun. Benar saja, kerja sepupu Pak Rodi itu bagus dan cepat, dan semakin cepat karena bangunan tempat tinggal Prapto hanya dibangun dari papan semua.


Prapto memang sudah bertekad untuk berjuang dari nol, termasuk dalam hal rumah, karena uangnya dan uang Nimo hanya tinggal sepuluh juta setelah membeli lahan.


Prapto dan Nimo tidak perlu lagi menanam pagar-pagar hidup di depan lahan mereka, karena bagian depan lahan tersebut sudah ada pagar hidupnya dan hanya tinggal dirapikan saja.


"Tak butuh dua bulan sampai kau memutuskan untuk tinggal di desa kejora ternyata, Bos," kata Nimo sambil melihat lahan mereka dibangun.


Prapto tersenyum. "Ya, karena desamu ini indah, Nimo."


"Apa kau takut pada hantu, Bos, bila tinggal sendiri di rumah barumu itu? Kalau iya, aku akan tinggal di sini juga."


"Akan ku-karungi hantu itu jika ia datang, Nimo, lalu kujual ke kota." Mereka pun berdua tertawa.


***


Pembangunan rumah papan Prapto, rumah ternak, bangunan dapur, gudang perlengkapan, serta lumbung tempat penyimpan hasil panen selesai dalam waktu tiga minggu. Selama waktu tiga minggu itu Prapto menginap dan makan di rumah Nimo.


Hari ini adalah hari Prapto dan Nimo mulai berkebun, karena kemarin, semua perlengkapan, mulai dari bibit tanaman dan hewan ternak sudah mereka beli dan mereka pindahkan ke lahan mereka.


Seperti yang ia janjikan, Pak Dwipangga memberi Prapto dan anaknya itu sepasang sapi yang sudah besar, lima ekor induk ayam bersama seekor ayam jago, dan sepasang kelinci.


Bangunan rumah papan Prapto tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Hebatnya sepupu Pak Rodi adalah, ia bisa membuat rumah papan itu tampak tidak seperti rumah kebun. Rumah papan Prapto sangat terlihat sebagai rumah tinggal meskipun semua bahannya adalah kayu.


Sepupu Pak Rodi yang bernama Pak Ino itu juga menghadiahkan Prapto beberapa penghias teras, sehingga teras Prapto menjadi lebih indah.


***


Ayah dan Ibu Prapto berhasil mendapatkan nomor barunya, setelah HP Mang Kari yang tertinggal di bagasi mereka periksa. Mereka lalu membuka pesan singkat Prapto dengan Mang Kari dan membaca isi pesan tersebut. Dalam pesan itu Prapto mengatakan kepada Mang Kari bahwa ia sudah resmi menjadi warga desa Kejora.


Kabar itu pun sampai ke telinga Silvi. Silvi tak henti-hentinya mengumpat mengatakan bahwa Prapto kuno dan bodoh, bahwa Prapto pasti akan sangat menyesal menceraikannya.


Rini, teman Silvi yang merupakan seorang Feminis sejati datang untuk mengunjungi sahabatnya. Ia bingung melihat Silvi yang terus-terusan menangis. Silvi pun menceritakan tentang Prapto yang kini sudah tinggal di desa. Silvi juga bercerita bahwa ia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang CEO yang cuek.


Wajah Rini mendadak berseri. "Ayolah, Bestie! CEO Cuek itu suami idaman. Kita 'kan sering baca novel CEO yang cuek. Dia pasti menarik dan akan membuatmu jatuh cinta. Dia juga pasti kaya raya dan modern, tidak seperti Prapto yang kuno itu," kata Rini.


Silvi tak menjawab. Rini melanjutkan, "Dengar! Aku punya sebuah rencana yang pasti akan sangat kau sukai, Silvi. Rencana yang bisa membuat Prapto menyesal telah menceraikanmu, rencana yang juga bisa membuat pria kuno itu hidup sengsara."

__ADS_1


Silvi yang sakit hatinya sudah bagai setinggi awan itu mendadak tertarik mendengar perkataan temannya. Ia lalu menyeka air matanya. "Apa rencanamu?" tanya Silvi.


__ADS_2