
Dan pada senja hari cuaca ternyata masih hujan. Pak Oscar yang telah diberitahu oleh Prapto melalui pesan singkat, langsung membawa tiga cangkir kopi yang telah dibuatkan oleh Bu Inari ke meja terasnya, ketika ia melihat Nimo datang dengan payung ungu bercorak bunga, lalu disusul oleh Prapto yang mengenakan jas hujan warna hijau.
"Minum dulu, Nak Prapto, Nak Nimo! Sulutlah rokok kalian dulu!" kata Pak Oscar.
Nimo duduk terlebih dahulu. Setelah menggantungkan jas hujannya pada tiang teras Pak Oscar, Prapto lalu ikut duduk. Mereka bertiga sama-sama meneguk kopi kemudian menyulut rokok.
"Ada berita apa, Nak Prapto?" tanya Pak Oscar setelah menghembuskan asap cangklongnya.
"Pak Gumiro bilang bahwa pinjaman modalnya di sebuah bank swasta, yang telah disetujui, tiba-tiba dibatalkan oleh pihak bank tersebut, Pak Oscar," terang Prapto.
Pak Oscar dan Nimo mengernyitkan kening mereka.
"Kenapa Pak Gumiro tidak mencoba meminjam di bank lain saja, Bos?" tanya Nimo.
"Perusahaan ayah Timo itu bukan perusahaan yang besar, Nimo. Jadi, bank-bank lain tidak mau meminjamkan modal sebanyak yang Pak Gumiro perlukan untuk bekerja sama dengan desa Kejora.
"Bank itu pun mau meminjamkan modal pada Pak Gumiro karena beliau dijamin oleh temannya yang memiliki posisi lumayan tinggi di bank tersebut," terang Prapto. Ia lalu meneguk kopinya.
Nimo dan Pak Oscar mengangguk-angguk.
"Pasti ada yang terjadi, sehingga pinjaman modal yang telah disetujui itu dibatalkan dengan tiba-tiba. Ini bisa saja ada hubungannya dengan Kuda Terbang Corporation, Nak Prapto, Nak Nimo. Jadi, tidak mustahil juga si CEO Cuek itu telah melakukan sesuatu pada pinjaman model Pak Gumiro yang awalnya disetujui tersebut," tanggap Pak Oscar.
"Betul, Bos," kata Nimo, "siapa temanmu yang punya kerja sama bisnis dengan Kuda Terbang Corporation, Bos? Lebih bagus lagi bila temanmu itu sering mengadakan pertemuan dengan Tristan. Aku curiga bahwa Tristan lah, yang dengan cara tertentu telah berperan besar dalam batalnya pinjaman modal Pak Gumiro itu."
Prapto tertegun cukup lama. Pak Oscar menatap Nimo dengan isyarat bertanya. Nimo mengangkat bahunya. Mereka lalu menunggu Prapto bicara.
__ADS_1
"Ayahku," kata Prapto lirih, "ayahku punya kerja sama bisnis dengan Tristan dan ayahnya."
Pak Oscar kembali menatap Nimo. Mereka sekarang mengerti kenapa Prapto tadi tertegun cukup lama. Hubungan Prapto dengan kedua orang tuanya, yang sejak lama sudah renggang menjadi tidak baik setelah ia bercerai dengan Silvi, karena ibu dan ayahnya mengatakan tidak mau menganggap Prapto sebagai anak mereka lagi.
Pak Oscar tidak kalah bijaksana dengan Pak Dwipangga. Ia bisa paham apa yang tengah berkecamuk di hati Prapto sekarang. Namun Pak Oscar tidak mau menanyakan jika Prapto tidak membahasnya. Pak Oscar juga tidak mau menasihati jika Prapto tidak meminta nasihat kepadanya. Nimo pun paham. Mereka lalu meneguk kopi dan menunggu Prapto.
"Aku sangat merindukan mereka, Pak Oscar, Nimo. Tapi seperti yang aku ceritakan, Ayah dan Ibu tidak menganggap aku sebagai anak mereka lagi," kata Prapto, "aku meminta nasihatmu, Pak Oscar."
Pak Oscar menghembuskan asap cangklongnya. Kepala desa Kejora itu menatap Prapto sejenak. Katanya, "Sering kali orang tua itu tidak mau menurunkan keangkuhan mereka, Nak Prapto. Mereka sebenarnya tahu bahwa mereka salah, tapi mereka merasa malu sekali untuk meminta maaf kepada anaknya.
"Tapi, bagaimanapun, menurutku, masalah Nak Prapto dengan kedua orang tuamu itu belum lah masalah yang harus membuat Nak Prapto tidak mengunjungi mereka. Nak Prapto tidak harus meminta maaf kepada mereka, karena kau tidak salah.
"Cukup datangi saja ayah dan ibu Nak Prapto lalu tanyakan kabar mereka. Aku rasa setelah kau bersikap demikian, mereka akan meminta maaf padamu, atau mereka akan bersikap yang menandakan bahwa mereka meminta maaf," terang Pak Oscar.
Prapto mengangguk-angguk. "Terima kasih nasehatnya, Pak Oscar. Aku akan pergi dengan Pinaka, Pak, Nimo. Karena menurutku dia akan punya gagasan untuk menghajar si CEO Cuek itu, jika memang Tristan dan Kuda Terbang memiliki peran dalam penolakan pinjaman modal Pak Gumiro."
"Aku pun sependapat dengan Nimo, Nak Prapto. Bawalah Pinaka! Kau pakailah mobilku besok, tapi jangan lupa memeriksa bahan bakarnya sebelum pulang dari Jakarta," sambung Pak Oscar tertawa. Prapto dan Nimo pun ikut tertawa.
"Terima kasih, Pak Oscar. Kalau besok pagi tidak hujan, aku pakai motor Pinaka saja," jawab Prapto, "supaya tidak pulang terlalu malam jika Jakarta macet."
***
Malam harinya, sebelum tidur, Prapto menelepon Pinaka. Panggilan pertamanya tidak mendapat jawaban, karena Pinaka sedang merebus singkong pemberian Bu Intan, lengkap dengan selembar kertas yang bertuliskan cara merebus singkong.
Setelah beberapa saat, tepat ketika Pinaka hendak mengecek ponselnya karena mendengar dering telepon, panggilan kedua Prapto masuk.
__ADS_1
"Halo, Mas, Prapto. Aku tak sempat mengangkat teleponmu tadi karena aku sedang merebus singkong di dapur, ponselku di kamar," kata Pinaka.
"Kau bisa masak, Pinaka?" tanya Prapto.
Pinaka diam sejenak. Di buku yang ia baca, yang direkomendasikan oleh Bu Intan, buku yang bertentangan dengan paham feminis yang selama ini Pinaka anut, seorang wanita sejati harus pandai memasak, setidaknya memasak makanan pokok. Jika tidak bisa memasak, maka harus belajar.
Pinaka ingin mengatakan bahwa ia bisa memasak agar Prapto terkesan, tapi ia segera menggelengkan kepala dengan cepat. Ia tidak mau berbohong pada Prapto yang telah menarik hatinya. Rasa hormatnya pada Prapto membuat Pinaka tidak mau mendapatkan pujian dari Prapto dengan cara berbohong.
"Pinaka," panggil Prapto yang mengira suara Pinaka tidak terdengar karena jaringan ponsel bermasalah.
"Tidak, Mas. Tadi Bu Intan memberiku singkong. Aku tanya cara merebusnya, lalu Bu Intan menuliskan pada selembar kertas tentang cara merebus singkong," jawab Pinaka.
Prapto tersenyum penuh arti. "Baguslah jika kau sudah akrab dengan ibu-ibu desa Kejora, Pinaka. Nanti kau juga akan kenal dengan perempuan-perempuan yang seusiamu, sehingga kau akan merasa betah tinggal di desa ini. Aku senang kau mau belajar memasak, Pinaka," kata Prapto.
'Kenapa Mas Prapto senang aku mau belajar memasak?' tanya Pinaka dalam hati.
Pinaka tidak menjawab pertanyaannya sendiri, tapi ada perasaan bahagia di hatinya ketika mendengar Prapto mengatakan bahwa ia senang Pinaka belajar memasak.
"Pinaka, kau bisa ke Jakarta bersamaku besok? Aku perlu menemui pimpinan perusahaan yang akan mengadakan kerja sama bisnis dengan desa Kejora. Aku telah meminta tolong pada Nimo untuk menggantikanmu di perpustakaan."
Prapto lalu menjelaskan apa yang akan ia bicarakan dengan Pak Gumiro dan juga tentang kemungkinan bahwa Tristan memiliki peran dalam pembatalan pinjaman modal tersebut.
"Jika kau mau singgah ke rumahmu, kita bisa ke sana sebelum pulang ke desa Kejora," lanjut Prapto.
Pinaka diam sejenak untuk berpikir. Lalu katanya, "Aku bisa, Mas. Tidak usah singgah ke rumahku, Mas Prapto. Akhir pekan aku berencana untuk pulang sehari kok."
__ADS_1
"Okay, Pinaka. Besok pagi aku akan diantar oleh Nimo ke perpustakaan. Kita pakai motormu, ya."
"Okay, Mas."