Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
11. Undangan


__ADS_3

Dalam hatinya Silvi berterima kasih kepada Rini karena temannya itu telah menganjurkannya untuk menerima perjodohan ini, karena Tristan adalah pria yang tampan. Dan juga, dari wajah Tristan jelas bahwa ia adalah pria cuek seperti di novel-novel CEO yang sering Silvi baca.


Obrolan dalam pertemuan dua keluarga yang hendak berbesanan itu lebih didominasi oleh Jeng Salini dan Jeng Veni, daripada obrolan suami mereka. Setiap kali Pak Subarja atau Pak Rohan ingin saling bicara, istri mereka selalu tak segan-segan untuk memotong.


Dengan terpaksa Pak Subarja dan Pak Rohan mendengarkan pembahasan tentang tas, sepatu, baju, arloji, dan juga barang-barang antik yang mereka catat di dalam pikiran masing-masing untuk dihadiahkan kepada sang istri.


Bagi pria seperti Pak Rohan dan Pak Subarja, membanjiri istri dengan hadiah tanpa dalam rangka apa pun, adalah cara bagi mereka untuk membuat istri semakin cinta. Namun yang terjadi malah sebaliknya, hadiah-hadiah itu terus tidak cukup bagi Jeng Salini dan Jeng Veni.


***


"Pak, ini apa-apaan? Pak, coba ke sini deh!" kata Bu Inari pada suaminya. Ia tengah menonton sebuah saluran nasional yang menayangkan demonstrasi, dimana pesertanya adalah wanita semua.


Pak Oscar yang tengah asyik membaca artikel tentang cara memajukan desa lalu masuk ke dalam untuk melihat televisi. "Ada apa, Bu? Ada serangan monster di kota?" candanya.


"Yee, bukan, Pak. Ini ada demo yang tukang demonya wanita semua. Kaum Feminis judulnya," jawab Bu Inari. "Itu kaum apa, Pak?"


Pak Oscar yang tengah memandangi TV itu tertawa. "Ini, sih lebih bahaya dari monster, Bu. Kaum feminis itu adalah kaum yang tidak mau mengakui kepemimpinan suami di dalam rumah tangga. Bagi mereka suami dan istri itu kedudukannya sama, yaitu 50:50. Bahkan banyak dari mereka yang ingin suaminya tunduk padanya. Ibu mau ikut demo itu juga?"


"Aku cubit juga Bapak nanti!" sungut Bu Inari. "Aneh-aneh saja, ya, Pak pola pikir kaum feminis itu. Pantas saja kebanyakan pria jaman sekarang takut untuk menikah."


"Ya, Bu. Makanya kubilang mereka lebih bahaya dari monster. Tapi, Bu, kebanyakan pria-pria itu juga salah, karena mereka tidak berperilaku layaknya seorang pria. Mereka lemah, tidak tegas, dan takut pada istrinya. Atau malah sebaliknya, mereka kasar dan tidak menghargai istrinya. Mana mau wanita menghormati suami yang seperti itu?" terang Pak Oscar.


Bu Inari mengangguk-angguk. "Jadi, siapa yang salah jadinya, Pak? Wanita feminis itu atau para pria itu?"


"Mereka sama-sama salah, Bu. Selama polaritas energi maskulin dan energi feminin terbalik seperti itu, rumah tangga tidak akan terasa bahagia. Aku lanjut membaca di teras dulu, ya, Bu."


"Iya, Pak Kades," sahut Bu Inari.


***


Di depan bangunan dapur kebun mereka, Nimo dan Prapto sedang beristirahat sambil menyanyikan lagu Bon Jovi yang berjudul Love Lies (kebohongan cinta). Mereka baru saja selesai menanam ubi. Nimo yang memainkah gitar, sementara Prapto memainkan harmonika.

__ADS_1


Love lies


You're just a victim of the headlines


You're running on into a cold night


You're just a number to the love lies


Tiba-tiba genjrengan gitar Nimo berhenti. Ia lalu menatap Prapto dengan mata disipitkan.


"Kenapa kau berhenti, Nimo?" tanya Prapto heran.


"Itu kan cinta Silvi, Bos. Cinta Arini tidak bohong begitu," sahut Nimo. "Tukar lagu ah, Bos!"


Prapto geleng-geleng. "Ya sudah, One More Cup of Coffe-nya Bob Dylan saja!" kata Prapto. Ia lalu kembali memainkan harmonikanya.


Nimo dan Prapto bernyanyi sambil memejamkan mata karena menghayati lagu. Tanpa mereka sadari, seseorang ternyata telah berada di dekat mereka. "Mas! Mas!" panggil orang itu.


Ketika lagu mereka akan memasuki bait ketiga, orang yang memanggil tadi ikut menyanyikan lagu yang kebetulan diketahuinya tersebut, yang pada bagian itu dinyanyikan oleh Bob Dylan dengan nada suara yang agak tinggi.


Your daddy, he's an outlaaaaaaaaw


And a wanderer by trade


He'll teach you how to pick an' choose


And how to throw the blade


Suara alat musik yang dimainkan oleh Prapto dan Nimo mendadak berhenti. Mereka sama-sama melihat ke sumber suara yang ikut bernyanyi tadi.


"Maaf, Mas. Sudah saya panggil-panggil sejak tadi tapi Mas berdua terus saja bernyanyi. Jadi, saya pun ikut nyanyi," terang pria yang kisaran umurnya dua puluh lima tahun tersebut. "Saya ke sini mengantar undangan Mas. Di sini tertulis untuk Prapto."

__ADS_1


"Maaf, maaf," kata Prapto tertawa. "Ngomong-ngomong suaramu tadi bagus."


Setelah pengantar undangan itu pergi, Prapto lalu membuka undangan pernikahan tersebut sambil diperhatikan oleh Nimo yang duduk pada kursi di sampingnya.


Prapto mengernyitkan keningnya, begitu juga dengan Nimo. "Itu nama panjangnya Silvi Si Feminis itu, kan, Bos?" tanya Nimo.


Prapto mengangguk. "Iya, Nimo. Tristan ini kalau aku tidak salah adalah seorang CEO di sebuah perusahaan besar yang ada di Jakarta. Ia terkenal dengan julukan CEO Cuek. Berarti ibuku sudah bercerita pada Silvi bahwa aku tinggal di desa Kejora."


Nimo mengangguk-angguk. "Julukannya membuatku tertawa saja," sahut Nimo. "Aku rasa juga begitu, Bos. Kau galau, ya, Bos melihat undangan itu?"


Prapto menggeleng. "Tidak, Nimo. Aku tak akan pernah memaafkan pengkhianatan, Nimo, sekecil apapun itu. Jadi, aku tak akan bisa galau. Aku hanya agak heran, apa arti dibalik dikirimnya undangan ini? Hanya karena Silvi mengira bahwa aku akan kesal, atau ini sebuah tanda?"


"Tanda apa maksudmu, Bos?"


Prapto menyulut rokoknya terlebih dahulu. Setelah menghembuskan asap, ia lalu berkata, "Aku tidak terlalu bisa menjelaskannya Nimo, tapi instingku mengatakan bahwa ini adalah tanda dari Silvi bahwa ia akan melakukan sesuatu karena ia benci padaku."


Nimo menatap langit yang cerah sambil berpikir. "Kita lihat saja nanti, Bos! Kalau insting Bos itu memang benar, kita hadapi dengan keren," tanggap Nimo.


Prapto mengangguk. "Ya. Ayo, kita lanjutkan menanam tomat, Nimo! Hanya tinggal tomat saja bibit kita. Besok kita sudah bisa fokus untuk merawat tanaman dan ternak. Oh iya, tadi katamu kita jual hasil panen ke mana?"


"Ke kota kecil yang dekat dari sini, Bos. Di sana banyak yang mau beli untuk dijual lagi di pasar-pasar, bahkan ke supermarket dan mall," jawab Nimo sambil memasang sepatu bot-nya.


"Aku sempat bertanya-tanya tentang penjualan, Nimo. Apakah harga buah-buahan, sayur, dan hasil hewan ternak dari desa Kejora dihargai sama dengan hasil panen dari tempat lain, yang mengelola kebun dan ternak dengan bahan kimia?"


"Lebih mahal kisaran tiga sampai lima ribuan per hitungannya, Bos. Bedanya, yang orang kota pajang di supermarket atau di mall itu hanya lah yang mereka beli dari desa Kejora, karena hail ngebun yang dari desa Kejora alami semua. Masyarakat kota lebih tertarik dengan bahan makanan alami, Bos, karena sehat."


"Ada yang pernah melihat berapa harga dari hasil ngebun desa Kejora yang dijual di supermarket dan mall-mall itu?"


Nimo tercekat. Ia menatap Prapto dengan bola mata membesar. Nimo lalu menggeleng lemah.


"Besok kita cek, kita ajak Pak Oscar juga. Pertanian alami memang lebih sehat, tapi dibalik itu pengelolaannya membutuhkan tenaga dan ketekunan yang lebih dari pertanian yang menggunakan bahan kimia, Nimo. Tidak lucu bila supermarket dan mall-mall itu membeli murah hasil ngebun kita lalu menjualnya dengan harga yang tinggi!" terang Prapto.

__ADS_1


Nimo mengangguk. "Ayo serang!" katanya.


__ADS_2