
Pinaka sudah siap. Ia pergi ke teras. Apa yang dilihat oleh Pinaka kemudian membuat ia menggelengkan kepala. “Mas!” panggilnya sambil mengguncang bahu Prapto yang tertidur pulas sambil memegang buku.
Prapto membuka matanya. Ia tertawa sambil bahunya masih diguncang oleh Pinaka. “Aku sudah bangun, Pinaka. Ayo, berangkat.”
“Mas capek? Kalau capek, aku saja yang bawa motor?” Pinaka duduk di samping suaminya.
Prapto tersenyum. “Cuma capek sedikit, kok, aku masih kuat bawa motor. Ayo!” Prapto berdiri dan melangkah ke motor, diikuti oleh Pinaka yang rambutnya hari ini dikuncir.
Pinaka tahu betapa tekun dan inovatifnya Prapto dalam berkebun, sehingga ia tidak heran melihat Prapto tidur sambil duduk.
Prapto tak hanya sekadar berkebun. Ia akan terus belajar dan mencoba inovasi baru untuk meningkatkan kualitas berkebunnya. Lalu, jika ia mendapat temuan baru, Prapto akan memberitahukannya pada Pak Oscar untuk disampaikan oleh kepala desa Kejora itu kepada kepala keluarga lain di desa Kejora.
Prapto pernah bilang pada Pinaka, ‘Aku suka berkebun dan aku senang melakukannya. Aku akan menekuni berkebun sedalam-dalamnya agar bisa memberi manfaat pada perkebunan di desa Kejora yang amat aku cintai ini, Pinaka.’
Itu adalah salah satu dari banyak hal yang disukai dan dikagumi Pinaka dari suaminya. Ia selalu ingin berada di samping Prapto untuk mendukungnya, menyemangatinya, meskipun Pinaka tahu bahwa Prapto tetap akan semangat dan tekun meskipun tanpa dukungannya.
Justru itulah yang membuat Pinaka begitu menghormati dan mencintai Prapto, disamping sikap Prapto padanya yang penuh kasih tapi tidak lebay.
Jika Prapto adalah pria cengeng dan lebay pada wanitanya seperti yang terdapat di kebanyakan novel-novel online dan di televisi, mana bisa Pinaka percaya bahwa suaminya bisa menjadi tempatnya bersandar? Mana bisa pria seperti itu memimpin rumah tangga.
“Sampai jam berapa kita di pantainya, Mas?” tanya Pinaka ketika mereka sudah melewati gapura desa Kejora.
“Jaraknya sekitar satu jam an, Pinaka. Sampai jam enam an saja, sekalian melihat matahari terbenam.” Setelah berkata demikian, Prapto membelokkan motor memotong sebuah truk pengangkut sapi. “Kau sudah lapar, Pinaka?” lanjutnya.
“Okay,” jawab Pinaka. “Belum, Mas.”
“Kalau begitu, kita makan siangnya di pantai saja sambil melihat ombak dan ditiup angin laut,” kata Prapto tertawa.
***
Stepen sedang mengelap motor maticnya ketika sebuah mobil sedan masuk dan berhenti di halaman rumahnya. Mobil itu sudah tampak tua, dengan sebagian besar cat sudah memudar.
Stepen meletakkan kain pengelap. Ia memanggil istrinya untuk minta buatkan minum. “Lastri, Ayah datang.”
Lastri yang sedang nonton TV menoleh ke luar. “Mas juga mau minum?” tanyanya.
__ADS_1
“Iya, kopi, ya,” jawab Stepen. Ia lalu menyalami Pak Oscar yang sudah sampai di teras. “Ayah mau ngobrol di dalam atau di teras?”
“Di teras saja lah, Stepen, lebih sejuk,” jawab Pak Oscar. Mereka kemudian duduk.
Lastri datang meletakkan dua gelas kopi panas, menyalami ayahnya, dan ikut duduk.
“Lapen mana, Nak?” tanya Pak Oscar pada Lastri. Ia lalu menyulut cangklong.
“Pergi memancing, Yah, dengan Taro dan Lennon.”
Pak Oscar mengangguk-angguk. Ia lalu mengatakan pada Stepen, meminta menantunya itu untuk mengecat mobil. “Kurang satu warna lagi, tadi sudah aku cari di toko tapi habis. Kau punya cat warna hijau muda, Stepen?”
“Sebentar, Yah, aku tengok dulu.” Stepen pergi ke dalam untuk melihat koleksi catnya. Setelah memastikan tidak ada warna hijau muda, ia kembali ke teras. “Tidak ada, Yah.”
“Kalau begitu, aku akan ke kota Keladi sekarang, biar kau bisa mulai mengecatnya besok, Stepen.” Pak Oscar melihat jam di ponselnya.
“Tunggu, Yah. Nimo tadi berkunjung ke sini untuk mengobrol. Katanya, Prapto dan Pinaka pergi ke pantai. Ayah minta tolong titip saja pada Prapto. Dia ‘kan pulang lewat kota Keladi,” kata Stepen.
Pak Oscar tersenyum. “Ide bagus. Aku akan menelepon Prapto sebentar lagi. Sekarang mungkin mereka masih dalam perjalanan. Oh iya, aku akan tinggalkan mobil di sini, Stepen, nanti tolong antar aku pulang, ya.”
“Lastri, ayo main catur? Kali ini aku pasti menang lagi,” ajak Pak Oscar pada putrinya.
Lastri tertawa. “Ayo, Yah! Kapan memangnya Ayah menang?” tanyanya. Lastri langsung mengambil papan catur dari rak yang terdapat di terasnya.
Begitulah Pak Oscar. Meskipun Lastri sudah menikah dan tidak tinggal bersamanya lagi, tapi kedekatannya dengan putrinya itu tak pernah renggang.
***
Pinaka dan Prapto memasuki kawasan pantai yang tidak ramai pengunjungnya. Suasananya tenang dan lingkungannya bersih. Mereka memesan dua piring nasi goreng dan dua es teh lemon lalu pergi ke sebuah pendopo kecil di tepi pantai.
Pinaka membuka bungkusan yang ia bawa dan mengeluarkan kue bolu pisang buatannya yang sudah dipotong dengan rapi. Mereka makan kue sambil menunggu nasi goreng datang, sambil memandang lautan yang ombaknya tenang, yang di kejauhan tampak dua perahu nelayan dan sebuah kapal besar.
“Seperti tak ada ujungnya, ya, Mas,” kata Pinaka. Ia masih melihat ke arah laut.
“Iya, Pinaka. Tapi kalau dipikir-pikir, lautan ‘kan memang tidak ada ujungnya, tidak bisa dikatakan dibatasi oleh pulau-pulau. Malah semua pulau itu yang berada di tengah laut.”
__ADS_1
Pinaka mengangguk sambil mengunyah kue. “Iya, ya, Mas.”
Prapto menoleh. “Rasa bolu ini seperti aku sedang memakan campuran dari beberapa jenis pisang, Pinaka.”
“Iya Mas.” Pinaka tertawa. “Pisang yang kita panen ‘kan ada empat jenis. Yang aku masak ini campuran dari keempat jenis pisang itu. Lezat, kan, Mas?”
Prapto mengangguk. “Pisang-pisang itu sudah ada sejak aku membeli lahan. Pak Rodi yang menanamnya.”
“Permisi.” Ibu-ibu pemilik kedai datang membawa nasi goreng dan es teh lemon dengan baki. Pinaka menawarkan bolu pada ibu-ibu tersebut. Ia duduk di ujung pendopo lalu mengambil satu potongan bolu. “Lezat, Dik. Adik yang membuatnya?”
Pinaka mengangguk. Setelah berterima kasih, ibu-ibu tersebut kembali ke kedainya.
Pinaka mengangsurkan nasi goreng dan minuman ke dekat Prapto. Mereka mulai makan dan sesekali Pinaka menyuapi Prapto dengan nasi goreng miliknya.
“Ponsel Mas yang berdering,” kata Pinaka setelah membuka tasnya. “Dari Pak Oscar.”
“Tolong ambilkan Pinaka.”
“Halo, Nak Prapto,” sapa Pak Oscar dari seberang telepon.
“Halo, Pak Kades. Ada apa gerangan, Pak?” tanya Prapto. Ia meletakkan piringnya yang sudah kosong.
“Aku mau menitip cat warna hijau muda. Di toko bangunan desa kita kosong.”
“Okay, Pak. Di kota Keladi ada, kan, Pak Kades?”
“Ada, Nak Prapto. Terima kasih, ya.”
“Sama-sama, Pak.”
Prapto memberikan ponselnya kembali pada Pinaka untuk disimpan ke dalam tas. “Pak Kades menitip cat warna hijau muda, Pinaka. Beliau mau mengecat mobil tuanya.”
“Iya, Mas. Bu Inari ada cerita ketika ia berkunjung ke rumah kita bersama Bu Intan tadi pagi.” Pinaka menyusun piring kosong dan meneguk es teh lemon.
“Oh iya,” kata Prapto setelah menyulut rokok. “Ada yang mau aku bicarakan tadi pagi, Pinaka, tapi aku lupa.”
__ADS_1
Pinaka yang sedang meneguk es teh lemon mengerling pada Prapto.