Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
25. Cover Crop


__ADS_3

"Kau kenapa, Nak? Suaramu terdengar sedih."


Pinaka ingin menangis lagi karena mendengar suara yang penuh kasih di seberang telepon, tapi ia menahannya.


"Aku tidak apa-apa, Bu, hanya sedikit pilek. Aku mau cerita, Bu. Aku telah mengundurkan diri dari Kuda Terbang Corporation," jawab Pinaka.


Ibu Pinaka menghela napas panjang. "Kau serius? Tapi syukurlah, Nak. Ibu senang mendengarnya. Ayahmu sering bercerita bagaimana cara perusahaan itu beroperasi. Mereka licik. Kami membolehkan kau kerja di sana hanya karena posisimu bukanlah posisi yang ikut membuat keputusan.


Apa kau masih akan terus berkarier, Pinaka? Pikirkanlah lagi kata-kata kami! Kau berdagang saja lah di rumah seperti Ibu, atau berjualan lewat internet."


"Mungkin nanti, Bu," jawab Pinaka, "sekarang aku akan menjadi pustakawan dulu di sebuah desa. Dari Jakarta ke desa itu kira-kira dua jam naik mobil."


"Hah?" terdengar suara berseru kaget di seberang telepon, "sejak kapan kau mau tinggal di desa dan sejak kapan kau suka perpustakaan, Nak? Bukankah kau benci membaca buku?"


Pinaka sudah menduga bahwa akan ada ayahnya di samping sang ibu, karena setiap kali ia menelepon pada malam hari, ayah dan ibunya selalu bersama.


Pinaka hening sejenak. "Itu, Yah, aku pikir aku akan suka kehidupan di desa yang sejuk dan tenang. Di Jakarta terlalu bising dan banyak polusi. Aku sering membaca buku sekarang, Ayah. Membaca buku itu ternyata menyenangkan."


Terdengar suara tawa ayah dan ibu Pinaka dari seberang telepon.


Ayah Pinaka berkata, "Nak, kau tidak bisa membohongi kami. Kami tahu betul denganmu. Tapi, ya sudah, jika kau belum mau mengatakannya sekarang, kau harus menceritakannya pada kami nanti. kami senang kau keluar dari perusahaan licik itu. Kami juga senang kau tinggal di desa. Setidaknya, pengaruh pola pikir orang modern di desa tidak sekuat di kota.


"Kau sudah besar, Pinaka. Jika kau terus mengikuti tren wanita modern, kami takut kau tidak akan mendapatkan suami seorang pria sejati, atau kau malah tidak akan menikah. Sepertinya kau butuh mengobrol dengan ibumu, ya? Kalian mengobrollah dulu! Ayah mau merokok dulu di luar."


Setelah ayahnya ke luar dari kamar, ibu Pinaka bertanya, "Benar ada yang mau kau bicarakan dengan ibu, Nak?"


"Iya, Bu," jawab Pinaka ragu-ragu.

__ADS_1


"Kenapa ragu-ragu begitu? Katakanlah, Nak!"


"Bu, apa itu cinta dan apa alasan ibu mencintai Ayah?"


Setelah mendengar pertanyaan anaknya, meskipun ia tidak paham secara keseluruhan, namun ibu Pinaka bisa menduga kenapa anaknya tersebut ingin pindah ke desa dan menjadi seorang pustakawan.


Ibu Pinaka pun yakin bahwa suaminya juga sudah menduga hal tersebut. Dan itulah sebabnya ia merokok di luar agar Pinaka dan ibunya bisa mengobrol berdua.


***


Seperti biasa, pagi itu Lapen Oscario berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki bersama dua orang temannya. Tiga sahabat itu sama-sama akan menyelesaikan wajib belajar desa Kejora.


"Lapen, setelah kita lancar membaca dan menghitung nanti, aku akan sering-sering ke perpustakaan sambil terus belajar melukis dan beternak dari ayahku. Aku juga sudah menandai buku belajar melukis dan buku beternak," kata salah satu teman Lapen yang rambutnya dibelah tengah.


"Kau serius, Taro? Aku kira kau malah mau jadi penulis," jawab Lapen.


"Yang pastinya belajar beternak ayam. Tapi aku ingin beternak ayam hias. Terus nampaknya aku akan mempelajari cara budidaya ikan," jawab Lapen.


Kedua teman Lapen mengangguk-angguk.


Pasti banyak yang bertanya-tanya kenapa anak seusia Lapen, yang biasanya baru kelas dua di sekolah dasar sudah ingin mendalami suatu bidang tertentu. Itu juga lah yang awalnya membuat Prapto heran.


Namun kenyataannya, di desa Kejora tidak ada sekolah formal sama sekali. Wajib belajar di desa Kejora hanya belajar dasar beternak dan bertani, yang akan sangat berguna untuk bertahan hidup, dan wajib belajar membaca dan menghitung agar tidak ditipu oleh orang.


Nimo pun menjadi anak buah Prapto dulu bukan melewati jalur ijazah. Prapto sendirilah yang memperkerjakannya sebagai sopir dan pengantar berkas. Mereka bertemu ketika Nimo membantu Prapto memperbaiki mobilnya yang mogok dan mereka pun lalu menjadi teman.


Tapi, meskipun tidak belajar di sekolah formal, warga desa Kejora adalah warga yang cerdas dan terampil. Karena setelah pandai membaca dan menghitung, mereka langsung belajar dari ahlinya, sehingga mereka tidak perlu waktu sekitar enam belas tahun (sekolah+kuliah) untuk menguasai bidang ilmu atau keterampilan tertentu.

__ADS_1


Sejak desa Kejora terbentuk, kepala desa pertama serta masyarakat sepakat untuk menolak keberadaan sekolah formal. Keputusan mereka tersebut bukanlah tanpa alasan. Sang kepala desa berpendapat bahwa sekolah formal akan membangun pola pikir anak-anak untuk memilih menjadi karyawan, bukan menjadi pemilik bisnis atau usaha.


Bisa dibilang, desa Kejora sama dengan sebuah desa yang di huni oleh suku Baduy Dalam, yang ada di negara tetangga, yaitu negara Indonesia. Bedanya dengan suku Baduy Dalam, desa Kejora tidak menolak barang elektronik seperti televisi, ponsel, dan lain sebagainya.


***


Pagi-pagi sekali, setelah selesai memberi makan ternak, Prapto dan Nimo segera berkunjung ke kebun Pak Dwipangga untuk menanyakan tentang tujuan ayah Nimo itu menanam tanaman penghias. Sesampai di sana, mereka terlebih dahuku membantu Pak Dwipangga memanen beberapa tanaman.


Mereka bertiga kini duduk di depan bangunan dapur dan baru saja selesai menyantap hidangan yang dihidangkan oleh Bu Kinasih


"Aku lupa memberitahu kalian. Dan Nimo pun tidak menanyakannya padaku," kata Pak Dwipangga setelah menyulut rokoknya, "aku menanam tanaman penghias bukan hanya karena aku suka, Nak."


"Selama ini aku kira Ayah menanamnya hanya karena suka. Jadi, untuk apa Ayah?" tanya Nimo penasaran.


Pak Dwipangga tertawa. Katanya, "Istilahnya adalah tanaman penutup atau cover crop. Gunanya, agar rumput-rumput yang tumbuh tidak mendapat cahaya matahari lalu mereka akan mati. Jadi, kalian tidak akan susah-susah untuk menyiangi rumput lagi. Kebun kalian pun akan tampak lebih indah.


"Selain agar rumput tidak naik, fungsi cover crop juga untuk membuat tanah semakin subur. Cover crop yang bagus adalah cover crop yang memiliki bintil pada akarnya, yang berarti terdapat bakteri rhizobium, yaitu bakteri yang keberadaan dan aktivitasnya membuat tanah subur."


Prapto dan Nimo mengangguk-angguk. "Pantas saja hasil panen Bapak lebih bagus dan lebih berat daripada hasil panen kami. Terima kasih, Pak Dwipangga atas informasinya. Nanti kami akan mencari jenis-jenis tanaman yang cocok untuk dijadikan cover crop di yutub," kata Papto.


"Yang baru Ayah tanam itu jagung manis atau jagung untuk bahan pembuat pakan ternak?" tanya Nimo pada ayahnya.


"Jagung manis, Nimo. Nanti jika sudah panen, kau ajaklah Nak Prapto ke rumah! Ibu akan membuat pergedel jagung."


"Aman, Pak Dwipangga. Aku suka makan," jawab Prapto tertawa.


***

__ADS_1


Sore itu setelah berbenah, Prapto mendapatkan pesan singkat dari Pak Oscar, yang mengatakan bahwa Pinaka sedang di rumahnya untuk melaporkan kedatangan. Prapto segera mengayuh sepedanya. Ia mengajak Nimo terlebih dahulu lalu mereka bersepeda bersama menuju rumah kepala desa yang namanya kebarat-baratan itu.


__ADS_2