
Cuaca mendung tidak membuat semangat ngebun Prapto dan Nimo jadi menurun. Nimo tampak terus memeriksa tanaman dan prapto dengan cermat memeriksa kondisi hewan ternak serta rumah mereka. Angin mendung yang terasa amat sejuk membuat mereka tersenyum dengan penuh syukur.
"Aku suka ngebun di cuaca mendung begini, Bos," kata Nimo sambil melihat tanda-tanda pada tanaman tomat, untuk mengira-ngira kapan tomat-tomat tersebut bisa dipanen.
"Jadi, kalau cuacanya cerah kau tidak suka ngebun, Nimo?" tanya Prapto sambil menandai telur ayam dengan spidol, yang akan dipindahkan tempatnya untuk dierami. Telur-telur itu ditandai agar induk ayam lain yang bertelur di tempat induk ayam yang sedang mengeram bisa dengan mudah dibedakan telurnya.
Nimo berdiri, Ia lalu pindah ke kumpulan tanaman mentimun. "Bukan begitu, Bos Prapto yang gagah. Bos pasti mengertilah maksudku. Ngomong-ngomong, Bos, kapan kita ajak Pak Oscar untuk mengecek harga ke mall-mall dan supermarket-supermarket yang ada di kota besar?"
"Ketika gelombang panen nanti, Nimo. Karena kalau sekarang, tentu stok mereka sudah menipis, dan kita tidak akan bisa melihat harga dari semua hasil panen desa Kejora yang mereka jual. Sehari setelah gelombang panen, baru kita ajak Pak Kepala Desa yang namanya kebarat-baratan itu," jawab Prapto.
Nimo menyulut rokok sambil menggeleng-geleng. "Bos ini selain gagah, ternyata juga sangat cerdas, ya. Aku tidak gombal loh, Bos. Serius."
Prapto juga menyulut rokoknya. "Kau adalah sahabatku, tapi kau baru tahu kalau aku gagah dan cerdas. Ke mana saja kau, Nimo?" sahut Prapto tertawa. Mereka kemudian melangkah ke bangunan dapur untuk membuat kopi.
Setelah Nimo meletakkan panci yang berisi air ke atas tungku, mereka lalu duduk.
Prapto menoleh pada Nimo. "Nimo. Pertanian alami ini tidak banyak bekerjanya, ya, dibandingkan dengan pertanian umum dan pertanian organik."
Nimo mengangkat tangannya yang memegang rokok. "Ada yang harus dibetulkan dari pernyataanmu tadi, Bos."
Prapto menatap Nimo heran. "Maksudmu?"
Nimo bangkit dari duduknya. "Air sudah masak, Bos. Aku buat kopi dulu, ya, setelah itu baru kujelaskan," katanya.
Prapto menghela napas panjang. "Atur saja lah, Nimo!" katanya.
Nimo datang membawa dua gelas kopi panas sambil tersenyum lebar. "Yang akan aku jelaskan ini adalah hal yang butuh pemaknaan mendalam dan memakan waktu cukup lama, Bos, makanya aku buat kopi dulu agar kita tidak telat ngopinya."
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang ayo jelaskan, Pak Nimo yang bersahaja!"
Nimo tertawa. Ia lalu menatap langit mendung sebentar agar terlihat bijaksana. "Bertani dan beternak secara alami itu bagiku bukan bekerja, Bos. Salah satu penggagas pertanian alami yang berasal dari Jepang, yaitu Masanobu Fukuoka, berkata kira-kira seperti ini di dalam bukunya yang berjudul Revolusi Satu Jerami ..."
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bekerja (antara manusia, hewan, dan tumbuhan), dan menurut Masanobu Fukuoka, itu adalah hal yang konyol. Hewan dan tumbuhan mencari nafkah dengan hidup, tetapi manusia bekerja seperti orang gila.
Akan baik untuk melepaskan cara berpikir itu dan menjalani kehidupan yang mudah dan nyaman dengan banyak waktu luang. Dia berpikir bahwa cara hewan hidup di daerah tropis, melangkah keluar pada pagi hari untuk melihat apakah ada sesuatu untuk dimakan, lalu tidur siang yang panjang pada sore hari, pasti merupakan kehidupan yang indah
Nimo meneguk kopinya sambil melihat bos-nya mencerna kata-kata Masanobu Fukuoka yang ia sampaikan barusan.
Setelah Prapto mengangguk-angguk, Nimo bertanya, "Bos paham maksudnya?"
Prapto tersenyum. "Baru saja tadi kau bilang aku cerdas, Nimo, dan sekarang kau sudah meragukan kecerdasanku," katanya. Prapto lalu meneguk kopinya. "Coba kau terangkan! Aku rasa pemaknaanmu sama dengan pemaknaanku."
"Dalam beternak dan bertani alami, tujuan utamanya adalah memenuhi kebutuhan konsumsi kita tanpa perlu bersusah payah membelinya dan memusingkan soal harga, Bos. Menjual hasil panen itu hanya dilakukan apabila lumbung di kebun kita sudah kita isi untuk persediaan konsumsi dari panen ke panen selanjutnya," terang Nimo.
Nimo melanjutkan, "Ngebun alami juga membuat kita punya jauh lebih banyak waktu luang bersama keluarga, waktu luang untuk bersantai, maupun waktu luang untuk beristirahat. Jadi, kita bisa dengan mudah bahagia karena pikiran kita tidak sibuk memikirkan kegilaan terhadap uang. Apalagi suasana ngebun itu 'kan sejuk, Bos."
Bagi Prapto, meskipun uangnya sekarang tidak sebanyak uangnya ketika ia menjadi manajer perusahaan, namun hati dan pikirannya jauh lebih tenang dan lebih sejuk. Prapto benar-benar merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.
***
Beberapa hari yang lalu, Tini yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, setelah makan nasi goreng sea food sambil melihat pantai bersama selingkuhannya, tidak merasa cemas sama sekali ketika ia tahu bahwa ponselnya ketinggalan.
Tini sangat yakin bahwa ponselnya tersebut sudah ia kunci, dan memang itulah yang sering dilakukan oleh Tini agar suaminya tidak melihat isi percakapannya dengan 'Mila'.
"Kau yakin, Sayang, bahwa ponselmu sudah dalam keadaan terkunci?" tanya selingkuhan Tini dengan nada cemas.
__ADS_1
"Aku yakin, Bintang Sayang. Kau tidak usah cemas! Lagi pula Timo itu sangat percaya kok padaku." jawab Tini tertawa, tawa yang terdengar sangat meyakinkan.
Mobil mereka pun berhenti di depan gerbang rumah Tini. Tini baru saja keluar dari pintu mobil, ketika didengarnya suara teriakan dari kursi kemudi.
Di samping bangku kemudi, pintu mobil dibuka oleh Timo. Timo lalu menarik baju Mila, yang ternyata bernama asli 'Bintang' ke luar mobil. Bintang yang rambutnya disisir rapi ke belakang itu jatuh tersungkur. Baru saja Bintang berdiri dan membuka mata, sebuah kepalan tinju dilihatnya tengah melayang dari arah bawah.
"Bukkk!"
Bintang kembali mencium aspal. Setelah membuka matanya yang masih berkunang-kunang terkena uppercut-nya Timo, Bintang mendengar Timo berkata, "Enyahlah kau dari sini, Mila! Pukulanku tadi adalah untuk kesalahanmu karena berselingkuh dengan Tini yang sudah jelas punya suami. Selebihnya adalah salah Tini yang tidak setia padaku. Cepat Enyah!"
Bintang bangkit berdiri dengan mata yang masih berkunang-kunang karena takut mendengar bentakan Timo. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan segera melaju. Mobil Bintang meliuk-liuk sebentar sebelum melaju dengan stabil, karena matanya masih berkunang-kunang.
Kini Timo menatap Tini dengan pandangan berapi-rapi yang memancarkan kilau kekecewaan. Timo telah membulatkan tekadnya setelah dia menonton video yutub yang berjudul Apa yang Seharusnya Dilakukan Pria Sejati Jika Istrinya Berkhianat.
Timo menyeringai. "Ini adalah rumahku. Semua pakaian dan barang-barangmu sudah aku masukkan ke dalam koper dan koper itu bisa kau ambil di dekat pagar. Jangan berani menginjak rumahku! Aku menceraikanmu!"
"Duarrrr!"
Petir yang menyambar Silvi ketika diceraikan oleh Prapto kini juga menyambar Tini tepat di hadapannya. Tini berlutut menatap Timo dengan air mata bercucuran. Sama seperti Silvi, ketika Timo menjadi tegas dan bisa bersikap layaknya seorang pria sejati, rasa hormat dan rasa cinta di hati Tini pun tumbuh.
Tapi, juga sama seperti Silvi, Tini itu sudah terlambat. "Aku mohon, maafkan aku, Sayang! Beri aku kesempatan sekali lagi!"
"Jangan panggil aku dengan sebutan sayang, aku jijik mendengarnya. Tidak ada kata maaf untuk pengkhianatan, Tini, sekecil apa pun pengkhianatan itu. Pergilah!" kata Timo dengan nada suara yang tenang namun tegas dan memesona, membuat Tini semakin menyesal telah mengkhianatinya.
Timo masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Ia sama sekali tidak menghiraukan tangisan Tini yang semakin menjadi-jadi.
***
__ADS_1
Prapto dan Nimo telah tiba di kota Keladi untuk menjual hasil ngebun mereka. Namun, sesampainya mereka di toko tempat menjual hasil ngebun tersebut, Prapto dan Nimo dibuat heran karena penjaga toko mengatakan bahwa hasil panen mereka akan diperiksa terlebih dahulu sebelum dibeli.
Hasil ngebun Prapto dan Nimo itu pun lalu dibawa oleh penjaga toko tersebut ke ruangan belakang.