
Setelah menghembuskan asap rokok yang baru disulutnya, Timo menceritakan tentang penyelidikannya dan memperlihatkan catatan yang memuat hasil pencarian Pak Salidi. "Aku diikuti layaknya aku ini adalah seorang pencuri. Jadi, aku kerjai saja bapak itu," kata Timo, tertawa.
Prapto, Pak Oscar, Pak Gumiro, dan Nimo ikut tertawa.
"Kau kan memang sedang mencuri informasi, Timo," sahut Prapto. "Tapi ngomong-ngomong, kenapa tidak kita beli saja sayuran Jepang itu supaya bisa menelitinya dengan tenang dan tak buru-buru?"
Semua orang yang ada di kebun belakang rumah Pak Oscar itu terdiam, termasuk Prapto sendiri. Tak lama setelah itu, mereka tertawa serentak.
"Dan kenapa kau baru ada ide itu sekarang, Prapto?" tanya Timo.
"Sudahlah, Timo. Setidaknya kau bisa bertindak keren layaknya seorang detektif," sahut Prapo tertawa.
"Jadi, bagaimana hasil penawaran kerja sama bisnis kalian ke restoran mewah, Nak Prapto?" Pak Gumiro bertanya setelah meneguk kopinya.
Prapto melihat ke arah Nimo yang tampaknya ingin tertawa. Ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Pak Handoko yang ingin nama panggilannya terkesan kebarat-baratan. Kemudian Nimo bercerita tentang Prapto dan Pak Handoko yang beberapa kali menggeser kursi mereka ke depan secara bergantian. Semua orang tertawa.
"Berarti semua rencana kita berjalan dengan lancar, apa lagi kalau ide yang akan disampaikan oleh Nak Prapto untuk mengambil alih pemasaran sayuran Jepang di supermarket dan mall juga akan berhasil," kata Pak Oscar. Ia lalu menyulut cangklongnya.
Semua orang yang duduk di meja dekat taman Vimala itu kini menoleh pada Prapto.
"Aku punya penawaran yang akan sulit sekali untuk ditolak oleh pemimpin perusahaan yang memasok sayuran Jepang itu," kata Prapto.
Wajah Timo terlihat sedikit ngeri. "Kata-katamu mirip seperti kata-kata Don (sebutan untuk pemimpin keluarga mafia) mafia di film yang sering kita tonton itu, Prapto. Kau akan menempelkan pistol di kepala pemilik perusahaan itu?" tanyanya.
Prapto tertawa. Ia menyulut rokoknya terlebih dahulu, lalu berkata, "Aku sudah mematangkan rencana ini. Kita akan mengajak perusahaan pemasok sayuran Jepang itu untuk bicara. Lalu aku akan mengajaknya untuk bekerja sama, Timo.
"Kita nanti akan punya keunggulan dari perusahaan itu soal harga jual, karena kita tidak perlu mengimpornya. Akan aku ajak pemimpinnya untuk membuat perjanjian bahwa perusahaan itu tidak akan mengimpor sayuran dari Jepang lagi. Mereka harus membelinya dari desa Kejora.
__ADS_1
"Jika dia tidak setuju, ya sudah, mereka tentu akan kalah karena perbedaan harga sayuran Jepang kita akan jauh lebih rendah dari mereka. Kita bisa saja tidak mengajak mereka bekerja sama dan membuat mereka tersingkir dari bisnis ini.
"Tapi, pendapatku sama dengan Pak Gumiro, Pak Oscar, Timo, dan Nimo. Karena perusahaan itu tidak bersalah pada kita, maka kita harus berperikemanusiaan dalam berbisnis terhadap mereka. Jika mereka juga seperti Kuda Terbang, tentu aku lebih memilih untuk menjatuhkan bisnis perusahaan itu." Semuanya mengangguk setuju dengan Prapto.
"Tapi," lanjut Prapto, membuat semua yang ada di meja itu mantap penasaran menunggu kata-katanya. "Tapi kita tidak tahu nama perusahaan pemasoknya. Dan aku sedikit sulit untuk mencari tahunya karena mereka pasti tidak mau punya saingan bisnis." Prapto tertawa.
Pak Oscar mendapat akal. Katanya, "Ada satu cara yang aku temukan. Kita bisa menanyakan nama perusahaan itu pada pengawas yang mengikuti Timo ketika di mall kemarin."
Semua orang mengangguk.
"Tapi, tentu aku tidak bisa meminta bapak itu mengatakan nama perusahaannya, karena dia sudah curiga padaku," kata Timo. Ia lalu menoleh pada Prapto. "Kerahkanlah Jurus Penawaran yang Sulit untuk Ditolak-mu pada bapak itu, Prapto."
Semua orang kembali tertawa.
"Baiklah," jawab Prapto. "Hari masih belum siang. Beri aku alamat mall-nya, Timo."
Setelah Timo mengirim alamat mall tersebut pada Prapto melalui pesan singkat, Prapto menoleh pada Nimo. "Ayo, kita ke mall itu sekarang, Nimo!" ajaknya.
***
Nimo dan Prapto melaju dengan kecepatan yang terbilang lebih dari kecepatan rata-rata. Selain karena mereka tidak ingin tiba di rumah malam hari, mereka juga harus tiba di mall tersebut sebelum mall itu tutup.
Nimo yang mengemudikan motor menyalip-nyalip kendaraan lain dengan hati-hati namun pasti. Hingga akhirnya mereka tiba di parkiran mall yang telah diberi tahu alamatnya oleh Timo.
“Ayo, Bos! Aku penasaran pada wajah bapak-bapak pengawas itu,” ajak Nimo. Ia tertawa lalu melangkah ke dalam mall diikuti oleh Prapto.
“Belok sini, Nimo. Kan sudah dibilang Timo tadi setelah masuk pintu mall belok ke kiri,” kata Prapto, tertawa.
__ADS_1
Setelah tiba di bagian lantai dasar mall yang menjual buah-buahan, sayur, dan perlengkapan dapur, Prapto dan Nimo kini memperhatikan seorang pria paruh baya yang berdiri sambil melihat-lihat ke sekitar seperti sedang mengawasi tempat itu. Tangannya dilipat di taruh di belakang pinggang.
Wajah bapak itu tampak selalu serius. Pandangannya tajam mengawasi sekelilingnya. Dan pandangan tajamnya itu kini memperhatikan Prapto dan Nimo sambil terus berjalan.
“Bagaimana cara mengajak bapak itu bicara, Bos?” tanya Nimo penasaran.
Prapto tersenyum. “Begini, Anak Muda,” katanya. Ia lalu menghampiri bapak-bapak pengawas tersebut.
Pengawas yang sedang berjalan itu menghentikan langkahnya. Ia lalu menatap Prapto. “Ada yang bisa aku bantu, Pak?” tanyanya.
“Aku ingin bicara dengan Bapak,” sahut Prapto.
Pria paruh baya itu memperhatikan Prapto sejenak. “Tentang apa, Pak? Dan bicaranya bisa di sini saja? Aku sedang bekerja, tak bisa keluar mall ini.”
“Iya, Pak. Di sini saja,” jawab Prapto. “Perkenalkan, namaku Prapto, dan sahabatku ini adalah Nimo. Kami berdua dari perusahaan pangan yang bernama Kejora.”
Wajah bapak itu seketika berubah setelah mendengar kalimat ‘perusahaan pangan’. “Aku Sukardi,” jawabnya singkat. Ia lalu menyalami Prapto dan Nimo yang telah lebih dulu mengulurkan tangan mereka.
“Begini, Pak Sukardi,” kata Prapto. “Kami ingin menanyakan pada Bapak perihal nama dan alamat dari perusahaan tempat Bapak bekerja. Kami tahu Bapak bukanlah karyawan mall ini.”
Wajah Pak Sukardi berubah sedikit kaget, tapi dengan cepat ia sudah bisa tampak tenang dan serius kembali. “Maaf. Dari mana kalian tahu? Dan apa kepentingan kalian menanyakan nama dan alamat perusahaan tempat aku bekerja?”
Prapto lalu menjelaskan pada Pak Sukardi tentang rencananya mengajak perusahaan Pak Sukardi itu untuk bekerja sama. Ia juga menggambarkan sedikit tentang rincian tawaran yang akan ia tawarkan pada pemimpin perusahaan tempat Pak Sukardi bekerja.
Pak Sukardi tak menjawab, tapi wajahnya tampak menjadi lebih serius. “Sebentar,” katanya. Pak Sukardi lalu pergi agak jauh dari Prapto dan Nimo. Ia kini tampak sedang menelepon. Kemudian Pak Sukardi mengangguk-angguk.
Setelah kembali ke hadapan Prapto dan Nimo, Pak Sukardi berkata, “Minta nomer ponselmu, Prapto, nanti akan aku kirim nama dan alamat perusahaan. Kapan kau akan berkunjung?”
__ADS_1
Prapto dan Nimo tersenyum. “Besok Pak,” jawab Prapto. “Sekarang kami akan pulang dulu.”
Pak Sukardi mengangguk. Lalu untuk pertama kalinya, ia terlihat mengulas senyum walaupun hanya senyum sebentar. Pak Sukardi telah diperintahkan oleh pimpinannya untuk tidak gegabah ketika bicara pada Prapto dan Nimo, karena menurut sang pemimpin tersebut, Prapto dan Nimo tidak boleh diremehkan.