Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
33. Gerombolan Burung Melintas


__ADS_3

Prapto dan Nimo saling berpandangan. Ketika mereka menoleh kembali, orang tersebut telah mengangkat payungnya. Wajah orang itu kini tampak dengan jelas. “Ciluk baaa!” soraknya.


"Pak Oscar!" teriak Prapto dan Nimo, bersamaan.


Pak Oscar tertawa. Ia lalu ikut duduk di teras. "Kalian kaget?" tanyanya.


"Lumayan, Pak Kepala Desa. Sebentar, ya, Pak Kepala Desa, aku buatkan kopi untukmu dulu. Bapak dan Ibu sedang ke rumah Bibi." Nimo lalu masuk ke dalam rumah.


Pak Oscar menyulut rokoknya. Begitu juga dengan Prapto. Mereka diam untuk beberapa saat sambil melihat hujan yang turun.


"Ada apa gerangan Pak Kepala Desa datang hujan-hujan begini?" tanya Prapto memecah keheningan.


"Tidak hujan-hujan, kok, Nak Prapto. Kan aku pakai payung," jawab Pak Oscar, tersenyum. "Aku tadi mengirim pesan singkat pada Nimo untuk menanyakan Nak Prapto sudah pulang atau belum. Lalu kata Nimo, kau sudah pulang dan sedang di sini sekarang. Aku sedang ingin berjalan menapaki hujan, Nak Prapto, jadi aku ke sini."


Prapto mengangguk-angguk. Nimo kemudian datang membawa segelas kopi untuk Pak Oscar. "Silakan diminum, Pak Kepala Desa." Ia lalu menoleh pada Prapto. "Bagaimana tadi, Bos? Apa kata Pak Gumiro?"


Prapto menatap Pak Oscar. Ia menjelaskan terlebih dahulu pada Pak Oscar tentang perjalanannya ke jakarta tadi. "Begitulah, Pak. Dan barusan Pak Gumiro mengirim pesan singkat. Katanya, pinjaman modalnnya sudah bisa diambil. Lalu Beliau akan ke desa kita besok bersama Timo."


Pak Oscar dan Nimo mengangguk-angguk, tertawa mendengar cerita Prapto ketika ia menelepon Tristan. Sesaat kemudian, Pak Oscar dan Nimo tampak tengah berpikir.


"Aduh, Pak Kades!" seru Nimo, kaget, karena Pak Oscar tiba-tiba menepuk pahanya ketika ia tengah asyik berpikir.


Prapto dan Pak Oscar tertawa. Pak Oscar meneguk kopi lalu mengangkat tangannya yang memegang pipa cangklong. "Kalau begitu, besok kita harus mengadakan acara penyambutan untuk mereka. Katakanlah pada mereka, Nak Prapto, untuk datang pukul sepuluh pagi ke atas, agar kita bisa menyiapkan acara penyambutan dulu,"


"Okay, Pak Kepala Desa." Prapto lalu mengirim pesan pada Timo, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Pak Oscar.


"Tapi, Pak Kepala Desa," kata Nimo, "pukul sepuluh pagi itu ibu-ibu desa Kejora baru selesai memasak untuk keluarga mereka. Siapa yang akan memasak untuk Pak Gumiro dan Timo?"

__ADS_1


"Kita bisa menyiasatinya, Nak Nimo. Besok pagi kalian ikutlah denganku untuk meminta buah-buahan hasil panen ke beberapa warga. Buah-buahan saja yang kita hidangkan untuk mereka, ditambah dengan susu sapi. 'Kan tema kerja sama bisnis kita ini pertanian dan peternakan alami," terang Pak Oscar.


Prapto dan Nimo mengangguk setuju.


***


Pagi hari di musim hujan cuaca sering kali mendung. Desa Kejora yang rindang dan asri menjadi semakin sejuk karena terik matahari terhalang mendung.


Para warga desa Kejora, mulai dari anak-anak hingga orang-orang tua, kini tengah berkumpul di depan balai desa untuk menyambut kedatangan Pak Gumiro dan Timo.


Terdapat berbagai jenis buah-buahan di atas beberapa meja. Juga ada susu sapi di dalam beberapa teko. Warga desa Kejora tampak sudah tidak sabar untuk memulai bisnis baru mereka. Terlihat dari obrolan mereka, yang semuanya tentang menjual hasil ngebun.


Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam berhenti di jalan yang tak jauh dari bangunan balai desa. Dari mobil sedan hitam tersebut turun Pak Gumiro dan Timo.


Pak Oscar, Prapto, dan Nimo segera menghampiri mereka untuk bersalaman.


“Terima kasih, Pak Gumiro. Mari, kita ke depan balai desa untuk menikmati hidangan terlebih dahulu,” ajak Pak Oscar.


Pak Gumiro dan Timo berjalan sambil mengangguk menyapa semua warga yang ada di sana. Mereka lalu duduk di sebuah bangku panjang yang telah di sediakan. Di samping mereka, juga di sebuah bangku panjang, duduk Pak Oscar, Nimo, dan Prapto. Mereka berlima lalu menyulut rokok.


“Silakan dimakan dan diminum hidangannya, Pak Gumiro, Timo,” tawar Pak Oscar. “Semuanya alami. Tanpa bahan kimia, bahkan tanpa kompos.”


Pak Gumiro dan Timo tersenyum. Pak Gumiro lalu memakan buah pepaya, dan Timo mencoba buah duku. Ayah dan anak itu lalu mengangguk-angguk.


“Ini duku terlezat yang pernah aku makan, Pak Oscar,” kata Nimo. Ia lalu menuangkan susu sapi dari teko ke dalam gelas dan meminumnya. “Susu sapi ini juga lebih lezat dari susu kemasan yang impor.”


Pak Gumiro menimpali, “Seperti yang kuduga, bahkan lebih hebat dari dugaanku. Hasil ngebun desa Kejora sangat luar biasa.”

__ADS_1


Pak Gumiro lalu berdiri. Ia memandangi semua warga desa yang hadir di sana. “Semua hadirin tanpa terkecuali, terima kasih atas jasa kalian dalam terciptanya makanan dan minuman yang lezat ini. Saya, Gumiro, dan anak saya, Timo, sangat senang dan bangga bisa bekerja sama bisnis dengan desa Kejora.


"Mari, kita majukan bisnis pertanian dan peternakan alami yang tanpa merusak alam ini, tanpa menyakiti hewan, dan juga sehat. Hasil tani dan ternak desa Kejora akan memenuhi pusat perbelanjaan di Endonesa, dan akan kita usahakan sampai ke luar negeri. Semua itu akan kita mulai dari sini, sekarang, di desa Kejora ini.”


Semua yang ada di balai desa itu, termasuk Lapen Oscario bertepuk tangan. Lapen amat kagum dengan gaya bicaranya Pak Gumiro yang berwibawa tapi tidak terkesan angkuh. Di samping Lapen, Lennon dan Taro juga bertepuk tangan sambil geleng-geleng.


“Lapen, Kakek yang bicara tadi keren. Di mana kakekmu kenal dengan dia?” tanya Lennon.


Lapen berpikir sejenak. “Ooh. Dia adalah teman lama kakekku,” jawab Lapen.


Taro mengangkat tangannya untuk mencegah Lennon menanggapi Lapen. “Kau tahu Lennon? Kalau Lapen memulai kata-katanya dengan ‘oooh’, itu berarti dia mengarang.”


Lapen tertawa. “Taro benar,” katanya. “Aku tidak tahu di mana mereka kenal, Lennon. Tapi aku rasa mereka diperkenalkan oleh Paman Prapto.”


“Ah, kau ini Lapen. Kalau tadi Taro tidak mengatakan padaku, tentu aku sudah kena tipu olehmu,” sahut Lennon merajuk.


“Mana aku mau menipu sahabatku, Lennon. Palingan setelah kau percaya, aku juga akan bilang kalau aku hanya mengarang.”


Terdengar suara Pak Oscar berdeham beberapa kali. Semua mata kini tertuju pada kepala desa Kejora tersebut. Di samping kanan Pak Oscar berdiri Prapto dan Nimo, sedangkan di samping kirinya berdiri Pak Gumiro dan Timo. Mereka menghadap ke arah para hadirin.


Semua yang hadir kini menunggu apa yang akan dikatakan Pak Oscar. Angin dingin musim hujan bertiup, membuat suasana menjadi tambah sejuk.


Terdengar bunyi burung di tengah keheningan. Gerombolan burung ternyata tengah melintas di atas balai desa. Semua orang menengok ke atas.


Pak Gumiro tersenyum sambil melihat gerombolan burung tersebut. “Aku akan mencari cara agar dapat tinggal di sini bersama ibumu, Timo,” katanya, lirih.


“Lalu perusahaan Ayah di Jakarta bagaimana?” tanya Timo, yang juga sedang melihat gerombolan burung terbang.

__ADS_1


Pak Gumiro tidak menjawab. Ia hanya memperlebar senyumnya.


__ADS_2