
"Naik kereta api.. Entut entut entut"
"Ko entut ya? bau dong? hahahahaah" oceh Nawir sendiri
"Assalamualaikum Gus Nawir" sapa santri
"Walaikumsalam ukhty Jamilah" goda Nawir
"Ihh genit yaa Nawir.. Bilangin Abi Arkan nih" kata santri
"Bilangin aja, Abi pasti dukung Nawir.. wlleekk" kata Nawir
Sore itu Nawir berjalan menuju rumah Gus Afnan karena hari itu Shahia sudah diperbolehkan untuk pulang..
Sesuai niatnya, jika bayinya Shahia telah lahir ia ingin mengajaknya main mobil mobilan.. Ia membawa mobil mobilan truk dari kayu.. Dan satu mobil mobilan bis.. Ia begitu bersemangat apalagi pas tau nama sepupu bayi itu adalah Faris.. Ia sudah menyusun rencana untuk baby Faris..
"Assalamu'alaikum Farissss" teriak Nawir
"Wa'alaikumussalam"
"Yayah mana Faris? ayo yah kita ajak main mobil mobilan.. Nih Nawir udah bawa" kata Nawir polos
Gus Afnan menepuk jidatnya
"Faris masih bayi.. Belum boleh megang mobil mobilan.. Tangannya aja juga masih seuprit" kata Gus Afnan
"Tapi dia laki laki yah.. Dia harus main sama kaya Nawir" kata Nawir
"Iya ganteng.. Tapi dia masih kecil" jelas Gus Afnan
"Huhu Yayah Afnan payah.. Masa anak laki gak boleh main mobil mobilan" kata Nawir lalu ia menyelonong masuk
__ADS_1
Saat ia sudah berada di kamar Shahia, ia melihat bayi mungil yang putih dan tampan..
Bahkan ia sendiri sampai terpukau karena ketampanan bayi itu.. Tanpa sadar ia menjatuhkan mainannya dan langsung mendekati bayi Faris..
Dipegang tangan bayi Faris yang mungil itu.. Di elus elus penuh kelembutan olehnya..
Dan rasa ingin selalu disamping bayi itu muncul..
"Ehh ada Nawir" kata Shahia
"Bubu, kenapa tangan adik bayinya setengah mateng?" tanya Nawir
Shahia dan Gus Afnan dibuat heran.. Ko setengah mateng?
"Liat deh kecil banget.. Tuh kupingnya juga kecil banget.. Ini belum jadi yaa.. Gak kaya Nawir.. Tuh gedean Nawir" kata Nawir
" Ya karena Nawir kan sudah mulai besar jadinya tangan Nawir lebih besar dari tangan dedek Faris" jawab Shahia
"Enak itu yah, kata Abi telor setengah mateng bagus buat otak" saut Nawir
"Arkan anaknya mulutnya banyak" batin Gus Afnan
Semenjak ada Munawir, hidup Gus Afnan bukan hanya berwarna lagi.. Tapi rame serame ramenya.. Saking ramenya ia selalu dibuat jengkel sama anaknya Gus Arkan satu ini..
Setelah diberi pengertian, Nawir akhirnya paham kalau adiknya itu masih kecil dan belum bisa diajak main mobil mobilan..
Karena ia lama dirumah Shahia,Shahia memberinya makanan untuk teman nyemilnya bersama Ziya..
Ziya sebagai Kaka tertua ia begitu sangat menyayangi adik adiknya.. Walau terkadang ia juga suka dibuat kualahan sama tingkah laku Nawir, tapi ia selalu sabar..
Bagaimana kalau putri? putri anaknya terlalu pendiam.. Bahkan dia lebih pendiam dari Ziya.. Tapi putri juga anak yang cerdas.. Berbanding terbalik dari Munawir.. Ya munawir anak yang aktif..
__ADS_1
"Apa aku bakalan dirumah ini terus? aku masih mau bersama mereka ya Allah.. Aku gak mau jauh dari adik adikku.. Apa Yayah jadi ya kirim Ziya ke pesantren? Ziya gak mau ya Allah" batinnya sedih
Ia mengingat ucapan Gus Afnan yang akan mengirimnya ke pesantren lain selain di pesantren tempat ia di besarkan..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
Assalamu'alaikum, terimakasih semua yang setia membaca..
Bantu like,komen dan vote yaa..
__ADS_1
Terimakasih