
Pagi hari di rumah abah..
"Nida sayang.. Sarung mas dimana?" tanya gus Arkan kepada Nida yang didalam kamar mandi
"Ada di kasur mas, sudah Nida siapin" jawab Nida
"Gak ada sayang, kalau ada mas pake" kata gus Arkan
"Ada mas, lihat dong pakai mata, jangan pake mulut" kata Nida
"Dimana mana liat pakai mata sayang" kata gus Arkan
Clek
Nida keluar dari kamar mandi lalu menuju ranjang untuk mengambil sarung punya gus Arkan
"Mahadza?" tanya Nida
"Hehe sarung sayang 😁" jawab gus Arkan cengengesan
"Makanya dicari yang bener" kata Nida
"Lagih, sarung nyaru warnanya sama seprei.. Untuk seprei rumah, kalau seprei orang kan malu" kata gus Arkan
"Lah emangnya mau ngapain di kamar orang sampai teliti ke seprei seprei segala?" tanya Nida
"Ya kali ke rumah janda" jawab lirih gus Arkan
"Aw.. Aw.. Sayang sakit jangan di jewer.. Bercanda sayang.. Cuma Nida seorang yang mas sayang.. Cuma Nida doang yang mas cinta dunia akhirat sampai ke akhirat yang paling terdalam cuma Nida seorang yang mas cinta." kata gus Arkan
"Bohoong.. Itu buktinya mau ke rumah janda" kata Nida
"Bercanda sayang ku, cintaku, my darling, i love you, you love me and we are happy family.. La la la la la" kata gus Arkan sambil bertepuk tangan seperti anak kecil
"Ya Allah nak, bapakmu kepentok apa sih? Kenapa bisa begini" kata Nida mengelus perutnya yang sudah membesar
"Kepentok cintamu.. Aahhhayyyy" kata gus Arkan
__ADS_1
Setelah keributan masalah sarung dan janda, gus Arkan dan Nida menuju ruang makan untuk sarapan..
Di rumah gus Afnan, mereka sedang sarapan bersama.. Shahia menyiapkan sarapan untuk suami dan anak tercinta..
Ia menyuapi sang anak, sedangkan gus Afnan memakan sendiri..
Setelah sarapan, gus Afnan pamit kepada Shahia untuk berangkat mengajar..
Shahia menyalami tangan suaminya dan gus Afnan mencium kening Shahia..
"Yayah kerja dulu yaa, cari uit buat beli cucu Ziya ya sayang" kata gus Afnan berbicara seperti anak kecil
Ziya yang diajak berbicara merasa senang dan ia bertepuk tangan..
"Salim dulu sama yayah nak" kata Shahia menuntun tangan Ziya untuk salim kepada gus Afnan.
Sedari kecil, Ziya sudah di biasakan seperti itu.. Bertemu dengan siapapun ia selalu di biasakan untuk salim..
Karena anak seusinya masih sangat mudah untuk di bimbing dan di arahkan..
Shahia juga sudah mulai memperkenalkan Ziya huruf huruf hijaiyah..
Setelah gus Afnan pergi mengajar, Shahia mulai dengan aktifitasnya, Ziya diberi mainan agar dia anteng dan tidak mengganggu Shahia sedang masak untuk makan siang..
Sembari masak, Shahia juga melihat tingkah sang anak.. Ia senang, Ziya tumbuh jadi anak yang baik dan pintar..
Awal ia melahirkan, ia takut tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya, dikarenakan usianya juga masih muda dan belum ada pengalaman mengurus anak bayi.. Tapi Alhamdulillah itu semua ia bisa lewati..
Sempat stres dan takut tapi gus Afnan,umi,abah dan orang tuanya selalu memberi semangat dan memberi arahan kepada Shahia..
Hari ini ia memasak ikan tuna balado sama tumis kangkung,sedangkan untuk sang anak, ia masakin sop ayam..
Aroma masakan tercium hingga keluar rumah..
Tok.. Tok.. Tok..
"Assalamualaikum" salam seseorang
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam" jawab Shahia
"Shahiaaaaa" teriak seseorang
"Astaghfirullah.. Ratna, Evii." kata Shahia mengelus dada
"Heheheh afwan sha.. Kita tadi lagi lewat sini,, ehh mencium aroma yang membuat perut kita demo.. Heheh" kata Evi
"Ana tau ente laper kan? Ayuk masuk.. Kita makan" kata Shahia
"Tau banget ahh sobat aku ini" kata Ratna
"Kuyyy kita makan gratis" kata Evi
"Hallo babby Ziya sayangku" kata Ratna mencolek pipi gembul Ziya
Ziya yang dicolek pipinya, ia tak bergeming sedikitpun.. Ia tetap fokus dengan mainannya
"Wahh Afnan banget dah ini mah.. Cuek, pendiem hahahaha" kata Evi
"Ya anaknya 😄" kata Shahia
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung