
2 tahun kemudian..
"Alhamdulillah akhirnya lulus juga Tsanawiyahnya" batin Ziya
"Ukhty Ziyaaa"
"Ty iyaaaa" panggil Faris dan Mahreen
"Kesayangan ukhtyy" kata Ziya merentangkan tangannya
Kini mereka berpelukkan
Gus Afnan dan Shahia melihat ketiga buah hatinya berpelukkan tersenyum..
"Anak anak kita udah besar ya bu" kata gus Afnan memeluk pinggang Shahia
"Iya yah.. Seneng lihat mereka begitu" kata Shahia
Hari ini Ziya wisuda Tsanawiyahnya.. Ia akan melanjutkan Aliyahnya di negeri orang.. Ziya sudah memantapkan diri untuk jauh dari orang tua demi menuntut ilmu agama..
Mereka telah sampai di rumah.. Ziya sedang beristirahat dikamarnya karena lelah perjalanan jauh.. Ingin ia berkeliling pesantren, tetapi rasanya badan masih sangat lelah.. Akhirnya ia tertidur di kasur empuk kamarnya..
Suasana pondok begitu sepi karena para santri juga sedang berlibur..
Tidak terasa waktu begitu cepat.. Hanya sebentar saja Ziya berada dirumahnya setelah itu ia akan pergi lagi menuntut ilmu di negeri orang..
Hari telah berganti..
Pagi ini, Ziya membantu bubunya untuk menyiapkan sarapan untuk mereka makan..
__ADS_1
Mereka makan dengan lahap, begitupun Mahreen, ia sangat lahap sekali disuapi oleh bubunya..
"Enyak.. Makan bubu enyak.. Ezaat" kata Mahreen
"Pasti dong.. Makanan bubu pasti selalu yang terlezat" kata Faris
"Sudah makan dulu baru bicara" kata Shahia
"Ukhty Ziya jadi sekolah di Turki?" tanya Faris
"Insya Allah.. Doain yaa semoga gak ada halangan" jawab Ziya
"Emang gak angen malen talo jauh dali malen?" tanya Mahreen
"Kangen doong.. Tapi kan demi ilmu harus rela berkorban" jawab Ziya
Setelah sarapan, Ziya membuka kitab kitab yang akan ia ulang untuk dipelajari.. Ia tau, jika tidak dibaca baca lagi pasti akan lupa..
Gus Afnan membantu menjelaskan dan memberi sebuah pertanyaan untuk Ziya..
Ziya senang jika saat tanya jawab seperti itu.. Semakin banyak ilmu yang ia dapat semakin ia merasa bahwa ia sangat bodoh..
"Sudah ikhlas untuk jauh lagi dari yayah?" tanya gus Afnan
"Insya Allah ikhlas yah." jawab Ziya
Gus Afnan menangis, baru kali ini ia menangis kepergian anaknya.. Padahal ini kemauannya agar sang anak pergi menuntut ilmu di negeri orang, tapi rasanya hati goyah.. Ia merasa tak sanggup, apalagi anak perempuan pertama yang akan jauh darinya..
Bagaimana Ziya di negeri orang? apakah Ziya akan sehat? apa makannya akan teratur? apa akan selalu aman? bukan ia tak mempercayai Allah yang akan melindungi anaknya.. Tapi sebagai orang tua, jauh dari anaknya rasanya begitu berat.. Mungkin jika masih di Indonesia, ia tak akan secemas ini.. Tapi ini di negeri orang yang kita tak tau seperti apa sekarang.. Setiap negera berbeda beda, pergaulan dulu ia dan sekarang itu sangatlah berbeda.. Ia takut anaknya kenapa kenapa disana..
__ADS_1
Di dalam kamar, gus Afnan berbicara pada Shahia.. Apa ia batalkan saja kepergian Ziya ke turki? tapi Shahia melarang, jangan patahkan semangat sang anak.. Apapun kemauannya jika hatinya sudah ikhlas, dan semangat untuk hal itu maka jangan kecewakan.. Bisa jadi itu adalah mimpinya walau di awal adalah keinginan sang yayah..
Akhirnya gus Afnan mencoba ikhlas kembali.. Ia buang semua rasa takut dan gundah di hatinya..
"Nak, yayah ikhlaskan Ziya pergi demi agama sayang.. Doa yayah selalu buat Ziya" batin gus Afnan
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1