Pesantrenku Saksi Cintaku

Pesantrenku Saksi Cintaku
Ep. 119 Season 2


__ADS_3

Para santri yang melihat Munawir di panggul seperti beras oleh sang Abi, mereka terlihat menahan tawanya.. Ada lucunya, ada kesiannya.. Mereka mau tertawa gak enak ada Gus Arkan.. Tapi gak ketawa gak afdhol..


Ketawa dosa, gak ketawa lucu.. 😂


"Apa liat liat!! aku ganteng yaa" seru Munawir kepada santri


"Diem nak jangan berisik" tegur Gus Arkan


"Pesona Nawir turun abii.. Nanti cewe cewe gak mau deket lagi sama Nawir" kata Munawir


"Lagunya bocah yaa.. Masih kecil tetauan pesona.. Hahahaha" pecah tawa Gus Arkan


Dari kejauhan Nida melihat sang anak di panggul oleh sang suami..


"Ya Allah Abi.. Kenapa anaknya di gendong di punggung.. Dikata karung beras kali" kata Nida


"Umi, masa Munawir gak boleh doain Abah.. Abi dosa ya umi?" tanya Munawir


"Kenapa si mas?" tanya Nida


"Anak mu bikin ulah terus" jawab Gus Arkan meninggalkan mereka dan menuju masjid kembali


"Anak aku? gak sadar apah ini kan copyan nya dia" gumam Nida


Lalu Nida mengajak Munawir masuk kedalam rumah, terlihat para santriwati sedang menata kue di piring piring..


Nida yang berjalan menuju kamar tak melihat bahwa sang anak sudah hilang lagi..


Tanpa ada yang sadar, masing masing jenis kue hilang dari piring piringnya..


"Susan, ko lempernya belum ente taruh si? Kan ini mau dibawa ke masjid" kata Eli


"Kholas.. Semua udah ane taruh" jawab Susan


Saat mereka tersadar ada anak kecil tak jauh dari merek..


"Hmmmm Gus Nawiiiir" seru mereka


"Apa sih? berisik deh.. Laper tau.. Nyammm enakk" kata Munawir yang sembari makan kue


"Sana Gus, nanti dicariin umiii" kata Susan


"Gak, umi gak tau" kata Munawir


"Munawiiirr" panggil Nida


"Tuh kan.. Tuh kan.." kata Susan dan Eli


Dengan sigap Munawir berdiri lalu berlari keluar karena ia takut umi nya marah karena ia sudah mengambil kue tanpa bilang..


Para santri tertawa melihat Munawir lari terbirit birit keluar..

__ADS_1


"Aina Munawir?" tanya Nida


"Gus Munawir keluar ustadzah" jawab Susan


"Itu anak bener bener yaa" kata Nida frustasi


Hari semakin larut, para jamaah sudah pulang kerumah masing masing.. Sebagian santri masih ada yang di masjid untuk membereskan masjid.. Semua santri putra diberi tugas masing masing..


Santri putri juga begitu.. Namun tak lama mereka balik ke asrama masing masing karena mengingat esok harus sekolah kembali..


Para asatidz tidak tega kalau santri putri juga harus ikut begadang hingga larut..


Umi masih terdiam di kamarnya sembari memegang sorban yang biasa Abah pakai.. Kesedihan mendalam masih terasa di hati Umi..


Gus Afnan dan Gus Arkan menghampiri umi lalu memberi kekuatan untuk Umi..


"Abah sudah tenang umi.. Ikhlaskan yaa" kata Gus Afnan


"Umi ikhlas nak.. Umi ikhlas" kata umi berkaca kaca


"Umi masih ada Arkan, mas Afnan, menantu dan cucu cucu umi.. Umi gak sendiri.. Masih ada santri juga disini" kata Gus Arkan memeluk sang umi


Ibu dan kedua anak itu saling berpelukan guna menguatkan satu sama lain..


Terdengar ketukan pintu dari luar kamar.. Dan ternyata Nida yang datang..


"Ada apa sayang?" tanya Gus Arkan


"Lah kan tadi mas kasih ke kamu" kata Gus Arkan


"Ada apa nak?" tanya Umi


"Munawir belum pulang umi" jawab Nida


"Sudah di cari? di asrama putra kali" kata Gus Afnan


"Gak ada mas.. Sudah Nida tanya sama santri" jawab Nida


Mereka langsung panik..


Para santri putra yang tadinya mau beristirahat karena besok sekolah, akhirnya mereka urungkan karena disuruh mencari Munawir dulu..


Sudha pukul 12:30 dini hari tapi Munawir tidak ketemu.. Nida sudah menangis tak karuan.. Shahia terus mencoba menenangkan Nida namun tak bisa.. Walau sering membuat ulah, tapi Munawir tetap anak kesayangan..


"Ehh siapa ini?" batin santri


Ada anak kecil di bawah tangga tertidur dengan muka yang ditutupi dengan peci..


"Bismillah coba ah liat" batin santri


"Astaghfirullah Gus Munawir" pekik santri itu

__ADS_1


Dia mencoba membangunkan Munawir namun anak itu tak kunjung bangun..


Akhirnya dengan terpaksa ia gendong Munawir dan membawanya kerumah Umi..


"Assalamu'alaikum" salam santri


"Wa'alaikumussalam ya Allah Munawir" teriak Shahia


"Ustadzah Afwan.. Tadi ana nemuin Gus Munawir tidur dikolong tangga santri putri" jelas santri itu


"Ya Allah iya labasa.. Syukron yaa udah bawa Munawir kesini" kata Shahia


"Na'am ustadzah.. Ana awalan" kata santri


"Na'am.. Syukron yaaa" kata Shahia


Ia langsung membawa masuk Munawir dalam gendongannya lalu merebahkan tubuh Munawir di kasur kamarnya.. Nida yang mengatahui Munawir telah pulang langsung berlari ke kamar sang anak..


Ia memeluk sang putra hingga tertidur..


Shahia sudah memberitahu Gus Afnan dan Gus Arkan juga.. Bahwa Munawir telah pulang..


Lalu Shahia dan Gus Afnan beserta anak mereka pulang kerumah mereka..


"Ada ada aja tingkah itu anak ya Bu.. Haduhh semoga Faris tidak begitu nanti.. Lucu sii.. Gemes.. Cuma bikin ihhh susah deh diungkapkannya" kata Gus Afnan


"Iya yah.. Bubu aja tadi udah kalang kabut mikirin tuh anak" kata Shahia bersandar di dada sang suami


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2