Pesantrenku Saksi Cintaku

Pesantrenku Saksi Cintaku
Ep. 118 Season 2


__ADS_3

Siang itu, pesantren di datangi banyak sekali pelayat yang ingin melihat Abah untuk terakhir kalinya.. Semua para santri sibuk.. Ada yang membuat tenda, ada yang menyiapkan kain kafan, ada yang menyiapkan alat untuk memandikan jenazah, dan ada yang menggali kubur.. Karena Jenazah akan di kebumikan di halaman samping masjid pesantren..


Keluarga Shahia dan keluarga Nida sudah diberi kabar atas kepergian besannya itu..


Umi tak pernah beranjak dari duduknya.. Umi terus berada disamping jenazah Abah..


Gus Afnan dan Gus Arkan menemui para pelayat yang datang, begitupun dengan Nida..


Shahia sedari tadi hanya di dalam kamar Nida karena melihat Faris masih kecil, jadi tak memungkinkan untuk dibawa keluar apalagi mendekati Abah.. Kalau kata orang dulu ngeri sawan.. Shahia hanya sesekali keluar menemui para pelayat jika Faris tengah tertidur..


Ziya yang sudah pandai membaca Al-Qur'an juga tak beranjak dari samping Abah.. Ia membaca surat Yasin terus menerus hingga disediakan air oleh Shahia karena takut tenggorokannya kering.. Ziya sudah di beri pengertian oleh Gus Afnan bahwa Abah sudah tiada.. Abah sudah meninggal.. Abah sudah berada di surga..


Putri berada di dalam kamar bersama Faris.. Ia merasa sedih, walau ia masih berumur 5th tapi ia sudah mengerti bahwa rumah lagi dalam keadaan duka.. Melihat banyak orang yang menangis..


Bagaimana dengan Munawir?


Tentu ia juga tidak mau kalah dengan Ziya, ia berada di samping jasad Abah.. Ia membaca iqro di samping Abah..


Sungguh menggemaskan anak laki satu ini 😂


Adzan Ashar berkumandang..


Jenazah Abah di bawa ke dalam masjid dan di letakkan di sisi masjid, setelah mereka melaksanakan shalat ashar.. Mereka lalu melaksanakan shalat jenazah..


Masjid penuh dengan pelayat yang ikut menshalatkan Abah dan ikut mengantarkan Abah ke tempat peristirahatan terakhirnya..


Umi,Nida,Shahia,Ziya,Munawir dan putri sudah berada di samping liang lahat tempat peristirahatan terakhirnya..


Jenazah Abah mulai di turunkan ke dalam liang lahat.. Gus Afnan mengumandangkan Adzan di telinga jasad Abah..


Ya, mengapa saat meninggal kita di adzankan? karena saat kita lahir kita juga di adzankan.. Pertama kali kita lahir ke dunia, kita di kenalkan dengan Allah, kita diingatkan dengan Allah.. Begitupun saat meninggal, kita juga di adzankan kembali agar kita mengingat Allah..


Karena Allah lah yang menghidupkan kita, jadi kalau Allah meminta kita kembali ke sisinya, maka kembalilah.. Hidup dan mati kita ada ditangannya..


"Umi yang ikhlas" lirih Shahia memeluk mertuanya


"Kenapa tidak ada tanda? Abah sehat sha.. Abah sehat" lirih Umi menangis


"Alhamdulillah umi, Abah gak merasakan sakit.. Allah sayang sama Abah" kata Shahia


Setelah tanah terburuk kembali.. Gus Afnan memegangi papan nisan abahnya..


"Abah yang tenang di surganya.. Afnan akan menjadi seluruhnya yang Abah tinggalkan di bumi ini.. Afnan akan menjaga umi dan yang lainnya termasuk menjaga pesantren ini" batin Gus Afnan


Gus Arkan memimpin tahlil di makam Abah..


Nida menatap kosong ke arah papan nisan Abah.. Banyak kenangan Nida dengan Abah karena ia setiap hari selalu berada dirumah memasak makanan buat Abah..

__ADS_1


Begitupun Umi, Umi yang paling bersedih diantara yang lainnya.. Air mata umi tak henti hentinya menetes walau sudah di tahan tetap saja tidak bisa.. Serasa masih ada Abah di sisinya..


"Ziya, sini nak taburin bunga di makam Abah" kata Gus Afnan


"Iya yah" jawab Ziya


Para cucu cucu Abah menaburkan bunga diatas makam Abah tercinta mereka..


Hari semakin sore, para pelayat yang hadir beserta keluarga akhirnya balik menuju rumah, karena Gus Afnan memberi tahu nanti malam akan ada pengajian yang disebut turun tanah.. Ini biasanya adat yaa..


Sebagian para santri ada yang masih di makam untuk mengaji di makam Abah.. Karena Gus Afnan meminta selalu ada yang mengaji di makam Abah selama 40 hari full..


Sebagian santri ada yang membereskan masjid, karena pengajian akan di adakan di masjid nanti ba'da isya..


Di rumah Gus Afnan


"Mas.." panggil Shahia


"Sayaang" saut Gus Afnan


"Ikhlaskan.. Jangan begini" kata Shahia yang melihat sang suami bersender di kepala ranjang


"Mas ikhlas sayang.. Mas ikhlas" jawab Gus Afnan lirih


"Yayah jangan sedih, Abah tersenyum ko melihat kita.. Abah gak sedih ninggalin kita" kata Ziya


"Iya bubu.. Abah tersenyum sama kita tadi waktu di rumah Jiddah" jawab Ziya


Ya, menurut mitos orang dulu.. Arwah orang yang baru meninggal masih berada di dalam rumah selama 40.. Setelah itu mereka akan pergi, seolah tugas mereka telah selesai..


Gus Afnan tersenyum saat sang putri berbicara seperti itu.. Ia mengusap kepala putrinya.. Lalu mengecup lembut kepala putrinya.. Mereka lah kekuatan Gus Afnan.. Mereka penyemangat Gus Afnan..


"Bu, tolong siapin Koko dan sarung Yayah.. Yayah mau kerumah sana bantu yang lainnya" kata Gus Afnan


"Iya yah.. Yaudah buka dulu bajunya" kata Shahia


"Nanti malam aja Bu, jangan sekarang" goda Gus Afnan


Shahia melongo mendengar ucapan Gus Afnan


"Bisane loh.. Pikirannya yaa.." seru Shahia


"Hehehehe piss buubuuu" kata Gus Afnan nyengir


"Wong lagi duka, sempet2nya itu fikiran" kata Shahia geleng geleng kepala


Malam hari saat pengajian, semua khusyuk membaca tahlil.. Disaat para jamaah sedang membaca surat Yasin.. Ada suara cempreng yang mengganggu ke khusyu'an para jamaah..

__ADS_1


"Alif... Ba.. Taaa.. Tsaaaa.. Jimmm.. Haaa.. Khooo..." suara cempreng Munawir


Dengan cepat Gus Arkan langsung membekap mulut sang anak dan membawanya ke luar masjid


"Ayo pulang" kata Gus Arkan


"Gak mau abii" teriak Munawir


"Jangan kenceng kenceng bacanya.. Kan lagi baca Yasin.. Bukan baca iqro sayangnya abiii" kata Gus Arkan


"Tapi kan Munawir pinter abii.. Munawir lagi doain Abah" kata Munawir


"Huuffft.. Iya iya.. Tapi jangan kenceng kenceng yaa.. Munawir dengerin yang lain baca yasin aja yaa" kata Gus Arkan


"Abi dosa nanti loh gak doain Abah.. Nanti Abi jadi anak yang durhaka" kata Munawir


"Bukan begitu.. Kamu dengerin aja udah yang lain baca Yasin.. Nawir kan masih kecil belum bisa baca Yasin." kata Gus Arkan lalu mereka masuk lagi kedalam masjid


Karena Munawir yang belum bisa membaca Yasin akhirnya ia berdiam duduk saja memperhatikan para jamaah membaca Yasin..


Kejenuhan mulai melandanya, akhirnya ia dengan iseng menyusun air mineral kemasan yang disediakan untuk jamaah menjadi sebuah piramid..


Brrraaakkk


Tumpukan air itu jatuh, dengan sigap Gus Arkan langsung membawa Munawir pulang kerumah dengan cara dipanggul di pundak Gus Arkan..


Gus Arkan udah greget sama anaknya yang bikin ulah terus 😂


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2