Pesantrenku Saksi Cintaku

Pesantrenku Saksi Cintaku
Ep. 125 Season 2


__ADS_3

Malam harinya pukul 01:30 dini hari, Gus Afnan dan Shahia terbangun untuk melaksanakan shalat tahajud.. Setelah shalat tahajud mereka berdzikir bersama, berdoa memohon ampun kepada sang pencipta..


Masih dalam memakai munkena dan Gus Afnan memakai sarung.. Beralaskan sajadah untuk shalat dan bersender di pinggir tempat tidur, Shahia mendaratkan kepalanya di dada bidang Gus Afnan, dan Gus Afnan mengelus lembut kepala Shahia..


Waktu bersama untuk berdua hanya bisa dimalam hari, karena dari pagi hingga anak anak terlelap tidur, Shahia memfokuskan diri kepada anak anak.. Terutama Faris yang masih TK dan butuh perhatian lebih..


"Gak kerasa ya mas, Ziya sudah besar.. Kurang dari 2 bulan lagi Ziya sudah dioper ke pesantren lain untuk menuntut ilmu" kata Shahia


"Iya sayang.. Nanti dirumah tinggal kita bertiga doang" jawab Gus Afnan


"Sepi ya mas" kata Shahia


"Emangnya belum ada tanda tanda?" tanya Gus Afnan


"Doain aja ya mas secepetnya.. Sha juga pengen punya anak lagi.. Pengen denger suara tangisan bayi lagi" jawab Shahia


"Aamiin.. Kita masih muda, mudah2an diberi kepercayaan lagi" kata Gus Afnan


"Mas merasa muda?" tanya Shahia meledek


"Buuuu, Yayah masih gagah loh.. Gak percaya? Yayah buktiin nihh" kata Gus Afnan mau membuka baju


"Ehh eh eh.. Jangan jangan.. Bubu percaya.. Hehehehe sekarang bubu mau siapin makan sahur dulu yaa.. Yayah bangunin anak anak.. Sudah jam 3 loh ini" kata Shahia


Akhirnya Gus Afnan membangunkan anak anak ke kamar mereka dan Shahia menyiapkan makanan untuk mereka sahur..


Pagi harinya, para santri sekolah seperti biasa, begitupun dengan para cucu cucunya jiddah..


Hari ini ziya sudah rapih dan segera berangkat sekolah.. Namun tidak dengan Faris, ia hari ini bermalas malasan dengan alesan mengantuk karena sahur..

__ADS_1


Gus Afnan terus membangunkan Faris yang masih menempelkan kepalanya di bantal empuknya itu.. Karena tak kunjung bangun, akhirnya Shahia menggendong anaknya dan membawanya kekamar mandi..


"Kayanya Faris mulai sama kaya Munawir masih kecil" celetuk Ziya


"Jangan ampe sayang.. Bubu dan Yayah kalem kalem.. Beda dengan Abi Arkan." saut Gus Afnan


"Hahahaha" tawa Ziya pecah


Hari ini para asatidz semua sibuk dikarenakan jadwal mengajar mereka..


Hanya ada beberapa asatidz saja yang standby di kantor karena mereka memang orang orang TU..


Gus Afnan selalu memantau kelas kelas disaat kegiatan belajar sedang berlangsung..


Dilihat sang sahabat yang mengajar kurang semangat, ia lalu masuk kedalam kelas itu..


"Assalamu'alaikum" salam Gus Afnan


"Limadza?" tanya Gus Afnan


"Ana maridh" jawab ustadz Bahar


"Kalau sakit kenapa di paksa.. Yaudah pulang lah, biar ana yang gantiin ngajar" kata Gus Afnan


"Afwan yaa" kata ustadz Bahar tidak enak


"Labasa, gak masalah" kata Gus Afnan


Akhirnya ustadz Bahar pulang menuju rumahnya yang berada masih 1 lingkungan dengan pesantren..

__ADS_1


Semua para asatidz yang mengajar disini, jika sudah berkeluarga disediakan rumah oleh pihak pesantren, agar lebih mudah mengurus santrinya.. Walau tidak besar, hanya ada 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur, dan ruang keluarga.. Tetapi jika ada yang memiliki rumah sendiri tidak menjadi masalah, itulah hak mereka..


Oh iya, bagaimana dengan teman teman Shahia?


4 tahun yang lalu mereka pada mempunyai kehidupan masing masing, dalam artian mereka sudah menemukan jodohnya masing masing.. Evi bersama ustadz hafidz.. Sebenarnya mereka masih berada di pesantren ini, tetapi karena Gus Afnan meminta ustadz hafidz untuk abdiin dirinya dulu di pesantren lain, maka dari itu mereka pindah kesana.. Tapi nanti setelah beberapa tahun sesuai perjanjian mereka akan kembali lagi..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2