Pesantrenku Saksi Cintaku

Pesantrenku Saksi Cintaku
Ep. 66


__ADS_3

Pagi hari pun tiba, hari ini adalah acara pernikahannya gus Arkan dan Nida..


Hari yang di tunggu tunggu telah tiba, semua merasakan kebahagiaan ini..


Seperti biasa, para santri masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar, jadi hanya beberapa asatidz saja yang ikut mendampingi gus Arkan di acara pernikannya tersebut..


Setelah shalat subuh berjamaah, gus Arkan langsung bersiap siap.. Padahal ia dan keluarga akan berangkat pukul 07:30 nanti, tetapi dia telah bersiap siap memakai pakaian pengantin dari pukul 05:30.


Sudah tidak sabar rupanya gus Arkan 😆


Di sela sela kesibukkannya merapihkan diri, ia teringat bahwa logam mulianya hilang.. Padahal itu satu satunya mahar yang memang di khususkan untuk pernikahan ini selain seperangkat alat shalat.


"Abaaah, Umiii" teriak gus Arkan keluar kamar


"Ada apa gus?" tanya Shahia yang melihat gus Arkan


"Mana Abah dan Umi? " tanya gus Arkan


"Ada apa nak?" tanya Umi


"Umi Arkan baru inget kalau logam mulianya tidak ada.. Bagaimana ini?" tanya gus Arkan


"Lah iya ya.. Terus gimana dong?" tanya Umi


"Ada apa ini?" tanya gus Afnan dan Abah


"Mas, bah.. Logam mulia untuk maharnya tidak ada.. kemarin kan hilang" kata gus Arkan panik


"Sudah sudah gini saja, kamu telpon papahnya Nida atau Nidanya.. Tanya kan mau mahar apa.. Mumpung masih ada waktu nanti biar Afnan yang beli" kata Abah


"Mana ada toko perhiasan buka jam segini bah.. Adanya nanti jam 9 nan" kata gus Afnan


"Pakai perhiasan mahar punya Shahia dulu aja gus sementara" kata Shahia


"Bu.. Itu kan mahar dari aku, masa mau di kasih orang sih" protes gus Afnan


"Yaah, minjem bukan kasih.. Beda.. Dari pada gak ada begini" kata Shahia


"Jangan, mending kita cari aja mahar yang lainnya" kata gus Afnan


Akhirnya gus Arkan menelepon papahnya Nida


"Assalamualaikum om"


📞 "Wa'alaikumussalam ada apa kan?" tanya papah Nida


"Begini om, mahar logam mulianya kan kemarin hilang, jadi mau di ganti dengan apa?" tanya gus Arkan


📞Kamu bicarakan dengan Nida saja, karena itu nanti kan untuk Nida bukan untuk saya" kata papah Nida lembut


"Baik om kalau begitu saya telpon Nida" kata gus Arkan


📞 "Ini bicaralah.. Nida ada di samping saya" kata papah Nida


📞 "Halo.. Assalamualaikum gus Arkan"


"Wa'alaikumussalam Nida.. Afwan logam mulia untuk maharnya hilang, dek Nida mau di ganti dengan apa?" tanya gus Arkan


📞 "Di ganti dengan kitab Alfiyyah Ibnu Malik saja gus" kata Nida


"Apa tidak apa apa? atau mau dengan yang lain?" tanya gus Arkan tidak enak


📞" Tidak apa apa gus, itu saja" kata Nida meyakinkan

__ADS_1


"Ya sudah kalau itu maunya.. Assalamualaikum" salam gus Arkan


📞 "Wa'alaikumussalam"


Setelah perbincangan itu, gus Afnan menuju toko kitab yang berada di dekat pesantren itu. Setelah semua sudah siap, mereka menuju kediaman Nida..


Sesampainya di kediaman Nida, keluarga dari pihak mempelai lelaki di sambut dengan arak arakan hadroh..


Baby Ziya untuk pertama kalinya keluar jauh dari pesantren begitu diam menikmati suasana tersebut.. Tidak rewel, tidak nangis yang ada hanya tawa khas bayi yang ia tunjukkan.. Itu membuat Shahia dan gus Afnan senang..


Kini gus Afnan telah berada di depan penghulu dan juga wali dari Nida yaitu Ayahnya Nida..


Ketegangan terlihat di wajah gus Arkan..


"Haddeuhh yang baca khutbah nikah lama beud.. Udah kagak sabar nih mau cetak gawang" batin gus Arkan


Setelah rangkaian acara tersebut, kini tibalah acara inti yaitu akad nikah.. Dimana bukan hanya wali dan saksi yang melihat dan menyaksikan.. Tapi seluruh malaikat dan alam ini menyaksikan sebuah janji yang terucap dari bibir sang gus Arkan..


"Apa maharnya?" tanya penghulu


"Seperangkat alat shalat dan kutab Alfiyyah Ibnu Malik pak" jawab gus Arkan


Penghulu yang melihat tulisan mahar yang akan diberikan begitu heran.. Apa ini tidak salah? hanya sebuah kitab kecil?


Akhirnya penghulu menyuruh gus Arkan menjabat tangan papah Nida..


"Sudah siap?" tanya penghulu


"Siap" jawab tegas gus Arkan


"Bismillah.. Mari pak di baca" kata penghulu kepada papah Nida


"Ya ananda Muhammad Arkan Al-Fikri.. Saya nikah kan dan saya kawin kan engkau, dengan putri kandung saya bernama Nida Aulia Rahma binti Mulyana dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan kitab Alfiyyah Ibnu Malik seharga Rp.5000 di bayar Tunai! "


"Sah"


"Sah"


"Sah"


"Alhamdulillahi rabbil alamin"


Setelah itu pembacaan doa untuk sang pengantin dan teruntuk sang mempelai wanita di persilahkan menemui sang pengantin pria..


Saat penghulu mempersilahkan sang pengantin wanita mencium tangan sang suami, Nida terlihat malu..


"Yailah lama bet salam doang.. Begini nih" kata gus Arkan greget dengan tingkah Nida


"Sabar brooo sabar" celetuk gus Afnan yang di sambut tawa para hadirin


Lalu gus Arkan mencium kening sang istri namun Nida menjauh..


"Ko menjauh?" tanya gus Arkan


"Malu mas" kata Nida menundukkan kepalanya


"Pake helm kalau malu biar gak keliatan mukanya" kata gus Arkan


"Ihh si mas" kata Nida


Setelah itu, gus Arkan memegang pucuk kepala Nida dan membacakan doa..


"Afwan ya dek" kata gus Arkan

__ADS_1


"Silahkan mas" jawab Nida


"Bismillah.. ALLAHUMMA INNI AS’ALUKA MIN KHAIRIHA WA KHAIRI MA JABALTAHA ‘ALAIHI. WA A’UDZUBIKA MIN SYARRIHA WA SYARRI MA JABALTAHA ‘ALAIHI,”


"Aamiin" ucap kedua mempelai


Langsung gus Arkan mencium bibir sang istri


"Et et.. Nyosor aja" cegah gus Afnan


"Het deh.. Udah halal broo" protes gus Arkan


"Sabar lah.. Banyak tamu masih" kata gus Afnan


"Tau nih gus Arkan" kata Nida


Yang melihat mereka hanya tertawa..


Acara resepsi pun di mulai, para tamu undangan satu persatu menaiki pelaminan memberi selamat dan doa untuk raja dan ratu sehari itu.. Bahkan ada yang berfoto foto juga..


Walau masih terlihat jelas di wajah gus Arkan rasa lelahnya, rasa sakitnya karena perban di keningnya masih menempel dan luka jaitan belum sembuh tapi tak mengurangi rasa bahagia gus Arkan..


"Mas sudah siap" bisik gus Arkan ke Nida


"Siap apaa?" tanya Nida


"Jebolin gawang" bisik gus Arkan


Plaakkk


"Adduhhh maen tabok aja luka orang" kata gus Arkan


"Biarin siapa suruh mesum" kata Nida


"Dih siapa yang mesum? entar malem ada pertandingan bola.. Mas mau nonton mas yakin mas bisa jebolin gawang dengan tim kebanggan mas" kata gus Arkan terkekeh


"Ihh dasar auah" kesel Nida


"Iihh pikirannya udah pengen itu yaa? yakan? yakan? hahahaha" tawa gus Arkan


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..


Kenapa di part ini author seneng yaa? hahah haru juga.. 😄


Terimakasih yang sudah setia membaca.. Jangan lupa like, komen dan vote yaa.. Yang belum memfavoritekan tolong segera.. Biar bisa tau update part berikutnya.. Terimakasih Lope yooouu 😘😘

__ADS_1


__ADS_2