Pesantrenku Saksi Cintaku

Pesantrenku Saksi Cintaku
Ep. 115 Season 2


__ADS_3

"Na'am, Abi telfon dokternya dulu yaa.. Besok ada jadwal praktek tidak, kalau ada besok kita sunat yaa" ucap Gus Arkan


"Aasssikk sunat sunat" teriak Munawir


"Mas, serius Munawir sunat?" tanya Nida


"Serius lah.. Anak selagi mau kita turutin saja.. Apalagi ini buat kebaikan dia" kata Gus Arkan


Malam hari dirumah Gus Afnan, keluarga kecil itu sedang menikmati makan malamnya..


Shahia hari ini memasak makanan kesukaan suami dan anaknya.. Dengan semangat dan lahap Gus Afnan dan Ziya memakan masakan Shahia..


Banyak pertanyaan pertanyaan yang Ziya tanyakan kepada Gus Afnan, dan Gus Afnan menjawab setiap pertanyaan pertanyaan sang anak..


"Ziya harus menjadi seorang da'iyah nantinya.. Harus menjadi wanita yang berilmu, berakhlak baik, dan peduli sesama umat.. Jangan jadi anak yang sombong ya nak" pesan Gus Afnan


"Iya yah.. Ziya akan rajin belajar dan selalu berbuat baik" kata Ziya


Selesai makan, Gus Afnan mengajarkan Ziya membaca Al-Qur'an, di usianya yang menginjak 7 tahun Ziya sudah juz 2 dan itu sebuah kebanggaan buat Shahia dan Gus Afnan


Gus Afnan juga menyuruh Ziya untuk terus menghafal Al-Qur'an, dimulai dari surat surat pendek di juz 30.. Dan itu semua dilakukan oleh Ziya, ia ingin yayahnya bangga kepadanya..


"Shodaqallahul adzim" ucap Ziya


"Nah, perbaiki lagi makhorijul hurufnya dan tajwidnya ya nak" kata Gus Afnan


"Iya Yayah" jawab Ziya


"Yasudah, masuk kamar mandi terus wudhu langsung ke tempat tidur.. Tidur besok harus sekolah.. Jangan lupa baca doa yaa" perintah Gus Afnan


"Siap laksanakan.. Hehehe" kata Ziya


Lalu ia bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu..


Gus Afnan menghampiri Shahia yang baru saja menidurkan baby Faris, ia memeluk sang istri dari belakang dan memberikan kecupan di pipi sang istri..


"Sudah tidur?" tanya Gus Afnan


"Hmm" jawab Shahia


Tak lama handphone Gus Afnan berbunyi, dilihat bahwa yang menelfon adalah Gus Arkan


"Assalamu'alaikum" salam Gus Afnan


"Wa'alaikumussalam, mas udah tidur?" tanya Gus Arkan

__ADS_1


"Belum, kenapa? so sweet banget lagian nanyain udah tidur apa belom" ledek Gus Afnan


"Yaaaa kan takut ganggu tidurnya gitu" saut Gus Arkan


"Ada apa?" tanya Gus Afnan


"Besok ba'da subuh anterin ke rumah sakit yaa.. Tadi Arkan sudah buat janji sama dokter untuk bawa Munawir sunat" kata Gus Arkan


"Waaah jadi sunat?" tanya Gus Afnan


"Jadi, tapi kita harus dateng dari pagi, karena harus ambil nomor antrian awal, mulai buka prakteknya jam 8" jawab Gus Arkan


"Okee, besok siapa aja yang ikut?" tanya Gus Afnan


"Mas,ane,Abah dan nida" jawab Gus Arkan


"Lah anaknya gak dibawa?" tanya Gus Afnan


"Dihh, ya bawa lah.. Orang anaknya yang mau disunat.. Masa bapaknya" saut Gus Arkan


"Yakali gitu" asal Gus Afnan


"Gak bisa buat Dede dong.. Ahhaayy" kata Gus Arkan


"Ahahaah yaudah besok pagi" saut Gus Afnan


Keesokan harinya, sesuai rencana mereka pergi ke rumah sakit..


Munawir dapat nomor antrian ke 4.. Nida sang umi sudah deg deg an dan keringet dingin.. Ada rasa gak tega dihatinya takut sang anak kesakitan saat disunat.. Gus Arkan sudah mencoba menenangkan Nida dan memberi tau bahwa tidak akan ada apa apa, semua akan baik baik saja..


Tibalah nomor antrian Munawir.. Dengan gagah dan beraninya anak itu masuk lebih dulu dibandingkan orang tuanya..


Saat sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit, ia melihat jarum suntik yang dipegang oleh perawat..


Glek


"Alamak oy, pasti sakit itu.. Tapi Munawir gak boleh takut, Munawir kan anak hebat" batin Munawir


Saat jarum suntik mulai menancap di tempatnya, langsung..


"Aaaaaaaaa umiiiiii" teriak Munawir


"Sakit?" tanya dokter


"Hehehe enggak" jawab Munawir

__ADS_1


"Gak sakit kan? kaya di gigit semut kan?" tanya dokter dan Munawir mengangguk


Setelah selesai proses sunat, Munawir dengan santainya memakai celana Levis yang ia pakai dari rumah.. Abah meminta kepada Munawir untuk pakai sarung agar tidak tergesek gesek.. Tetapi ia tidak mau..


Sesampainya dirumah Munawir main berlari lari.. Gus Arkan sudah memberitahu bahkan mengejar Munawir agar tidak lari tapi ia tetap lari..


Saat obat biusnya hilang, ia mulai merasakan sakit di area dimana baru terbentuknya bentuk baru itu..


Rasa panas mulai menjalar ditubuhnya, rasa perih mulai ia rasakan..


Akhirnya Munawir memakai sarung dan merebahkan tubuhnya di atas kasur ruang tengah.. Air matanya sudah mulai meluncur sedikit demi sedikit, ia menahan perih.. Nida yang tidak tega melihat anaknya merasakan sakit mencoba menenangkan Munawir..


"Umiii kipasin umi.. Perih umii" rengek Munawir


"Iya nak, umi kipasin yaa.. perih ya? sakit? uuuhh sayang" kata Nida


Di halaman rumah, Gus Arkan dan Gus Afnan sedang membakar ayam kampung untuk Munawir.. Biasanya ini dilakukan karena adat..


"Abii, Munawir nangis katanya sakit anuhnya" kata Nida kepada Gus Arkan yang sedang membakar ayam


"Anuhnya apa?" goda Gus Arkan


"Anuhnya" kata Nida


"Ya apa umi? anuhnya apa?" goda Gus Arkan


"Aahhh susah ngomong sama Abi" kata Nida berlalu pergi


Gus Arkan tertawa sedangkan Gus Afnan hanya geleng geleng kepala..


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2