Pesantrenku Saksi Cintaku

Pesantrenku Saksi Cintaku
Ep. 64


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Nida, gus Afnan dan Abah di sambut hangat..


Berat rasanya memberitahukan keadaan ini tapi mereka coba kuat untuk memberitahunya..


"Begini pak, bu, Nida.. Kedatangan kami kesini ingin memberitahukan hal penting" kata gus Afnan


"Hal penting apa ya nak?" tanya Papah Nida


"Saya mohon maaf sebelumnya.." kata gus Afnan menggantung


"Iya kenapa nak?" tanya mamah Nida


Gus Afnan tak kuasa menitikan air matanya


"Ada apa nak? bicara saja" kata papah Nida


"Begini pak,bu.. Kami sebelumnya mohon maaf memberitahu hal ini secara mendadak karena kami juga baru dapat kabar ini mendadak." kata Abah


"Iya bah lalu?" tanya mamah Nida


"Arkan kecelakaan tadi subuh, dam sekarang kondisinya cukup memprihatinkan" kata Abah tak kuasa


"Astaghfirullah"


"Ya Allah"


"Mas Arkan" lirih Nida lalu menjerit histeris


"Gak.. Ini bohong.. Gak mungkin.. Mas Arkan gak kecelakaan.. Itu bukan mas Arkan kan baah.. Gus Afnaan.." tangis Nida pecah


"Sabar sayang.. Sabar" kata mamah menguatkan Nida


"Lalu dimana sekarang nak Arkannya bah?" tanya papah Nida


"Sekarang berada di rumah sakit" kata gus Afnan


"Kalau begitu mari kita kesana" kata papah Nida


Akhirnya mereka semua menuju runah sakit..

__ADS_1


Nida tak henti hentinya menangis, dia masih tidak percaya bahwa hal ini menimpa gus Arkan dan dirinya.. Bagaimana tidak? esok adalah hari pernikahannya tetapi sang calon suami terkena musibah..


Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung memasuki ruang rawat dimana gus Arkan berada..


"Mas.. Ya Allah bangun mas.. Ini Nida, jangan begini mas.. Besok kita mau menikah mas kenapa begini mas" tangis Nida pecah


Semua yang berada di situ pun tak kuasa menahan tangis, Shahia sang sahabat mengelus pundak Nida untuk menguatkan..


"Mas bangun.. Besok kita nikah mas Arkaaaann... Baaangguunn.. Hehh makhluk.. Ayo bangun.. Biasanya usil suka godain Nida.. Kenapa sekarang diem aja? takut yaa? iya?? ayoo bangun makhluk.. Jangan begini.. Hiks.. Hiks.." kata Nida histeris


"Sudah nak sudah, jangan begini.. Kesian nak Arkannya.." kata mamah Nida


"Tapi mah mas Arkan kan besok mau nikah sama Nida.. Mas Arkan mau harus bangun gak boleh begini.. Ayoo bangun gak.. Baaaanguuun" kata Nida mengguncangkan tubuh gus Arkan


"Nida jangan begitu.. Sabar yaa.. Percuma kalau ente begini.. Mending ente doain gus Arkan cepet sadar biar besok bisa ijab qobul walau lagi sakit.." kata Shahia


"Iya nak, doain Arkan biar cepet sadar" kata Umi


Selama di rumah sakit, Nida tak bergeserpun dari sisi gus Arkan.. Bagai tertimpa batu karang yang besar saat mengetahui hal ini..


Bibir Nida tak henti hentinya berdzikir memohon kesembuhan,kesehatan calon suaminya..


Adzan maghrib berkumandang, mereka pergi ke mushollah untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.. Namun Nida tetap berada di dalam ruang rawat.. Ia melaksanakan shalat di dalam ruang rawat tersebut..


"Ya Allah ya Rahman ya Rahim.. Hamba tau ini adalah ujian yang engkau berikan kepada kami.. Kuat kan hamba ya Allah, lapangkan lah hati hamba.. Berilah kesembuhan untuk calon suami hamba.. Hamba tak kuat melihatnya ya Allah.. Kembalikan gus Arkan yang selalu ceria, yang selalu mengusili hidup hamba ya Allah.. Hamba gak tega melihatnya berdiam dengan matanya yang selalu tertutup ya Allah.. Engkau yang maha menyembuhkan.. Sembuhkan lah calon suami hamba ya Allah.. Hamba meminta.. Hamba memohon.. Aamiin" lirih Nida dalam tangisnya


Setelah mereka kembali ke ruang rawat, mereka makan malam bersama di dalam ruang rawat tersebut.. Nida yang masih terpukul tak bernafsu untuk memakan makanannya.. Shahia,mamah dan umi membujuknya untuk makan.. Namun nihil, Nida tidak mau memakannya..


"Sudah malam, sebaiknya kita pulang besok kita kesini lagi" kata papah Nida


"Lalu besok bagaimana pah?" tanya mamah Nida


"Besok kita beritahu saja kepada tamu,kalau pernikahannya di undur" kata papah Nida


"Nida mau disini pah, mau jagain mas Arkan" kata Nida


"Yasudah kalau gitu papah balik dulu" kata papah Nida


Lalu mereka semua keluar dari ruang rawat dan pulang menuju rumah masing masing kecuali Nida dan gus Afnan yang menunggu di rumah sakit..

__ADS_1


Bukan masalah uang yang telah mereka keluarkan untuk acara besok, tapi mereka tidak enak kepada tamu undangan yang nanti sudah jauh jauh datang tapi acara di undur.


Di pesantren Shahia tidur di rumah Abah, karena Ziya telah tertidur dan tidak baik malam malam keluar rumah..


Ia membersihkan diri lalu menaiki ranjang mendekati baby Ziya dan ikut tertidur..


Berita tentang kecelakaannya gus Arkan sudah terdengar di telinga para santri.. Selepas shalat maghrib tadi mereka mengaji mendoakan kesembuhan gus Arkan yang mereka sayangi.. Putra ke dua dari Abah..


Sesampainya di rumah, seorang ibu ibu menghampiri mamah dan papah Nida yang baru saja sampai turun dari mobil..


"Maaf, pak,bu.. Dari tadi ada tamu yang menunggu.. Saya bilang saya tidak tau kemana bapaka dan ibu pergi karena tadi mendadak tapi dia tetep kekeh pengen menunggu.. Dia juga mencari dek Nida" kata ibu ibu tersebut


"Siapa ya pah? apa temennya Nida?" tanya mamah heran..


Saat mereka memasuki rumah..


"Ya Allah."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2