
Keesokan harinya salah satu ustadzah pengabdian memberitahu Ziya bahwa ada kiriman uang untuknya.. Ia bilang bahwa ayah nya mengirimkan uang sebanyak 300 ribu lalu diberikan uang itu kepada Ziya dan Ziya simpan di dalam dompetnya yang berada di asrama..
"Alhamdulillah.. Ziya gak boleh boros.. Kesian Yayah sama bubu harus keluarin uang banyak untuk Ziya" lirih Ziya
"Ziyaaa.. Cieee abis dapet kiriman nih" goda Mia
"Hehehe Alhamdulillah, cuma dikirimi uang, bukan makanan soalnya Yayah sama bubu belum bisa jenguk Ziya" jawab Ziya
"Yasudah jangan terlalu irit juga zii.. Ana suka kesian liat ente diam saja disaat teman yang lain pada jajan" kata Ridha
"Heheheh gak papa ko.. Emang gak kepengen jajan aja" kata Ziya
Lalu mereka menuju kelas lagi untuk mengikuti pelajaran selanjutnya..
Di rumah Gus Afnan, Shahia dan Gus Afnan sedang membicarakan tentang Ziya.. Mereka ingin mengunjungi Ziya setelah acara syukuran 4 bulanan kehamilan Shahia itu..
Tiba tiba datang lah Munawir yang tak sengaja mendengar obrolan mereka..
Munawir ingin ikut berkunjung ke pesantrennya Ziya.. Ia terus membujuk Gus Afnan agar ikut..
"Ya yaaah.. Nawir ikut yaa" pinta Munawir
"Cape di jalan sayang.. Mending kamu dirumah saja" kata Shahia
"Gak ahh, pokoknya harus ikut" kekeh Munawir
__ADS_1
"Gak boleh, Faris aja gak ikut" kata Gus Afnan
"Tapi Nawir kudu ikut.. Kalau Nawir gak dibolehin ikut, Nawir bakar ini rumah" ancam Munawir
Bukannya marah, malah Gus Afnan tertawa mendengar ancamannya Munawir..
Munawir yang menyadari ancaman itu gak mempan langsung pergi karena kesal..
"Anak itu bener bener deh.. Arkan Arkan anaknya" kata Gus Afnan geleng geleng kepala
Shahia hanya mendengarkan saja sembari menyiapkan Koko untuk Gus Afnan shalat ashar berjamaah.. Shahia selalu pas memilih kan baju untuk suaminya shalat.. Koko dan sarung yang senada.. Agar terlihat rapih..
"Makasih sudah berbakti kepada mas hampir 14 tahun pernikahan kita ini.. Mas harap Adek tetap terus seperti ini.. Tak berubah.. Menjadi Shahia yang lemah lembut.. Yang sayang akan keluarga.. Yang selalu berbakti kepada suami.. Sebentar lagi, anak ketiga kita lahir.. Mas harap ada anak anak kita yang lainnya lagi yang akan hadir nanti" kata Gus Afnan memeluk Shahia dari belakang
"Iyalah.. Kalau bisa selusin" kata Gus Afnan
"Sekodi aja sekalian" celetuk Shahia
"Boleh juga tawarannya.. Nanti kita bikin negara sendiri" tawa Gus Afnan pecah
Jarang jarang Shahia melihat suaminya tertawa seperti itu.. Hati rasanya adem dan senang melihat suaminya tertawa.. Selama ini kebanyakan seriusnya hidup yang Gus Afnan jalani..
"Yasudah sana ke masjid, shalat jamaah" perintah Shahia
"Kamu mau jamaah di masjid juga?" tanya Gus Afnan
__ADS_1
"Iyalah jamaah" kata Shahia
"Yasudah kalau gitu Ayuk kita berangkat ke masjid bareng" ajak Gus Afnan
Digandengnya tangan Shahia sepanjang perjalanan dari rumah menuju masjid pesantren.. Senyum yang tak pudar dari bibir Gus Afnan dan Shahia..
Para santri yang melihatnya begitu terharu.. Kiyai besarnya begitu romantis kepada sang istri.. Banyak mulut yang berbisik mengatakan sangat iri dengan mereka.. Dan berharap mendapat jodoh seperti Gus Afnan..
Sesampainya di masjid, Gus Afnan menunggu Shahia diluar tempat wudhu wanita.. Ia ingin memastikan Shahia tidak terpeleset di tempat wudhu dan memastikan Shahia masuk ke dalam masjid, barulah ia berwudhu..
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1