
"Munawir sayaang, anak umi.. Jangan nangis ya nak.. Ihh tuh belimbing ya gede ya? potong yuk ambil pisau yuk" ajak Nida menggendong Munawir
"Biarin Nawir ambil pisau biar Yayah Afnan di sunat" ancam Munawir
"Mana bisa, Nawir nanti yang Yayah sunat" ledek Gus Afnan
Setelah mengambil pisau, Munawir menghampiri Gus Afnan sambil menodong pisaunya..
"Hayooo Nawir sunat nih" ancam Munawir
"Lah lah, hey gak boleh maen pisau" kata Gus Afnan
"Munawir sunat nih" ancam Munawir lagi
"Gak bisa.. Kan Yayah udah besar.. Yang seharusnya di sunat itu Munawir" kata Gus Afnan
"Munawir masih kecil, belum boleh disunat" kata Munawir
"BOLLEEEEHH" saut keluarga
Munawir yang di teriaki boleh seperti itu langsung bengong..
Lalu dia menaruh pisaunya di meja dan pergi keluar rumah..
Mereka yang melihat Munawir pergi hanya diam, dan berfikir paling Munawir mau main..
Tapi tidak dengan fikiran Gus Arkan..
"Pasti mau liatin cewe pada mandi dah.. Ini kan udah sore" batin Gus Arkan
Bapaknya suudzhon sama anak 😅😂
Di halaman pesantren, Munawir sedang duduk diatas tanah.. Ia bermain tanah karena saking gabutnya 😅 canda gaes 🤭
Ia bermain tanah sambil termenung.. Apa ia kalau sunat itu boleh kalau masih kecil? Apa rasanya sakit?
Semua itu berputar putar di fikirannya..
Ia memang pengen sunat, tapi kata teman teman nya kalau sunat itu sakit, ada keraguan di hatinya.. Masa iya sunat itu sakit? kan itu demi kesehatan kalau kata umi.. Tapi ko temen temen bilang kalau sunat itu sakit ya..
Tiba tiba ada tangan yang mencolek pundaknya..
Ia menoleh ke arah colekan itu..
Dilihatnya seorang santri putra yang melihat kearahnya..
__ADS_1
"Ada apa Gus Nawir? ko main tanah sih?" tanya santri itu
"Akhi, apa benar kalau sunat itu sakit?" tanya Munawir
"Enggak, kata siapa?" tanya santri itu
"Kata temen Nawir" jawab Munawir
"Apa Gus Munawir mau disunat?" tanya santri
"Takut sakit" jawab Munawir berwajah sedih
"Jangan takut, disunat itu baik loh buat kesehatan, karena menghilangkan kotoran dan penyakit" kata santri
"Bener gak sakit?" tanya Munawir
"Bener Gus, gak sakit.. Tapi setelahnya kaya di gigit semut.. Cuuuttt" jawab santri mencubit lengan Munawir kecil
"Sakit gak?" tanya santri
"Sedikit" jawab Munawir
"Nah kaya gitu sakitnya cuma begitu.. Maaf ya Gus udah nyubit Gus.. Ane cuma ngasih contoh" kata santri
"Kalau sakitnya cuma segini mah Nawir berani.. Nawir kan anak hebat, anak kuat" kata Nawir memperagakan tangannya 💪
"Nanti Abi marah gak?" tanya Nawir
"Ya gak lahh" jawab santri
Tanpa pikir panjang tanpa Salim dia langsung menuju rumah Abah..
Ia ingin meminta kepada abinya untuk segera di sunat..
Ia gak mau menunggu lama lagi saat ia tau rasanya seperti di gigit semut saja..
Dengan nafas terengah entah Munawir berlari.. Sesampainya di depan rumah Abah, ia langsung melepas sendalnya secara dilempar dan berantakan kemana mana..
Ia masuk tanpa mengucap salam..
"Hahh hhaahh hhaahh"
"Kenapa nak?" tanya Jiddah
"Hahh hahhh haahhh Nawir.. hahhh hahhh.. Mau.. Hhhaaahhh hahhh.. Sunat" ucap Nawir
__ADS_1
Semua yang mendengar hanya terdiam dan masih mencerna.. Ini serius? beneran? minta sunat?
"Serius nak?" tanya Nida
"Iya umii" jawab Munawir
"Sunat kan gak bisa dadak sayang" kata Nida
"Pokoknya mau sunatttt" teriak Munawir
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
Sunat gak yaaa?
Sunat gak nih? hehe
Oh iya, mau nanya dong.. Ceritanya Eka mau lanjutin karya Eka yang lainnya, karena sudah lama banget gak dilanjutin.. Kan sayang yaa.. Hehe..
Kira kira pada suka gak ya? mau baca gak ya?
Kalau mau tau silahkan mampir ke profil yaa nanti disana ada karya yang satunya berjudul "Wanita penjual es bambo"
Kalau tertarik komen ya, biar bisa dipertimbangkan di lanjut atau tidak novel itu..
__ADS_1
Terimakasih
Jangan lupa, like dan komennya yaa.. Kalau bisa bantu vote.. Terimakasih 😁